My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 45 : Kesempatan



Jangan pernah berkata bahwa kau sudah berada di puncak kesuksesan. sebab satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan ketika Kamu berada di puncak adalah menuruninya.


***


"Angeline... ," terkesiap Qiandra melihat orang yang muncul di depan pintu kamarnya. Ada sedikit trauma melihat wanita itu secara langsung.


"Boleh A-aku masuk?" tanya Angeline hati-hati yang dijawab dengan anggukan kepala Qiandra.


Angeline duduk pada sebuah kursi yang berada di seberang posisi Qiandra saat ini. Mereka saling berhadapan meski dengan jarak tak terlalu dekat. Qiandra duduk di sisi ranjang yang beralaskan sprei putih itu.


"A-aku kemari ingin meminta maaf secara langsung pada kalian, terutama pada mu, Qiandra." Ia menarik nafasnya sesaat, lalu menghembuskannya kasar. "Aku sadar kesalahanku padamu dan Barra begitu banyak, Aku bahkan tidak ada muka untuk bertemu dengan mu namun ... hiks hiks hiks... ," isak tangis tak tertahankan lagi keluar dari bibir Angeline.


Angeline beranjak dari tempat duduknya lalu bersimpuh, dengan kedua lutut menyentuh laintai.


"Apa yang Kau lakukan, Angeline bangunlah Aku mohon jangan begini!" cairan bening itu mulai berkumpul di pelupuk mata Qiandra, tidak tega melihat Angeline namun tak kuasa untuk menggapainya. Gaun serta riasan di kepalanya sedikit membuat ia kesusahan untuk menunduk.


"Qiandra, Aku tahu maafku tak akan bisa menyembuhkan luka yang Aku berikan. Aku dengan hati yang tulus memohon maaf pada Kalian berdua. Aku juga ingin berterimakasih, berkat Kau laporan terhadapku telah dicabut dan ... hiks hiks hiks... Aku tidak menyangka masih menemui orang berhati .Ulis sepertimu, Terimakasih Qiandra terimakasih...," ungkapnya diiringi Isak sesal penuh harapan.


"Aku sudah memaafkanmu Angeline, sudahlah. Aku berdoa agar Kau segera menemukan orang yang mencintaimu dengan tulus. Berbahagialah, Angeline!"


"Kau juga, Aku berdoa agar pernikahan kalian selalu bahagia. Hari ini Reven akan membawaku ke Belanda. Aku akan memulai kehidupan baruku di sana. Terimakasih atas kemurahan hatimu Qiandra. Sampai bertemu kembali suatu hari nanti, Qiandra." Angeline menghampiri Qiandra.


"Bolehkah Aku memelukmu?" pintanya dan dibalas anggukan oleh Qiandra. Keduanya pun berpelukan dengan seutas senyum di wajah mereka masing-masing.


Kembali sendiri di ruangan itu membuat Qiandra kembali mengingat hari di mana ia berada di rumah sakit.


Flashback On


Di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


"Sudah Mas, Aku pengen makan masakan rumah," tolaknya lembut.


"Sebentar lagi Mama datang. Mama akan membawa makan siang untuk kita, Oke?" yang dijawab anggukan oleh Qiandra.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka. Keduanya langsung melihat ke arah pintu.


"Ma... ." Panggilan itu terhenti dan tak bisa mereka lanjutkan sebab melihat orang lain yang datang.


Seorang pria dengan setelan jas formal, berdiri dengan gagah di depan pintu ruang inap Qiandra.


Ia melangkah ragu masuk ke dalam melihat tatapan tidak bersahabat dari Barra.


"Maaf mengganggu waktu kalian. Perkenalkan saya Reven, teman Angeline."


Deg


Detak jantung Qiandra tak beraturan mendengar nama itu di sebut. Ia mengeraskan pegangan tangannya di lengan Barra, kembali terputar rekaman peristiwa kejahatan Angeline kemarin. Merasakan tubuh Qiandra yang bergetar dan lengannya yang dicengkeram kuat, Barra menarik istrinya ke dalam dekapan.


"Tidak apa-apa Sayang, Kamu aman sekarang! Ada Aku," bisiknya lembut lalu mengecup pucuk kepala Qiandra.


Barra memindahkan pandangannya pada pria di hadapannya kini. "Jangan sebut nama wanita itu lagi, Kau lihat bagaimana keadaan istriku karena ulahnya" Pertanyaan itu terlontar sarkas dan tak bersahabat.


Reven menarik nafasnya kasar, sejenak terdiam.


"Aku atas nama Angeline mohon maaf. Aku tau saat ini dia sedang dalam proses hukum. Angeline memintaku agar menyerahkan dirinya ke polisi, namun... ," suaranya tercekat. "Jika masih mungkin tolong Kalian pertimbangkan untuk mencabut laporan itu."


"Enak saja Kau bicara! Kau pikir dengan istriku memaafkannya dia bisa bebas dari jerat hukum?" Barra berteriak kencang, Ia merasakan tubuh istrinya ikut tersentak.


"Mas... ," ucapnya lirih dengan suara bergetar.


"Maaf, Sayang." Mengusap pundaknya lembut.


"Aku tahu permintaan ku ini tidak masuk akal. Namun, bukan Angeline yang melakukan semua itu."


Barra tersenyum mencibir ke arah Reven.


"Omong Kosong! Jelas Istriku sendiri masih ingat berhadapan dengan siapa, cctv, para pegawai di sana, Kau ingin bilang mereka semua berhalusinasi, huh?" Kembali teriakan keras Barra lontarkan.


"Dia penderita DID (Dissociative Identity Disorder). Trauma masa lalu menyebabkan ia menderita penyakit itu. Ketika duduk di Taman Kanak-kanak, pengasuh barunya melakukan penyiksaan secara psikologi. Ia dilecehkan secara verbal terus menerus, dan itu berlangsung selama bertahun-tahun."


Qiandra refleks mengangkat wajahnya yang sedari tadi bersembunyi dalam rengkuh tubuh Barra. "Apa?" tanya Qiandra tak percaya. Sementara Barra masih menatap Reven dengan tatapan tajam.


"Jadi maksudmu, yang menyerang Qiandra kemarin bukanlah Angeline?" Barra mulai diliputi penasaran.


"Altar ego. Setiap kali Angeline merasa marah ataupun stress, dia bisa mengambil alih kesadrannya kapan saja. Bahkan terkadang tanpa pancingan sekalipun." Jelas Reven.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Barra lagi.


"Aku berteman sejak kecil dengan Angeline. Dia mulai menyadari keanehan pada dirinya sejak SMA. dan ketika dia kuliah di Australia, ia memeriksakan dirinya ke dokter dan hasilnya mengatakan ia mengidap DID." Mengusap wajahnya kasar.


"Dan alasan Angeline memutuskanmu adalah, karena Ia merasa tidak pantas untukmu. Ia meminta aku untuk membantunya menjalankan semua hal yang telah ia rencanakan untuk membuatmu membencinya," sambung Reven lagi.


"Tapi kenapa? Bukankah penyakit itu tidak berbahaya, Kami bisa mencari solusi jika ia mau berterus terang padaku."


"Angeline dan Alice adalah dua kepribadian yang bertolak belakang. Mereka dua jiwa dalam satu tubuh. Kau bisa bayangkan beratnya menjadi Angeline bukan? Alice sempat marah pada Angeline karena membiarkanmu pergi, sebab ada kesamaan antara Angeline dan Alice, mereka mencintai pria yang sama. Namun bedanya adalah yang satu tulus dan yang lainnya obsesi." Reven menghunuskan tatapan sendunya menatap Barra.


Seketika perasaan iba dan bersalah menggelayuti perasaan Qiandra. Sungguh, demi apapun dia tidak sanggup membayangkan hari-hari yang dilalui Angeline.


"Maaf, bagaimana dengan kondisi Angeline saat ini?" Berganti Qiandra yang bertanya sekarang. Ada rasa haru di hati Reven mendengar pertanyaan Qiandra.


"Aku tidak tau kata apa yang tepat menggambarkan kondisinya. Jika dilihat sekilas ia seperti orang gila, karena berperang dengan dirinya sendiri. Ia menyalahkan Alice atas semua yang terjadi sementara Alice merasa Qiandra pantas mendapatkannya. Angeline menyalahkan dirinya sendiri sekarang. Ia sudah rela jika masuk penjara agar Alice tidak lagi membuat kekacauan lain." Reven bercerita dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


"Mas," panggil Qiandra pada suaminya. "Aku mohon cabut tuntutan terhadap Angeline, biarkan dia menyembuhkan psikisnya. Aku yakin dia orang baik, hmmmm." Qiandra meminta lembut.


"Tidak, Aku tidak bisa. Bisa saja setelah keluar dia semakin gencar mengincarmu."


"Barra, Aku mohon, Aku dan keluarganya akan membawa Angeline ke Belanda dan mengobati dia di sana." pinta Reven dengan memelas.


"Mas, jika Allah saja Maha memaafkan, apatah lagi kita? Berikan kesempatan kedua baginya untuk kembali hidup normal. Aku yakin dia orang baik, please!" Berusaha membujuk suaminya agar membebaskan Angeline dari tuntutan sebelumnya.


"Tidak Sayang, jika Aku bilang tidak ya tidak, jangan berdebat denganku!" Barra bersikukuh.


"Baiklah, Aku mengerti. Tidak apa-apa Qiandra. Aku kemari hanya ingin meminta hal itu pada kalian jika masih mungkin." Ada gurat sesal di sebalik kata-kata Reven.


"Aku harap kau mengerti Reven, Aku tidak ingin mengambil resiko dengan mempertaruhkan keselamatan istriku," ujar Barra tegas.


"Reven, pastikan Angeline terbebas dari penyidikan, Aku akan mencabut laporan itu. Aku harap dia bisa menjalani proses terapinya."


"Terimakasih Qiandra, Aku bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Ini kartu namaku, kau bisa hubungi aku jika ada sesuatu. Sekali lagi terimakasih, Aku permisi!"


Flashback Off


"Bahkan sampai sekarang, Mas Barra tetap mengacuhkan ku. Apa Aku salah ya Allah? Aku hanya ingin memberi kesempatan bagi seseorang untuk menjadi lebih baik, seperti Engkau yang selalu memberi kami kesempatan bertaubat atas semua kesalahan kami." Qiandra bergumam dalam hatinya sambil menatap nanar ke arah jendela.


Tiba-tiba pintu kamarnya kembali di ketuk.


Tok Tok Tok


Pintu itu tersibak dan tampak Kak Manda dan Mikhayla berjalan menghampiri.


"Ayo, Barra sudah menunggumu di bawah. Kita akan memasuki ruang acara... "


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Makasiiii buat yang udah baca dan mendukung MBH.


HAPPY READING


Jangan lupa komen dan like nya, ya...🥰🤩