My Bossy Husband

My Bossy Husband
33. Ciuman Pertama??



POV Barra


Sungguh hari yang sangat melelahkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari resepsi itu nanti. pastinya akan jauh lebih melelahkan. Aku melangkahkan kaki ku kembali ke kamar, setelah sebelumnya Aku, Papa, dan Mas Adam minum teh bersama di teras halaman samping.


Perbincangan yang cukup membuatku stress tingkat dewa. Dasar pria matang otak mesum. Aku mengumpat dalam hati mengingat perkataan mas Adam, bule masuk kampung itu. "Brother, jangan sungkan untuk bertanya jika kau belum paham apa yang ku katakan tadi."


Bagaimana Aku tidak ingin menendangnya, Kakak Iparku itu meragukan pengetahuanku. Aku pernah pacaran meski tidak pernah melakukannya. Tapi sebagai lelaki, Aku rasa aku cukup punya pengalaman untuk tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi, Aku menolak melakukannya malam ini, karena Aku dan Qiandra, Kami masih belum yakin dengan perasaan Kami masing-masing.


Aku ingin melakukannya dengan orang yang Aku cintai dan mencintaiku. Mungkin bagi sebagian lelaki, hal itu tidak penting. Namun tidak bagiku. Rasa sakit pernah dikhianati oleh Angeline membuat trauma yang begitu besar di diriku. Sebelumnya bahkan Aku selalu memandang rendah seorang wanita, termasuk Qiandra. Aku selalu berpikir buruk pada wanita yang mendekatiku.


Ceklek


Perlahan ku langkahkan kaki kananku masuk ke kamar kami. Ya, Aku dan Istriku. Rasanya lucu bila mengingat statusku yang sudah berubah. Aku pun tersenyum heran setelah menutup pintu, melihat Kamarku yang sudah di poles sedemikian rupa. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku, ini pasti ulah Mama dan Kak Manda.


Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan piyama. Tak berlama-lama, Aku keluar dari walk in closet lalu mengambil sarung untuk menunaikan sholat isya yang tertunda akibat mengobrol dengan dua orang tadi.


Setelah selesai, Aku beranjak ke tempat tidur. Mataku menangkap sosok yang sudah terlebih dulu mengisi ranjang kami. Hah, lagi-lagi Aku aneh dengan sebutan itu, namun menyukainya. Aku bergerak mendekati ranjang, menatap istriku yang sedang tertidur. Wajahnya terlihat begitu polos tanpa make up apapun, namun tetap cantik dan menarik.


Ku lirik Jam dinding , ternyata sudah pukul sebelas lewat. Pantas saja dia tertidur. Aku pun ikut membaringkan tubuhku menghadapnya. Satu tangan menyangga kepalaku, Ku tatap wajah teduhnya. Tanganku yang lain refleks terangkat membelai rambut hitam bergelombang milik wanita itu, menyentuh pipi chubbynya, hingga ke dagu.


Glek


Aku menelan salivaku kasar ketika bibir merah muda itu tertangkap manikku. Benda kenyal yang seminggu lalu nyaris saja Ku kecup jika saja Mama tidak datang. Aku langsung membuang pandangan ke arah lain, menetralkan pikiran yang sempat traveling liar kemana-mana. Sesuatu di dalam diriku bergejolak, tanganku seakan ingin menjamahnya lebih.


Aku mencoba bertahan untuk tak melakukan apapun. Hanya memperhatikan wajah manis istriku. Mencoba mengingat awal pertemuan kami, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang selalu seperti sebuah skenario. Ya, ini semua tak luput dari skenario Tuhan pada kisah kami. Senyuman tak luput menghiasi wajahku, namun terlihat aneh karena Aku senyum-senyum sendiri.


Harusnya malam pertama kami melakukan ritual suami istri untuk pertama kalinya bukan? Hei lihatlah, dia malah asyik tertidur dengan mulut ternganga namun tetap aesthetik mungkinπŸ˜€. Oke, masih ada malam-malam selanjutnya lagi pula akan canggung bagi kami berdua untuk memulai hal intim, sebab Kami tidak pernah dekat sebelumnya. Baik hubungan khusus atau hubungan pertemanan normal lainnya. Bahkan kami bisa dihitung jari jika saling bertegur sapa, jikapun ada akan berakhir dengan perdebatan.


Wajahnya tampak lelah, Aku rasa dia juga sama dengan ku, merasa lelah hari ini. Apalagi kondisinya setelah kecelakaan tempo hari belum begitu pulih. Baiklah, penguntit kecil, Aku akan membiarkan kau tidur malam ini. Lagi-lagi senyuman tersungging dari bibirku, hingga akhirnya Aku terlelap, terseret ke arus buaian mimpi yang indah.


POV Barra End


...🌷🌷🌷...


Suara alarm dari Ponsel Qiandra berbunyi nyaring, saat sang empunya masih asyik tidur di pelukan kekasih halalnya. Namun dalam pemikirannya, yang dipeluknya saat ini adalah bantal guling. Begitu nyaman dan hangat yang Ia rasakan, membuat dirinya semakin mempererat pelukan hingga dering alarm berhenti.


Selang 10 menit kemudian, alarm kembali berbunyi. Karena merasa terganggu, dengan mata yang masih terpejam Ia membalikkan tubuhnya dan meraba ke atas nakas tempat ponselnya berada. Gerakannya membuat guling hidup yang dipeluknya tadi membuka netra.


Pandangan Barra terhenti pada sosok wanita yang kini melihat ponselnya dengan malas, lalu meletakkan kembali ke atas nakas. Ketika wanita itu membalikkan posisinya ke tempat semula, Barra memilih pura-pura masih tertidur. Namun, betapa kagetnya Qiandra menyadari guling yang Ia peluk ternyata bukanlah guling biasa.


"Apa guling ini memiliki jantung? Aku mendengar detak jantungnya," batin Qiandra seraya membuka netranya perlahan.


"Akkkkhhhppp," teriaknya tertahan oleh tangan yang menutup mulutnya. Sejenak Ia memutar ingatannya, kenapa Ia bisa berada di sini bersama pria ini.


"Ya Tuhan, Aku lupa Aku kan sudah menikah. Dasar Qiandra bodoh," gerutunya pelan sekali sambil mengetuk kepala dengan kepalan tangannya pelan. Ia tidak menyadari pria di sampingnya itu berusaha menahan diri agar tidak tertawa.


"Apa? Cantik dari mananya? Jika stok wanita di dunia ini habis, Aku tetap tidak akan memandangmu sebagai wanita. Dasar penguntit tengil cengeng manja!" Ingatkan Qiandra pada dirinya sendiri tentang perkataan Barra di Bandara ketika mereka tiba dari Bali.


"Ingat Qiandra, jangan senang dulu. Dia amat membencimu. Bisa jadi dia menikahimu hanya demi perusahaan," bisik Qiandra dalam hatinya.


Ia pun menerawang kembali apa yang dia ucapkan saat itu. "Kau pikir aku sudi menjadi pasanganmu? Cih, lebih baik aku menjomblo seumur hidup, daripada harus memiliki pasangan jutek dan songong seperti Mu, wahai Tuan over percaya diri!" Qiandra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Qiandra memperhatikan wajah pria di sampingnya. "Kau tampan saat tertidur, Tuan Over Percaya diri, Ceh," decihnya pelan lalu Ia terkekeh sendiri. Satu tangan mulai bergerak dengan jari telunjuknya menelusuri seluruh wajah Barra.


Ketika jari telunjuknya hampir menyentuh bibir Barra, Qiandra dikejutkan oleh sepasang mata yang terbuka seketika. Refleks ia memindahkan tangannya hingga tubuhnya ikut ke belakang. Namun dengan secepat kilat pula tangan Barra menangkap tangan Qiandra sehingga tubuh keduanya saling berhimpit, nyaris tak ada jarak.


Nafas Qiandra sedikit memburu, jantungnya bergemuruh tak karuan. Kini wajahnya dan wajah Barra hanya berjarak kurang dari 10 cm, dengan posisi Qiandra mendongak ke atas. Secenti, dua centi, tiga centi, Barra makin memajukan wajahnya dengan rasa gugup yang entah sejak kapan melanda.


Qiandra memejamkan matanya, seperti inilah adegan romantis film Korea yang sering dilihatnya. ketika wajah si pemeran pria mendekat, maka pemeran wanita akan memejamkan matanya, lalu merek berciuman. Qiandra menantikan ciuman pertamanya itu dengan jantung yang berdetak tak karuan.


Deg deg deg deg ...


"Allahu Akbar Allahu Akbar.."


Suara lantunan azan shubuh pun terdengar berkumandang. Barra yang sudah akan menempelkan bibirnya, refleks melepas tangan dan tubuh Qiandra. Sejenak Ia bingung harus berbuat apa. Qiandra yang juga salah tingkah dan malu, akhirnya memberanikan diri berbicara.


"Sudah adzan shubuh Mas, Kamu mau ke kamar mandi duluan?" tanyanya dengan kikuk.


"Ehhemmm, I-iya. Aku akan memakai kamar mandi duluan," sahutnya lalu beranjak dari ranjang ke kamar mandi.


Sesudah Barra menghilang ke kamar mandi, Qiandra menghela nafasnya panjang.


"Fiuuuuuhhhhh,, Haah, apa-apan tadi? Hampir saja, ciuman pertamaku, aaarrrgh." Qiandra memegang dadanya, lalu pandangannya mengarah ke pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Beberapa saat kemudian ...


Barra baru saja keluar dari kamar mandi, membuat Qiandra terkesima untuk sesaat. Wajah suaminya yang terlihat segar dengan bulir air wudhu yang masih jelas terlihat. Sontak ia memalingkan wajahnya dan bergegas masuk ke kamar mandi.


"Qiandra, Kau ingin sholat berjama'ah?" Baritone itu menghentikan langkah kaki Qiandra yang sudah menggapai pintu kamar mandi.


" Eh, emmmm, tunggu Aku tidak akan lama!" menutup pintu kamar mandi.


Barra tersenyum memperhatikan tingkah istrinya. Entah kenapa, hal kecil seperti ini menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.


...🌷🌷🌷...


***To Be Continue***


Hai semuanya, Gimana puasanya lancar kan?


Oh ya, Maaf ya di Bulan Ramadhan ini jadwal up akan semakin berantakan, hihihi


Aku gak mau kasi PHP ya, tapi Aku usahakan up setiap dua hari sekali. Ingat ya diusahakan.πŸ˜€πŸ˜€πŸ™πŸ™πŸ™


Makasi buat kalian yang sudah baca cerita ku yang alurnya aja agak-agak gimana gitu, maju mundur cantik ya GengsπŸ€­πŸ€­πŸ˜‚


Untuk semua Readers, Terimakasih yang sebesar-besarnya. Semoga kalian tetap suka cerita ini sampai akhir. Jangan lupa like ,komen, vote dan hadiah juga boleh. Aku tau novel ini jauh dari kategori baik, ditilik dari segi apapun. Tapi Aku selalu belajar supaya ke depan novel ini lebih baik lagi.


With love ❀️❀️❀️


Author