
Setelah mendengar penuturan dokter tentang kondisi Qiandra, Mama Renata kehilangan kesadarannya seketika membuat Ia harus rela di rawat di rumah sakit.
Sementara Qiandra sudah dipindahkan ke ruangan ICU. Ditemani Sang Suami yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian di kamar mandi yang berada di ruang rawat Mama Renata.
Matahari pun sudah beranjak ke peraduannya. Namun tidak menyurutkan hiruk pikuk jalan raya. Suara deru mesin kendaraan setia berlomba, pada lintasan yang membawa mereka ke tempat yang ingin dituju pulang.
Mas Adam dan Kak Manda sejak sore datang menjenguk Qiandra dan Mama tentunya. Namun karena kondisi kehamilan Kak Manda yang sudah memasuki trimester kedua, ia pun tidak diizinkan menginap dan diantarkan pulang ke rumah oleh supir mereka. Hingga akhirnya hanya menyisakan Mas Adam yang menemani Papa Gunawan berjaga di ruang rawat Mama Renata.
Setali tiga uang dengan Kak Manda, Erlan dan Papa Andre juga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Erlan menawarkan diri untuk bergantian menjaga Qiandra, namun Barra meminta Erlan untuk beristirahat terlebih dahulu dan kembali besok.
Barra duduk di kursi yang diletakkan di samping tempat Qiandra berbaring. Alat-alat medis terpasang lengkap di tubuhnya. Saat ini jam besuk untuk pasien yang berada di ruang ICU. Hanya satu pengunjung yang diperbolehkan masuk. Setelah menjalankan segala prosedur untuk masuk ke ruang ICU, Barra pun diperbolehkan menemui istrinya d
ke dalam.
"Selamat malam, Sayang!" Menggamit tangan istrinya lalu mengecupnya lembut. Kemudian tangannya berpindah ke bagian perut istrinya yang masih rata itu dan mengelusnya. "Selamat malam kesayangan Papa."
Barra menitikkan cairan bening itu kembali dari netranya. Perasaannya menghangat seketika membayangkan tak lama lagi akan ada sosok yang menambah kebahagiaan rumah tangganya bersama sang istri.
"Sayang, terimakasih sudah bertahan selama ini. Mas ingin minta maaf padamu, terakhir kali saat resepsi itu, sebenarnya Mas ... ." Barra terisak. Ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Mengungkapkan betapa Ia menyesal mengabaikan istrinya saat itu dan berujung penculikan terhadap Qiandra.
"Mas hanya ingin agar kelak ketika dirimu membuat keputusan, bisa mempertimbangkan Mas sebagai suamimu terlebih dulu, itu saja," lanjutnya setelah mengusap air matanya.
"Mas juga sangat lamban menemukan keberadaan mu. Maaf, gara-gara Mas Kau harus merasakan semua luka-luka ini. Belum lagi, kesalahpahaman ini juga disebabkan oleh perbuatan Mama di masa lalu.," ucap Barra mulai bisa mengontrol perasaannya.
"Sayang, Mas akan melakukan apapun demi kalian berdua. Mas mohon, cepatlah bangun! Mas sudah mempersiapkan rumah tinggal Kita yang baru. Mas ingin Kita pindah setelah Kau sembuh." Barra mengecup pucuk kepala istrinya yang tanpa hijab itu kini. Ia juga mengecup seluruh wajah istrinya, lembuuut sekali. Beberapa luka lebam pada ujung bibir dan pipinya masih terlihat jelas. membuat hatinya meringis.
"Terimakasih sudah berjuang, demi Mas, demi anak Kita. Mas sungguh menyayangi Kalian. Mas sangat merindukanmu, Sayang!" Kecupan panjang mendarat di kening Qiandra, disertai dengan setitik cairan bening dari salah satu sudut netranya.
Waktu besuk sudah habis. Rasanya Ia tidak ingin meninggalkan Istrinya itu sendiri di dalam ruangan ICU. Tapi aturan Rumah sakit tidak memperbolehkan Ia berjaga di dalam. Akhirnya Barra pun berjaga di depan ruangan ICU.
...✳️✳️✳️...
Dini hari sekitar pukul empat pagi, samar-samar Barra mendengar suara orang berlari terburu-buru melewatinya yang tengah tertidur dalam posisi duduk. Barra membuka matanya perlahan, nampak seorang dokter dan perawat berlari masuk ke ruangan. Barra pun menghentikan perawat itu.
"Maaf, Suster ada apa?" tanyanya penasaran.
"Ada pasien kritis, Pak atas nama Ibu Qiandra." Perawat itupun bergegas masuk setelah menjawab pertanyaan Barra.
Duarrrr
Barra tertegun seketika mendengar kabar dari perawat tersebut. Ia berniat masuk ke dalam, namun tangan seseorang mencegahnya.
Barra menggelengkan kepalanya. " David, Aku harus menemani Qiandra, Aku mohon Dav." Mencoba melepaskan diri dari rengkuhan tangan David.
"Doakan saja yang terbaik bagi Qiandra, jika Kau ke dalam akan mengganggu kinerja tim medis. Aku mohon mengertilah!" perintah David membuat Barra hanya mampu melihat dari pintu kaca.
Monitor yang terletak di samping Qiandra menunjukkan detak jantung Qiandra yang melemah dan tidak stabil. Sementara ventilator, infus ,dan berbagai alat masih terpasang di tubuh Qiandra. Sakit, sakit sekali Barra melihat kondisi istrinya itu.
Tak lama Tim medis terlihat sedang menyiapkan defibrillator. Seorang dokter tengah bersiap menempelkan dua lempengan di dada Qiandra. Kepanikan pun mendominasi wajah tim medis yang ada di dalam ruangan di mana Qiandra berada.
Beberapa saat kemudian, terlihat tarikan nafas lega dari seluruh anggota tim medis yang menangani Qiandra. Setelah beberapa kali kejutan, akhirnya detak jantung Qiandra kembali stabil. Tubuh Barra pun terjatuh ke lantai masih bersyukur tiada henti.
David membantu Barra bangkit lalu membawanya duduk kembali.
"Semua baik-baik saja Barra," ucap David menenangkan bosnya itu.
"Kapan Kau kemari?" tanya Barra.
"Tengah malam tadi, setelah beristirahat sejenak di apartemen, Aku memutuskan kemari. Aku lihat Kau sedang tidur jadi Aku tidak membangunkanmu." David menjelaskan.
Pintu kaca pun terbuka. Seorang wanita dengan jas dokter keluar dari dalam.
"Bagaimana keadaan istri Saya, Dok?" Barra segera berdiri begitu melihat Dokter keluar dari ruangan istrinya.
"Ibu Qiandra baik-baik saja, Pak. Kondisinya memang menurun tadi tetapi setelah mendapat pertolongan, sekarang semuanya sudah normal kembali. Jika sampai sore besok kondisi ini Qiandra tetap stabil, bisa dikatakan Nona berhasil melewati masa kritisnya." Dokter itu tersenyum, nampak peluh masih bercucuran di keningnya.
"Terimakasih, Dok." Barra menundukkan kepalanya sedikit, diikuti oleh David.
Barra mengusap dadanya sesaat setelah Dokter pergi. helaan nafas panjang terdengar darinya. David juga terlihat lega melihat sahabat sekaligus atasannya itu kembali bersemangat. Kedua lelaki tampan itu pun akhirnya menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol santai.
.
.
TBC
.
.
HAPPY READING ZHEYENKKKK