
Qiandra dan Barra sudah sampai di kediaman mereka. Kini keduanya sedang menghabiskan waktu berdua di kamar setelah menyelesaikan kegiatan bersih-bersih diri mereka masing-masing.
"Awalnya Aku sempat berpikir negatif juga sih Mas. Tapi setelah itu Aku pikir, mungkin aja ponsel Mas tertinggal dan ditemukan orang lain. Atau Mas lagi ke toilet dan ponsel Mas tertinggal di tempat pertemuan lalu diangkat oleh rekan kerja Mas."
"Ya udah, tadinya Aku mau minta izin mau pergi ke makam Ayah dan Bunda. Aku udah masakin buat Kamu, buat Mama dan Papa juga makanya Aku suruh Mang Udin anterin makanan ke rumah Mama dan Papa dulu. Karena jauh harus mutar kalau mesti ke rumah Mama lagi. Aku pergi ke makam naik taksi online aja. Aku pikir Mas pulangnya sore makanya sebelum Mas pulang Aku pengennya udah sampai di rumah."
Qiandra menjelaskan panjang kali lebar mengenai kejadian tadi siang. Ia duduk di sofa tepat di sebelah Barra, lalu menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
"Kamu udah buat Mas Panik, tau gak?" Memeluk tubuh Istrinya. Menghirup lamat-lamat wangi tubuh istrinya lalu memberikan kecupan di keningnya.
"Berjanjilah, jika suatu hari ada sesuatu yang Kamu dengar dari orang lain, tolong dengarkan juga penjelasanku, Hmmm?" Barra menangkup wajah Qiandra lalu memberikan ciuman singkat dibibir istrinya
"Iya Mas," jawab Qiandra sambil mengangguk dan tersenyum. "Mas juga ya!" Mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Barra. Barra menangkap tangan itu lalu membawa tubuh Qiandra ke dalam dekapannya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Qiandra beranjak dari sofa lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bik?" tanya Qiandra.
"Nyonya, Ada Tuan Erlan di ruang tamu." Bik Ani memberitahukan maksud kedatangannya lalu Ia undur diri kembali ke dapur. Qiandra dan Barra pun pergi melihat tamu mereka yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Kak Erlan!" sapa Qiandra membuat si empunya nama menoleh.
"Kakak apa kabar?" tanya Qiandra lagi setelah menyalami Erlan dan mengambil posisi duduk di sofa lain yang berhadapan dengan Erlan.
"Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja. Kabar Kalian gimana?" tanya Erlan balik.
"Alhamdulillah kami sehat-sehat aja, Er!" kali ini suara Barra terdengar menjawab pertanyaan Barra.
"Om Andre apa kabar?" Barra menyambung ucapannya.
"Hmmmm, Papa sedikit kurang sehat akhir-akhir ini." Menghela nafas berat. "Qiandra, Barra, ada sesuatu yang ingin Aku bicarakan pada Kalian."
"Ada apa Kak?" Qiandra bertanya dengan mimik serius.
"Sebenarnya kondisi kesehatan jantung Papa setelah Mama Diana divonis semakin memburuk. Jadi Kakak memutuskan untuk membawa Papa ke Singapura. Selain rumah sakit di sana, juga ada klinik pengobatan herbal oleh seorang Tabib." Erlan menjelaskan dengan raut wajah sedih.
"Jadi Kak Erlan dan Om Andre akan pergi?" tanya Qiandra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hmmmm," ucapnya lirih seraya mengangguk. "Maaf Kakak baru sempat kemari. Besok siang Kami akan berangkat." Menatap wajah sang adik yang sudah mengeluarkan bulir-bulir bening. "Barra, tolong jaga Adikku." Pandangannya beralih ke Barra yang duduk tepat di sebelah Qiandra.
"Pasti! Aku akan menjaganya." Barra menjawab pasti. Satu tangannya lalu menggenggam tangan sang istri.
"Untuk sementara urusan perusahaan Aku serahkan pada Randa dan juga Jennifer, Anak dari saudara perempuan Ibuku. Kau sesekali pantaulah perusahaan itu juga meskipun proyek kerjasama kita sudah selesai. Bagaimana pun istrimu merupakan salah satu pemilik saham Hi-One Tech juga." Erlan melanjutkan ucapannya dengan tersenyum.
"Kakak, Aku pasti akan merindukan Kalian!" ujar Qiandra sembari mengusap bulir bening yang menetes di pipinya.
"Aku rasa uang suamimu tidak akan habis hanya untuk membeli tiket ke sana kan?" seloroh Erlan. "Tapi tidak dengan kondisimu yang sekarang. Setelah keponakanku lahir dan besar, Kalian bisa membawanya bertemu dengan Om dan Kakeknya," lanjutnya lagi.
"Iya, Erlan benar. Kau tenang saja, yang penting Om Andre sehat dulu." Barra menenangkan istrinya.
Pembicaraan itu di akhiri dengan makan malam di rumah Qiandra. Erlan pun pulang ke rumahnya setelah makan malam bersama.
Tiga hari berlalu. Hari ini merupakan hari pernikahan Wilson dan Andien yang sempat tertunda sebulan. Entah apa sebab penundaan itu namun yang pasti kondisi kesehatan Andin menjadi alasan utama.
Qiandra dan Barra sudah sampai di hotel tempat acara resepsi pernikahan itu digelar. Akad nikah sudah berlangsung tadi pagi di kediaman orang tua Andin dilanjutkan resepsi malam ini.
Qiandra terlihat cantik mengenakan gaun berwarna pink pastel. Dengan hijab senada serta sepatu flat membingkai indah kakinya. Ia menenteng sebuah Clutch bag di tangan satunya. Sementara lengannya yang lain menggelayut mesra di tangan Barra yang tampak gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu dan kemeja berwarna senada dengan pakaian sang istri.
Suasana di dalam ruangan resepsi sudah dipenuhi oleh tamu undangan. Mata Qiandra dan Barra mengedar ke sekeliling ruangan dan berhenti pada salah satu meja yang berada tak jauh dari podium. Tampak di sana Papa dan Mama Renata, Kak Manda dan juga Mas Adam. Segera mereka menghampiri meja itu lalu bergabung.
"Assalamualaikum Ma, Pa," sapa Qiandra pada Mama Renata dan Papa Gunawan lalu menyalami keduanya. Lalu Ia juga melakukan hal yang sama terhadap Kak Manda dan Mas Adam.
Barra segera menarik kursi untuk Qiandra duduk. Setelah dirasa posisi istrinya aman, Barra pun ikut duduk di kursi yang bersebelahan dengan Qiandra. Suasana ruangan tampak dipenuhi bunga-bunga indah ditambah alunan musik yang menambah nuansa romantis.
"Mikha dan Abrisam ditinggal Kak?" tanya Qiandra membuka percakapan diantara mereka.
"Iya, mereka sama mbak-mbaknya. Repot kalau di bawa apalagi malam begini. Makanya Kakak dan Mas Adam enggak bisa nunggu sampe acara selesai," sahut Kak Manda.
"Di mana David, Barra?" Mas Adam dengan logat bulenya ikut berbicara.
"Tadi barengan berangkat sama Barra, mungkin sebentar lagi dia bakalan sampai," ungkap Barra.
Benar saja, tak lama munculah sosok lelaki yang acapkali mengaku sebagai jomblo terhormat itu. Seperti biasa dia tidak membawa pasangannya.
Mereka mulai menikmati sajian yang sudah di siapkan oleh pihak hotel di atas meja masing-masing. Keluarga Andin dan Wilson yang notabene merupakan keluarga pengusaha tentu saja menyiapkan konsep pernikahan yang terbaik malam ini. Begitupun tamu undangan yang hadir sebagian besar adalah para kolega mereka di dunia bisnis.
"Dav, kapan Kau menikah. Tahun depan Usiamu sudah tiga puluh empat tahun. Kalau sudah ada pasangannya, segeralah menikah David!" Papa menggoda David.
"Gimana mau nikah Pa, pasangan aja dia enggak punya, haha!" ledek Barra tertawa mengejek.
"Jangan salah, Aku ini Jo..." Belum siap David berbicara, Qiandra dan Barra sudah melanjutkan ucapannya.
"Jomblo terhormat!" lanjut Keduanya secara bersamaan dan diiringi tawa yang lainnya.
"Eits, salah. Jomblo berkualitas!" seru David tersenyum penuh kemenangan.
Begitulah, obrolan demi obrolan menghiasi segala rangkaian acara resepsi Wilson dan Andin. Akhirnya setelah sepuluh tahun berlalu, penantian Wilson berbuah manis. Wanita pujaannya yang menjadi cinta pertamanya dulu, kini resmi menjadi kekasih halalnya.
Kak Manda dan Mas Adam pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai bersama Mama dan Papa. Sedangkan Qiandra, Barra dan David mengikuti prosesi acara hingga berakhir.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.