My Bossy Husband

My Bossy Husband
67. Sarapan Bersama Keluarga



Tidak terasa sudah satu Minggu Qiandra dan Barra tinggal di kediaman Keluarga Gunawan. Sejak diperbolehkan pulang setelah tiga hari dirawat intensif di Rumah Sakit, kini kondisi Qiandra sudah mulai membaik.


Kendatipun begitu, Barra masih saja terus bersikap protektif. Seperti pagi ini, Barra masih saja menggendong Qiandra yang baru saja akan bergerak ke kamar mandi. Dia menggendongnya ala bridal dan membantu Qiandra membersihkan diri. Tentu saja, membuat semburat merah di wajah Qiandra bersemi.


Qiandra tidak tahu bahwa suaminya itu saat ini sedang mati-matian menahan hasratnya yang belum tersalurkan sejak beberapa hari yang lalu. Selain luka bekas operasi, kondisi janin di dalam perut Qiandra juga menjadi sebab Barra tidak berani menyentuh istrinya itu. Dokter mengatakan untuk tidak melakukan hubungan suami istri sementara waktu dikarenakan usia janin yang masih terlalu muda. sehingga kondisinya masih lemah.


Setiap kali melihat semua bekas luka yang masih jelas terlihat itu selalu membuat perasaan Barra menghangat. Melihat bekas-bekas luka itu, Barra merasa Ia telah gagal melindungi Qiandra dan selalu bertekad agar jelak tidak akan terjadi untuk yang kedua kalinya.


Hal itu membuat Barra si Tuan Over Percaya Diri menjadi lebih protektif terhadap Qiandra. Qiandra diperlakukan seperti seorang bayi. Tidak hanya di akhir pekan seperti ini, bahkan di hari-hari kerja pun Ia akan mengurus istrinya terlebih dulu sebelum berangkat kerja.


Setelah selesai berganti pakaian keduanya pun menuju meja makan. Masih dalam gendongan Barra, Qiandra merasa malu jika mereka berpas-pasan dengan pembantu ataupun keluarga yang lain.


"Mas, Aku sudah sembuh. Please Aku bisa jalan sendiri. Ya, ya, ya!!" mohon Qiandra dengan puppy eyesnya.


Barra tidak menghentikan langkahnya dan tidak menjawab permintaan Qiandra. Ia hanya menatap lurus jalur yang dilaluinya untuk sampai ke ruang makan. Hal itu membuat Qiandra mendengus kesal.


"Mas!" Tangannya memukul pelan dada Barra.


Masih tidak mendapat jawaban. Qiandra tidak tau apa yang harus ia lakukan.


Suamiku ini sudah berubah menjadi si keras kepala yang over protektif, Aiiisshhhh!!


"Aku sudah berjanji akan melakukan yang terbaik untukmu, Sayang. Kau nikmati saja pelayanan VIP dariku." Barra mengucapkan kalimat itu tanpa melirik ke arah Qiandra membuat Ia semakin kesal.


"Pelayanan VIP apa, membuatku malu saja!


Qiandra hanya mampu memejamkan matanya ketika mereka melewati para pelayan yang sedang melakukan tugas mereka. Ia berkomat-kamit di dalam hatinya dengan tangan mengalung di leher suaminya.


"Anken, kenapa Onti digendong sepelti anak tecil?"


Pertanyaan itu menambah rona merah pada wajah Qiandra sesaat setelah Barra mendudukkannya di salah satu kursi. Di hadapannya sudah berjejer rapi keluarga Mbak Manda yang sesuai jadwal tiap akhir pekan akan sarapan bersama di rumah orang tuanya.


"Mikha, Kaki Aunty kan masih sakit," ucap Manda menjawab pertanyaan yang mengalir begitu saja dari bibir mungil gadis cilik itu.


"Ya, dan Aunty juga sedikit manja dengan Uncle." Barra menarik kursi dan duduk tepat di antara Mama dan Qiandra.


Dasar Suami licik.


Qiandra hanya bisa cengengesan mendengar ucapan suaminya itu. Dalam hati dia terus merutuki kelicikan suaminya itu.


Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mendominasi ruangan saat ini. Semua orang sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh para koki di rumah Papa Gunawan. Sesekali terdengar suara Mikha berceloteh manja dan ceria, membuat para orang tua di sana ikut tersenyum.


Setelah menyelesaikan kegiatan sarapan bersama, Mikhayla melanjutkan aktivitasnya. Ia melihat dan bermain ikan yang ada di kolam taman samping rumah Oma dan Opanya itu ditemani oleh kedua orang baby sitter-nya.


Sementara itu, di sisi lain anggota keluarga yang lain sedang berbincang hangat membentuk dua kelompok. Kelompok pertama kaum bapak yaitu Papa, Mas Adam dan Barra yang membicarakan bisnis dan bisnis di teras depan. Sementara Mama, Kak Manda dan Qiandra membentuk kelompok kedua yang membahas tentang beragam tema. Mulai dari kecantikan, kesehatan dan parenting di ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan taman samping tempat Mikhayla bermain.


"Usia kehamilan kamu udah berapa bulan, Qia?" Kak Manda yang memang belum mengetahui info jelasnya bertanya pada Qiandra.


"Waktu Qia cek di Rumah sakit, sudah 3 Minggu Kak. Jadi sekarang sudah memasuki Minggu keempat," urai Qia tersenyum.


"Alhamdulillah, sehat-sehat ya Kalian berdua." Manda tersenyum mengusap perut Qiandra yang belum kelihatan membuncit itu.


"Mama bakalan dapet dua cucu sekaligus ni. Makanya Mama buru-buru pensiun dari klinik."


Sementara Manda dan Mama sepakat, untuk menyumbangkan lima puluh persen dari keuntungan yang diperoleh klinik kecantikannya untuk lima yayasan panti asuhan setiap tahunnya. Tentu saja hal itu sudah atas persetujuan Papa.


"Gak mual-mual Qia?" tanya Kak Manda.


"Sekarang sih belum Kak, cuma Qia pagi-pagi sering pusing," keluh kesahnya.


"Yang penting Qia sehat-sehat ya, jangan lupa minum vitamin yang diresepkan Dokter. Waktu hamil Mikhayla masuk Minggu kelima Kak mulai morning sickness. Tapi setelah masuk Minggu ke tujuh belas, berkurang."


"Iya Kak, siap." Ia tersenyum.


"Qia, kalau Barra minta jatah sama Kamu, jangan dikasi dulu ya. Biarin tuh anak puasa. Hamil muda begini, masih rentan apalagi kemarin Kamu sempat terluka." Mama Renata menatap iba Qiandra.


Lagi-lagi pipinya yang mulus itu kembali memerah. Ucapan Mama membuatnya malu setengah mati namun Ia hanya mampu tersenyum. Tiba-tiba saja Ia merasa gerah. Ia mengipaskan kedua telapak tangannya di wajah.


Haduuh, Qiandra Malu Mama, kok bahas gituan siiih.


"I--ya Mama, Dokter udah bilang gitu kemarin." Berpura-pura membenarkan posisi hijabnya.


"Syukurlah kalau Kalian sudah tahu. Mama gak pengen Kalian kenapa-kenapa. Mama sudah cukup membuat masalah untuk kehidupan Kamu. Mama. hiks... ."


"Ma, sudah Mama jangan bahas lagi ya. Itu semua udah berlalu Ma. Qia udah maafin Mama, dan Qiandra yakin Bunda juga udah maafin Mama." Ia memeluk Mama, disusul Kak Manda. Ketiganya saling berpelukan.


Setelah Qiandra sadar tempo hari di rumah sakit, Mama Renata langsung pergi menemuinya. Mama yang masih dalam kondisi tidak sehat, memaksakan dirinya untuk pergi menemui Qiandra, sebab Ia takut Qiandra akan membencinya setelah mengetahui kebenarannya.


.


.


.


TBC


.


.


.


Hello,, Author mau ucapin makasiii buat Kalian semua yang udah mendukung karya ini. Sarangheyooo🤗🤗


Maaf kalau belum bisa Up rutin, selain karena kemampuan nulis aku yang belum meningkat😂, Aku juga sibuk di real life. Bayangin aja deh ya. emak-emak yang punya dua balita, kerja di rumah dan di luar, Nyambi nulis sama ngedubbing😂😂😂


Di bulan September nanti, Aku ada kesibukan di dunia kerja (kalau di rumah tangga jangan ditanya ya, dari bangun tidur sampe tidur lagi gak akan habis🤗). Jadi kalau Aku gak Up bukan karena aku suka ngegantungin cerita atau gimana, tapi itu murni karena keterbatasan Aku sebagai seorang manusia. Tapi Aku selalu usahain cepet Up, dan mudah-mudahan cerita ini selesai sebelum bulan September ya (Kali aja Author tiba-tiba dapat petunjuk ya, bisa crazy up)).


Maaf ya temen2 Readers, kalau ceritanya ada yang kurang suka atau apa, cukup berhenti baca aja. Aku tuh suka nggak kuat kalau baca komen pedess. Aku baperan orangnya😂😂🤭.


Oh ya buat kalian yang suka dengerin Audio, bisa mampir juga di Audio book yang Aku dubbingin yah. Bisa di lihat di profil Aku.


Makasiiii banyak sekali lagi yah zheyenk! Tetap jaga kesehatan dan patuhi prokes. Happy Reading semuanyaaaaahhhh.