
Barra masih setia duduk di samping ranjang istrinya. Dia baru saja selesai membersihkan kaki dan tangan istrinya, dengan menggunakan air hangat dan waslap. Ditatapnya hangat sosok wanita yang sedang mengandung buah cinta mereka itu.
"Sayang, hari sudah menjelang sore. Kenapa masih belum bangun juga. Mas kangen banget dengar suara Kamu." Mengecup jemari tangan Qiandra yang digenggamnya.
"Tadi Andin jengukin kamu. Mama dan Papa sudah pulang ke rumah siang ini. Sejak berita kehilanganmu, Mama jatuh sakit. Setelah ada informasi mengenai keberadaan mu, Mama bersemangat kembali hingga kejadian saat itu. Awalnya Mama masih berdiri tegar dan kuat, namun mendengar pernyataan Dokter. Mama shock dan terpaksa harus dirawat. Mama selalu menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi di hidupmu dan Bunda," ucap Barra, dengan satu tangan menggenggam tangan istrinya dan satu tangan lagi membelai surai hitam Qiandra.
"Mama sangat menyayangimu, Sayang. Kami semua menyayangimu. Jangan terlalu lama tertidur, bayi Kita sedang bertumbuh di sini. Dia membutuhkanmu, segera bangun dari tidurmu, Sayang. Dokter bilang, akan sangat berbahaya bagi bayi Kita jika Kamu terus-terusan tertidur seperti ini." Linangan air mata memenuhi pelupuk mata Barra. Kini satu tangan yang sejak tadi membelai rambut Qiandra sudah berpindah ke perut Qiandra.
"Dan Aku, membutuhkan Kalian berdua. Maaf untuk belum bisa menjadi suami yang baik bagimu. Mas janji, akan selalu belajar untuk lebih baik lagi." Cairan bening lolos dari pelupuk matanya lagi, tanpa disertai isakan. Barra lalu menggenggam tangan istrinya dengan kedua tangannya, lalu membawa tangan itu ke pipinya.
Netra Barra menangkap air mata yang menetes dari salah satu sudut mata istrinya. Ia terhenyuk sesaat. Ia mengamati wajah istrinya yang masih tenang, namun setetes air mata yang jatuh di pipi istrinya itu, nyata.
Ia mengusap cairan itu, dengan sebelah tangannya. Barra menggeser kursinya agar lebih dekat. "Sayang, Kamu bisa mendengar Mas?" tanya Barra lirih masih menatap wajah Qiandra.
Tiba-tiba, Ia merasakan gerakan jemari tangan Qiandra yang ia genggam. Sekali, dua kali, dan setelah beberapa saat, gerakan itu semakin banyak.
Mata Barra berbinar, senyuman merekah di wajahnya namun air matanya masih mengalir. Ia menekan bel darurat yang berada di dinding tepat di atas nakas.
"Qiandra, Sayang," panggilnya lagi perlahan berharap kabar bahagia itu memang terjadi.
Bulu mata Qiandra mulai bergerak, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, akhirnya netra sayu kesayangannya itu terbuka. Qiandra refleks menutup matanya kembali saat pencahayaan di dalam kamar mengganggu fokus pandangannya.
"Mmaasss," panggilnya lirih, pelan sekali seperti suaranya tercekat di tenggorokan.
Barra dapat melihat gerakan mulut Qiandra, dan Ia pun mengangguk. "Iya Sayang, Aku di sini."
Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka dan masuklah dokter beserta dua orang perawat untuk melihat kondisi Qiandra. Barra dipersilakan keluar terlebih dahulu agar tim medis dapat memeriksa Qiandra. Dengan berat hati Barra pun mengalah setelah bersikeras untuk berada di sana.
"Bagaimana keadaan istri Saya, Dok?" tanya Barra setelah Dokter keluar dari ruangan Qiandra dengan tidak sabar.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Terimakasih Dok, apa Saya bisa menemui istri saya?" tanya Barra.
"Silahkan Pak, tapi sebaiknya Ibu jangan di ajak berbicara banyak dulu ya pak." Dokter menyarankan.
"Baik Dok, terimakasih." Menundukkan kepalanya lalu berlari masuk ke ruangan di mana Qiandra berada.
...✳️...
.
.
.
TBC
.
.
.
Segini dulu ya genks,, episode terpendek yang Aku buat 🤭🤭
HAPPY READING Zheyeeeenkkk🤗