
Dua jam setelah Qiandra sadarkan diri di Rumah Sakit, Ia pun sudah dipindahkan ke ruang rawat. Barra sejak tadi tidak beranjak dari sisi brankar Qiandra. Ia senantiasa duduk di sebelah ranjang istrinya itu sembari menggenggam tangan istrinya. Sesekali Ia mengusap perut wanita yang sudah Ia nikahi itu untuk menyapa calon bayi mereka.
Tak berselang lama, pintu ruangan pun terbuka. Beberapa wajah yang sudah sangat familiar pun masuk ke dalam ruangan VIP itu. Ada Papa, Mas Adam, Kak Manda dan Mama Renata.
Ketika netra Qiandra bersitatap dengan netra Mama, saat itu juga sekelebat ingatan tentang pengakuan Mama Renata saat kejadian tempo hari terlintas di pikirannya. Ingatan itu berputar layaknya roll klise film. Sesaat kemudian, Qiandra tersentak dan buru-buru melepaskan tangannya dari Barra. Wajahnya berubah cemas dan panik.
"Sayang, kenapa? Lihat siapa yang datang." Barra belum menyadari penyebab perubahan istrinya itu.
"Pergi, tinggalkan Qia sendiri. Kalian orang jahat. Qia benci kalian semua, hiks hiks hiks...," Qiandra mulai histeris, tanpa memperhatikan bekas luka operasinya, dia nekat bangkit dari duduknya.
"Panggil Dokter, cepat!" perintah Papa pada Mas Adam yang dengan sigap menekan tombol darurat di sana.
"Sayang, ini Mas. Kamu kenapa?" Barra ikut panik.
"Barra, sepertinya ada di antara Kita yang menyebabkan Qiandra begini. Apa mungkin, hmmmm... ," Kak Manda enggan melanjutkan.
"Pergiiiii, pergiiii! Aaaarrggghhhhh," Qiandra menjerit menarik kasar rambutnya, membuat infus di lengannya terbuka dan darah mulai berceceran.
"Ya Allah, Sayang." Ia langsung memeluk Qiandra yang tetap memberontak. Qiandra histeris, netranya menatap Mama Renata.
Dokter dan seorang perawat masuk ke ruangan. Melihat kondisi histeris Qiandra, Dokter meminta perawat menyiapkan obat. Lalu perawat itu berlari keluar mengambil sesuatu yang diperintahkan Dokter. Menit selanjutnya, begitu perawat datang, Dokter tersebut menyuntikkan sesuatu ke tubuh Qiandra.
Masih dalam dekapan Barra, Qiandra perlahan mulai kehilangan tenaganya. Matanya terasa berat namun masih bisa melihat sekitar. Barra mengendurkan pelukannya, lalu merebahkan perlahan tubuh Qiandra ke atas brankar. Sementara perawat mulai bekerja memperbaiki selang infus yang sudah terlepas dari tangan Qiandra.
"Pergi, pergi, pergi!" Qiandra masih sempat berbisik pelan dengan netra yang menatap ke arah Mama Renata. Perlahan kelopak matanya mulai menutup dan pernafasannya berangsur teratur.
Mama Renata yang melihat itu pun menangis. Ia terisak. mengetahui dialah penyebab Qiandra bisa histeris seperti itu. Karena tidak sanggup melihat kondisi Qiandra, Mama Renata pun berlari keluar lalu menjatuhkan tubuhnya pada jejeran kursi yang berada tak jauh dari pintu ruangan Qiandra sambil terisak.
"Qia, Maafkan Mama Nak. Jangan marah sama Mama, Mama mohon Nak, hiks hiks hiks ... ,"
"Mah, Mama kenapa??" Manda sudah ada di sampingnya dan mengusap bahu Mama, memeluknya dari samping.
"Mama tidak sanggup melihat Qiandra Manda, dia sudah cukup menderita. Mama ingin meminta maaf padanya jika perlu Mama akan bersujud di kakinya, hiks hiks hiks," sahut Mama dengan tubuh bergetar menahan tangisnya.
"Manda yakin, Qiandra akan memaafkan Mama. Qiandra hanya butuh waktu, Ma?" Manda menenangkan Mama.
"Bagaimana kondisi Qiandra, Pa?" tanya Manda pada papanya yang baru saja keluar dari ruangan bersama Mas Adam. Raut wajah Papa juga terlihat kurang baik.
"Entahlah, semoga Qiandra baik-baik saja. Dokter masih memeriksanya. Ma, sebaiknya Kita pulang dulu. Biar Manda dan Adam yang menemani Barra di sini." Papa membujuk Mama yang sejak tadi bersikukuh ingin bertemu menantunya.
"Tidak Pa! Mama belum bisa tenang sebelum mengatakannya langsung pada Qiandra!" bantah Mama seketika.
"Papa mohon, Mama bersabar. Kondisi Qiandra belum terlalu baik untuk berbicara empat mata dengan Mama. Mama tau kan, dia baru saja melewati masa kritisnya dan baru sadar dari komanya. Apalagi kondisinya yang sedang mengandung. Kita ke sini lagi setelah kondisi Qiandra membaik, oke!" Papa merangkul Mama yang meneteskan air matanya. Mama pun mengangguk pertanda menyetujui.
Mama dan Papa pin akhirnya pamit pada Barra, dan kembali pulang ke rumah. Sedangkan Manda dan Adam tetap di sana menemani Barra yang sedang menunggui Qiandra.
Ketika hari beranjak petang, keduanya pun pamit mengingat Mikhayla tinggal di rumah dan kondisi Manda yang juga sedang mengandung. Namun tak berselang lama, David, Erlan, Wilson dan Andin juga datang.
"Alhamdulillah, senang banget waktu David kasi kabar Qiandra sudah siuman." Andin membuka pembicaraan sembari mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di dalam ruangan.
"Iya, Andin langsung minta Gua antarin Dia kemari lagi, CK." Wilson menimpali dengan decakan.
"Makasi ya, kalian udah kemari."
Mendengar Barra berkata seperti itu, ketiga temannya yang lain mengernyitkan dahinya bingung. Bukan karena ucapannya. Namun wajah Barra yang terlihat sendu, bertolak belakang dengan kenyataan bahwa istrinya sudah lepas dari masa kritisnya.
Barra menutup wajahnya dengan kedua tangannya beberapa saat. Sebelum akhirnya Ia menghela nafasnya kasar. Ia pun menceritakan tentang kejadian sebelum dan sesudah keluarganya datang.
"Maksudmu, Qiandra langsung histeris melihat kehadiran keluargamu?" tanya Andin penasaran.
Barra hanya mengangguk lesu.
"Kau yakin?" tanya Wilson.
"Begitulah yang terlihat. Dokter mengatakan Qiandra memiliki trauma terhadap mereka sehingga Ia bertindak seperti itu," jelasnya singkat.
"Apa Kau pikir itu mungkin? Maksudku dengan keluargamu. Menurutku, hanya salah satu dari mereka." Wilson menganalisis.
Netra Barra menatap Wilson dengan tajam seperti menuntut penjelasan atas perkataannya.
"Begini Bar. Menurutku, Qiandra bersikap impulsif seperti itu karena melihat Mama Renata. Kau tentu tahu bukan, pengakuan Mama Renata tempo hari, saat kita menyelamatkan Qiandra?"
Barra mulai berpikir.
"Itu menurut analisis ku. Seandainya Kau menjadi Qiandra, apa reaksi mu ketika mengetahui Ibu mertuanya merupakan alasan kenapa selama ini keluarganya diperlakukan buruk?" Wilson mengakhiri penjelasannya dengan membuat satu pertanyaan.
Barra terdiam, kepalanya berdenyut memikirkan ini semua. "Aku setuju apa yang dikatakan Wilson, Bar. Tapi Aku rasa itu hanya shock sementara. Qiandra hanya butuh waktu berpikir." David memukul pelan pundak Barra, memberi kekuatan.
"Aku tidak tahu harus apa. Terimakasih Kalian selalu ada di saat Aku membutuhkan. Semoga Aku dan Qiandra bisa melewati keadaan ini bersama. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi." Menatap sendu istrinya yang masih belum bangun sejak di beri suntikan obat penenang.
"Whaaa, Aku tidak menyangka. Bos ku yang terkenal dingin ini mampu berubah semanis ini, hanya karena seorang wanita. Dasar, Aku hidup diantara pria bucin dan buaya!" David tersenyum mengejek ke arah kedua temannya.
"Siapa yang Kau maksud buaya, apa Aku? Keterlaluan Kau David. Sayang. lihatlah David, dia mengataiku buaya!" adu Wilson pada Andin dengan rengekan manja.
Andin memutar kedua bola matanya malas melihat tingkah kekanakan sahabat yang sudah resmi menjadi pacarnya itu.
"Wil, jika Kau masih berniat bersamaku, hentikan omong kosong mu itu. Semua orang tahu Kau adalah buaya darat. Entah setan apa yang merasuki ku, sehingga mau menerima dirimu menjadi kekasih, CK!" Andin berdecak kesal.
Spontan saja hal itu mengundang tawa mengejek dari David dan Barra. Wilson pun ikut tersenyum, setidaknya usahanya tidak sia-sia untuk membuat Barra tersenyum kembali.
Namun, suara tawa mereka terhenti setelah ada pergerakan dari ranjang tempat Qiandra terbaring. "M-mass," panggil Qiandra lirih.
.
.
TBC
.
.
HAPPY READING
Makasi untuk semua pembaca setia, makasi atas like, komen dan votenya ya.
c u soon.