My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 59: Menyelamatkan Diri



Setelah satu setengah jam lebih berkendara, akhirnya mobil yang di ikuti Barra, David, Erlan dan Randa memasuki halaman sebuah bangunan tua. Mereka ikut menepikan mobil mereka di pinggir jalan agak jauh dari bangunan itu.


David segera mencekal tubuh Barra yang mulai berlari dengan emosi yang mulai tersulut tak terkendali.


"Bar, sabar Kita harus waspada dan jangan gegabah. Kita tidak ingin ada korban yang jatuh bukan?" David menahan tubuh Barra.


"Barra, David benar!" sela Erlan yang menyusul dari belakang. "Aku sudah mengirimkan lokasi kita kepada Papa, dan Mereka sudah mulai bergerak bersama pihak kepolisian dan juga Papamu!" jelas Erlan tenang.


"Baiklah, mari Kita masuk, tapi jangan gegabah. Kita belum tahu seberapa banyak penjaga yang ada di dalam. Berhati-hatilah!" David menyela disusul anggukan ketiga orang di sana.


Empat sekawanan itu sudah berdiri di depan pintu masuk pabrik. Sesaat mereka berhenti dan bersembunyi sebab para preman dan Mama Diana tampak sedang berbicara di kejauhan.


Erlan mengepalkan tangannya geram, mengetahui kelakuan Ibu sambungnya yang selama ini sudah Ia anggap Mamanya sendiri itu. Begitupun dengan Barra, berusaha mencoba menahan emosinya yang membumbung tinggi ketika melihat para pelaku penculikan istrinya.


"Apa yang mereka bicarakan?" David berbicara lirih. Jarak yang sedikit jauh membuat pendengaran mereka samar-samar.


"Entahlah, sepertinya Mama Diana memarahi para preman itu." Masih mengamati dari kejauhan.


Tak lama komplotan itu berangsek masuk ke dalam dari samping terburu-buru.


"Sepertinya terjadi sesuatu, tetaplah waspada." Erlan memberi kode untuk melanjutkan langkah mereka dengan sebelah tangannya. Perlahan namun pasti, keempat pria dengan pakaian formal itu mendekat ke arah bangunan tua yang tadi di masuki oleh Mama Diana dan para preman.


***


"Lariiii, lariilah, Kakak akan menahan mereka di sini, Kalian larilah!" Suara Zidane meggema di dalam ruang kosong itu, membuat Qiandra tersadar lalu menarik lengan Arlie yang enggan pergi dari tempat itu.


"Kak Zidane Qia, Aku enggak mau pergi tanpa Kak Zidane!" ucapnya keras kepala, berusaha melepaskan lengannya yang dicekal Qiandra.


"Arlie, Kamu mau pengorbanan Kak Zidane sia-sia? Kita harus menyelamatkan diri kita terlebih dahulu. Setelah keluar dari sini Kita bisa meminta bantuan kepada orang lain untuk menolong kak Zidane. Ayo!" Qiandra berlari seraya memegangi Arlie dengan sebelah tangannya.


Keduanya berlari mencari pintu keluar, sementara Zidane dengan sisa kekuatannya, masih melawan kedua preman penjaga. Ia mendapat beberapa pukulan di perut yang membuatnya meringis kesakitan sambil membungkuk.


Tak lama, Ia kembali memasang kuda-kuda, namun sebuah ayunan kayu balok berhasil mendarat di pelipisnya. Tubuh Zidane terhuyung ke belakang lalu terjatuh. Darah segar mengalir dari pelipis kanannya. Pandangannya mulai buram. Ia mengerjapkan matanya perlahan.


Balok kayu terhempas tepat di depan Zidane, lalu keduanya bergegas mencari keberadaan Qiandra dan Arlie. Dengan sisa kemampuan dan kesadarannya, Zidane berusaha menarik salah satu kaki dari penjaga itu, namun usahanya tak berbuah manis. Satu tendangan kembali mengenai perutnya, membuat tubuhnya bergetar menahan sakit dan mulutnya memuntahkan darah segar.


"Mau mampus Lu!" teriak penjaga itu yang masih terusik dengan tangan Zidane yang masih memegang erat kakinya meski matanya sudah tak dapat Ia buka lagi.


Penjaga itu segera menginjak tangan Zidane hingga ia berteriak kesakitan, lalu pegangan tangannya terlepas lalu terkulai tak sadarkan diri.


"Ayo, kita cari dua wanita itu. Bos bisa marah besar jika sampai dua wanita itu kabur!" ucap salah satu penjaga lainnya menyadarkan temannya yang berniat menghabisi Zidane karena emosi.


Keduanya bergegas menyusuri seluk beluk ruang yang ada di pabrik itu. Sementara itu, Qiandra dan Arlie yang terus berlari mencari jalan keluar, mendapat secercah harapan ketika melihat berkas-berkas sinar mentari yang masuk melalui celah pintu yang bagiannya terbuka sedikit.


"Arlie, itu pintu menuju keluar. Ayo cepat sebelum kita tertangkap." Setelah berhenti sejenak mengambil nafas, Qiandra kembali menarik pergelangan tangan Arlie.


Keduanya berlari mencapai pintu dan ketika pintu terbuka aroma pepohonan menyeruak. Keduanya menatap sekeliling mereka, hanya ada tembok tinggi yang sudah dipenuhi semak belukar.


"Sepertinya ini bagian belakang bangunan, hash!" ujar Qiandra sambil terengah-engah setelah berlari.


"Kita harus mencari pintu gerbang untuk keluar dari kawasan ini." Qiandra menatap Arlie iba."Kau masih kuat kan Arlie? Kita masih belum aman, Kita tidak bisa berlama-lama di sini." Qiandra melanjutkan.


"Iya, Aku masih baik-baik saja. Ayo Qiandra!" Kali ini Arlie yang menarik tangan Qiandra untuk kembali berlari.


"Ya Allah," teriak Qiandra tiba-tiba mengehntikan langkah kaki Arlie yang berada di depannya. Arlie otomatis berhenti lalu melihat ke arah sahabat yang ada di belakangnya. Sebuah potongan kaca kecil mengenai telapak kaki Qiandra yang memang dalam keadaan kaki telanjang.


"Qia, bagaimana ini, hiks hiks. Itu pasti sakit, maafkan Aku, hiks hiks... ." isakan kecil keluar dari bibir mungil Arlie.


"Sssssstttt, Aku baik-baik saja. Aku masih bisa berjingkat. Ayo Arlie, Kita tidak punya banyak waktu." Qiandra menenangkan Arlie.


"Di saat seperti ini, Kau bisa-bisanya berbohong. Aku bisa melihat dari ekspresi wajahmu Kau menahan sakit itu Qia!" bisiknya lirih dalam hati melihat Qiandra berusaha berjalan dengan tertatih-tatih.


"Ayo, cepat Arlie!" Baru tiga langkah mereka berpindah, suara pria menghentikan langkah mereka.


"Mau kemana Kalian, huh?" Dengan wajah sangar dan teriakan yang begitu khas, penjaga itu sudah berada di depan mereka.


Qiandra dan Arlie menghentikan langkahnya sejenak, lalu bergerak mundur perlahan seiring dengan pria di depan mereka melangkah maju.


Keduanya pun berbalik lalu berlari ke arah yang berlawanan. Qiandra menepis rasa sakit di kakinya, lalu berlari sekencang mungkin yang ia bisa. Belum jauh mereka berlari, Qiandra memperlambat geraknya.


"Arlie, teruslah berlari, Aku sudah tidak kuat!" teriak Qiandra seraya menahan perih luka di kakinya yang sudah semakin parah.


Arlie melirik ke belakang, melihat Qiandra yang sudah terduduk dengan bertumpu dengan kedua lututnya. Ia mengibaskan tangannya mengisyaratkan kepada Arlie agar terus berlari. Penjaga yang mengejarnya tadi mendekat lalu dengan seksama Arlie berdiri lalu melempar tanah yang ada dalam genggaman tangannya.


Penjaga itu mengaduh kesakitan, lalu tanah-tanah itu mengenai kedua matanya hingga ia tidak dapat membuka kedua matanya.


"Aaarrrgghh, sialll!" teriaknya keras. Kesempatan itu digunakan Qiandra untuk melarikan diri lagi, namun naas dua penjaga yang menghajar Zidane berhasil menghentikan geraknya setelah beberapa langkah.


"Mau lari kemana Kau?" Dengan sigap kedua tangan Qiandra sudah di cekal ke belakang oleh salah seorang penjaga.


"Lepas, lepaskan!" teriak Qiandra memohon.


"Kalau Nyonya tidak meminta Kau hidup-hidup, Aku sudah membunuhmu!" seru preman yang matanya terkena lemparan tanah oleh Qiandra, yang ternyata adalah ketua dari komplotan penjahat itu.


"Plakkkkk!" sebuah tamparan keras menghantam pipi kanan Qiandra, darah segar dan luka lebam pun mulai muncul di sudut bibirnya.


"Hahahaahahah, pukulanmu sama sekali tidak menyakitkan. Apa hanya begitu saja kekuatanmu, huh?" Qiandra mengusap darah dari ujung bibirnya.


Pria itu baru akan melayangkan kembali tangannya ke arah pipi kiri Qiandra, lalu seseorang menghentikannya.


"Jangan sentuh dia! Dia milikku!"


.


.


TBC


.


.


HAPPY READING Gengs


Makasi banget yang udah selalu ikutin cerita ini, dan masih mau nungguin Author up. Aku minta maaf nggak bisa up seperti yang kalian mau. Aku kembali drop empat hari yang lalu, dan masih dalam kondisi yang belum sehat saat ini. Mohon doanya agar Aku sehat selalu yah. Semoga Kalian semua juga sehat terus ya Gengs.


Jangan lupa likenya yah🤗🤗🤗🙏🙏🙏