
Arlie merasa sesak sebab mulutnya dibekap seseorang dari belakang, lalu tubuhnya di bawa mundur ke belakang memasuki sebuah ruangan kecil di sana. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun dan sebelah tangannya berusaha memukul orang yang membekapnya.
"Sssssst,, jangan berteriak jika Kau ingin selamat dari preman itu, Aku Randa sekeretaris Erlan."
Mendengar penuturan pria yang ada di belakangnya, Arlie mulai bernafas lega. Perlahan bekapan tangan Randa mengendur, dan memberi ruang bagi Arlie untuk mengambil nafas. Ia menoleh ke arah Randa, lalu Randa mengisyaratkan kepada Arlie agar tidak bersuara dengan jari telunjuknya.
Samar-samar terdengar suara langkah kaki orang berlari, makin lama makin dekat dan berhenti.
"Kemana wanita itu, bagaimana dia bisa lari secepat ini dalam kondisi hamil?" Suara salah seorang pria dari luar.
"Arrgghh, Ayo Kita cari dia pasti belum terlalu jauh dari sini. Cepat sebelum bos marah dan menghukum kita!" ajak teman yang lainnya. Kemudian suara deru langkah kembali terdengar dan semakin menjauhi ruangan di mana Arlie dan Randa berada.
Arlie terduduk lelah di lantai, tubuhnya bersandar pada dinding dan nafasnya mulai teratur kembali. Sementar Randa tampak sibuk dengan ponselnya sedang mengetik sesuatu.
"Ikut Aku, Aku akan membawamu bertemu dengan yang lain!" tarik Randa tangan Arlie setelah ia memasukkan kembali ponselnya di saku celana.
Mereka pun berjalan cepat sebab Arlie tidak sanggup lagi berlari. Randa pun akhirnya menawarkan diri untuk menggendong Arlie sampai ke tempat tujuan. Karena tidak ingin menjadi beban, Arlie pun bersedia digendong.
Lima menit berjalan, Randa melihat tiga teman lainnya sudah berhasil melumpuhkan dua preman tadi di depan. Keduanya sudah dalam kondisi pingsan dan terikat.
"Arlie!" panggil Erlan yang melihat kondisi Arlie yang sudah mulai lemah. Randa menurunkan Arlie, dan Erlan segera membawanya untuk duduk di sebuah kursi panjang pada salah satu ruangan terpisah dari pabrik, bekas tempat berisitirahat penjaga keamanan sepertinya.
"Katakan bagaimana bisa Kau ada di sini?"Barra yang sudah tidak sabar pun bertanya to the point pada Arlie.
Arlie menjelaskan secara singkat mengenai dia di culik, bertemu di tempat ini bersama Qiandra dan Zidane, hari-hari mereka selama di sekap hingga rencana kabur mereka hari ini. Ia juga menceritakan kondisi terakhir Qiandra sebelum mereka berpisah dan mengapa mereka bisa terpisah.
Barra mengepalkan tangannya, perasaan marah memenuhi emosinya.
"Randa, bawalah Arlie ke rumah sakit terdekat dari sini, bawa mobilku." Erlan melempar kunci mobilnya, lalu membantu Randa untuk membawa Arlie ke.mobil mereka yang terparkir agak jauh dari depan pintu gerbang pabrik.
Setelah memastikan Arlie dan Randa pergi dengan selamat, Erlan kembali menemui dua temannya yang lain namun nihil, keduanya sudah tak ada di tempat. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan menemukan titik di mana Barra dan David berada.
Erlan segera menyusul keduanya. Dengan nafas sedikit terengah-engah sebab berlari, Erlan mengagetkan kedua rekannya itu.
"Sedang apa Kalian di sini?" tanyanya sembari membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.
"Kami mendengar suara teriakan Qiandra samar-samar tadi, setelah Kami sampai di sini suaranya sudah tidak terdengar lagi." David menjelaskan.
"Apa Kalian yakin itu suara Qiandra?" Erlan menatap keduanya tajam, badannya sudah tegak kembali.
"Aku sangat yakin, itu suara Qiandra." Barra menyakinkan bahwa yang dirinya dengar bersama David adalah suara Qiandra. "Aku masih bisa mengenali suara istriku, dan Dia berteriak kesakitan."
"Kalau benar seperti itu. mungkin mereka membawa Qiandra ke dalam ruangan, sehingga suaranya tidak terdengar lagi. Bagaimana kalau Kita mengecek ke dalam?" Erlan menatap David dan Barra meminta persetujuan.
Keduanya pun mengangguk. Sebelum bergerak, Erlan tak lupa membeberkan rencananya untuk mendapatkan bukti akurat kejahatan Mama Diana. Setelah kedua rekannya mengerti, barulah mereka bergerak menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di pabrik itu.
...✳️✳️✳️...
Mereka pun mengangkat kedua tangannya ke atas dan para preman itu langsung dibekuk dan diborgol. Sementara Barra langsung menghambur memeluk Qiandra dan memastikan kondisi istrinya yang mendapat beberapa luka di tubuhnya.
Tak lama kemudian munculah Papa Gunawan, Mama Gunawan dan Papa Andre. Melihat suaminya datang, Mama Diana langsung merubah mimik wajahnya dan menangis di hadapan suaminya itu.
"Pah, tolong Mama. Mama dijebak, difitnah dan Mama nggak tau apa-apa." Mama Diana mencoba menyakinkan suaminya agar mau membantunya melewati proses hukum. Dengan kekuasaan yang dimiliki suaminya, ia yakin bisa terbebas dari jerat hukum yang menantinya.
"Mah, semuanya akan lebih mudah dengan Mama bekerja sama dengan polisi. Papa akan mendukung Mama," ucap Papa Andre menepuk bahu Mama Diana sedih.
"Papa nggak percaya sama Mama?" Mama Diana terlihat menangis dan bersedih.
Papa Andre mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman video yang dikirimkan oleh Erlan. Adegan Mama Diana dan Barra berhadapan tadi tampak pada rekaman tersebut. Mama Diana terkejut melihat dirinya di dalam rekaman yang sedang diputar suaminya. Ia menggelengkan kepalanya, namun menangkap seorang lagi yang berada di sana, yaitu Erlan.
Diana terperangah, tidak percaya. Kepalanya terus berputar mencari celah untuk keluar dari dalam ruangan ini. Lalu Ia melihat pistol yang tergantung di pinggang seorang petugas keamanan yang sedang memborgol preman. Sebuah ide terlintas di kepalanya, dengan gerakan cepat dia menyambar pistol itu lalu mengacungkannya kepada semua orang.
"Mama... Jangan lakukan itu Ma, Papa mohon. Sudah cukup kejahatan yang Mama perbuat. Jangan mengambil keputusan yang salah lagi, Ma!"
"Diam, semuanya Kalian tidak mau memahami Aku. Aku tidak mau di penjara. Ini semua kesalahan Zasqia, dia yang membuat Aku melakukan. ini semua!"
"Dorrr," Diana berteriak seraya melepaskan satu tembakan secara asal. Meski tidak mengenai siapapun, namun hal itu membuat para petugas keamanan tetap waspada tanpa menurunkan senjata mereka yang sudah mengarah ke Diana.
"Di, Zasqia tidak bersalah. Maafkan Aku Di, maaf. Aku selama ini mencarimu dan Zasqia untuk meminta maaf pada Kalian. Namun Aku baru mengetahui bahwa Zasqia sudah meninggal beberapa waktu yang lalu." Mama Renata maju selangkah mensejajarkan dirinya di samping Papa Andre.
"Apa Kau bilang? Dia tidak bersalah? Karena dia Aku dan keluargaku dipermalukan pada ujian akhir di SMA. Karena dia, Aku harus menghilang beberapa saat karena orang tuaku menyuruhku pergi sementara sebab masalah itu. Belum lagi, gara-gara dia Mas Andra bahkan tidak pernah melihat Kita, seharusnya Kau berterimakasih padaku." Nafas Diana memburu, membuat dadanya naik turun tanda emosinya meningkat.
"Karena dia juga, Aku harus kehilangan kehormatan ku dan melahirkan anak haram itu!" tunjuk Diana pada Zidane yang masih terbaring lemah.
Semua yang berada di ruangan itu merasa terkejut dan menutup mulut mereka tak percaya dengan kenyataan yang mereka dengar.
"Jadi... ,"
.
.
TBC
.
.
HAPPY READING Zheyenkkkkk❤️❤️
Makasi ya Support nya🤗🤗