My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 6



...WELCOME BACK...


Nenek dengan cucu tersayangnya tengah berpelukan bisa di lihat dari raut wajah keduanya saling merindu . Mereka adalah Nenek dan seorang cucu yang terpisah karena beberapa alasan , salah satunya adalah neneknya tinggal di Jerman untuk menghormati mendiang suaminya. Semasa hidup mendiang suaminya mereka berdua selalu tinggal di Jerman dan jarang bepergian , rumah di sana tidak lah semewah rumah di sini tapi di sanalah tempat kakek nenek itu membina rumah tangga dengan harmonisnya .


"Nenek beneran datang" sendu dia melepaskan pelukan .


"Kamu sudah sebesar ini sekarang kalau nenek gak kesini maka nenek gak akan melihat kamu lagi nanti " nenek itu terbatuk-batuk .


Melihat neneknya seperti itu Arvian sedikit merasa bersalah , beberapa tahun ini dia tidak mengunjungi neneknya karena mengambil alih perusahaan keluarga dan mengurusnya. Jadi jarang ada waktu libur untuk diri sendiri karena setiap kali berlibur dia selalu dalam perjalanan bisnis yang gak menentu . Bisa diluar kota atau juga di luar negri.


"Anak bodoh ada apa dengan wajahmu itu , nenek baik-baik saja .. nenek ngerti kok kamu sangat sibuk sekarang.." dia tersenyum mengelus pipi Vian .


Mendongakan kepalanya Vian makin gak tega .


"Ibu .... aku membawa seseorang untuk bertemu ibu . Eh kamu sudah datang Vian" Nyonya Crolleta mendekati mereka .


"Baguslah jadi bisa sekalian mami kenalin kamu dengan Sherly" dia menggandeng seorang wanita bersamanya .


"Mami" Arvian berdiri tapi belum menghadap ibunya .


"Iya , iya mami paham kamu gak suka , tapi mami membawanya kesini untuk bertemu nenek kamu bukan kamu " . ("Anak ini susah sekali di urusi") kesalnya menggerutu dalam hati .


Arvian berbalik .


"Ibu kenalin ini Sherly " dia memperkenalkan gadis di sebelahnya . Sherly terlihat senyum malu-malu dan tidak menatap ke arah Arvian tapi langsung ke arah nenek Nirmala , neneknya.


"Kamarilah nak" .


Sherly langsung mendekatinya , meskipun dia terlihat membalasnya dengan senyuman tapi jelas terpampang di raut wajah tuanya dia gak terlalu suka pada gadis ini . Dibandingkan saat dia tersenyum kepada Icha dia terlihat lebih bahagia saat itu . Dan Arvian memerhatikan itu .


***


Acara telah berlalu


Rumah sudah sepi , para pelayan mulai membereskan keadaan rumah yang berantakan tadi , tuan Rahendra beserta keluarga sedang duduk di ruang keluarga . Mereka sangat kelelahan apa lagi tuan Rahendra baru pulang , nenek juga baru datang jadi beban lelah mereka berlipat ganda .


"Aku akan pergi istirahat dulu , sayang aku kekamar dulu ya . Ibu aku kelelahan jadi tidur duluan gak papa kan " dia berkata sambil mencium pucuk kening sang istri .


Nenek Nirmala mengangguk .


Tepat setelah kepergiannya Arvian juga terlihat berpamitan , mengingat ibu dan neneknya terlihat sudah siap untuk bergosip dan dia gak suka itu . Anak tangga satu demi satu dia langkahi hingga menapak di lantai atas dan sudah hilang dari pandangan nyonya Crolleta .


"Ibu bagaimana menurut ibu tentang Sherly ".


"Gadis yang tadi kamu bawa ke ibu , wajahnya cantik , cara dia berbicara juga sopan tapi terlalu profesional. Kita itu mencari menantu bukan mencari seorang pekerja .."


"Tapi Bu , dia itu anak gadis yang pintar aku dengar dia bekerja di perusahaan Vian dan lagi dia juga cantik , meski dia terlalu profesional tapi kan itu menunjukkan kalau dia bisa membantu Vian untuk masalah perusahaan nantinya" jelasnya .


"Terserah apa pendapat kamu tapi selama anak itu gak mau dia pasti akan menolaknya , dari pada meyakinkan ibu lebih baik kamu berusaha membujuknya " .


Nenek Nirmala sudah pergi .


"Bener juga kata ibu , bagaimana aku bisa membujuk anak itu , dia sangat keras kepala .. Aaaa apa aku gagal lagi" kesal dia juga pergi setelah itu .


***


"Dimana dia , apa jangan-jangan dia kena masalah , atau dia di ganggu preman lagi" celoteh dia yang khawatir .


Brak


"Apa yang kau pikirkan tentang aku"


"Eh Sisil gubluk " dia terpanjat jantungnya seakan mau copot mendengar pintu rumah yang di dorong dengan kasar . Beruntung itu temannya Sisil.


"Darimana kamu Sil "


Haaaahhh ... Sisil menghela nafas panjang , dia menutup pintu kemudian duduk di kursi sebelah Icha . Dia terlihat sangat kelelahan . "Kamu abis ngapain kok kelelahan gitu?" Icha menaikan alisnya bertanya .


"Jangan banyak nanya Cha , sumpah aku capek banget hari ini . Tau gak dari semua hari yang aku lewatin dalam bekerja hari ini yang paling capek " dia ingin nangis kelelahan .


Setelah kejadian tadi sore , dia selalu di sibukkan oleh perintah Dimas yang sepertinya membalas dendam atas perbuatan Arvian dan juga Icha pada gadis malang satu ini . Saat berganti pakaian untuk pergi keacara malam tadi di rumah Vian dia juga di buat kelelahan karena semua baju yang di cobainnya gak di setujui Dimas padahal itu pilihan Dimas sendiri .


"Emang kamu ngapain aja Sil"


"Gak papa " sahutnya yang tidak mau Icha khawatir . "Jadi kamu beneran gak di terima apa gimana?" kata dia mengalihkan pembicaraan .


"Ya gitu deh" Icha lesu . "Tapi baguslah , asal kamu tau ya Sil tadi pas wawancara eh maksudku di panggil lagi ke sana aku di maki-maki habis-habisan sama itu orang"


"Terus kamu lawan" alisnya terangkat sebelah .


Icha menggeleng .


"Kok bisa , kamu demam Cha " tangannya menyentuh kening Icha. "Enggak demam suhunya normal tumben kamu gak marah biasanya kamu langsung balas maki-maki orang " erangnya setelah memastikan suhu tubuh Icha .


"Gimana mau balas maki , suara dia agak serem Sil tatapannya juga padahal kemaren pas awal ketemu masih ganteng loh" Icha menjelaskan dengan sangat-sangat serius .


"Yang kamu ceritain itu" Sisil melipat kakinya bersila di atas sofa beralih menghadap Icha . Kini mereka berhadapan .


Icha mengangguk .


***


DON'T FORGET TO


✓Like


✓Komen


✓Vote


✓Favorit


... SEE YOU NEXT EPISODE ...