
Roda kehidupan terus berputar, membawa setiap insan pada titik-titik di kehidupannya yang berwarna-warni. Engkau bisa saja berhenti di warna merah, putih, bahkan hijau. Namun pastikan dirimu untuk tidak berdiam di warna hitam.
Kehidupan Qiandra yang awalnya dipenuhi air mata, kini berubah tiga ratus enam puluh derajat sejak pertemuannya dengan keluarga Mama Renata. Pernikahannya dengan seorang pria yang sempat berseteru dengannya, malah menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai sekarang. Meski awalnya sebuah kejadian berperan dalam keputusan itu, namun keduanya memilih dengan bijaksana dan niat utama.
Kini Qiandra dan sang suami tengah menanti kelahiran bayi pertama mereka yang identitasnya masih belum diketahui itu. Mereka sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin buah hati mereka.
"Supaya surprise aja, dan apapun yang Allah pilihkan untuk kita memilikinya, Mas!" Kata-kata itu keluar dari Qiandra saat melakukan USG pada pemeriksaan kehamilan trimester keduanya. Waktu itu Barra menawarkan untuk menanyakan jenis kelamin calon bayi mereka pada saat pemeriksaan.
Seiring berjalannya waktu, kini usia kehamilan Qiandra sudah memasuki Minggu ke tiga puluh sembilan. Mama dan Papa sudah satu mingguan ini menginap di rumah Barra. Takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan sebab berkaca dari pengalaman Kak Manda yang lalu.
Barra sudah mulai mengurangi aktivitasnya keluar rumah. Segala jenis pekerjaan yang bisa Ia kerjakan dari rumah, Ia bawa. Namun masih saja, sebagai Direktur selalu ada saja hal-hal yang menuntutnya untuk bekerja di luar.
Pagi ini, Barra dan Qiandra baru saja kembali dari jalan-jalan pagi di sekitaran taman komplek tempat mereka tinggal. Demi mempersiapkan kelahiran bayinya, Qiandra aktif melakukan beberapa hal sesuai anjuran Dokter untuk membantunya melahirkan normal.
kriiiing kriiing ...
Nada ponsel Barra berdering. Ia mengernyitkan dahi melihat nama yang terpampang di sana.
"Siapa?" tanya Qiandra.
"David."
"Angkatlah, mungkin penting!" ujar sang istri dengan tersenyum.
Barra mengangkat panggilan dari Asistennya itu sedikit menjauh dari posisi Qiandra. Tampak wajahnya menahan kesal. Barra tampak menggemaskan di mata Qiandra seperti itu. Ia tidak dapat menahan tawanya memperhatikan ekspresi suaminya.
"Kenapa tertawa?" tanya Barra seraya memasukkan kembali ponsel di saku celananya sesaat setelah panggilan berakhir.
Cup
Barra mendapatkan satu kecupan singkat di bibirnya. "Suka lihat ekspresi Mas seperti itu, gemesin!" Mencubit pipi Barra layaknya pipi anak kecil.
"David bilang hari ini Mas mesti ke kantor. Ada pertemuan dengan calon investor dan Mas harus hadir. Kamu enggak apa-apa kan Mas tinggal sebentar, Sayang?" tanya Barra dengan raut cemas.
Tiba-tiba saja Qiandra merasakan perutnya menegang. Merasakan pergerakan yang membuat nyeri tulang punggungnya. Ia mencoba tetap tersenyum agar tidak membuat suaminya khawatir.
"Enggak apa-apa Mas, Aku kan ada Mama dan Papa yang nemenin. Ada Bibik dan yang lain juga."
Qiandra tiba-tiba membaringkan tubuhnya perlahan. Ia mengambil posisi meringkuk,.menahan nyeri yang datang di perutnya. Nyeri ini sudah sering Ia rasakan sebelumnya namun akan hilang dalam hitungan menit. Namun sejak tadi malam, sudah beberapa kali Ia merasakannya.
"Kamu mau istirahat dulu yah? Mas mandi dulu ya. Anak Papa sehat-sehat ya sama Mama," ucap Barra mencium kening lalu perut Qiandra.
"Iya Papa!" Qiandra menirukan suara anak kecil.
Barra bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya di sana. Setelah tiga puluh menit kemudian, Ia pun keluar dari walk in closet sudah berpakaian lengkap. Di dapatinya Qiandra masih dengan posisi meringkuk seperti tadi dengan mata terpejam. Bulir-bulir keringat membasahi pelipisnya.
Barra mendekati Qiandra, lalu mengusap keringat di pelipis istrinya dengan tisu yang ada di nakas. Qiandra pun terbangun dari tidur singkatnya. Langsung saja Ia dihujami beberapa kecupan di wajahnya oleh sang suami.
"Aku pergi dulu ya, sayang!" Menatap intens wajah Qiandra yang semakin terlihat chubby itu.
"Entah kenapa rasanya hari ini Aku enggan pergi ke kantor!" ucapnya kemudian, seperti ada sesuatu yang mencegahnya pergi.
"Mas, Aku juga maunya Kamu di sini terus tapi Kamu juga punya tanggung jawab pada perusahaan. Aku di sini pasti akan aman bersama Mama, Papa juga para maid. " Qiandra meyakinkan suaminya.
"Baiklah, Mas pergi sekarang ya. Kamu mau sarapan di meja makan atau di bawa ke kamar?" tawar Barra.
"Tolong minta di bawakan ke kamar saja, Mas. Aku mau mandi dulu." Qiandra bangkit dari ranjang, lalu menyalami suaminya. Tak lupa satu kecupan di dahi dan perut Qiandra Barra daratkan.
Selepas kepergian Barra, Qiandra pun beranjak menuju kamar mandi. Lagi-lagi perutnya merasa kram dan nyeri, membuatnya duduk bersandar di atas bath up. Qiandra menghitung frekuensi kontraksi perutnya yang kini hanya berselang tiga puluh menit. Setelah sensasi rasa itu pun hilang, Ia melanjutkan prosesi mandinya.
****
Setelah mandi dan sarapan, Qiandra menemui Mama Renata yang saat ini sedang duduk di ruang tengah. Tampak Mama sedang menonton salah satu Chanel berita . Mama menyambut kedatangan Qiandra dengan senyuman.
.
"Papa mana Ma?" tanya Qiandra mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Papa lagi main catur sama satpam di depan. Kamu sehat kan Sayang?" tanya Mama keadaan Qiandra.
Qiandra mengangguk sambil tersenyum. "Tapi Ma, sudah beberapa kali perut Qia rasanya menegang. Tulang belakang Qia sampai sakit banget rasanya." adunya.
"Kontraksi? seberapa sering nak?" Mama memasang wajah cemas.
"Sekitar tiga puluh menit sekali, Ma!" jawabnya. "Tuh kan sakiit lagi!" Qiandra memegang perutnya meringis menahan sakit.
Mama mengelus perut Qiandra. "Cucu Oma kalau mau keluar, yang pinter ya cari jalan keluarnya!"
"Awwwh Ma, sakit banget!" Qiandra memekik tertahan, menahan rasa sakit tulang belakang sekaligus perutnya yang terasa menegang.
"Kita ke dokter sekarang yah!" ajak Mama.
"Enggak Ma, nanti aja, Qia mau jalan-jalan dulu di sini dulu." Qiandra menolak ajakan Mamanya dengan lembut.
"Enggak Kita berangkat sekarang. Mama gak mau terjadi apa-apa sama Kamu dan cucu Mama. Kita ke rumah sakit ya Nak! Kamu bisa jalan lagi kalau udah sampai di Rumah Sakit!" titah Mama yang dijawab anggukan pasrah oleh Qiandra.
Mama pun segera memerintahkan Bik Ani untuk mengambil perlengkapan Qiandra dan bayinya yang sudah di siapkan jauh-jauh hari dan meletakkan ke mobil. Papa dan Mang Udin juga sudah diberitahu oleh Mama agar bersiap-siap sebab Qiandra harus segera ke rumah sakit.
Sementara itu Papa sudah beberapa kali mencoba menghubungi Barra namun nomor ponselnya tidak aktif. Papa juga menghubungi David namun tidak kunjung di angkat.
"Gimana Pa?" tanya Mama yang menggandeng tangan Qiandra keluar rumah menuju mobil dibantu Bik Ani.
"Ponsel Barra enggak aktif Ma!" jawab Papa. "David enggak diangkat," sambungnya lagi
"Ya udah, Kita ke rumah sakit aja. Nanti Papa coba hubungi lagi. Mang Udin, ayo ke Centra Medika sekarang!" perintah Mama cepat yang dengan sigap Mang Udin mengiyakan.
Ia langsung membukakan pintu mobil untuk Papa yang duduk di samping kemudinya. Dan juga untuk Mama, Qiandra dan Bik Ani yang duduk di kursi belakang. Setelah semuanya siap, Mang Udin pun melajukan mobil dengan hati-hati.
"Cepetan dikit dong Mang," ucap Mama panik melihat Qiandra kesakitan.
"Iya Nyonya!" Mang Udin hanya mampu mengiyakan ucapanya Mama Renata saja, sebab dia merasa sudah melajukan mobil ini dengan baik, namun tetap tidak melepas kewaspadaannya.
Jalanan tampak ramai, mereka pun beberapa kali terjebak macet. Sementara frekuensi kontraksi yang dirasakan Qiandra semakin sering dan sakit yang semakin menjadi-jadi. Mama dan Bik Ani terlihat berusaha menenangkan Qiandra.
Papa yang awalnya akan menghubungi David kembali, menjadi lupa sebab kehebohan yang terjadi di dalam mobil. Setelah melewati beberapa titik kemacetan akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit di mana Dokter Maria bekerja.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Yuhuuuu,,, main tebakan yuk, kira2 baby boy apa baby girl ini yang bakalan lahir???
tulis di komen ya Zheyenk.... nanti malam atau besok pagi Aku up bab terkahir 🥰🥰