My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 51 : Di balik Teka-Teki



Detik-detik berganti menit, menit berganti jam, jam pun berganti hari. Sudah tiga hari setelah hilangnya Qiandra, belum ada informasi apapun baik dari kepolisian maupun dari Siskha. Mereka sudah menyadap ponsel Siskha, karena menurut Erlan pelaku utama pasti akan menghubungi Siskha.


Barra semakin frustrasi, sudah tiga hari ini waktu istirahatnya tidak lagi teratur, begitu juga makan. Rambut-rambut halus sudah mulai tumbuh di sekitar rahangnya. Kedua lingkar netranya juga sudah menghitam. Tidak ada lagi tatanan rambut rapi nan klimis. Ia selalu nampak acak-acakan meski jika dilihat sekilas masih tampan, namun orang -orang dengan mudah menebak Ia sedang frustrasi.


Setiap kali ia memasuki rumah ataupun apartemen, bayangan Qiandra yang menyambutnya pulang selalu melintas di benaknya. Perasaan rindu sudah menggerogoti hatinya, meledakkan jiwanya, mematikan syarafnya. Tidak ada warna di raut wajahnya yang terlihat sendu itu.


Begitu juga Mama Renata, kondisinya lebih memprihatinkan. Sudah tiga hari ini Mama Renata selalu menangis memanggil nama Qiandra. Tubuhnya sangat lemah, dengan bantuan selang infus yang tertancap di sebelah tangannya. Ia tertidur hanya karena efek obat, setelah habis maka Ia akan terjaga dan kembali memikirkan Qiandra.


Akibatnya, Papa juga tidak ke kantor selama beberapa hari ini. Semua pekerjaan di kantor Rey yang mengurus dan jika ada berkas yang perlu ia tanda tangani maka akan diantar ke rumah dan dikerjakan malam hari. Ia turut mengurus Mama karena Manda juga sedang dalam masa kehamilan yang baru memasuki trimester kedua. Belum lagi ada suami dan anak yang harus diurusnya, sehingga ia tidak bisa selalu pulang pergi dari rumahnya ke kediaman keluarga Gunawan.


Berita lain yang tak kalah mengejutkan adalah laporan orang tua Arlie yang datang ke GM corporation, yang mengatakan Arlie belum pernah kembali ke hotel setelah menghadiri undangan pernikahan Qiandra n Barra. Hari di mana Qiandra hilang bersamaan dengan Arlie yang juga ikut menghilang.


Di ruang kerja Erlan.


"Aku sudah bersabar beberapa hari ini. Tapi lihat, tidak ada sedikit informasi apapun tentang Qiandra. Aku tidak bisa menunggu lagi Erlan, Aku akan menyudahi permainan ini. Aku tidak ingin mengambil resiko jika terjadi apa-apa pada istriku!" Barra berteriak lalu menarik frustasi rambutnya kebelakang.


"Jika memang itu keputusanmu, Aku tidak berhak melarang. Aku juga tetap akan melanjutkan, Kita tidak boleh berputus asa." Erlan memandang Barra pasrah.


"Baiklah. David, segera perintahkan anak buahmu! Aku akan membawa Siskha ke rumah tua itu. Kita akan paksa dia membuka mulut!" perintah Barra pada asisten pribadinya itu.


Barra yang tidak mendapati tanggapan dari David segera menoleh. "Dav, Kau mendengarku bukan?" tanyanya sambil berjalan ke arah David.


David sedang fokus dengan ponsel pintarnya. Sebelum Barra tiba tepat di depannya, ia berteriak.


"Boss, Siskha sedang menerima telfon dari seseorang." Segera menuju ke sofa lalu meletakkan ponselnya yang sudah di speaker ke atas meja.


"Kenapa Tante baru menghubungiku, menyebalkan sekali?" Suara seksi wanita yang dibuat semanja mungkin terdengar oleh mereka di ruangan itu.


"Segera lacak lokasi pemanggilnya , Randa sekarang!" perintah Erlan yang dengan sigap langsung diangguki Randa dan membuka sebuah laptop.


"Kenapa, Sayang? Maaf Tante sudah beberapa hari melakukan perjalanan ke luar negri bersama suami tante. Tenang saja, Tante baru saja memberikanmu sedikit bonus atas keberhasilanmu menjebak Qiandra." Kali ini suara lain yang terdengar, sepertinya seorang wanita paruh baya.


Deg


Jantung Barra memompa cepat darahnya lebih kencang dari biasanya.


"Wah, benarkah? Terimakasih Tante. Tapi ingat Tan, Aku tidak ingin dibawa-bawa dalam urusanmu. Aku tidak melakukan kejahatan apapun!"


"Percaya pada Tante, Sayang. Tante tidak mungkin mengecewakanmu. Dan Tante bisa pastikan tidak akan ada yang tau tentang hal itu." Senyuman licik terbingkai di bibir wanita paruh baya itu.


"Ngomong-ngomong, apa yang akan Tante lakukan padanya, Tan?" tanya Siskha penasaran.


"Ahahahah, apa Kau penasaran? Tenang saja, Tante akan sedikit beemain-main padanya," jawabnya santai.


"Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Siskha lagi.


"Di suatu tempat yang sudah Tante siapkan untuknya agar ia bisa bertemu dengan orang-orang yang dia cintai."


"Aku tidak mengerti maksud Tante!"


"Kau masih terlalu kecil untuk mengetahuinya sayang."


"Baiklah, Tante tutup dulu. Besok Tante akan bertolah ke Shanghai. Dari Shanghai, Tante akan kembali ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Sampai jumpa Siskha, bye!"


"Bye, Tante." Panggilan itu pun tertutup.


Seketika kondisi ruangan terasa hening. Keempatnya saling bertukar pandang. Ada perasaan marah di hati Barra, emosinya seakan tak terbendung. Ingin rasanya dia menari Siskha ke depannya sekarang dan menanyakan kepada sekretarisnya itu apa yang terjadi sebenarnya. Sementar itu, David yang mengerti perasaan Barra mencoba menenangkan Barra dengan menepuk pundaknya.


Lain halnya dengan Erlan. Ia saling bertukar pandang dengan Randa. Erlan membisu, merasa sangat mengenal suara wanita paruh baya itu. Pandangannya beralih pada Randa yang sejak tadi melacak keberadaan si penelepon. Seperti mengerti kegundahan hati Tuannya, Randa mengangguk.


"Zhiwa Ling Heritage hotel, Shigatse Valley!" ucap Randa dengan pasti.


Deg


Ucapan Randa memacu jantungnya memompa darah lebih cepat. Alamat yang sama di mana Papa dan Mama nya berada kini sebelum besok bertolak ke Shanghai.


"Randa, apa benar ..." Tak kuasa melanjutkan penuturannya, Erlan membuat Barra bingung.


"Ada apa Erlan? benar apa?" tanyanya tak sabar.


"Papa," gumamnya lirih lalu melirik Randa.


"Lacak titik Papa sekarang, Randa!" titahnya cepat sebelum Ia menggeser ikon yang ada di layar.


"Halo, Pa." Perasaan canggung menyelimuti Erlan.


"Halo, Erlan. Bagaimana kabar mu di sana?" tanya pria paruh baya tersebut dari seberang telfon.


"Aku baik, Pa. Bagaimana kabar Papa dan Mama?" Erlan Melihat Randa sekilas.


"Kami baik-baik saja Nak, sebentar lagi Papa akan menikmati pemandangan pegunungan mount Everest dengan helipad." Papa menjawab dari seberang sana.


"Benarkah? Wah pasti seru sekali. Di mana Mama, Pa?" sedikit ragu ia menanyakan hal itu.


"Mamamu sedang di balkon kamar sejak tadi. Katanya ingin melihat pemandangan alam."


"Baiklah Nak, Papa bersiap dulu sekaligus memanggil mamamu. sebentar lagi heli akan datang menjemput kami."


"Baiklah, Pa. Papa, berhati-hatilah. Aku menyayangi Papa." Ucap Erlan dengan bibir bergetar menahan tangis."Aku sayang padamu, Pa!" sambungnya lagi yang dibalas dengan tawa bahagia papa di seberang sana dan sesaat kemudian, panggilan terputus.


"Lokasi yang sama, Tuan." Randa membeberkan hasil lacakannya sebelum di minta, membuat David dan Barra saling berpandangan.


"Apa maksud mu, Randa?" Barra kembali bertanya pada Randa, namun Erlan yang menjawab.


"Lokasi orang yang menelfon Siskha tadi sama dengan tempat Papa dan Mama Diana menginap. Mama Diana, untuk sementara waktu menjadi satu-satunya orang yang paling mengarah ke kasus penculikan Qiandra." Erlan mengucapkannya dengan tegas.


...✳️✳️✳️...


"Bruuuuk"


Seorang pria dengan kondisi babak belur dan tangan serta kaki yang terikat dilempar begitu saja menghantam dinding. Hal itu membuat dua sahabat yang dalam posisi serupa yang sedang tidur dengan saling menopang tubuh satu sama lain tersentak kaget.


"Dasar menyusahkan saja Kau. Diam di sini dan jangan macam-macam. Tiga hari lagi Nyonya akan menemui kalian!" seru salah seorang pria yang memiliki perawakan garang dengan badan tegap. Lalu kedua penjaga itu kembali menutup pintu dan menguncinya kembali dari luar.


Suasana ruangan kembali gelap, hanya diterangi seberkas cahaya yang menyelinap dari ventilasi kecil. Tidak ada jendela ,tidak ada penerangan. Sudah tiga hari Qiandra dan Arlie hidup beralaskan lantai yang dingin, tanpa selimut yang menghangatkan mereka. Di beri makan bak pesakitan penjara, ikatan pada tangan dan kaki di lepas hanya saat makan dan ke kamar mandi.


Arlie terlihat lebih pucat, usia kehamilannya yang memasuki trimester kedua akhir membuat ia lebih sering mengerang sakit. Tak jarang ia menangis merasakan nyeri di balik punggung dan juga perutnya. Qiandra yang melihat juga ikut merasakan oenderitaan Arlie. Namun tak banyak yang bisa dilakukannya selain menghibur Arlie agar terlupa dengan rasa sakitnya sesaat.


Keduanya mengerjapkan netranya, menelisik pada sosok yang baru saja di lempar masuk. Ruangan 3x4 itu di desain tanpa jendela dan hanya memberikan ventilasi kecil udara di bagian atas dinding-dindingnya.


Sosok yang mulai meliuk dan menggeram itu mulai terlihat jelas wajahnya. Meskipun ada beberapa lebam di bagian wajahnya namun jelas terlihat. Tiba-tiba, netra Arlie dan netra pria itu bertemu pandang, dan ...


"Kak Zidane!" teriak Arlie histeris.


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Hai Gengs, happy Reading ya,,


Seperti biasa jangan lupa like dan komen ya.


Maaf belum sempat koreksi, typo bertebaran mungkin, maklumi aja yah🙏🙏🙏


Makasihhhh🙏🙏🙏