
Suasana jalanan siang ini tidak terlalu macet, sehingga mobil yang ditumpangi Qiandra berjalan tanpa kendala. Qiandra tampak memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur. Namun, rasa nyeri diperutnya membuat Ia terbangun. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pantas saja, sudah jam segini," gumam Qiandra seraya memegang perutnya yang terasa lapar.
"Pak, di depan ada Restoran, mampir sebentar ya, Saya sudah lapar Pak, Heheh."
"Baik Nona."
*
Qiandra membuka pintu mobil dan bergegas keluar. Ia sudah mengajak pak Ujang untuk ikut tadi, namun Beliau menolak karena sudah dibuatkan bekal oleh istrinya, Bik Darni.
Qiandra berjalan perlahan sambil melihat sebuah lokasi di outdoor resto. Kosong, tidak ada pelanggan yang menempati. Ia pun mempercepat langkahnya, menuju ke lokasi favoritnya bersama sahabatnya, Arlie.
Ketika menarik kursi, tangan Qiandra bersentuhan dengan tangan seseorang yang juga menarik kursi sama dari arah berbeda. Ia menoleh, keduanya sama-sama terkejut.
Mereka mematung beberapa saat.
Qiandra menatap orang yang selama ini dia rindukan. Namun, untuk memeluknya, ada perasaan aneh yang menggerogoti asanya. Ada perban di pelipis sebelah kanannya, kelihatannya masih baru. Begitu pun, terlihat memar di lengan kanannya, Wajahnya nampak pucat dan sembab.
"Ekhemmm, Anda mau duduk di sini? Kalau begitu silakan, saya akan mencari tempat lain." Qiandra merasa canggung, seperti tidak mengenal orang yang di depannya sekarang.
Baru saja beberapa langkah Ia beranjak pergi, suara wanita itu menghentikannya.
"Maukah Kau menemaniku makan?" Tanya pemilik suara itu, yang kini melihat Qiandra dengan wajah memelas.
"Jika Kau tak keberatan," sahut Qiandra lalu langsung menyambar kursi di depannya.
Wanita itu melambaikan tangannya, memanggil seorang pramusaji.
"Kkau ingin menu apa?" tanya Arlie hati-hati. Ada sedikit getaran pada suaranya, Qiandra yakin dia sedang tidak baik-baik saja.
"Selamat siang, ada yang bisa Saya bantu," sapa Pramusaji itu ramah. Dia menyodorkan satu buku menu yang dibawanya sambil tersenyum manis.
"Mie Kenma pedas level 5 dua, di goreng ya Mbak," Ujar Arlie kepada pramusaji menunjuk pada gambar di menu.
Seketika hal itu membangkitkan ingatan Qia akan kenangan mereka. Menu inilah yang sering mereka pesan dulu begitu pun tempatnya.
"Minumnya Blue Ice Magis , dua. satu Mister Potato, satu Asinan Nasari, dan ...," Qiandra memutus ucapannya, lalu melirik pada Arlie. "Kau ingin minum Soju denganku?" Arlie hanya mengangguk.
"Dua botol so-ju Se-ol dan satu salad buah Fafa," sambung Qiandra lagi. Setelah menyelesaikan catatan pesanan, Pramusaji itupun undur diri dari hadapan mereka. Tiba-tiba, perasaan canggung kembali menyelimuti keduanya.
"Apa kabar?" tanya keduanya bersamaan.
Mereka tertawa pelan.
"Aku minta maaf." Arlie memandang Qiandra dengan tatapan sendu. Qiandra pun merasakan sesak di dadanya. Entah bagaimana perasaannya kini, yang jelas ingin memeluk sahabatnya ini namun ada rasa enggan juga.
Qiandra menarik nafasnya kasar.
"Apa Kau baik-baik saja? Kenapa kepalamu di perban?" Ada sedikit nada kekhawatiran di balik pertanyaan yg dilontarkan Qiandra.
Mendengar pertanyaan Qiandra, Arlie lagi-lagi merasa semakin bersalah. Seandainya ini bukan jam makan siang, dan suasana lengang, pasti dia akan menangis.
Arlie menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak apa-apa, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku," lirihnya, kembali menatap sendu Qiandra. kecanggungan kembali merayapi atmosfir keduanya.
Tak berselang lama,, pesanan mereka sudah dihidangkan. Mie Kenma (Kelen atur sendiri Pedasnya cemana), merupakan sajian andalan di Resto ini. Mie ini dapat dipesan dengan level pedas 1 sampai dengan 10, tapi jangan coba-coba pesan level 10 ya, dijamin kalian akan muntah-muntah dan diare. Mie ini juga bisa dipesan sesuai selera, digoreng atau berkuah.
Tanpa basa-basi keduanya meraih minuman berwarna blue ocean itu. Sepertinya mereka haus sekali. Minuman bertajuk Blue Ice Magis itu, memiliki rasa yang tak biasa. Campuran dari minuman bikarbonat berwarna biru dan selasih dengan Kreamer kental di dasarnya, Tak lupa setumpuk es serut yang mengapung di atas, perasan jeruk lemon juga sedikit potongan nanas sebagai pemanis. Hanya sekali sedot, minuman itu pun nyaris kandas.
Arlie tersenyum, menatap Qiandra yang juga tertawa kecil dihadapannya. Lihatlah, bagaimana minuman dingin berwarna biru itu tadi, mulai menghangatkan suasana canggung diantara dua insan itu.
"Selanjutnya,,,?" Qiandra menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum, Mereka berdua serempak mengambil menu berikutnya.
Ya, Qiandra mengambil dan melahap asinan buah Nasari (Nanas, Apel, Salak, Mangga muda, dan Strawberri), yang disirami kuah segar berpadu dengan rasa pedas bumbu dan sari buah itu sendiri.
Sementara Arlie juga tak mau kalah. Ia menyendokkan Salad buah Fafa (Fasti Enak, Fasti Syukaaa) ke mulutnya saat itu juga. Campuran buah segar yang terdiri dari Anggur, Melon, kiwi, Apel, pepaya muda dan semangka ini disiram dengan kuah creamy yang berasal dari campuran mayonais, yoghurt, madu, susu dan keju.
Mereka penyuka buah dengan versi berbeda. Meskipun menu ini termasuk dessert, tapi Mereka terbiasa menjadikan menu yang kaya akan vitamin dan enzim ini sebagai makanan pembuka. Mau ikutin Sunnah katanya, hhhhiiii.
Rasa manis, asam, asin, dan pedas menyatu dengan sari buah pada Asinan merupakan mood booster bagi Qiandra. Begitupun Arlie, yang memilih rasa segar bercampur manis ,dan asam, serta asin keju membaur bersama creamynya saus salad, sebagai mood booster.
"Aaaaa, aku kenyang!" ucap Qiandra menghempaskan belakang tubuhnya ke sandaran kursi. Melihat ke arah Arlie yang masih menyeruput sisa saladnya itu.
"Arlie, kapan Kau pulang dari Bali?"
Juedeeeeerrr...
Arlie seperti tersambar petir. Ia tahu cepat atau lambat Ia harus jujur pada Qiandra. Air mukanya langsung berubah, netranya menghangat.
"Ehmmm, Bisakah aku menceritakannya sambil makan? Perutku masih lapar, hheee." Menarik satu porsi Mie Kenma level 5 itu, mulai memainkan garpu dan menyantapnya.
"Qiandra, Aku tau setelah Aku menceritakan ini, mungkin Kau akan membenciku. Namun, Aku harap suatu hari Kau akan memaafkan Aku."
"Beberapa hari sebelum kita ke Bali, Aku baru mengetahui bahwa Aku hamil anak Kak Zidane."
Qiandra tersentak kaget, mengetahui fakta baru tentang sahabatnya itu. Sontak tangannya langsung meraih seporsi mie goreng pedas level 5 dan mulai mencicipinya. Indra pendengarannya bersiap siaga, tak ingin melewatkan satu patah kata pun.
"Ketika aku meminta pertanggungjawaban darinya, dia memberiku syarat. Aku harus membawamu ke Bali dan membiarkanmu membayar semua tagihan hotel, Awalnya aku menolak, namun Dia malah mengancam tidak akan menikahi ku."
Rasa pedas dan sensasi terbakar mulai dari bibir dan lidah, hingga ke tekak mulai mempengaruhi air mata dan air hidung keduanya. Netra mereka tampak mulai berair.
"Aku bertanya alasan dia melakukan itu. Dia bilang, Kalian bersaudara, dan Bunda yang telah merebut Ayah dari ibunya. Sebagai orang yang telah mengenal keluarga Mu dengan baik, Aku sama sekali tidak percaya. Namun Aku tidak punya pilihan, Aku yang bodoh ini memilihnya,,, Huuuwaaaa..."
Arlie mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya, ditambah lagi rangsangan c**apsaicin itu membuat air mata dan hidungnya tak berhenti keluar. Begitu pun Qiandra yang mulai terisak kecil.
"Jadi K-kau mengetahui semua rencananya sejak awal?" Qiandra menatap Arlie tajam, wajahnya sudah dipenuhi airmata. Kemudian mengambil tissue, membuang air di hidungnya.
Arlie menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan seperti itu! Aku mohon dengarkan penjelasan ku. Setelah itu, apapun keputusan mu Aku menerimanya," cecar Arlie kemudian, tangan kanan masih setia dengan garpu, sementara tangan kiri kini sudah mulai menyapukan tissue ke area wajah.
Arlie menjeda ucapannya sesaat, "Aku tidak mungkin membiarkan mu sendiri, namun demi anak di dalam kandunganku, aku harus rela." Arlie menangis meski tak tersedu, bibirnya merah bukan karena liptint, tapi karena kepedasan.
"malam harinya, agar kau tak menyadari kepergianku besok, kak Zidane menyuruh ku memasukkan alkohol ke minumanku, dan membawa mu ke kamar. Namun aku melupakan sesuatu di toilet sehingga aku meninggalkan mu ke kamar sendirian."
"Aku pikir kau sudah selamat, aku pikir kau sudah kembali ke kamar dengan selamat, tapi..huahuwaaaa" Lagi-lagi Arlie menangis, mie dalam piringnya sudah habis tak bersisa.
"Hari kedua setelah aku tiba, Kak Zidane menepati janjinya. Dia menikahi ku, namun tanpa dihadiri kedua orang tua kami. Hanya ada dua orang saksi di sana."
"A-aku takut kka Zidane mengetahui aku telah membantumu, sebab itu Aku mengganti nomor ponsel ku. Namun, pagi tadi dia pulang dalam keadaan mabuk, Aku bertengkar hebat dengannya."
Arlie pun mulai menceritakan apa yang dia dengar dari Zidane tadi pagi tanpa melewatkan satu kata pun. Kini Ia menangis tersedu-sedu dengan menidurkan kepalanya beralaskan lengan di atas meja.
Qiandra makin terisak, selama ini yang ada dipikirannya tentang Arlie yang sengaja melakukan ini padanya. Selama beberapa hari, Ia terus menerka-nerka siapa pelakunya. Meski di awal ia sempat menolak bahwa Arlie tidak ada hubungannya, namun pada akhirnya Ia kalah dan ikut berprasangka buruk pada orang terdekatnya itu.
Kenyataannya, selama ini Ia terpuruk dengan pikirannya sendiri. Seandainya saja ia lebih peka, seandainya saja ia lebih perhatian, seandainya saja,,, ahhhh, andai saja ia juga mencintai orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya menuntut agar dicintai.
"Lihatlah, orang yang selalu menghapus air mata mu saat Kau terpuruk sedang menangis, bahkan saat dia bisa egois memikirkan dirinya sendiri, dia masih memikirkan mu!" teriak Qiandra dalam hati berusaha mengalahkan egonya.
"Maafkan Aku, hiks hiks... Maaf..." ucap Qiandra lirih. Ia bangkit dari kursinya meraih tubuh Arli, memeluknya dengan posisi berdiri, menangis sesenggukan berdua.
Sungguh demi apapun, ini pertama kali baginya, ia memeluk sahabat wanitanya itu seperti ini. Qiandra tersadar, selama ini Dialah yang selalu di peluk, Dialah yang selalu didengar, Dialah yang selalu dihapus air matanya.
"Kenapa mienya pedas sekali, air mata dan hidungku tak berhenti mengalir, Huwaaaa Huwaaaa huwaaaaaaaaa." Arlie menenggelamkan kepalanya ke perut Qiandra.
"Dasar, wanita gila. Kau yang memesan level 5. Biasanya kita makan level 4, tau! hiks hiks hiks ..."
"Sudah tau Aku gila, kenapa Kau mau berteman denganku,, hhuuuh!"
"Kalau bukan Aku yang menjadi temanmu, siapa lagi?"
Arlie pun menjauhkan kepalanya dari tubuh Qiandra. Lalu berdiri seraya merangkul pundak sahabatnya itu. Mereka berpelukan beberapa saat hingga sensasi pedas yang mereka menghilang perlahan-lahan.
***
Barra tak henti melirik dua wanita yang kini sedang duduk bersama di salah satu tempat di outdoor Resto tak jauh dari tempatnya kini. Sedari mereka memesan makanan, hingga melahap habis makanan, Barra seringkali mencuri pandang melalui kaca transparan di sebelahnya itu.
Mereka baru saja selesai menyantap hidangan VVIP resto Singa. Baked whole seabass in salt crust, Wagyu Beef Brochete dan Lobster Thermidor with hollaindaise sauce menjadi menu utama pesanan mereka siang ini. Tidak tanggung-tanggung, menu ini juga langsung di buat oleh sang koki handal sekaligus pemilik Resto Singa. Ternyata rencana mereka menikmati mie pedas mereka batalkan sebab khawatir akan diare saat kerja.
"Aku rasa kita harus kembali sekarang," seru David pada kedua temannya.
Andin mengangguk, menatap Barra yang tidak berkutik. Ia menyadari, Barra tidak mendengarkan ucapan David.
"Barra, Barra," panggil Andin mencoba menyadarkannya. Andin memukul lengan Barra, karena Barra tak kunjung menjawab. Barra refleks menggerakkan badannya.
"Ya, ada apa?" Memasang wajah tak berdosa.
"Kita harus kembali, sebentar lagi jam makan siang habis. Kita juga ada jadwal penting sore ini," ujar David lagi.
Ya, Barra, David dan Andin bergegas menuju ke pelataran parkir dan segera menghempaskan bokong mereka ke kursi empuk mobil. Sesaat kemudian, mobil yang Mereka tumpangi bergerak perlahan menjauh dari resto. Saling berpacu di jalanan bersama puluhan mobil lainnya.
*****
Qiandra dan Arlie sedang duduk bersantai, masih ditempat yang sama. sudah dua jam mereka berada di sana. Sebelumnya, Qiandra melalui pak Ujang sudah mengabarkan pada Mama Renata, Ia akan pulang sore. Dia juga meminta pak Ujang untuk tidak menunggunya, namun Pak Ujang berkata ini perintah dari Mama.
Mereka sudah menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Ditemani Dua botol So-ju Se-ol dan satu piring Mister potato , kentang yang digoreng dengan Bumbu special, gurih dan pedas. Sementara Soju Se-ol sendiri mengandung nol persen alkohol. Bukan terbuat dari fermentasi beras seperti Soju yang ada di K-drama. Rasanya hangat dan menyegarkan, membuat tubuh terasa rileks dan Nyaman.
Sore ini Arlie akan bertolak ke Batam. Ia berencana akan hidup sementara di sana. Kebetulan ada temanya Arlie dan Qiandra, yang tinggal di Batam, tepatnya daerah Nagoya. Ayahnya memiliki beberapa usaha termasuk hotel bintang empat di sana.
"Arlie, Kau harus ingat, Kau pergi untuk kembali. Berjanjilah padaku, suatu saat ketika hatimu sudah bisa berdamai dengan masa lalu mu, kembalilah."
Qiandra kembali memeluk Arlie yang sebentar lagi akan berangkat ke Bandara. Mereka kembali terisak, pelan namun memilukan.
"Kau lihat kentang goreng itu?" Arlie yang ditanyai mengangguk.
"Untuk mengolah kentang, lazimnya kita akan memotongnya sesuai apa yang kita inginkan. Dari sebuah kentang kita belah dua, kemudian belah empat. untuk kentang goreng? potong lebih kecil lagi. kentang untuk pastel? potong lebih kecil lagi. kentang untuk keripik? lebih tipis dan tipis lagi."
"Begitupun masalah. Sebesar apapun masalahnya, haruslah kita uraikan menjadi bongkahan-bongkahan dahulu, serpihan-serpihan. Tidak apa jika tak selesai dalam sekali waktu. Butuh waktu, proses yang lama untuk kita meguraikan masalah yang besar menjadi masalah yang lebih sederhana hingga kita mampu melihat semua bagian masalah yang ada. Lalu menyelesaikannya tanpa membuat masalah lainnya."
Arlie memandang takjub pada Qiandra.
Begitupun Qiandra, menatap sejuk padanya.
.
.
.
.
.
.
.
***ToBeContinue***
**Hai, Aku Author MyNameIs. Terimakasih sudah membaca karyaku. Ini adalah hari ke-17 Aku mulai menulis, dengan jumlah pembaca lebih dari 1700 orang. (Mewekkk)
Bab kali ini terdiri dari 2100 lebih kata. Bab ini spesial bagi semua orang yang mencintaiku dengan tulus, mendukung, membimbing, mengingatkan, mendengarkan, mempercayai, juga memotivasi Aku.
Bab ini juga Aku persembahkan untuk temen-temen Authorku, Penulis Singa.co (kumpulan Author yang mengutamakan paham kek*mvretan)😊😊😊
Silakan baca Chat Story, "Penulis Singa.co" kalau mau tau seberapa K*mvret mereka Guyssss✌️✌️✌️
I love you to the moon and back, Sarangheeeeeeeee❤️❤️❤️❤️❤️