My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.9 : Hati yang Luka



Qiandra sedang berganti shift di dapur, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sementara Bimo berjaga di pintu masuk pelanggan.


Rombongan GM Corp baru saja naik ke lantai dua menuju tempat pertemuan. Di sana, klien mereka sudah berada di tempat. Mereka pun langsung membahas agenda kerjasama antar perusahaan mereka.


Memasuki jam makan siang, Qiandra dan Bimo bertugas mengantar makanan ke dalam private room lantai Dua. Dengan menggunakan lift, sampailah Mereka di depan ruangan tempat meeting tersebut.


Qiandra pun mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu masuk dengan membawa serving trolley yang di dorong oleh Bimo.


"Selamat siang, permisi," sapa Qiandra ramah, dengan suara lembut, sambil menganggukkan kepalanya.


Dia dan Bimo mulai menata Meja dengan makanan sesuai pesanan. Pandangannya kini terarah pada sosok pria dengan kemeja putih, duduk berdampingan dengan tamu pria yang diantarnya ke ruang Bosnya.


Ya, pria itu adalah Erlan, sang Bos Cafe. Erlan pun tersenyum ke arah Qiandra yang sedikit terkejut. Fenomena itu pun tak luput dari pandangan Bara, yang duduk tepat di depan Erlan.


"Ceh," Bara berdecih. "Wanita ini lagi. Di mana-mana ada dia," gerutu Bara di dalam hatinya. Seketika netra keduanya pun beradu pandang.


Deg... Deg ... Deg...


Jantung Qiandra bergemuruh. Ia mematung seketika. Segelas air putih ditangannya tidak sengaja tumpah dan mengenai jas dan celana yang dikenakan Bara. Bara langsung berdiri dan berdecak kesal.


Qiandra pun tersadar akan kesalahannya, buru-buru dia mengambil tissue dan meraih jas Bara yang terkena tumpahan air untuk dikeringkan sambil berucap memohon maaf.


"Maafkan Saya Tuan, saya tidak sengaja," ucapnya dengan suara bergetar.


"Lepaskan tangan kotormu dari pakaianku. Siapa kau berani menyentuhku?" hardik Bara seketika, mengingat kejadian tempo hari di Bandara, membuat emosinya makin memuncak.


Mendapat hardikan seperti itu, Qiandra pun langsung melepaskan tangannya dari jas yang dikenakan Bara. Matanya memanas, menahan laju air mata agar tak jatuh ke pipinya. Ia mundur tiga langkah, menundukkan kepalanya seraya berkata sambil terisak.


"Maafkan saya, Mm-maaf, Saya sungguh tidak berniat apapun." Takut, Qiandra takut Bara akan membuat Cafe ini bangkrut. Ini bukan tentang dia, ini tentang Bos Erlan dan teman-temannya. Ia tidak mau karena kesalahannya, Orang-orang yang bekerja di cafe ini menjadi sasaran.


Qiandra menatap Erlan yang melihat ke arahnya iba. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, lalu berbalik dan berlari meninggalkan ruang tersebut.


Qiandra melewati Lift yang Ia naiki tadi, lebih memilih menuruni anak tangga di ujung lorong. Kemudian Ia menuju ke Ruang ganti, membuka seragam kerjanya dan mengenakan kembali pakaiannya. Tak lupa ia menyambar tasnya yang berisi sedikit uang dan handphone.


Sarah kaget melihat ekspresi Qiandra sedang menangis, setengah berlari meninggalkan Cafe. Sarah sempat berteriak, namun panggilannya enggan di jawab.


"Qia, Kau mau kemana?" Sarah berteriak namun Qindra terus berlari melewati pintu belakang Cafe.


Sesampainya di depan gerbang cafe, Qiandra seketika melambaikan tangannya memanggil Ojek yang lewat. Beruntung, Ojek itu pun berhenti dan Qiandra pun langsung naik. Tak butuh waktu lama, Ojek pun kembali melaju ke alamat yang dituju.


***


Mama Renata dan Manda baru saja tiba di Jakarta. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor Papa. Manda sudah mengajaknya untuk langsung beristirahat di rumah , namun Mama Renata bersikeras untuk pergi


Akhirnya di sinilah Manda, menemani Sang Mama menuju kantor Papanya dengan menggunakan taksi. Sementara Baby Mikhayla pulang di antar supir bersama Mbak Lilis dan Mbak Ana, Baby Sitternya.


Begitu sampai di gedung milik suaminya itu, Mama Renata langsung menuju lantai tempat suaminya bekerja. Manda sampai kewalahan mengikuti langkah kaki wanita yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi itu.


"Selamat Siang, Alesha. Apa suami Saya ada di dalam," sapa Mama hangat pada sekretaris Papa.


"Maaf Nyonya, saya tidak memperhatikan Anda datang. Pak Handika ada di dalam Nyonya, baru saja keluar dari ruangan meeting bersama Pak Rey," sahut Nindi sopan, yang tadi sempat kaget melihat kedatangan Istri dan Anak pemilik perusahan ini.


"Kalau begitu, kami masuk dulu ya Al, makasi ya," balas Mama lembut.


Mereka pun langsung berjalan ke arah ruangan Papa.


"Assalamualaikum, Papa," teriak Mama dan Manda bersamaan.


Paoa dan Rey yang sedang mendiskusikan sesuatu di sofa, seketika terlonjak kaget. Namun, ketika tahu belahan jiwanya sudah kembali, Papa langsung beranjak dari duduknya, menyambut Istrinya dengan sebuah pelukan hangat.


Melihat itu, Rey juga reflek berdiri memberi hormat pada istri dan anak dari Tuannya. Kini Mereka semua duduk di Sofa.


"Pa, apa Papa sudah mencari informasi yang Mama minta?" tanya Mama Renata memulai percakapan. Sejak tiba di Bandara, Mama Renata merasa tidak tenang, seperti akan ada sesuatu yang terjadi.


"Tentu Ma, Papa sudah meminta Rey mengumpulkan selengkap-lengkapnya untuk Mama." Melirik ke arah Rey dan mengangguk. Rey mengerti isyarat Tuannya, Ia bangkit dan mengambil berkas di atas meja presdirnya itu dan menyerahkan kepada Mama Renata.


Secepat kilat Mama mengambil berkas itu, lalu membacanya satu persatu. Melihat perubahan air muka di wajah Mama, Manda pun mendekat duduk di samping Mama.


Tiba-tiba Mama terisak. Dadanya sesak akan kesedihan yang memaksa air matanya luruh. Manda memeluk Mama seketika, mengelus pundak Mama.


"sssshhh, Ma,, tenanglah, ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya lembut.


"Tante Zasqia, tantemu itu, sudah meninggal Manda, hiks... hiks.. hiks... . Bagaimana bisa, Qiandra ku, hhuuuuu huuuuu huuuu," Isak pilu Mama terdengar memenuhi Ruangan. Sekarang karyawan sedang istirahat makan siang, sehingga suasana kantor sedikit sepi.


"Ma, Mama harus tenang. Bagaimana Mama bisa berfikir jika keadaan Mama seperti ini," bujuk Manda, "Pa, tolong pesankan makan siang Pa. Dari pagi Mama belum makan apa-apa," pinta Manda pada Papanya.


Papapun segera mengiyakan. Tentu saja Rey yang bergerak keluar mencari makan siang untuk mereka berempat. Sepeninggal Rey, Papa pun bangkit lalu berjongkok di depan Kekasih halalnya. Ia menggenggam tangan yang sering digenggamnya itu.


"Ma, benar kata Manda Ma. Mama harus tenang. Jika informasi yang diberikan Rey ini benar, Kita harus melindungi Qiandra." Paoa menenangkan Mama Renata.


Seketika, Mama Renata berhenti menangis. lalu menyeka sisa air di sudut netranya. Mama memeluk laki-laki kesayangannya dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada pasangan hidupnya itu.


"Makasih ya, Papa. Papa selalu mengerti Mama. Maafkan Mama kalau selama ini belum jadi istri yang baik buat Papa."


"Mama ngomong apa! Justru selama ini Papa yang belum bisa jadi suami dan Papa yang baik buat Mama dan anak-anak kita. Ya sudah, sekarang Mama jangan sedih lagi, Papa dan Manda akan membantu Mama," sahut Papa.


"Idiih Mama dan Papa, mesra banget sih. Manda kan jadi kangen Mas Adam," goda Manda yang mengundang tawa Papa.


Mama tersenyum. Di lubuk hatinya, jujur saja masih terasa sesak. Mengetahui kenyataan Sahabat baiknya di SMA itu tidak bisa Ia temui lagi jasadnya di dunia ini. Mama menghela nafasnya berat.


Zas, Aku belum meminta maaf padamu. Bahkan kita belum pernah bertemu sejak pertemuan Kita yang terakhir. Kenapa Kau pergi begitu cepat. Apa Kau juga mau menungguku di pertemuan Kita selanjutnya?


Pintu Ruangan terbuka. Tampak Rey dan beberapa OB yang membantu membawakan makanan untuk Mereka masuk. Setelah itu mereka makan siang bersama. Tak berselang lama, Mama pun pergi bersama Rey ke rumah Qiandra. Sedangkan Manda kembali pulang ke rumahnya.


****


Ers Coffe


Andin membukakan Jas milik Bara yang terkena tumpahan air putih tadi. Bara masih terlihat kesal, kilatan emosi terlukis jelas di netranya. Insiden ini menambah daftar kekesalannya pada wanita yang sejak beberapa hari lalu mengusik kehidupannya.


Semua makanan dan minuman sudah di tata di atas meja. Kini mereka menyantap lunch mereka dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Di mana Qia sekarang? Ah, kenapa aku tidak mengatakan apa-apa padanya tadi," sesal Erlan dalam hati.


"kenapa, setiap bertemu penguntit itu, hidupku selalu saja sial, Aargghh," gerutu Bara dalam hatinya.


Sementara Andin memperhatikan Bara sepanjang makan. Sesekali ia menarik nafas panjang. "Bara, kenapa Kau tak bisa melihatku," pikir nya yang sama sekali tidak berselera mengunyah makanannya.


Sedangkan dua asisten yang lain, jangan ditanya mereka sedang memikirkan apa. Apa yang bisa mereka pikirkan jika kejombloan selalu menemani mereka🤭. Tentu saja menjadi Asisten pribadi seorang Bos besar seperti Bara Pratama dan Erlan Sadewa membuat mereka harus mengesampingkan urusan pribadi mereka untuk sementara waktu.


*****To Be Continue***


Hai, Aku MyNameIs, Nice to see you again🥰🥰


Maaf ya Readers. Bab ini sudah mengalami revisi. Ceritanya masih sama kok, hanya ada beberapa part yang Aku revisi ya. selamat membaca semuanya. Arigatou


Stay health.