
Kepanikan terjadi di kediaman keluarga Adam Scheneider beberapa saat yang lalu. Qiandra terpaksa harus tinggal di rumah menemani Mikhayla, yang bersikukuh ingin mengikuti Mamanya ke rumah sakit.
Qiandra memangku tubuh mungil dan berisi itu, menenangkan sosok yang masih terisak di dadanya. Kepalanya miring mengikuti arah jendela di depannya yang mengarah menuju gerbang depan rumahnya.
Papa dan Barra pergi dengan satu mobil, sementara Kak Manda di dampingi Ibu dan salah seorang Asisten Rumah Tangga dengan mobil lainnya yang dikendarai supir keluarga. Mereka menuju ke rumah sakit tempat dokter kandungan yang menangani Kak Manda bekerja.
Mas Adam sendiri saat ini masih berada di luar kota. Rencananya besok pagi-pagi sekali ia akan kembali. Namun karena menerima kabar tentang istrinya, Ia pun bergegas kembali meski kemungkinan Ia akan sampai tengah malam nanti.
"Mikha, sudah dong nangisnya, nanti cantiknya hilang lo nangis terus, Hmmm!" Qiandra berusaha membujuk keponakannya itu.
"Kenapa cantik Ikha bisya hilang, Aunti?" tanyanya masih sesegukan, kepalanya kini mendongak memperhatikan wajah Tantenya itu.
"Kalau kebanyakan nangis mata Mikha bisa terlihat bengkak. Lalu wajah Mikha terlihat sembab. Kalau Mama dan Papa melihat Mikha, bisa-bisa mereka gak kenal lagi, gimana dong?" tanyanya seraya mengelus rambut hitam dan lurus Mikhayla.
"Beneran Aunti? Huwaaaaa huwaaaaa hiks huwaaa... "
Bukannya berhenti, Mikhayla malah makin kencang menangis. Qiandra menepuk dahinya pelan, sepertinya Ia salah berbicara.
"Sssshhhhtt, sudah sudah, Aunty cuma bercanda, oke. Mikha jangan menangis lagi ya, entar dedek bayi di dalam perut Aunty juga ikutan sedih dan nangis," bujuknya lagi mengelus perutnya yang tertutupi tubuh Mikhayla.
Ajaib. Tangis Mikhayla otomatis terhenti. Ia lalu berpindah duduk di sebelah Qiandra. Dengan tangan mungilnya Ia mengelus perut Qiandra dan berkata. "Adek jangan ikut syedih ya, Kakak udah gak nangis lagi kok."
Gadis kecil itu seketika tampak seperti orang dewasa. Di usianya yang baru menginjak empat setengah tahun, Mikhayla mampu menjadi sosok sedewasa ini. Qiandra pun tersenyum lalu menghujani pucuk kepala Mikha dengan ciuman bertubi-tubi.
...✳️✳️✳️...
Sementara itu di rumah sakit.
Manda sudah di bawa ke ruang operasi. Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan Caesar mengingat air ketuban yang terus merembes keluar. Demi keselamatan ibu dan calon bayi, Dokter memutuskan hal tersebut.
Asisten Rumah Tangga yang ikut bersama mereka sudah ditugaskan kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan Manda dan bayinya.
Setelah mendapat persetujuan Mas Adam melalui panggilan singkat, Papa segera menandatangani lembar persetujuan wali. Manda pun sudah masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan dingin dan menegangkan itu, tanpa seorang pun yang menemani. Mama sebelumnya sudah memberikan kata-kata motivasi agar anak perempuan sulungnya itu tetap kuat.
Waktu menunjukkan pukul 20.50, kurang lebih sudah tiga puluh menit sejak lampu tanda operasi berlangsung hidup. Namun belum ada tanda-tanda operasi selesai. Mama, Papa dan Barra menunggu dengan hati gusar. Asisten Rumah Tangga keluarga Manda pun sudah datang dan membawa perlengkapan untuk Manda dan bayinya yang kemungkinan akan menginap beberapa hari di rumah sakit.
Mereka semua tak lepas berdoa, memohon kepada yang Maha Kuasa agar seseorang yang sedang berjuang di dalam sana baik-baik saja, begitupun anaknya.
Tiba-tiba seorang perawat muncul dari pintu ruangan operasi.
"Maaf Pak, bayinya sudah lahir. Siapa yang mau mengazankan silakan ikut saya," ucap perawat itu lembut.
"Saya Sus!" Papa mengacungkan tangannya lalu mengikuti Perawat wanita yang berjalan masuk.
"Tunggu suster!" teriak Mama. "Bagaimana dengan putri Saya?" Perawat itupun menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ibu tenang saja, sejauh ini kondisi ibu Manda baik-baik saja. Ibu sedang dijahit perutnya, jadi belum bisa keluar. Bayinya laki-laki tapi karena usia kandungan masih menginjak 31 Minggu, bayinya harus dimasukkan ke dalam inkubator. Permisi Bu, Saya mau membawa Bapak ke ruangan bayi."
Perawat itu pun pamit lalu kembali masuk melalui pintu masuk ke ruangan operasi diikuti oleh Papa di belakangnya.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga Anak dan Cucuku baik-baik saja." Mama Renata sangat bersyukur mendapati kabar dari sang Perawat tadi.
Barra menitikkan air mata membayangkan perjuangan seorang perempuan demi melahirkan bayi ke dunia ini. Mereka berjuang demi sebuah nyawa agar dapat melihat dunia, sekaligus mempertaruhkan nyawa mereka. Barra menangis haru, inilah yang telah Mamanya rasakan ketika melahirkannya, dan yang juga kelak akan dirasakan istrinya ketika melahirkan bayi mereka.
"Ma, Barra baru tau pengorbanan Mama saat mengandung sampai melahirkan Barra. Barra mau minta maaf kalau selama ini Barra selalu membuat Mama susah. Barra belum bisa membahagiakan Mama. Bahkan kata-kata Barra sering kasar. Tolong maafkan Barra, Ma!" pinta Barra tulus meneteskan bulir kristal dari sudut netranya.
Tangan Mama meraih wajah Barra. "Gak terasa sebentar lagi Kamu jadi Ayah. Perlakukan istrimu dengan baik, sayangi dia, jangan menyakiti hatinya, hmm!"
"Pasti Ma. Barra akan selalu menyayangi Qiandra. Oh ya, Barra akan menghubungi Qiandra terlebih dahulu Ma."
Barra merogoh ponselnya dari balik saku celananya. Ia segera memanggil kontak dengan nama "My Dear" di ponselnya. Panggilan itupun terhubung dan diangkat.
"Halo, Assalamualaikum Mas!" sapa Qiandra di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Sayang, bagaimana keadaan Kalian?" tanya Barra.
"Alhamdulillah, Kami baik-baik saja Mas. Mikhayla sempat menangis tadi tapi sekarang dia sudah tertidur sama Mbak Nurul di kamarnya. Mas dan semuanya di sana sudah makan malam?" balas Qiandra balik bertanya.
"Belum. Sebentar lagi Kami akan makan. Bayi Mbak Manda sudah lahir, sekarang Papa sedang mengazaninya. Bayinya laki-laki, namun Mas belum tahu pasti keadaan mereka. Nanti Mas kabari lagi ya. Kamu dan anak kita sudah makan kan?" Barra tersenyum.
"Sudah dong Mas. Aku gak sanggup tahan lapar, hehehe!" jawab Qiandra cengengesan.
"Itu bagus, jangan sampai anak Kita kelaparan, Sayang. Mas akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada kamu dan anak Kita. Ya sudah, Mas mungkin akan menginap di sini sampai Mas Adam datang. Kamu tidur duluan ya, kalau ada apa-apa telpon Mas." perintah Barra yang dibalas anggukan kepala oleh Qiandra meski tak tampak olehnya.
Panggilan itu pun diakhiri. Barra mengembalikan ponselnya ke saku celananya. Lalu memerintahkan supir untuk membelikan Makan malam untuk mereka semua yang ada di sana.
Dua puluh menit kemudian, Manda yang terbaring di ranjang pasien Tempak keluar dari ruang operasi, di dorong oleh beberapa perawat. Ia segera dipindahkan di dalam ruang perawatan VVIP yang dirancang khusus untuk Ibu dan Anak. Mengingat bayinya yang lahir prematur, untuk sementara Ia harus dirawat intensif di ruangan steril.
Pukul 22.00 WIB, Mas Adam tiba di ruang rawat Manda. Ia menangis tersedu melihat kondisi istri dan anaknya yang harus dirawat terpisah. Ia merasa bersalah karena tidak berada di samping keluarganya saat istrinya membutuhkan.
"I am so sorry, Dear!" ucap Adam lirih menghujami Pucak kepala Manda dengan banyak ciuman. Keduanya pun menangis haru, mengingat kondisi bayi mereka yang masih belum bisa dikatakan sehat.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
Happy Reading
Makasiii buat semua yang sudah mendukung karya ini ya 🙏🙏🙏
Jangan lupa like dan komennya dong kakak🤗🤗