
"Jangan sentuh dia! Dia milikku!" Suara nyaring seorang wanita membuat ke empat orang itu menoleh ke asal suara. Qiandra terkesiap melihat seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri mereka. Dilihat dari gaya berpakaiannya tentu saja nyonya ini bukan orang biasa, begitu pikir Qiandra. Tapi, siapa dia?
"M-maaf Nyonya, Saya hanya memberi pelajaran pada wanita ... ." Wanita paruh baya itu mengibaskan tangannya pertanda agar pria itu tidak melanjutkan ucapannya.
Qiandra memandang awas, mengerutkan dahinya. Baru kali ini ia bertemu dengan sosok wanita yang menatapnya tajam itu. Tapi apa hubungannya dengan wanita itu sampai ia harus diperlakukan seperti ini?
Diana menarik dagu Qiandra hingga ia mendongak ke atas, lalu memiringkan wajah Qiandra ke kanan dan ke kiri.
"Di mana pria dan wanita hamil itu?" tanya Diana pada para preman itu sementara pandangannya tetap melihat Qiandra.
"Wanita hamil itu Kabur Nyonya! Sedangkan pria itu pingsan di dalam," jawab kedua preman lainnya serempak.
"Kalian berdua, cari dia. Dia tidak akan bisa berlari jauh dengan kondisi seperti itu. Cepat!!" teriak Diana memalingkan wajahnya ke arah dua preman tersebut. Diikuti dengan bergeraknya kedua preman itu menuju arah Arlie berlari.
"Kalian semua, bawa wanita ini ke tempat di mana laki-laki sampah itu berada!" seru Diana seraya berlalu diikuti ke enam preman lainnya, dengan dua orang preman menarik lengan Qiandra kasar.
"Lepaaaaas, lepaskan Aku! Apa salahku pada Kalian?" teriak Qiandra sambil menggeliatkan tubuhnya melawan kedua preman yang menarik tangannya masuk ke bangunan itu.
Cengkraman kuat para preman itu menyakiti lengannya, namun Qiandra meringis kesakitan saat kakinya yang terluka menyentuh lantai. Air matanya lolos begitu saja dari kedua netranya.
"Mas Barra, selamatkan Aku, hiks hiks!"
Qiandra tak henti berdoa dalam isakannya. Akankah ia berakhir di tempat ini bersama Zidane? Bagaimana dengan Arlie? pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
"Brakkkkk! Arghhhh!"
Tubuh Qiandra tersungkur ketika dua preman itu menghempaskannya tepat di samping Zidane yang sudah tidak bergerak. Telapak kakinya yang terluka membuat ia menjerit kesakitan dan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Kenapa? Sakit?" Diana berjongkok lalu menarik rambut Qiandra yang tertutup hijab itu. Wajah Qiandra memerah menahan nyeri di kaki dan kepalanya. Namun Ia menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan semuanya.
"Siapa Kau? Kenapa, kenapa?" teriak Qiandra frustasi.
"Ahahahahahahahh," tawa Diana pecah seraya kembali menarik dirinya bangkit berdiri. Dengan angkuh ia pun berkata, "Aku? Aku adalah teman ibumu, si wanita m*****n itu!"
"Jaga mulut Anda, Nyonya! Jangan memanggil ibuku dengan mulut kotor Anda!" bentak Qiandra emosi.
Baru saja Diana melayangkan tangannya ke arah wajah Qiandra, tiba-tiba suara dua penjaga yang dipukul terdengar membuat Diana harus menunda hasrat menamparnya.
Bagh... Bigh... Bugh...
Pukulan dan tendangan itu mendarat di belakang dua orang penjaga yang berada di salah satu akses masuk ruangan oleh dua orang pria yang datang dari arah belakang. Keduanya adalah Barra dan David, yang kini sedang meladeni adu tinju mereka.
"Massss!" teriak Qiandra terisak saat kaki Barra mundur beberapa langkah akibat pukulan telak mengenai perutnya. Barra melirik Qiandra sejenak, nyaris rasa sakit yang sempat ia rasakan hilang sebab melihat kondisi istrinya yang sangat kacau.
Barra kembali memasang kuda-kudanya, bersiap menghadapi kemungkinan serangan. Sementara David kembali ke samping Barra setelah melumpuhkan lawannya.
"Tenanglah, Kita hanya perlu menunda waktu sebentar!" bisiknya lirih seraya memperhatikan ke lima orang preman yang sudah bersiaga.
Suara tepukan tangan Diana memecah konsentrasi mereka semua. Dengan sigap tangannya menarik Qiandra untuk berdiri, dan dengan sekali hentakan Qiandra pun dibawa bangkit sambil berteriak merasakan perih pada luka di kakinya.
"Kenapa, sakit huh? Ahahahahaha... " Diana tertawa kembali lalu tiba-tiba ia sudah menjambak rambut yang tertutup kerudung itu hingga membuat Qiandra meringis.
"Jangan sakiti istriku!" teriak Barra lantang lalu dengan penuh emosi berlari ke arah Qiandra dan Diana.
"Tunggu,, tidak semudah itu anak muda!!" Mengacungkan sebilah pisau di pipi Qiandra.
"Jika Kalian berani mendekat, pisau ini akan menyakiti kulit wanita ini, hahahaha. Uppssss, maaf pisaunya tajam!"
maju, namun tubuhnya segera ditarik oleh David.
"Barra, jangan gegabah jika Kau ingin Qiandra selamat, oke! Calm down, please!" pinta David lirih ditelinga Barra.
"Apa maumu, jangan sentuh istriku Aku mohon!" Barra mencoba bernegosiasi.
"Manis sekali Kalian berdua. Qiandra putri dari Zasqia dan kalau Kau suaminya maka Kau adalah putra dari Renata? Dunia ini sempit sekali bukan?Ahahahahahah... "
Buliran kristal sudah mengalir dari kedua netra Qiandra. Bukan hanya karena rasa sakit yang Ia terima, namun melihat orang yang Ia rindukan ada di depannya.
"Mas, Aku kira Aku tidak akan bisa melihatmu lagi," gumam Qiandra dalam hati.
"Kenapa? Apa kau ingin mengatakan bagaimana Kau bisa mengenal kedua orang tua kami?" tanya Barra memprovokasi Diana.
"Anak pintar. Tentu saja, Aku akan mengurai benang kusut di antara Kita," respon Diana seketika.
"Aku, Renata dan Zasqia adalah teman satu kelas saat di SMA. Namun hubungan kami harus hancur karena ulah wanita m****an seperti ibumu!"
Qiandra tersentak. Mendengar Diana menyebut ibunya dengan sebutan seperti itu, ia marah sekali. Namun tenaganya seakan sudah di sedot habis, nyeri di tangan dan kakinya, belum lagi kondisi kesehatan yang menurun selama di lokasi penyekapan membuat Ia tidak memiliki ekstra tenaga untuk membalas kata-kata Diana.
"Apa maksudmu?" Barra bertanya seolah tidak mengetahui keadaan sebenarnya.
"Ibunya seorang ja***g, dia bahkan tega merebut kekasih sahabatnya sendiri!" Diana tersenyum puas.
"Seharusnya Kau berpikir sepuluh kali untuk sebelum menikahinya, hahaha, jangan sampai kelakuan ibunya menurun pada istrimu.!" ucap Diana memprovokasi Barra.
Qiandra memandang Barra lemah, sembari menggelengkan kepalanya. Melalui kode dari tangannya, Barra mengungkapkan untuk tetap tenang.
"Kenapa Kau seperti sangat membencinya?" tanya Barra lagi ingin tahu.
Diana menyunggingkan senyuman sinis. "Karena Ibunya telah menghancurkan hidupku!" Menatap Qiandra dengan tajam dan kedua mata yang terbuka sempurna. "Nyawa di balas nyawa, kehancuran di balas kehancuran."
"Maksudmu, Kau menculik Diana karena dendammu pada ibunya?" usut Barra lagi.
Kedua sudut bibir Diana tertarik membentuk segaris senyuman mengejek yang ia tujukan pada Qiandra. "Sayang sekali, sebelum Aku bisa membalas dendam ku pada wanita m****an itu, ia sudah tiada. Sebagai gantinya, putri satu-satunya ini yang akan menerima akibatnya. Aarrrghhh!!!"
Tatapan kebencian yang dihunuskan oleh Diana terbaca oleh Barra, sebelum lengannya mendarat di leher istrinya Barra segera berlari dan melompat memeluk Qiandra terlebih dahulu.
"Sial, hei Kalian tangkap gadis itu, habisi dia.!" tunjuk Diana pada keduanya lalu dia bergerak pergi meninggalkan ruangan tersebut namun terlambat. Segerombolan orang dengan pakaian seragam coklat telah memenuhi ruangan dengan mengacungkan pistol mereka.
"Jangan bergerak, angkat tangan kalian!!"
.
.
TBC
.
.
Happy reading ya Zheyeng2 kuhhhh,, makasi doanya semua. maaf belum bisa balas komen kalian 🤗🤗🤗 Thanks juga atas dukungannya yah,,, selamat beraktivitas dan tetap patuhi Prokes ya...