My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 31: For the First Time



Pagi hari di kediaman keluarga Gunawan, kesibukan sudah terlihat tidak seperti biasanya. Bertepatan dengan hari Jumat, beberapa hari setelah pembicaraan sekaligus pertemuan yang mengharu biru antara Erlan dan Qiandra.


Ruang tamu hingga ruang keluarga telah disulap menjadi ruangan dengan dekorasi kain putih dan dipenuhi bunga-bunga. Agar tidak menarik perhatian, acara akad nikah antara Barra dan Qiandra dilakukan in door namun konsepnya sedikit mengambil gaya out door. Ya, hari ini adalah hari yang ditentukan sebagai hari akad keduanya.


Tampak sebuah meja persegi panjang untuk akad dengan aksen bunga berwarna-warni. Dikelilingi enam buah kursi putih yang diberi aksen kain tile putih dan seikat bunga sebagai pemanis. Sebuah sofa panjang berwarna putih juga diletakkan di sisi yang berhadapan dengan meja akad nikah.



(Source: instagram)


Konsep akad kali ini sangat minimalis, karena memang hanya segelintir orang yang hadir. Dari pihak Qiandra, hanya Erlan serta asistennya Randa. Sahabatnya Arlie, tidak dapat menghadiri acara pentingnya hari ini. Selain kondisi kandungan yang menginjak trimester dua, Arlie juga masih takut bertemu Zidane.


Sedangkan dari pihak Barra, hanya keluarga inti seperti Mama dan Papa, Kak Manda, Mas Adam yang baru saja tiba kemarin, Mikhayla, David dan Rey.


Sudah beberapa hari ini, Qiandra resmi tidak lagi bekerja sebagai front line di GM Corp. Sejak kejadian kecelakaan itu, Qiandra tidak diizinkan lagi keluar rumah sendiri. Mama begitu posesif padanya, apalagi ketika mengetahui ternyata masih ada oknum yang dengan sengaja menyakiti Qiandra.


Barra pun selama ini tidak diperkenankan pulang ke rumah hingga hari akad tiba. Pagi ini ia dijadwalkan melaksanakan akad nikah pada pukul 10.00 WIB. Barra sudah tiba sejak tadi pagi bersama dengan Erlan, David dan Randa. Beberapa Asisten rumah tangga juga masih hilir mudik, mempersiapkan acara penting dan sakral, yang sebentar lagi akan di selenggarakan.


***


Qiandra menatap pantulan bayangannya di cermin. Kebaya putih membalut tubuh langsingnya dengan sempurna. Riasan make up flawless terlukis indah di wajahnya, yang mengenakan hiasan Sunda di kepalanya.


Panggilan video call dari ponselnya berdering.


"Arlie... " lirihnya dengan senyum yang tersungging di kedua sudut bibirnya. Seketika tangannya meraih ponsel dan segera menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan.


"Halloo sayangku, aaarrgh, Qiaa, Kau cantik sekali," teriak Arlie dari seberang sana dengan mata berair. Ia mengusap sesuatu di kedua sudut matanya dengan satu tangannya. Arlie bahagia melihat sahabatnya itu, sekaligus sedih tidak dapat menemaninya secara langsung.


"Hai," balas Qiandra tercekat, tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia mendongakkan wajahnya ke atas, agar sesuatu yang memaksa lirih di kedua sudut netranya dapat di tahan.


"Kau akan merusak make up mu jika kau menangis. Hei, Kau sungguh cantik hari ini. Aku menyesal tidak bisa berfoto denganmu." Arlie memasang wajah menghiba, sengaja mencebikkan wajahnya untuk membuat Qiandra tertawa. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi sedih dan haru.


"Kau selalu bisa menghiburku, heheheh. Bagaimana kabar mu dan si debay?" Qiandra mengalihkan pembicaraannya. Dia masih duduk di depan benda yang memantulkan bayangan dirinya itu.


Di seberang sana, Arlie tampak beringsut dari duduknya. Dilihat dari pemandangan sekitar, sepertinya Ia sedang berada di kamarnya.


"Alhamdulillah, Aku baik-baik saja. Kandunganku sudah memasuki minggu ke enam belas. Aku sudah mulai bisa merasakan gerakannya. Kau tahu, detak jantungnya juga sudah terdengar." Arlie menceritakan perkembangan janinnya dengan wajah berbinar.


"Aku selalu berdoa agar kalian berdua baik-baik saja. Aku merindukan mu, Ar," ucapnya lagi kali ini dengan nada lirih.


"Hei, jangan bersedih please! Nanti Kau bisa mengajak suamimu honeymoon kemari. Kita bisa bertemu. Aku senang, akhirnya kau menemukan pendamping hidupmu, Qia."


"Bukan hanya pendamping hidup, Aku juga menemukan keluarga ku, Ar," batin Qiandra. Qiandra hanya mengangguk, Ia merasa lagi-lagi lidahnya kelu untuk berucap. Ia belum sempat menceriterakan perihal kak Erlan dengan Arlie


"Sayangku, Aku mendoakan agar pernikahanmu bahagia, langgeng hingga kakek nenek, dan juga cepat dapat momongan." Arlie sedikit berteriak mengucapkan kalimat terakhirnya.


"I am so sorry, I have to go now. Sebentar lagi jadwalku bekerja. Selamat sekali lagi Sayangku. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, Qiandra." Arlie tersenyum hangat. Perasaannya kali ini campur aduk, namun di dominasi kebahagiaan atas pernikahan sahabatnya itu.


"Terimakasih, Ar. I wish you're here. Selalu kabari aku ya kondisi kalian di sana. Jika terjadi sesuatu, segera menghubungiku.. Aku sangat menyayangimu Ar. Jaga calon keponakanku ya."


"Tentu saja. Baiklah, Aku takut jika lebih lama lagi, riasanmu akan luntur, dan pengantin prianya akan terkejut melihat mu, hehehehe. Bye Qia, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," balas Qiandra. Tak lama video call itu pun berakhir.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Qiandra memalingkan wajahnya dan melihat sosok wanita paruh baya memasuki kamarnya, lalu kembali menutup pintunya. Ia tersenyum dan berjalan menghampiri Qiandra, menarik kursi yang berada tak jauh dari sisi Qiandra, dan mendudukinya.


"Sayang, Kau sangat cantik!" seru mama Renata sambil menggenggam kedua tangan Qiandra yang sedingin es itu. "Mama tidak menyangka, sebentar lagi Kau akan menjadi menantu Mama." Wajah mama sumringah, sepertinya Ia sangat bahagia.


"Ma,"Qiandra lagi-lagi tercekat. Di saat-saat seperti ini, air matanya malah memaksa keluar.


Mama melihat netra Qiandra yang mulai berair. " No, Sayang. Jangan menangis. Hari ini harus menjadi hari bahagia mu. Tersenyumlah sayang," pinta mama lembut.


"Te- rimakasih, Ma, hiks... ." Qiandra sudah berusaha menahan cairan itu agar tak tumpah sekarang. Namun, Ia gagal membendungnya.


Mama meraih tisu di atas meja rias di samping Qiandra, lalu mengusap lembut ke wajah yang di aliri cairan bening itu.


DEG


Qiandra berdebar tak karuan. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Cemas, takut, khawatir menjadi satu. Tidak ada raut wajah bahagia di sana. Ya, dia memang khawatir dengan kehidupannya setelah menikah. Akankah dia mampu menjadi istri yang baik bagi Barra? batin Qiandra.


"Ayo ke luar, Nak! Mereka pasti menunggu kehadiranmu.." Tarik Mama tangan Qiandra untuk berdiri. Qiandra mengikuti gerakan Mama. Ia mengakkan badannya, sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.


Mama memandang manik mata Qiandra lekat-lekat. Netranya kembali nanar, mengingat wajah Qiandra yang begitu mirip dengan sahabatnya itu. "Apa kau secantik Qiandra ketika menikah, Zas?" tanya mama Renata dalam hati.


Mama mengalihkan pandangannya ke Kebaya yang dikenakan Qiandra. Meminta bantuan Bik Darni untuk mengiringi Qiandra keluar dari kamar. Dengan perlahan, mereka membawa Qiandra ke ruangan Akad.


Sesampainya di sana, semua mata tertuju pada sosok yang sedang diiringi dua wanita paruh baya. Sang pengantin wanita yang tampak begitu cantik bagi siapapun yang melihatnya, termasuk Qiandra.


"Untuk pertama kalinya Aku melihat bidadari turun ke dunia," bisik hati Barra sedikit lebayπŸ˜‚. Matanya terus menatap sosok wanita yang dibawa mamanya itu. "For the first time, Aku yakin sudah jatuh dalam pesonanya." gumamnya lirih, tidak terdengar orang lain.


"Jika Kau terus menatap adikku seperti itu, Aku akan membatalkan pernikahan kalian," Goda Erlan yang sudah duduk di hadapannya dengan sedikit berbisik. Barra tersadar dari terperangahnya, dan membuang wajahnya ke lain arah guna menutupi kegugupannya.


*****


"Saya nikahkan engkau Barra Pratama Gunawan Bin Handika Gunawan dengan Adik saya Qiandra Andalusia Himawan Binti Andra Himawan dengan mas kawin 100 gram perhiasan emas dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Qiandra Andalusia Himawan Binti Andra Himawan dengan mas kawin 100 gram perhiasan emas dibayar tunai."


" Sah... Sah... ," ujar kedua saksi yang berada di kanan dan kiri Barra. Seketika suasana ruangan dipenuhi lafaz syukur, menyebut dan memuji keagungan Allah sebagai perwujudannya.


Barra sama sekali tak menyangka, kini Ia dan Qiandra sudah menjadi pasangan halal di hadapan Pencipta maupun Negara. Mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.


Pak penghulu melafazkan doa, diikuti tangan-tangan yang menengadah memohon keberkahan pada pernikahan hari ini. Setelah acara akad selesai, Bik Darni dan Mama Renata membawa Qiandra masuk ke ruangan Acara Akad. Kini Barra dan Qiandra duduk berdampingan, lalu menandatangani beberapa berkas dari petugas KUA. Hingga akhirnya, keduanya masing-masing mendapatkan satu buku kecil berwarna hijau dan merah.


Selanjutnya, Barra dan Qiandra digiring ke sudut ruangan yang juga dihias serba putih. Keduanya berdiri di depan sofa berwarna putih dan saling berhadapan. Untuk pertama kalinya, Qiandra merasakan tubuhnya bergetar. Lautan emosi menggerogoti pikirannya.



Tangannya menggamit tangan suami sah di depannya kini, dan membawa tangan suaminya itu kemudian diciumnya. Hawa panas menyerang wajahnya tiba-tiba, wajahnya yang sudah berpoles make up flawless seketika mendapat tambahan blush on di kedua pipi chubby nya.


Barra pun kemudian mencium Qiandra tepat di dahinya. Keduanya terpejam menikmati sentuhan kulit yang membawa sensasi berbeda. Setelah menyudahi ciuman singkat itu, Barra menyentuh ubun-ubun istrinya, lalu kembali melantunkan doa.


"Allahumma inni As'aluka min khorihaa wa khoirimaa jabaltahaa'alaih. Wa a'udzubika min syarrima jabaltaha'alaih"


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Waahhh, akhirnya sah ya Barra dan Qia..


Barakallahulakuma wabaroka 'alaikuma wajama'a bainakuma fii khoiir.


Siapa yang seneng Barra nikah ma Qia?


Ntar malem aku usahain ketik lagi ya


Gak terasa puasa makin Deket ya Gengs.


Maaf lahir bathin ya semuanya.πŸ™πŸ™πŸ™


Happy Reading πŸ˜€πŸ˜€