My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.29 : Rencana Pernikahan (2)



Dengan perlahan Qiandra memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan Mama di sisinya terus menatap Barra dengan tajam. Tiba-tiba Barra teringat sesuatu.


"Ma, nanti akan ada tamu Kita yang ikut makan malam di rumah," ujar Barra seraya menggaruk pelipisnya, merasa bingung bagaimana ia menjelaskan siapa Erlan.


"Siapa?" tanya Mama dengan antusias.


"Rekan kerja Barra. Dia ingin membicarakn beberapa hal pada Mama, Papa, dan Qiandra mengenai rencana pernikahan Barra dan Qiandra," sahut Barra santai, sesekali matanya melirik ke arah Mama.


Uhuk uhuk uhuk,


Qiandra terbatuk mendengar perkataan Barra, diikuti dengan Mama yang sudah memasang wajah mode terkesiap.


"Rencana pernikahan?" tanya keduanya merasa tak yakin dengan apa yang di dengar.


"Hmmmm, ituuu... Lihat saja nanti malam Ma, Dia salah satu rekan kerjasama perusahaan kita. Biar dia saja yang menjelaskan." Melirik Mama dan Qiandra bergantian, Ia merasa canggung.


Ucapan Barra sukses membuat dahi kedua orang itu berkerut. Pasalnya, keduanya berpikir keras, ada hubungan apa hingga rekan kerja Barra ingin membicarakan masalah pernikahan.


"Apa Barra merubah keputusannya, dia tidak ingin menikah dengan ku lalu dia meminta rekan kerjanya agar menikahi ku?" Sekelebat pikiran-pikiran itu muncul di benak Qiandra. Hatinya mulai sakit, merasa kecewa sekaligus takut membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


"Apakah pria itu adalah pria tua yang sudah beristri, namun kaya raya? Jahat sekali dia jika berani memperlakukan Aku seperti itu, hiks!" ucap Qiandra lirih dalam hatinya. Seketika, keinginannya untuk melahap makanan di hadapannya sirna. Pemikiran-pemikiran buruk telah menghapus selera makannya. Air mukanya pun tak secerah tadi, kini perlahan memburam.


"Siapa yang di maksud Barra? Rekan kerja dan pernikahan, sepertinya ada hubungan dengan Qiandra. Apa mungkin seseorang yang mengenal Qiandra?" Mama berkutat dengan pemikirannya sendiri, Ia memandang kembali Barra penuh selidik.


Sementara Barra, matanya kembali melirik Qiandra. Terlihat olehnya, Qiandra yang sudah meletakkan kembali sendok yang semula berada di tangannya.


"Kenapa Kau tidak menghabiskan makanan mu? Apa itu tidak enak. Aku akan meminta Bik Darni memasakkan yang baru untukmu. Kau harus makan yang banyak agar bisa minum obat." Barra berjalan menuju pintu keluar, diikuti mama Renata yang langsung mengambil alih nampan makanan dari pangkuan Qiandra.


"Ttunggu! Bukan maksudnya Qia sudah kenyang Ma, bukan makanannya yang tidak enak," ucapnya dengan menampilkan manik mata bersalah.


"It's oke, Honey." Mama Renata tersenyum, lalu menyodorkan gelas berisi air putih pada Qiandra. Dengan telaten Mama mengambil obat di atas nakas dan membukanya, lalu memerintahkan Qiandra meneguk semua obatnya.


"Sekarang beristirahatlah, Nak. Nanti malam Kita kedatangan tamu, pastikan Kau juga bisa ikut makan malam bersama ya," pinta mama lembut, membantu Qiandra membetulkan posisi tidurnya, lalu menutupi sebagian tubuh Qiandra dengan selimut.


Satu kecupan ditinggalkan Mama Renata pada pucuk kepalanya sebelum keluar. Ia terpejam merasakan aliran kasih sayang yang begitu besar dari seorang ibu. Tak terasa, kristal bening sudah berkumpul di sudut matanya.


***


Tepat pukul 19.00, Qiandra dibantu mama Renata untuk menuju ke ruang makan. Keinginan Qiandra untuk berjalan, ditolak mentah-mentah oleh Beliau yang mengharuskannya menggunakan wheelchair untuk menuju ke sana.


Dengan enggan, Qiandra mengabulkan permintaan mama yang kini mendorongnya perlahan.


"Ma, Qiandra bukan cacat atau lumpuh, Qia masih bisa berjalan, Ma!" Itulah kalimat pembelaannya ketika mama mengharuskannya menggunakan wheelchair.


"Iya, Mama tau. Kamu hanya cidera lutut. Untuk itu kamu harus tetap menggunakan ini ke sana. Jangan menganggap remeh hal-hal kecil seperti ini, sayang. Mungkin terlihat berlebihan, tapi Mama melakukan ini untuk kebaikanmu." Wanita paruh baya itu tak mau tawar menawar. Qiandra yang mendengar argumen Mamanya itu akhirnya mengalah, dan berakhir di atas kursi roda yang tengah didorong mama.


Keduanya telah sampai di meja panjang yang dikelilingi total 12 kursi. Meja dengan desain klasik modern bergaya Eropa, serta didominasi oleh warna gold dan white. Mama membantunya untuk berdiri lalu duduk di kursi tepat di sebelah Mama.


Di sana sudah ada Papa, sedangkan kak Manda tidak ikut makan malam bersama, karena sudah lebih duluan makan. Kondisi kehamilannya membuat jam makannya sedikit lebih cepat juga lebih sering dari yang lain. Kini Kak Manda menghabiskan waktu di kamar menemani Mikhayla belajar.


Qiandra tersenyum menatap Papa yang sudah berada di sana.


"Selamat malam, Pa," sapanya pada lelaki paruh baya itu.


"Malam, Qia. Rey sudah menceritakan semua kejadian hari ini. Namun, papa minta maaf tidak bisa menjenguk kamu, karena Barra menelantarkan pekerjaannya begitu saja. Ditambah dia membawa David, juga sekretarisnya turut jadi korban. Jadi Papa harus tetap di perusahaan."


"Qiandra baik-baik aja, Pa. Enggak parah kok, cuma lecet-lecet aja. Qiandra juga mau minta maaf, gara-gara Qia, mbak Andin jadi celaka."


"Sudahlah, ini murni kecelakaan jadi jangan menyalahkan dirimu, Nak!"


"Barra di mana, Pa?" sela Mama di tengah pembicaraan mereka.


"Dia sedang menunggu temannya di depan, tadi dia bilang hampir tiba," sahut Papa sambil menunjuk dengan dagu arah pintu depan.


Tak lama, Barra muncul dengan seseorang di sisinya.


"Panjang umur, baru aja ditanyain orangnya udah datang," sambung papa begitu melihat Barra. "Presdir Erlan?" Papa terkejut melihat sosok yang datang bersama putranya itu. Mendengar Papa menyebutkan sebuah nama, Mama dan Qiandra menoleh ke belakang mereka.


"Kkak Erlan," ucap Qiandra perlahan setengah berteriak, kaget bercampur senang.


Erlan berjalan mendekat ke arah meja makan. Langkahnya selaras dengan sosok disebelahnya. Barra menuntun Erlan ke kursi yang berada di kanan papanya, tepat dihadapan kursi Qiandra dan Mama.


"Silakan duduk, Presdir. Maafkan saya, Barra bilang temannya yang akan datang. Saya tidak menyangka orang itu adalah Anda." Melihat Barra, sedikit merasa kesal harusnya Barra memberitahu bahwa rekan bisnisnya yang akan berkunjung. Papa sedikit merasa tidak enak.


"Tidak masalah, Tuan. Saya kemari memang sebagai teman Barra, bukan sebagai Presdir," sahut Erlan lagi.


"Papa, tamunya biarin duduk dulu dong, jangan ditanyain terus," omel mama. "Silakan duduk, Nak Erlan. Ayo kita mulai makan malamnya, nanti bisa lanjut ngobrol lagi selesai makan." lanjut mama mempersilakan, diikuti Barra dan Erlan yang langsung menarik kursi di depan mereka lalu duduk.


Mereka pun langsung menikmati santapan yang sudah ada di atas meja. Tidak ada pembicaraan selama mereka makan. Sesekali, terdengar Mama atau apa menawarkan beberapa lauk pada Barra, Qiandra, dan Erlan.


Hati Erlan menghangat, melihat perhatian Tuan dan Nyonya Gunawan terhadap Barra dan Qiandra., bahkan padanya. Senyuman tersungging di ujung bibirnya. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil dari kedua orang tuanya. Ia bisa melihat betapa Nyonya Gunawan menyayangi Qiandra layaknya putri sendiri.


"Terimakasih, Nyonya," tuturnya lembut namun hangat, ketika mama Renata memberikannya sepotong lauk yang ditawarkan.


"Kenapa Kau begitu sungkan, Hemmm? Jika Kau kemari sebagai teman Barra, kau harus memanggilku Ma-Ma, sama seperti yang lainnya."


Erlan tersentak, mendengar perkataan barusan. Hampir saja Ia tersedak. Ia buru-buru meneguk air putih di hadapannya.


"Kau kenapa, Erlan?" tanya Mama yang tak sengaja menangkap ketergesaan Erlan meminum air putih.


"Tidak apa-apa Nyonya, Saya hanya sedikit tersedak tadi," sahut Erlan, namun Ia buru-buru mengoreksi kata-katanya melihat ekspresi Mama yang menyipitkan kedua maniknya dan mengerutkan dahinya. "Maaf, maksud saya Mama."


Erlan bersyukur, Qiandra dipertemukan dengan keluarga sebaik ini meski tak ada ikatan darah, di saat keluarga Barra sendiri, yang notabene memiliki ikatan darah dengannya, belum tentu bisa memperlakukan Qiandra sebaik ini.


"Kau beruntung Qiandra, memiliki Mereka. Sekarang Aku yakin, Aku sudah mengambil keputusan yang tepat." Erlan berbisik dalam hatinya.


Makan malam itu dilewati dengan penuh kehangatan, meski tak banyak ucapan yang terlontar. Hal itu terlihat dari mimik wajah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Meskipun begitu, Qiandra masih belum bisa menghilangkan kegundahannya, apalagi melihat sosok dihadapannya kini.


*****


Kelimanya sekarang sudah berpindah ke ruang keluarga, ditemani cemilan ringan dan teh hangat sebagai penjeda ringan obrolan mereka. Mereka baru saja memulai perbincangan mereka, dengan topik Erlan dan Qiandra yang sudah lebih dulu mengenal satu sama lain.


"Jadi, dulu Kalian ini Bos dan karyawan?" tanya mama antusias mendengar pernyataan Qiandra yang pernah bekerja di kafe milik Erlan.


"Iya, itu benar. Erlan sempat mempekerjakan Qiandra selama beberapa tahun. Qia sosok yang ulet dan tidak pamrih." Erlan mengiyakan pertanyaan Mama.


"Mama tidak menyangka, Kamu yang sudah punya jabatan di perusahaan keluarganya sendiri pun, masih mau berbisnis membuka Kafe."


"Perusahaan itu milik keluarga Erlan, sedangkan jabatan itu hanya sementara. Jadi Erlan memutuskan merintis usaha yang seratus persen Erlan bangun sendiri dari nol tanpa bantuan siapapun," akunya lagi menjelaskan.


Mama dan Papa menganggukkan kepala mereka.


"Tuan, Nyo eeh, maksud saya Mama, ada hal penting yang harus saya bicarakan pada kalian semua malam ini. Hal ini merupakan tujuan utama Saya berkunjung kemari." Suasana hangat seketika menjadi serius.


"Maksud dan tujuan Saya kemari sebenarnya adalah untuk membicarakan mengenai pernikahan Barra dan Qiandra." Ucapan itu sukses membuat papa, mama dan Qiandra bertanya-tanya dalam hati mereka.


Erlan lalu melanjutkan, "Saya ingin pernikahan keduanya, dilakukan secepat mungkin. Saya siap menjadi wali bagi Qiandra," tegas Erlan mantap tanpa keraguan sedikit pun.


Sementara itu, keenam pasang mata yang lain menatap Erlan tidak percaya, masih shock dengan permintaan Erlan yang terdengar begitu tiba-tiba.


.


.


.


***TBC***


.


.


.


Hai, ketemu lagi nih. Maafkan Author yang selalu lama up ceritanya ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat selalu.


Makasi buat kalian yang selalu mendukung karya Author. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote juga boleh dong... 🤭😀


Sebelumnya Author mohon maaf sebesar-besarnya, jika ada kesalahan ya. Gak terasa bentar lagi udah mau Bulan Ramadhan aja. Semoga kita semua di sampaikan usia untuk bertemu Ramadhan tahun ini yah.


Terimakasih 🙏🙏🙏