My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.30: Akhirnya Ku Menemukanmu



"Maksud dan tujuan Saya kemari sebenarnya adalah untuk membicarakan mengenai pernikahan Barra dan Qiandra." Ucapan itu sukses membuat papa, mama dan Qiandra bertanya-tanya dalam hati mereka.


Erlan lalu melanjutkan, "Saya ingin pernikahan keduanya, dilakukan secepat mungkin. Saya siap menjadi wali bagi Qiandra," tegas Erlan mantap tanpa keraguan sedikit pun.


Sementara itu, keenam pasang mata yang lain menatap Erlan tidak percaya, masih shock dengan permintaan Erlan yang terdengar begitu tiba-tiba.


***


"Maaf, maksud kak Erlan apa?" Manik Qiandra memerah, seketika emosinya meledak. Ia cukup terkejut dengan pernyataan mantan bossnya itu. Baginya, Erlan seolah sedang mempermainkannya.


"Siapa Kakak, berani berkata seperti itu. Ini hidupku, Aku yang berhak memutuskan. Apa tadi kakak bilang, waliku? Hahaahahhah, apa ini sebuah lelucon bagimu Kak. Are you kidding me?" Qiandra berdiri dari duduknya, menahan sakit di lutut juga beberapa tubuhnya yang lain. Namun bukan itu yang membuat kristal beningnya mengalir.


Hatinya. Seketika hatinya merasa lemah. Mengapa sangat mudah bagi orang lain untuk mempermainkan perasaannya seperti ini. "Apa aku tidak layak dipertimbangkan? Apa perasaanku dianggap tidak penting?" pikiran itu memenuhi benaknya, membuat ia merasa terluka. Ya, terluka karena permainan pikirannya sendiri.


Qiandra tidak menampik, kenyataan bahwa ia begitu mudah merasakan empati pada orang lain juga berimbas pada perasaanya yang mudah terbawa perasaan.


"Apa ini Baper?" tanyanya dalam hati.


"Qiandra, duduk dan dengarkanlah dulu, Kakak belum mengatakan semuanya." Erlan menatap manik Qiandra dengan tatapan memelas. Ia memperhatikan adiknya itu sedang dikuasai emosi batin yang siap meluap.


"Qiandra, tenanglah." usapan tangan mama seketika mampu mendinginkan amarah di dada Qiandra. Ia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya kasar, selama beberapa kali. Sebelum akhirnya, dengan perlahan karena menahan sakit di lutut akibat luka yang mulai mengering, memposisikan tubuhnya untuk duduk kembali.


"Saya benar-benar tidak tahu harus berbicara darimana. Jujur saya baru mengetahui semuanya dua tahun yang lalu. Saat itu, Saya baru kembali dari luar negeri menyelesaikan studi S3 saya."


Flash Back On


Erlan's POV


"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu beberapa kali. Kepulangan ku kali ini merupakan surprise. Aku belum mengatakan pada siapapun di rumah ini.


"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan dari dalam rumah diikuti seseorang membuka pintu. "Den Erlan! Oalah Den, si Mbok rindu to, hiks hiks, sudah lama Aden Ndak pulang,,huuuhuuu." Mbok Agis terisak berhambur memelukku, meski kenyataannya akulah yang memeluknya, karena tingginya yang hanya 152 cm itu.


Aku menepuk-nepuk bahunya yang sudah mulai ringkih. Mbok Agisna adalah pengasuhku dari aku kecil hingga dewasa. Aku merasakan kasih sayang seorang Ibu dari beliau. Si mbok atau Mbok Agis, begitu Aku biasa memanggilnya.


"Apa kabar Mbok, Erlan juga kangen," ucapku lembut, mengelus kepala si mbok yang tengah menstabilkan emosinya.


Mbok Agis mengendurkan perlahan dekapannya. Ia menatapku lekat-lekat dengan mata sayu yang sudah mulai kelihatan gurat termakan usia.


"Aden makin tampan aja, Makin mirip sama Mama?" ucapnya menampilkan manik mata yang berbinar. Tangannya mengusap pipiku lembut.


Aku mengernyitkan dahiku, "Mama?" tanyaku, seketika si Mbok melepas usapannya. Raut wajahnya berubah panik dan gugup, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bukankah selama ini tidak ada yang berkata demikian, Mbok? Mirip sama Mama dari mananya?"


"Eehh,, A-anu Den,,, aaaa maksud Si mbok Makin gak mirip Mama Den, betul, iya betul," sahutnya dengan sedikit terbata-bata. Aku merasa Mbok Agis menyembunyikan sesuatu, namun Aku akan bertanya lain kali saja. Karena Aku ingin beristirahat setelah bertemu dengan kedua orang tuaku.


"Papa dan Mama mana Mbok, Aku mau kasi kejutan buat Mereka," ucapku sambil berjalan perlahan masuk.


"Tuan dan Nyonya tadi ada di ruang kerja, Den," Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada mbok Agis yang kemudian juga pamit ke dapur ingin menyiapkan makanan untukku.


Aku melanjutkan langkahku ke ruang kerja Papa. Koper dan barang-barang yang lain sudah diurus supir dan pembantu yang lain. Kini posisiku tepat di depan ruang kerja Ayah yang pintunya sudah terbuka sedikit. Aku melangkahkan kakiku masuk, namun suara Mama menghentikannya.


"Tapi Pa, Erlan sudah pantas dan seharusnya menerima semua, dia pewaris satu-satunya dari keluarga Himawan!"


"Bagaimana dengan anak Mas Andra, Ma. Aku memang belum memastikan dia masih hidup atau tidak, namun jika dia masih hidup bagaimana?"


"Papa tenang saja, kalau memang dia masih hidup, kita tinggal mengubah suratnya. Pa, Erlan sedari kecil sudah aku persiapkan untuk jadi pewaris. Dia tumbuh dengan baik selama ini, dia belum pernah mengecewakan kita."


"Baiklah, Papa akan memikirkannya besok. Papa tinggal ke kamar dulu." Papa terlihat berjalan lesu ke pintu yang langsung terhubung ke kamarnya. Aku masih dapat melihat Mama memiringkan wajahnya sekilas memastikan Papa telah kembali ke kamar. Setelah itu, Mama meraih ponselnya dan membuat satu panggilan.


"Halo, Apa kau sudah menemukan mereka?"


"... "


"Hahahaha, bagus bagus, kerjamu sungguh bagus. Wanita jalang itu sudah bahagia dengan Andra di alam baka. Baiklah, Aku akan bermain perlahan dengan putrinya. Besok atur pertemuan ku dengan anak itu. Aku akan mulai memperalat dia."


"... "


"Ingat, lakukan dengan rapi. Jangan membuat suamiku curiga. Dia masih mencari keberadaan ponakannya itu!"


"..."


Tuut tuut tuut


Lalu siapa yang di maksud Mama wanita jalang yang telah bahagia bersama Andra di alam Baka? Apa mungkin?? Berbagai pertanyaan muncul di benakku, namun Aku tak tahu harus bertanya dan mendapatkan jawabannya dari siapa. Apa papa, atau Mama? Aku memilih tidak keduanya.


Aku rajin mencari tahu kebenarannya sendiri. Aku tidak bisa mempercayai siapapun. Tak lama berselang, Aku meminta hidup mandiri dengan membuka Kafe dan tinggal di apartemen, Aku lebih bebas dan leluasa. Pada akhirnya Aku tau, Om Andra adalah anak tertua Almarhum kakek yang diusir dari rumah karena menikahi wanita biasa.


Aku pun mulai mendesak Mbok Agis. Akhirnya Si Mbok mengaku bahwa mama kandungku sudah meninggal. Mama Diana adalah mama sambungku. Usiaku masih satu tahun ketika mereka menikah.


Enam bulan kemudian, Aku diangkat sebagai Presdir, dan bertemu dengan Randa. Berkat bantuan dan kerja keras Randa, akhirnya Aku mendapatkan banyak informasi tentang siapa ibu sambungku. Juga mengenai saudara ku, yaitu Qiandra. orang yang selama ini menjadi karyawan ku di kafe. Ketika Aku mengetahuinya, dia sudah terusir dari rumahnya sendiri, dan sempat bingung mencari keberadaannya. Hingga Aku akhirnya bisa menghubungi ponselnya, dan mengetahui keberadaannya di rumah ini.


Flashback Off


Tes Tes Tes


Tubuh Qiandra bergetar hebat, pandangannya nanar. Isakannya mulai terdengar lirih. Erlan bangkit hendak meraih tubuh Qiandra. Ia bersimpuh di depan Qiandra dengan kedua lutut menyentuh lantai.


"Maafkan Kakak, selama ini kakak tidak tahu Kau berada di sisi kakak." Suaranya pun terdengar parau, Erlan mulai menitikkan bulir bening dari sudut matanya.


"Hiks hiks, Huwaaaa, huuuhuuu huuuuuu... "


Qiandra terisak hebat. Erlan menggenggam tangan Qiandra dan menciumnya berkali-kali. Papa, mama, dan Barra, ikut terhanyut lautan haru dari pertemuan dua insan yang saling bertautan darah itu.


"Se-la-ma i-ni, Aaku pi-kir Aku kesepian, Kak. Aku pi-kir ti-dak ada lagi seorang pun yang menginginkan Aku, Hiks hiks hiks... " Qiandra menarik nafasnya dalam. "Aku bahkan pernah berniat bunuh diri, huuuuuhuuuuuhuuuu.......," isaknya lagi kuat. Satu tangan Erlan mengusap pipi chubby nya dan menghapus bulir bening yang masih mengalir di kedua pipinya.


Mama ikut memeluk Qiandra dari samping, mengusap-usap pundak Qiandra seraya ikut merasakan kesedihan Qiandra.


"Aku sangat senang bisa bertemu dengan mu. Aku masih memiliki mu, kak.. hiks hiks hiks.. Akhirnya Aku bertemu denganmu, huuuuhuuu, tapi kenapa Air mata sialan ini tidak mau berhenti,, huuuuuhuuuuuhuuuu, huwaaahuaaaa." Suara tangisan itu semakin kuat terdengar, tanpa ada seorang pun berani menghentikannya. Erlan membiarkan Adik sepupunya itu melepas semua kesedihan dan kepedihan hatinya.


Erlan berdiri dengan dua lutut sebagai tumpuan, mensejajarkan tubuhnya dengan Qiandra. Lalu, tubuh kecil yang bergetar itupun, ia bawa dalam pelukan hangat penuh kerinduan miliknya, yang kini sebagian kemejanya telah basah oleh Air mata keharuan dan kerinduan dari Sang Adik.


Suasana di ruangan itu mendadak beku, semuanya ikut mengharu biru. Papa bahkan Barra, ikut mengusap sesuatu yang mencoba keluar dari sudut mata mereka.


******


Satu jam berlalu, Kini penghuni ruangan sudah mulai tenang. Tampak kak Manda juga muali ikut memenuhi ruangan yang tadi dipenuhi gennagan air mata itu. Kini Qiandra duduk diantara Erlan dan Mama Renata. Papa dan Barra duduk di hadapan mereka, sedangkan Kak Manda duduk di kursi single yang ada di sisi kanan Mama.


"Saya ingin pernikahan Qiandra dan Barra dipercepat. Saya ingin memastikan Adik saya mendapat pelindung yang tepat." Erlan tersenyum dan melihat Qiandra. "Qiandra, percayalah di luar sana masih banyak bahaya yang sedang mengintaimu. Kakak mohon, sebelum Kakak dan Barra berhasil membongkar orang yang berada di balik semua kejahatan ini, Kau harus selalu berada di tempat teraman."


Qiandra menganggukkan kepalanya mengiyakan. Lalu pandangan Erlan beralih pada Barra. "Barra, Aku ingin Kau menikahi Adikku Minggu ini juga. Masalah acara, kita lakukan acara akad nikah di rumah ini secara tertutup. Aku bersedia menjadi wali nikahnya namun Aku ingin hanya kita saja yang mengetahuinya."


"Baiklah, Aku akan menikahi Qiandra Minggu ini juga." Barra menegaskan kembali permintaan Erlan dan membuat ia tersenyum


Kini, tatapan Erlan beralih pada Papa dan Mama, bergantian. " Pa, Ma, keselamatan Qiandra adalah yang paling utama sekarang. Erlan belum bisa memastikan siapa saja yang terlibat. Oleh sebab itu, tidak boleh ada seorang pun yang mengetahui tentang hubungan Erlan dan Qiandra. Erlan harap semuanya bisa memahami keputusan ini."


"Om mengerti Erlan. Baiklah, kita akan melaksanakan pernikahan ini Minggu depan. Resepsi akan di gelar setelahnya," sahut Papa yang diiringi senyuman dari wajah Mama Renata.


Mama memejamkan matanya sejenak, " Zas, apakah kau melihat dari sana. Anak-anak kita akan segera menikah. Kau ikut bahagia bukan?" Sebutir kristal bening lolos dari sudut netra mama Renata yang kini perasaan bahagia sedang menjalari hatinya.


.


.


.


***ToBeContinue***


.


.


.


Hai, pada nanyain kapan nikahannya ya....hhhee


Makasi buat yang udah vote, like dan komen. yang belum disegerakan ya,,hihihi


Makasi juga buat semua pembaca MBH yang selalu sabar nungguin Author Up. I laf you to the moon and back dahhhh❤️❤️


Jangan lupa like dan komennya dong Kakak,,, gratis kok... Biar aku semakin semangat nulis.


Aku akan up secepatnya ya, Gak mau janji kapan. begitu siap ketik langsung terbang kok. Typo maaf ya, belum sempat di revisi...


Happy Reading Gengs,,,