
Barra dan Mikhayla tergelak begitu keluar dari kamar Qiandra. Keduanya masih tertawa, bahkan saat Qiandra menjerit tertahan di kamarnya. Mama Renata yang kebetulan akan kembali ke kamarnya pun tertarik mencari tahu, ada apa dengan keduanya.
"Hai, cucu Oma. Asyik banget dengan Uncle Barra, abis ngapain sih?" selidik Oma pada Mikhayla.
Mikha tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu dengan jari telunjuknya di bibir, berbisik, " Sssyuuutt, Oma dangan bilang syiapa-syiapa ya! Angken dan Ika abisy nanunin Onti tantik patai ayil."
(Oma jangan bilang siapa-siapa ya! Uncle dan Mikha habis bangunin Aunty cantik pakai air)
Mama menatap Barra penuh tanya. Barra langsung memasang wajah innocent, seolah tidak tahu apa-apa.
"Kenapa memandangiku seperti itu, Ma?" Barra mencoba memecah tatapan penuh selidik mamanya.
Tidak langsung menjawab, mama Renata pun lalu mengelus rambut Mikha. "Mikha, siapa yang punya ide membangunkan Aunti dengan air, Sayang?"
Lagi-lagi dengan polosnya Mikha berbisik pada Omanya. "Angken bilang, Ontii ndak nanun talau ndak disyilam ayil," ucap Mikha di samping telinga Omanya.
(Uncle bilang, Aunty nggak bangun kalau nggak disiram air)
Mama balik menatap tajam Barra, menelisik Barra yang mulai gugup. Barra mengumpati kebodohannya. Ia lupa, partner in crime nya kali ini hanyalah seorang bocah yang bahkan belum berusia empat tahun.
"Dasar pengadu kecil, sungguh mirip dengan Mamanya," gumam Barra dalam hatinya, yang kini memasang senyuman kikuk di depan mamanya.
"Oh, jadi sekarang udah mulai perhatian ya sama Qiandra?" goda Mama Renata pada bungsunya itu.
"Apaan sih Ma! Jangan kebiasaan juga jadi cewek bangun siangan, malas banget," sela Barra membela dirinya sendiri.
"Kalau dia malas kenapa, emang Kamu siapanya? suaminya bukan. Oh, Mama tau, karena Kamu mau jadi calon suaminya Qiandra ya." Wajah Barra memerah mendapat godaan dari mamanya.
"Siapa juga yang mau. Ogah ah Ma, kayak stok perempuan di dunia habis aja. Udah ah, Barra mau menelpon David dulu." Barra berlalu dari hadapan Mama dan juga Mikha terburu-buru.
"Jual mahal banget sih, ntar kemakan omongan sendiri awas loh. Jadi bucin baru tau Kamu, Barra," ucap Mama sedikit berteriak, masih menggoda putra satu-satunya itu.
******
Barra kini sedang bersiap-siap, Ia akan bertemu dengan David dan Andin di tempat biasa. Sebuah Arloji mewah melingkar di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Masih 30 menit lagi dari waktu yang ditentukan. Barra menyambar jaket kulitnya, membawa dompet, ponsel dan juga kunci mobil yang terletak di atas nakas. Setelah merasa tampilannya oke, Ia bergegas keluar rumah.
Barra menuruni undakan tangga rumahnya satu persatu dengan cepat. Begitu sampai di bawah, Ia melihat seseorang yang tak asing namun terlihat berbeda.
Barra tertegun memperhatikan wanita yang semakin mendekat ke arahnya. Penampilannya terlihat lebih fresh dari biasa. Dengan rambut yang dipotong lebih pendek, wajah pucat yang biasa itu pun sudah semakin berwarna. Bukan karena make up, namun tampak lebih bersinar. Entahlah, Barra juga tidak mengerti apa namanya.
"Cantik," gumamnya dalam hati sembari terus mematung.
Sejurus kemudian, Maniknya bersitatap dengan manik milik wanita itu. Barra merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasa. Lidahnya kelu untuk berucap, tubuhnya seketika kaku untuk bergerak, dan matanya enggan berpaling. Wanita itu sudah menjadi poros pikiran serta penglihatannya kini.
Wanita itu tak lain adalah Qiandra yang baru saja tiba dari klinik kecantikan mama Renata. Qiandra pun tampak gugup mendapati sepasang mata tengah mengawasinya. Ia pun segera berlari menjauhi Barra dan masuk ke kamarnya. Sementara Barra masih mematung di tempat dengan kepalanya sudah berputar 90⁰ mengikuti kepergian Qiandra.
"Ekhmmm, Tuu-aan, permisi." Deheman asisten rumah tangganya membuyarkan lamunannya. Barra pun segera pergi menuju ke arah mobilnya berada.
*******
Di dalam sebuah Caffe and lounge yang berada di lantai atas sebuah gedung, tepatnya di salah satu private room Barra, David dan Andin bertemu. Kali ini minus Wilson yang telah kembali ke negara Jiran.
Setelah memesan beberapa makanan dan minuman , ketiganya asyik dengan pembicaraan mereka. Sudah 1 jam mereka berbincang di sana. Kini, Barra dan David sedang mendiskusikan sesuatu yang kelihatannya sangat serius.
"Jadi apa keputusanmu? tetap belum bisa move on?" tanya David pada Barra, yang lebih terdengar seperti sebuah ejekan.
"Sudahlah Barra, dunia ini luas, wanita banyak. Kau bisa mendapatkan siapapun yang Kau mau," Andin menambahkan.
Barra mengusap wajahnya kasar. Matanya menatap sendu pada sembarang arah. Ia menjadi tidak fokus. Selang beberapa waktu, Barra mulai berdiri dengan kedua tangannya berada di dalam saku celananya. Ia menatap ke arah jendela kaca yang lebar.
"Hah," menghela nafasnya kasar, seperti membuang sesuatu dari dalam dirinya.
"Aku tidak tahu, apa Aku masih mencintai Angeline apa tidak. Dia cinta pertamaku dan tentu saja namanya menempati bagian spesial di sini." Barra memegang dadanya.
"Aku akui, mendengar kenyataan tadi, Aku tidak begitu terkejut dan kecewa. Entah mengapa, sebagian di diriku mengharapkan Angeline kembali, namun sebagian yang lain menolak."
"Apa artinya, ada kesempatan Kau menggeser posisinya di hatimu?" tanya David.
"Benar begitu Bar?" tanya Andin antusias.
"Aku tidak tahu. Namun, beberapa waktu ini, Aku sering merasa aneh dan jantungku berdetak lebih kencang saat bertemu seorang wanita. Bahkan, seingatku Aku belum pernah merasa seperti ini bahkan saat dengan Angeline dulu." aku Barra pada kedua temannya.
"Aneh bagaimana, Barra?" tanya Andin lagi.
Belum sempat Barra menjawab, David sudah menyela pembicaraan mereka.
"Kalau begitu, apalagi yang Kau tunggu, segera ambil keputusan itu, Barra. Kau tidak akan pernah tahu sebelum Kau mencobanya. Aku yakin, dia tidak seperti yang Kau pikirkan. Cobalah membuka hatimu, Biarkan dia masuk dan menggantikan Angeline. Aku yakin." David berusaha menyemangati Bos sekaligus sahabatnya itu.
Wajah Andin berbinar ketika David berucap wanita itu. Ia merasa sedang di bicarakan kedua temannya itu. Bagaimana tidak, ketika mereka hanya bertiga, David malah mengganti nama wanita yang dimaksud dengan wanita itu. Apa maksudnya?
"Apalagi, ini merupakan solusi agar Kau dan dia selamat dari berita yang makin meluas di luar sana. Perusahaan juga akan mendukung."
Perkataan David barusan sontak mengoyak harapannya. Baru saja Ia merasa sedikit senang, berharap wanita yang mereka maksud adalah dirinya. Bagai di lemparkan ke jurang yang sangat dalam, begitulah perasaannya kini.
"Ttunggu, wanita itu, maksud kalian resepsionis wanita yang digosipkan bersama Barra?" Dengan mengumpulkan segenap kekuatannya, memberanikan diri untuk bersuara.
"Bagaimana menurutmu, mereka serasi kan?" David mencari dukungan pada Andin.
"A-apa?" Andin merasa dunia berputar, pandangannya nanar seketika, ditambah pertanyaan David semakin membuat adanya terbang jauh melayang.
"Maksudku, A-ku rasa dibandingkan Angeline tentu saja dia lebih pantas," Mencoba tersenyum dan mengontrol emosinya. Ia tidak ingin meledak di hadapan keduanya.
"Ekhhhmmmm," Barra berdehem. "Terimakasih, atas saran kalian. Andin, aku mohon maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Kau bisa kembali bersama David kan?" Barra melihat ke arah Andin dan David sekaligus, meminta persetujuan.
"Aku tidak masalah," sahut Andin masih menyampirkan senyum terbaiknya, meski hatinya porak poranda sekarang.
"Baiklah, Aku yakin Kau akan memutuskan yang terbaik, Brother."
David meninjukan kepalan tangannya ke tangan Barra, lalu keduanya tergelak.
"Aku akan memikirkannya lagi. Baiklah, aku pulang duluan ya. sampai bertemu besok di kantor."
Seusai pamit dengan keduanya, Barra kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Di pertengahan jalan, alunan suara adzan terdengar di telinganya. Ia memilih menepikan mobilnya, lalu singgah di tempat yang mengumandangkan suara itu.
******
Kediaman Keluarga Gunawan
Malam ini semua anggota keluarga Gunawan ikut makan malam bersama. Kecuali Adam yang telah bertolak ke Jerman tadi sore, dan Mikhayla yang sudah tertidur karena kelelahan. Suasana hening menyelimuti makan malam kali ini. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang mengisi kegiatan mereka.
Sebelumnya papa sudah mengatakan bahwa usai makan malam ini, mereka akan membicarakan mengenai keputusan Barra dan Qiandra tentang pernikahan. Dan kini di sinilah mereka berada, di ruang keluarga yang kini telah duduk papa bersama Barra, sedangkan Mama, Qiandra dan Manda berada di satu sofa panjang.
Qiandra hanya mampu tertunduk, mendengar satu persatu kata yang keluar dari mulut papa. Sedangkan Mama duduk sembari terus memeluk bahu anak sahabatnya itu. Manda juga menggenggam tangan Qiandra yang sudah sedingin salju.
Papa membuka pertemuan mereka malam ini dengan beberapa penjelasan mengenai dampak berita yang dibuat media terhadap perusahaan. Meskipun lebih banyak dampak positif, namun kekhawatiran dewan direksi mengenai kejelasan status Barra dan Qiandra, memang masuk akal.
"Jadi bagaimana keputusan kalian terhadap permintaan dewan direksi?" Papa menatap Barra dan Qiandra bersamaan.
"Barra setuju Pa, Barra akan menikahi Qiandra," jawab Barra mantap yang diikuti oleh wajah kaget semua orang termasuk Qiandra.
"Be-benarkah itu, Nak? Mama tidak salah dengar kan, Kau menyetujuinya?" Mama Renata bertanya memastikan, merasa tidak percaya atas apa yang didengarnya barusan.
"Ya! Barra sudah memikirkan ini, dan Barra memutuskan akan menikahi Qiandra." Menatap ke arah Qiandra yang masih memasang wajah bingung.
Mama Renata, Papa dan Manda menghela napas lega, mendengar jawaban dari Barra. Kini tatapan mereka beralih pada Qiandra. Qiandra yang merasa dirinya dimintai jawaban pun langsung menunduk, kedua tangannya saling terpaut berusaha menutupi kegugupannya.
"Emm, sebelumnya Qia mau minta maaf pada semuanya, terutama Mama dan Papa. Untuk kali ini Qia tidak bisa memenuhi permintaan Kalian."
Air muka Mama berubah sendu. Lalu Ia memeluk Qiandra dan menangis.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama mengerti, Kau jangan merasa bersalah. Mama mungkin kecewa tapi Mama sangat mengerti keputusanmu." Mama terisak di bahu Qiandra.
Qiandra mengelus bahu mama Renata.
"Ma, Qiandra tidak bisa memenuhi permintaan kalian karena ini menyangkut kebahagiaan Qia. Qia ingin memilih sendiri pendamping hidup Qia. Qia sudah memikirkan ini sejak kemarin, memohon petunjuk pada Allah SWT." Lagi Qiandra menjeda perkataannya.
"Ma, Pa, Kak Manda, dan Barra, insya Allah Qia sudah mantap, keputusan Qia adalah ......"
.
.
.
.
***To Be Continue***
Akhirnya up juga,,,, 😀😀
Happy Reading ya Gengs,,,
Makasi buat kalian yang mendukung Aku terus dengan tulus.
Jangan lupa like, komen, kasi hadiah dan vote juga boleh 😀😀