My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 48 : Penyesalan Barra



"Sudah dramanya, hari ini hari bahagia, Ayo kita bersenang-senang," teriak Wilson.


"Apa maksudmu, Wil? Lirikan jengah diberikan Andin padanya yang kini mulai tersenyum senang.


"Teman seperti apa Kau ini, Kita harus rayakan hari bahagia Barra dong, iya enggak Bro?" menyenggol bahu Barra dengan bahunya seraya menaikkan kedua alisnya.


"Sayang, jika Kau lelah, kembalilah ke kamar terlebih dahulu, Okey. Aku akan bergabung bersama mereka sebentar." Ada perasaan sesal di hati Barra ketika mengatakan itu, Ia tidak tega namun dalam hatinya setelah malam ini Ia akan memulai lembaran baru dengan Qiandra. Ia akan meminta maaf dan menyelesaikan kesalahpahaman mereka.


Barra, David, Andin dan Wilson akhirnya memilih salah satu tempat yang berada di sisi kolam renang di sebelah. Ketiga pejantan itu sudah membuka jas mereka dan terlihat duduk dan mengobrol santai dengan meneguk wine. Meninggalkan dan membiarkan istrinya kembali ke kamar sendiri, menimbulkan khawatir di hati Barra tapi sayangnya lelaki itu mengabaikan perasaan yang kelak akan disesalinya.


...✳️✳️✳️...


"Kau tidak ingin menemani istrimu?" David tiba-tiba mensela di tengah pembicaraan keempat orang itu.


"Baru jam berapa ini? Yang benar saja, mau apa Kau di kamar, tidur? Dan Kau jomblowan, segera akhiri status jomblo mu itu!" Memandang dengan tatapan mengejek.


"Apa kau bilang? Sudah ku bilang Aku ini anggota ijo tomat, ikatan jomblo terhormat. Bukan sepertimu, donjuan kelas teri, Ceh!" Berdecih geli.


"Aku rasa Andin mengalami cidera otak saat kecelakaan tempo hari hingga memilihmu menjadi pasangan!" sambung David lagi.


"Ahahahahaha... " disambung tawa renyah yang lainnya.


"Sialan, tentu saja Andin memilihku karena performaku yang baik di segala bidang." Mengerlingkan matanya genit ke arah kekasihnya, yang dibalas satu cubitan telak di perutnya.


"Aauuu, sakit Sayang. Ampun!" rengeknya memelas.


"Huek huek huek," ujar David dan Barra serentak melihat donjuan kelas teri menjadi bucin seketika.


"Sekali lagi Kau berbicara sembarangan, ku kirim kau ke Malaysia kembali," seru Andin mengancam.


"Ampun sayang," Menggesekkan kedua telapak tangan yang berada di depan wajahnya.


"Dasar Bucin, ahahahaha!" David menertawakan tingkah Wilson.


"Jangan sesumbar, Kau juga akan menjadi bucin ketika menemukan pasangan yang tepat. Semua akan bucin pada waktunya!" peringatkan Barra pada David.


"Tapi Aku tidak akan sebodoh Dia." Menunjuk Wilson dengan dagunya.


"Sudah waktunya kita kembali. Ini sudah dini hari." Melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ayo!" David berdiri dari tempat duduknya.


"Hei, ini masih jam 1 pagi!" sergah Wilson seraya menegak minumannya.


"Dav, kita pulang berdua saja. Ayo tinggalkan playboy kelas teri ini. Barra, sebaiknya Kau temani Qiandra di kamar. Sudahi acara konyol ini." Beranjak dari kursinya lalu melingkarkan tangannya di lengan David dan pergi dari sana.


"Hei, Sayang tunggu Aku. Jangan sentuh pria tua bangkotan itu, kau bisa gatal-gatal," teriak Wilson yang langsung meletakkan gelas anggur di tangannya lalu berlari menyusul keduanya. Sedetik kemudian, ia berbalik lalu berseru, "Sampai jumpa di pernikahanku dan Andin!"


Sepeninggal ketiga sahabatnya itu, Barra juga bergegas ke kamarnya. Sepanjang perjalanan tadi dia sudah bertekad akan mengajak istrinya berbicara dan meminta maaf. Membuka pintu kamarnya perlahan. Di tutupnya perlahan pintu kamarnya itu, lalu matanya berpendar mencari sosok yang dirindukannya.


Nihil. Tidak ada sosok itu di tempat tidur. Barra berjalan ke kamar mandi seraya meneriakkan nama istrinya itu. Masih tak ada sahutan dari dalam. Tangannya meraih handle pintu kamar mandi lalu memutarnya, terbuka namun kosong. Tak terlihat sosok yang Ia cari di sana.


Meraih ponselnya, lalu mencoba melakukan panggilan ke nomor istrinya tapi suara operator yang menjawab. Beberapa kali ia menghubungi, namun hasilnya tetap sama. Barra akhirnya menghubungicsang Mama yang mungkin saja tau keberadaan istrinya. Mama pun menjawab pada panggilan kedua.


"Halo!" Khas suara parau orang bangun tidur.


"Halo Ma, apa Qiandra bersama Mama?" tanya Barra tanpa basa-basi.


"Kamu mimpi apasih Barra, Qiandra tadi di kamar. Mama yang anterin dia sampai depan kamar. Kamu sih main ditinggal sendirian aja gitu." Mama Renata mengomel masih dengan netra yang tertutup.


"Dia tidak di kamar Ma, Barra sudah mencoba menelponnya namun tidak aktif. Barra khawatir, Ma? Kemana dia malam-malam begini?" Mengusap wajahnya kasar lalu menarik rambutnya frustrasi.


"Apa? kok bisa sih? Aduh, Mama coba telfon kakakmu, Kamu coba hubungi David dan pastikan dia mendapatkan cctv hotel. Cepat Barra!" Bak kerbau di cucuk hidungnya, Barra langsung menghubungi David setelah mematikan panggilan terhadap Mamanya terlebih dahulu.


"Ada apa? Belum lima belas menit Aku pergi, Kau sudah merindukanku?"


"Apa? Baiklah, Aku ke sana sekarang."


Panggilan itu pun terputus. Tanpa mengganti bajunya Barra segera menghambur keluar, namun matanya menatap sesuatu di sofa. Sebuah amplop coklat. Ia segera mendekati dan meraih amplop itu. Betapa terkejutnya Ia melihat isi dari amplop itu. Beberapa foto dia dan Siskha, saat dia mengantarkan sekretarisnya itu ke apartemennya tempo hari.


Namun seperti sudah terencana, foto itu diambil seolah-olah menunjukkan keintiman keduanya, padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Barra meremas foto-foto itu lalu segera keluar dari kamarnya.


...✳️✳️✳️...


Barra, David, Mama Renata, Papa, dan juga Mas Adam. Semuanya berkumpul di ruang keamanan hotel saat waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB dini hari. Wilson pulang mengantarkan Andin terlebih dahulu, sedang David kembali ke hotel dengan taksi. Barra juga menghubungi Erlan namun Erlan baru saja tiba di apartemennya. Perlu beberapa waktu hingga ia kembali ke hotel di mana acara resepsi itu digelar.


"Berhenti!" perintah David pada seorang petugas yang sedang memutar ulang rekaman cctv hotel. "Coba perhatikan di sini!" Menunjuk dengan jari telunjuknya pada monitor di depannya. "Pada menit ke 30, Qiandra masih berjalan melewati lorong ini. Harusnya menit berikutnya Ia tertangkap kamera yang terpasang pada lorong di sebelahnya." Selidik David penuh tanda tanya.


"Apa ada ruangan lain selain akses ke lorong ini, Pak?" tanya Barra spontan mengerti ucapan David.


"Satu-satunya ruangan di pojok kiri yaitu ruangan tangga darurat, Pak." Petugas keamanan itu menunjuk salah satu pojok di monitor.


"Apa ada kamera CCTV yang menangkap pintu keluar dari tangga darurat Pak?" Lanjut Barra bertanya lagi.


Petugas itu terlihat mencari-cari file lain, dan membukanya dari menit ke 30. Tepat di menit 45, Dua orang lelaki bermasker mendorong sebuah kursi Roda yang di duduki seorang wanita berhijab dengan setelan piyama panjang.


"Qiandra!" Teriak Mama Renata dan beberapa diantaranya serentak.


"Pa, Qiandra pa, siapa yang menculik Qiandra, hiks hiks, kalau tau begini Mama tidak akan membiarkan dia sendirian di kamar, hikks hiks hiks... " Mama Renata menangis tersedu-sedu.


"Sabar Ma, sabar. Kita akan terus mencari Qiandra, kita akan terus berusaha dan berdoa. Mama banyak-banyak berdoa semoga Qiandra baik-baik saja ya!" Raih Papa wanita pujaan hatinya itu dalam rengkuhannya.


"David, Aku mohon segera lacak keberadaan istriku Dav, Aku mohon." Wajah lelah yang nampak frustrasi itu memelas di hadapan David. Tiba-tiba Mama Renata melepaskan diri dari pelukan sang suami dan menampar putra semata wayangnya.


Plakkk ...


"Semua ini gara-gara Kamu, Barra. Kamu yang menyebabkan ini semua terjadi. Andai saja Kamu tidak meninggalkan dia sendiri, semua ini pasti bisa di cegah. Kamu pikir Mama tidak tau, beberapa hari ini Kamu mendiamkan Qiandra karena Ia memaksa mencabut tuntutan terhadap Angeline?" Sarkas mama pada Barra, membuat Ia terlonjak kaget terlambat menyadari kesalahannya.


"Ma, sudah Ma sudah. Ini cobaan bagi Kita, Barra juga bersedih. Jangan menambah kesedihannya, Ma!" Papa memeluk Mama dari belakang.


"Biar Pa, biar anak ini tahu kesalahannya. Mama tidak akan bisa memaafkan diri Mama sendiri jika ada apa-apa dengan Qiandra, Pa! Hiks hiks hiks... " Tubuh Mama melemah, kesadarannya mulai hilang. Papa yang memeluk Mama, seketika membawa tubuh itu ke salah satu kursi yang ada di sana.


"Kurang ajar, Aku sudah memperingatkan mu untuk menjaga adikku, tapi apa yang Aku dengar tadi huh?" Erlan datang langsung menarik kerah kemeja Barra.


"Bugghhhh... " Satu pukulan mendarat di pipi kirinya hingga membuat ia tersungkur dan sudut bibirnya berdarah.


"Barra... !" David segera membantu Barra berdiri.


"Aku minta maaf, Erlan. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik!" Setetes air mata penyesalan lolos dari netranya.


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Happy Reading Gengs


Jangan lupa, abis baca tekan like dan komen yah... Makasi semua atas dukungannya, makasi vote dan hadiahnya juga 🤗🤗🤗