
Qiandra sedang berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi pintu masuk kamarnya saat Barra tiba. Melihat siluet tubuh yang sudah tampak semakin berisi itu, membuat perasaan Barra menghangat. Seketika lelahnya lenyap tak bersisa.
Menghampiri sang Istri, Barra melihat katup netra istrinya tertutup. Nafasnya teratur, sepertinya istrinya itu tertidur.
"Aku pikir dia marah padaku, ternyata hanya tidur. Huh, untung saja!"
"Sayang! Sayang! Hei, Qiandra!" Barra mengelus-elus pipi istrinya mencoba membangunkan.
Setelah beberapa kali percobaan, netra Qiandra pun mengerjap dan terbuka perlahan.
"Mas!" ucapnya lirih lalu netranya kembali terpejam.
"David di luar, dia sudah mendapatkan apa yang Dirimu inginkan."
Mata Qiandra terbelalak, lalu terduduk seketika. "Benarkah? Di mana dia?" tanyanya antusias.
"Suamimu pulang Kau tidak seantusias itu, tapi mendengar nama David Kau langsung bangun?" Barra memberengut meski ia menahan dirinya agar tidak tersenyum, mencoba menggoda istrinya.
"Apa itu kalimat cemburu?" tanya Qiandra tertawa ringan.
"Menurutmu?" Barra memalingkan wajahnya dari sang Istri.
"Aaaaa, suamiku cemburu ya!" Memeluk tubuh Barra dari samping dan meletakkan dagunya di bahu Barra. "Mas, Aku sayangnya cuma sama Kamu kok!" bisiknya manja.
Barra meremang, suara manja istrinya itu membuat sesuatu di tubuhnya bergejolak. Hangat nafas dan suara Qiandra yang tepat di Indra pendengarannya layaknya bensin yang menyirami api.
Barra mematung sejenak, mencoba berpikir jernih. Sudah lama ia menahan perasaan ini. Karena takut sesuatu yang buruk terjadi dengan istri dan calon bayinya. Namun kali ini Ia memutuskan untuk menuntaskan puasanya saat ini juga.
Dengan segera Barra menarik tubuh istrinya mendekat. kini wajah keduanya saling berhadapan. Ia bisa merasakan tarikan nafas istrinya begitupun sebaliknya.
"Ada ap... !"
Belum selesai Qiandra berbicara, Barra langsung memberikan sentuhan pada bibir Qiandra dengan bibirnya. Keduanya saling menikmati pagutan lembut itu, yang semakin lama semakin memanas. Refleks Qiandra mengalungkan lengannya pada leher Barra. Sedangkan kedua tangan Barra memeluk agresif tubuh Qiandra.
Suara pertautan bibir keduanya menggema di seluruh kamar mereka. Suasana sore hari yang hangat ditambah perasaan keduanya yang saling mendamba membuat kegiatan itu semakin memabukkan. Tak lama kemudian, pagutan keduanya terlepas dan terdengar nafas yang memburu dari kedua insan yang saling merindu.
Barra memperhatikan intens wajah istrinya. Rona merah terpampang jelas di kedua pipi lembut yang semakin chubby itu. Dadanya naik turun seiring nafasnya yang terengah-engah. Dengan telunjuk, Barra menaikkan dagu Qiandra hingga keduanya bertatapan.
"Sayang, bolehkah?" Kedua netra sendu istrinya itu, menutup sesaat sebelum akhirnya terbuka. Qiandra menjawab dengan anggukan matanya. Kabut yang tampak di binar mata sendunya juga menyiratkan bahwa ia menginginkan hal yang sama. Dan suasana kamar sore itu menjadi semakin panas bagi keduanya.
...*****...
David terlihat bosan menunggu di ruang tamu rumah sahabat sekaligus bosnya itu. Ia melirik arlojinya, sudah tiga puluh menit Ia menunggu dan orang yang Ia tunggu belum menampakkan batang hidungnya.
Kring kriiing
Ponselnya berdering, tanpa melirik nama pemanggil dia langsung menggeser layar ponselnya ke icon berwarna hijau.
"Halo?"
"Halo, Dav. Gue lagi pengen ngumpul nih. Ke tempat biasa yuk ntar malem, ajak Barra juga. Gue hubungi gak dijawab sama tuh anak. Di mana dia?" Suara Wilson terdengar dari seberang sana.
"Oke, gue lagi di rumah Barra tapi udah mau balik. Tadi dia bilang mau ke rumah Kak Manda besok acara tujuh bulanannya Kak Manda." David tidak ingin menjelaskan kenapa Ia bisa berada di rumah ini. Bisa jadi bahan ejekan seumur hidup dia.
Setelah panggilan terputus, David bergerak ke dapur dan menemui Asisten Rumah Tangga Barra. Ia menitipkan bahan yang dibawanya agar memberikannya pada Tuan dan Nyonya mereka. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan rumah Barra dengan mobilnya.
"Hah, nasib jomblo terhormat gini amat sih!" gerutunya seraya berdecak begitu memasuki mobilnya.
Setelah beberapa saat Qiandra dan Barra yang baru saja membersihkan diri dan berganti pakaian keluar dari kamar mereka. Keduanya bergandengan tangan dengan wajah berseri-seri. Layaknya ABG yang tengah jatuh cinta.
"Bik, apa David masih di sana?" tanya Barra yang melihat Buk Ani melintas di sana.
"Sudah pergi Tuan. Sekitar lima menit yang lalu. Den David ada nitip selada tadi sama Bibik, udah Bibik buatkan salad yang Nyonya pengen. Nyonya mau makan sekarang?"
"Hmmmmm, boleh Bik. Mas emang beneran kan David ambilnya di tempat yang Aku mau?" tanya Qiandra menampilkan puppy eyesnya.
Barra merogoh ponsel di balik saku celananya. Lalu membuka pesan pada salah satu aplikasi media sosial miliknya. Ia mencari foto yang sempat dikirimkan David kepadanya tadi. Lalu menunjukkannya pada Qiandra.
...******...
"Ankel, Auntiiii ...," teriak Mikhayla yang melihat kedatangan Barra dan Qiandra.
"Halo Mikha Sayang!" sapa Qiandra sembari merentangkan tangannya memeluk Mikhayla.
"Aunti, ayo macuk!" Suara Mikha terdengar sedikit lebih jelas semenjak sekolah. Hanya ada beberapa huruf yang pelafalannya belum pas, terutama r dan s.
Qiandra tersenyum menatap Mikha yang tampak bersemangat. Mama Renata dan Papa Gunawan sudah tiba terlebih dahulu di sana. Malam ini rencananya mereka semua akan menginap hingga acara syukuran tujuh bulanan besok selesai.
"Assalamualaikum! Selamat sore Ma, Pah!" sapa keduanya pada Mama dan Papa Gunawan seraya mencium tangan dan kedua pipi orang tua mereka.
"Wassalamu'alaikum Sayang!!" Mama Renata memeluk Qiandra. "Bagaimana kabar Kamu dan calon cucu Mama ini?" sambung Mama Renata lagi ketika Qiandra sudah mengambil posisi duduk di antaranya dan Papa Gunawan.
"Alhamdulillah kabar sehat, Mah, Pah. Kabar Mama dan Papa gimana?" tanya Qiandra lagi.
"Mama dan Papa sehat-sehat saja, Nak!"
"Enggak ada yang nanyain kabar Barra nih?" sungut Barra menoleh kepada Mama Renata.
"Uuuuhhh, udah mau jadi calon Ayah masih aja cemburuan." Ucapan itu sukses mengundang tawa semuanya yang ada di sana.
"Oma, kata Mama adiknya ikha laki-laki. Kalau adik Ikha yang di pelit Aunti laki-laki atau pelempuan?" Mikhayla tiba-tiba menyeletuk dan bertanya dengan wajah polosnya.
"Aunti belum tahu soalnya belum USG jenis kelamin anaknya apa." Barra menjawab pertanyaan Mikhayla yang begitu penasaran.
"USG itu apa, Ankel?" Mikhayla seger berlari ke hadapan Pamannya.
Barra mengernyitkan dahinya. Tidak mungkin anak sekecil Mikhayla Ia suguhi dengan istilah medis. "USG itu untuk melihat organ di dalam tubuh kita, termasuk Adik bayi yang dikandung Mama dan Aunty," ucapnya ramah seraya menyunggingkan senyuman.
"Kalau gitu, Ayo Ankel, kita lihat adik bayi yang ada di pelit Auntie!"
Mikhayla turun dari pangkuan pamannya lalu menarik tangan Barra. Namun, suara salah satu Asisten rumah tangga Kak Manda mengejutkan .m,ereka.
"Nyonya Besar, Tuan Besar, Nyonya Manda terpeleset di kamar mandi dan sekarang ketubannya pecah!" teriak Bik Muli dengan ekspresi sepucat kapas.
"Apa?" ucap mereka semua bersamaan.
"Barra, kita Bawa kakakmu ke Rumah sakit." Papa langsung berlari ke kamar Manda bersama Barra. "Ma, hubungi Adam dan beritahukan Adam. Katakan padanya Manda mungkin akan melahirkan prematur." perintah Papa pada Mama sebelum jauh melangkah ke kamar.
."Yeayyyy, My Lil Brother mau lahir, Horeee!" Mikha bertepuk tangan sebab tidak mengerti ketegangan apa yang sedang terjadi.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
Happy Reading🤗
jangan lupa vote, like n komen ya Zheyenk🤗🤗