
Keesokan harinya...
"Angken,, nanun, uda padi ndak oyeh bobok dadi." Suara nyaring Mikhayla mengusik Barra yang sedang terbuai di alam mimpi. Kesadarannya ditarik paksa agar hadir, merasakan kulit dingin nan halus itu memeluk lengannya, menarik dan kini sudah naik ke atas ranjang.
(Uncle,, bangun, udah siang enggak boleh bobok lagi) .
Barra mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu perlahan penglihatannya menangkap sosok mungil yang sedang tersenyum itu. Pipi chubby merah jambu, mata bulat, bibir mungil, serta rambut yang dikucir menjadi dua bagian.
"Selamat pagi Mikhayla sayang." Barra langsung membawa balita itu ke dalam pelukannya, aroma khas bayi menyerbak ke hidungnya.
"Syamat padi Angken," balas Mikha seraya memberikan satu kecupan di pipi Unclenya.
(Selamat pagi Uncle)
"Angken, syepat andi, Ikha mau liyat Onti syantik, buluan!" perintah Mikhayla, membuat Barra berdecak kesal menghadapi tingkah anak kecil itu.
(Uncle, cepat mandi, Mikha mau lihat Aunty cantik, buruan!)
Barra mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Keponakannya ini sungguh menggemaskan. Tapi terkadang mengesalkan juga. Sangat mirip dengan Mamanya yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.
"Uncle lelah Mikha, pergilah sana, jangan ganggu Uncle. Ajak Papa atau Mama sana!" Barra sedikit memberikan penekanan pada kata-katanya.
"Tapi Ika mau peldi syama angken. Papa tadi syama Opa. Mama syama Oma liyat Onti syantik." Mikhayla terus mengoceh, dengan pipi gembul dan bibirnya yang mungil itu, membuat Barra tak tahan untuk tak mencubit pipinya.
(Tetapi Mikha mau pergi sama Uncle. Papa lagi sama Opa. Mama sama Oma lihat Aunty cantik.)
"Oke, oke ,uncle mandi dulu ya Mikha sayang." Mencubit lembut pipi Mikhayla, lalu mengecup dahi balita itu gemas. "Dasar, Boss kecil," gumamnya dalam hati sambil berjalan ke kamar mandi. Ia tersenyum geli melihat Mikhayla mencebikkan bibirnya karena kelakuan Barra.
Beberapa saat kemudian...
"Ma, beneran Ma, Barra nanya hal sekonyol itu?" tanya Manda yang dijawab anggukan kepala oleh Mamanya. Hal itu mengundang tawa dari ketiga orang yang sedang berada di ruangan itu.
Flashback on
"Itu bisa aja terjadi karena tekanan darah Qia masih rendah, meskipun sudah naik dari beberapa hari lalu. Yang penting, obat anti nyerinya di minum. Jika masih sakit, bisa mengompres dengan air hangat di bagian perut yang sakit. Minum teh jahe atau teh chamomile juga dapat mengurangi nyerinya."
"Dismenore?? beberapa hari yang lalu? Apa Qiandra selama ini tinggal di rumahku? Oh my God." Bisik Barra dalam hatinya yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Baiklah Nyonya, semoga kondisi Qiandra segera membaik. Jika sakitnya memburuk, segera hubungi Saya. Permisi, Nyonya." Dokter Alvin sedikit membungkukkan kepalanya.
Mama pun mengangguk. Tak lupa mengucapkan terimakasih pada Dokter Alvin. Dokter Alvin pun segera berbalik dan berlalu, namun Ia dikagetkan dengan kedatangan Tuan Mudanya.
"Tunggu, Dismenore? Apa itu penyakit berbahaya? Dokter, cepat katakan! Apa itu parah? Oh Tuhan, Bagaimana Mama bisa membiarkan gadis yang sedang sekarat seperti itu hanya di rawat di rumah!" Kepanikan Barra seketika membuat Mama dan Dokter Alvin tercengang.
"Dokter, jawab Aku! Kenapa diam saja?" lagi-lagi Barra berteriak. Ia mengusap kasar wajahnya. Namun kepanikannya berubah menjadi tanda tanya besar setelah mendengar suara tawa tertahan dari kedua ornag di hadapannya sekarang.
"Ppppffftttttttt,,,,, Ahahahaha.....," Dokter Alvin tertawa sambil menutup mulutnya , sedangkan Mama Renata sudah tidak tahan lagi. Ia langsung tertawa terbahak-bahak mendengar dan melihat sendiri, ekspresi kepanikan di wajah si bungsunya itu.
Barra mendelik kesal pada Dokter Alvin. Dokter Alvin yang merasakan tatapan tidak suka dari Tuan Mudanya itu pun langsung terdiam. Mengatur nafas dan merubah ekspresi wajahnya menjadi mode serius.
"Saya minta maaf Tuan Muda, saya tidak bermaksud untuk menertawakan Anda."
"Dismenore adalah istilah untuk rasa nyeri yang dirasakan oleh wanita pada saat Haid, Tuan Muda. Ini biasa terjadi pada setiap wanita, namun tingkat nyerinya bisa berbeda-beda." Dokter Alvin mencoba menjelaskan secara singkat, sesekali wajahnya masih tersenyum.
Blussshhhhhhhhh
"Ehemmmm." Barra memasukkan tangan kiri ke saku celananya, dan tangan kanannya mengusap2 hidungnya.
"Aku sudah tau itu. Maksudku, apa Dia tidak perlu di rawat ke rumah sakit. Hmmmmm, Jika terjadi sesuatu padanya, itu sangat merepotkan!" Barra berusaha mencari alasan, padahal wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Kelihatannya Kau sangat mengkhawatirkan Qiandra?" tanya Mama memicingkan matanya.
Bara salah tingkah, mendapati dua orang dihadapannya sedang menatapnya curiga.
"Apasih Mama, curigation terus sama Barra. Udah, Barra mau ke kamar dulu." Barra langsung pergi menerobos dua orang itu.
"Barra, arah kamar Kamu di sana Nak, itu arah kamar Qiandra!" panggil Mama. sedikit berteriak.
"Haiiisssshhh!"
Flashback off
"Aduh ada-ada aja deh Barra, nanya begituan di depan Dokter Alvin. Ahahahaha, maklum Ma, yang dia tau cuma istilah bisnis doang," timpal Manda di sela tawanya.
"Oh ya, Qia gimana udah enakan?" sambungnya lagi.
"Alhamdulillah, udah mendingan Kak. Memang sih masih nyeri, tapi udah biasa gini, minum obat dan dikompres air hangat, enakan."
"Emang nyeri banget ya, kok bisa pingsan gitu?"
"Qia juga nggak tau Kak, kenapa bisa pingsan. Tapi kemarin itu emang nyeriiiiii banget, biasanya nggak separah itu," tutur Qiandra.
"Oma.... Mama.... Onti... Syamat padi... " Suasana kamar Qiandra semakin ramai dengan kehadiran si kecil nan centil Mikhayla. Bayi usia 3 tahun itu selalu berbicara dengan gaya khasnya.
"Wah, cucu Oma dari mana tadi?" Sambut Mama Renata hangat. Namun Mikhayla malah berbalik keluar dan masuk lagi dengan menarik seseorang untuk masuk.
"Oma, Ikha au tenalin Anken Balla syama Onti Tia," jawab Mikha polos sambil terus menarik Barra mendekati mereka. " Kata Mamah, Angken masyi sendilian, jadi Ikha mau kasti temen buat angken," sambung Mikhayla lagi, yang berhasil membuat wjaha Barra dan Qiandra bersemu merah.
(Oma, Mikha mau kenalin Uncle Barra sama Aunty Qia)
(Kata Mama, Uncle masih sendirian, jadi Mikha mau kasi temen buat Uncle)
Manda sontak menutup mulut anaknya sebelum Ia membuka lebih banyak rahasia lagi, lalu menggendongnya keluar.
Mama hanya tersenyum melihat wajah keduanya yang kini bersemu merah. "Sepertinya rencanaku menjodohkan mereka akan segera terkabulkan," bisik Mama dalam hatinya. Senyum itupun kini selalu menghiasi wajahnya yang masih kelihatan cantik di ujung senjanya.
"Barra, Mama titip Qiandra sebentar ya, Mama mau bikinin Papa kopi dulu," ucap Mama tiba-tiba memecah suasana dan segera menghilang di sebalik pintu.
Qiandra menekuk wajahnya, tangannya memegang erat selimut yang menutupi kakinya itu. Barra yang sejak semalam memang ingin melihat keadaan Qiandra seketika kikuk, setelah berada di hadapan gadis yang dianggapnya sebagai trouble maker dalam hidupnya.
hening
hening
hening
Hanya terdengar suara dentingan jarum jam dinding.....
"Teri..., Apa...," Ucap mereka bersamaan. Keduanya pun tertawa ringan, lalu saling mempersilakan satu sama lain untuk berbicara duluan.
"Ladies first."
"Ummmmm, terimakasih sudah menolong Saya kemarin," ucap Qiandra yang sudah mengangkat wjaahnya menatap lawan bicara.
"Kau jangan ge er. Aku melakukan itu atas rasa kemanusiaan. Aku akan melakukan hal yang sama pada siapapun. Seperti yang Kau lihat, selain tampan, berwibawa, kaya, pintar, Aku juga memiliki kebijakan hati di atas rata-rata," ujar Barra berpongah diri.
Qiandra hanya mampu membuka mulut mendengarnya. Sungguh ucapan Barra di luar ekspektasinya. "Huuuuh, lihatlah belum apa-apa Dia sudah menyombongkan diri, menyebalkan. Tau gitu, Aku sih ogah ngucapin makasih. Dasar, Tuan Songong over percaya diri!" gerutu Qiandra dalam hatinya.
Qiandra memutar matanya ke atas seraya mencebikkan bibirnya. Barra yang melihat reaksi menggemaskan itu pun berbisik dalam hatinya.
"Kau sangat menggemaskan, seperti Mikhayla saja." Tertawa dalam hati.
"Tunggu, Aku bilang apa tadi? Sial, tidak tidak, Aku menarik kata itu. Dia terlihat mengerikan."
"Ehemmm,, kenapa kau bisa tinggal di sini? Kau sengaja ingin mendekatiku? Yah, masuk akal sih, secara Aku ini memang pria incaran banyak wanita." Menyampirkan sedikit rambutnya ke samping, sambil tersenyum menjengkelkan.
"Permisi Tuan over percaya diri, Apa Anda sedang bermimpi? Iya, Aku akui banyak wanita yang mengincarmu, tetapi Aku bukan bagian dari mereka. Maaf Tuan, seleraku memang tidak tinggi, tapi tidak biasa!" Menyeringai penuh kemenangan.
"Aaa, seleramu tak biasa ya. Apa Kau menyukai pria yang mengajakmu ke hotel? ya, kelihatannya seperti itu bukan?" Tertawa sinis, mengejek Qiandra,
"Hei, Tuan, jaga bicaramu!" teriak Qiandra. Tiba-tiba Qiandra meringis memegangi perutnya. Kram kembali terasa mesti dengan intensitas ringan. Memang kondisi ini biasa ia rasakan, bisa sampai 2 atau 4 hari setelah haid hari pertama.
Barra yang melihat perubahan reaksi Qiandra, panik seketika."Are you Oke?" tanyanya menundukkan tubuhnya hingga sejajar dengan Qiandra. Netra keduanya bersitatap, menimbulkan detak aneh yang belum pernah Barra rasakan sebelumnya.
**Deg...Deg...Deg...Deg.
.
.
.
.
.
****ToBeContinue****
.
.
.
.
.
~Happy Reading~
Haiiiiii, Makasi buat semua yang sudah membaca karyaku. Jangan lupa kasi like dan komentar Kalian yah.
❤️❤️❤️❤️❤️
MyNameIs**