
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Maria yang sudah dihubungi terlebih dahulu sudah menunggu di pintu masuk rumah sakit. Qiandra langsung di bawa ke ruang bersalin. Di sana telah menunggu lengkap peralatan medis dan sebuah ranjang yang akhirnya di tiduri Qiandra.
Dokter Maria langsung memeriksa kondisi Qiandra yang ditemani Mama Renata di dalam ruangan. Sedangkan yang lainnya menunggu di luar.
"Saya periksa dulu ya Bu!" ucap Dokter Maria yang sudah mengenakan sarung tangan latex.
Dokter mulai memeriksa bagian dalam Qiandra, lalu memecah ketuban. Seketika air ketuban mengaliri bed yang sudah diberi
"Sudah bukaan enam ini Bu Qiandra. yang sabar ya, sebentar lagi bayinya akan lahir. Jangan diingat sakitnya ya Ibu Qiandra. Bayangkan aja sebentar lagi ada suara tangisan bayi, tangan kecilnya menyentuh wajah Ibu!" Dokter Maria memotivasi Qiandra.
"Sakit banget Ma!!" Qiandra merintih menahan sakit pada perutnya yang tidak bisa ia jelaskan itu. Tulang belakangnya seperti hancur setiap kali merasakan pergerakan dari dalam sana. Sakit itu terus meliliti perutnya, membuat Ia selalu menjerit setiap sensasi pergerakan sang bayi itu datang.
"Aaaarrrghhh," teriak Qiandra sesekali sebab sakit yang teramat itu.
Mama Renata segera mengusap dahi menantunya itu yang sudah berpeluh jagung. "Baca doa, Nak. Ingat Allah ya Sayang." Mama Renata menuntun Qiandra untuk melafazkan doa, membuat ia sedikit tenang.
"Qiandra mau Mas Barra, Ma, hiks hiks... ," isakannya membuat Mama terenyuh.
"Iya, Sayang. Mama tau, mungkin suamimu sedang dalam perjalanan. Kamu sabar ya, ada Mama di sini nemenin Kamu!" Qiandra mengangguk. Ia sudah berpasrah diri. Sekuat tenaga ia kerahkan agar bayinya bisa melihat dunia. Meskipun Ia harus meregang nyawa sekalipun.
Sementara itu Papa masih berusaha menghubungi David dan Barra. Ia menelpon ke sekretaris Barra namun Barra dan David sedang tidak di dalam ruangan. Keduanya berada di ruang meeting bersama para investor hari ini.
David dan Barra baru saja mengantarkan tamu investor mereka. Setelah tamu-tamu pentingnya pergi, Barra mengajak David pulang.
"Di mana ponselku?" tanya Barra.
"Ponsel Anda Saya churger di ruangan, Tuan dalam kondisi tidak aktif." David menjawab pertanyaan Barra diikuti dengan gerakan kaki keduanya menuju ruangan.
Ting
Begitu pintu lift terbuka, kedua pria tampan itu segera melangkahkan kaki mereka menuju ruangan Presiden Direktur.
"Selamat siang, Pak Presdir!" Tania sang sekretaris pun berdiri sambil menundukkan sedikit tubuhnya.
"Asisten David, tadi ada telpon dari Pak Gunawan. Dia menitipkan pesan bahwa sekarang Ibu Qiandra sedang berada di rumah sakit!" ucap sekretaris itu dengan hati-hati.
Deg Deg Deg
Barra otomatis menghentikan langkah kakinya dan segera menoleh ke samping dimana Tania berdiri.
"Kapan Papa ku menelpon?" tanya Barra cepat diikuti David yang reflek merogoh saku celananya. Dia merutuki dirinya yang mematikan dering ponsel namun lupa memasang mode getarnya sehingga sepuluh kali panggilan dari Papa Gunawan tidak Ia sadari.
"Ba-baru lima belas menit yang lalu, Presdir!" jawab Tania sedikit takut melihat ekspresi tajam Barra.
"Maaf Presdir, ada sepuluh panggilan dari Tuan Gunawan dan Saya tidak menyadarinya!" Sedikit membungkukkan kepala lalu segera mendial panggilan Papa Gunawan.
Tuuuttt Tuuuuttt Tuuuut
"Halo David!" Suara baritone pria paruh baya itu menggema dari seberang sana.
"Halo, Pa. Di rumah sakit mana Qiandra Pa?" tanya David to the point.
"Centra Medika. Cepatlah kemari, Qiandra sudah akan melahirkan!" sahut suara dari seberang telpon.
"Centra Medika!" ucap David pada Barra begitu panggilan itu dimatikan. Setelah mengambil ponsel dan kunci mobil Barra di dalam ruangannya, keduanya segera bergegas pergi ke Rumah Sakit.
****
Di dalam ruangan bersalin, Dokter Maria kembali memeriksa Qiandra. Qiandra sudah mengenakan pakaian pasien dan selang infus terpasang tepat di tangan kirinya. Keringat terus bercucuran bercampur dengan air mata. Ringisan dan rintihan terdengar acapkali setiap pergerakan demi pergerakan sang bayi yang juga tengah berjuang mencari nafas kehidupan.
"Sudah bukaan lengkap, persalinan akan kita mulai!" Dokter Maria memerintahkan perawat di sebelahnya untuk mendekatkan peralatan medis yang digunakan.
"Iya Sayang. Kamu pasti bisa, Mama di sini, Nak!"
"Ma, sakit banget Mah! Hiks hiks ..."
"Mama tau Sayang, Kamu yang sabar ya. Ayo semangat, bismillah Kamu pasti bisa. Sebentar lagi bayinya bisa Kita lihat, Kamu akan segera dipanggil Mama!" Mama Renata mencoba yang terbaik yang Ia bisa menenangkan Qiandra.
Ia sangat tahu di saat-saat seperti ini harusnya Barra ada di sisi Sang Istri. Dua kali melahirkan, tidak pernah suaminya absen menemaninya. Ia berdoa dalam hati agar Barra segera hadir untuk memberi kekuatan pada Qiandra.
"Ibu Qiandra yang tenang ya, Kita mulai ya..." belum selesai Dokter Maria berbicara, suara seseorang menginterupsinya.
"Qiandra!!" Seseorang menerobos masuk ke ruangan bersalin.
"Masss!" Qiandra menatap seseorang yang sangat familiar baginya, yang menghampirinya dengan terburu-buru.
"Maaf Sayang, Mas baru datang." Mencium kening istrinya yang dipenuhi keringat. Tangan yang digenggamnya terasa dingin.
Qiandra memejamkan matanya, merasakan ciuman yang menghangatkan dirinya. Rasa cemas dan takut segera berganti menjadi rasa tenang yang damai.
"Oke Ibu Qiandra, angkat kepalanya ya. Lalu tarik nafas panjang, terus dorong yang kuat ya sambil keluarkan nafasnya seperti ini ya , Hah hah hah," ucap Dokter itu lembut.
Tangan Barra segera berpindah ke tengkuk istrinya, agar membantu istrinya mengangkat kepalanya. Lalu Qiandra pun mulai mengikuti aba-aba dari Dokter Maria. Tarik nafas, dorong, tarik nafas, dorong. Setelah beberapa kali melakukannya Dokter pun mengatakan kabar yang membesarkan hati Qiandra.
"Mas, Aku capek Mas, hiks!" bisik Qiandra lemah.
"Maaf Sayang, Aku gak bisa bantu kamu. Maafin Mas ya. Kamu masih kuat kan, demi anak Kita!" Barra pun membisikkan kata-kata itu dengan lembut.
"Ibu, kepala bayinya sudah kelihatan. Ayok Bu sekali lagi dorong yang kuat ya."
Semangat Qiandra terbakar, mendengar pernyataan Dokter. "Sebentar lagi bayiku lahir, Aku harus bisa!" bisiknya dalam hati.
Ia mengambil sebanyak-banyaknya oksigen ke paru-parunya. Lalu dengan sekali dorongan diiringi erangan suara yang kuat, sesuatu yang mengganjal di perutnya selama sembilan bulan ini keluar.
Suara Air bercampur darah ikut keluar mengiringi sosok mungil itu yang menangis kencang. Dengan hanya di selimuti kain, Ia langsung di bawa menuju ibunya.
"Selamat ya Ibu, Pak, anaknya seorang perempuan yang cantik!" ucap Dokter Maria lalu meletakkan bayi mungil itu di dada ibunya.
Qiandra, Barra dan Mama tidak dapat menahan tangisan haru mereka. Melihat tubuh mungil dengan mulut mencari-cari sesuatu di dada Mamanya. Barra mencium putri dan istrinya secara bergantian. Ada sesuatu yang hangat mendesak di dadanya, namun anehnya membuat air matanya tak berhenti mengalir.
Kini Qiandra terpejam, sisa-sisa kesadarannya mulai menipis. Rasa lelah bercampur kantuk yang luar biasa menghampirinya. Sementara para perawat membersihkan tubuhnya, perawat yang lain megambil sang bayi lalu memandikannya.
"Terimakasih Ya Allah, Terimakasih," batinnya dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
Sore harinya, mereka kedatangan orang-orang yang melihat keadaan Qiandra dan bayinya. Ada kak Manda dan Mas Adam serta Wilson dan Andien. Kabar itu juga sudah sampai di telinga Erlan yang saat ini berada di Singapura. Bersama sang Ayah. Erlan juga sempat menyapa Qiandra dan bayinya melalui video call.
...****...
To Be Continue
.
.
.
Yang nebak cewek,,, yeeeee kalian benerrrr,,🤗🤗🤗 Happy Ending dong yahh...🥰🥰🥰
Next <<