My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 24: Keputusan Qiandra



Suara riak air yang mengalir terdengar merdu di Indra pendengaran Qiandra. Ia yang tertidur sedikit terusik dengan alunan riakan itu. Perlahan Ia mulai mengerjapkan matanya. Terkejut memperhatikan sekelilingnya, Qia bangkit dan memutar tubuhnya. Taman hijau penuh dengan bunga warna-warni disertai kupu-kupu berterbangan dari satu bunga ke bunga yang lain.


Puas melihat sekeliling, Qiandra mulai bangkit. Ternyata ia tertidur sambil terduduk di sebuah kursi panjang berwarna putih. Tanpa beralas kaki, telapak tungkainya memijak rerumputan hijau yang mendominasi permukaan di sana. Sentuhan dari bulir embun terasa sejuk di kakinya.


"Ini di mana?" Qiandra mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat. Ia terus menyeret kakinya hingga sampai ke aliran air yang begitu jernih. batu-batu putih bertaburan di bawahnya.


Sepasang tangannya memainkan air jernih nan sejuk itu. Sejenak Ia terlupa dengan pertanyaannya. Karena asyiknya ia memainkan air, tanpa disadari seseorang datang menghampiri dan menyentuh bahunya.


Qiandra terkesiap.


"Gud molning Onti, Ika mau ikut Onti tantik main ayil," ujar Mikhayla masih dengan cedalnya.


(Good morning Aunty, Mikha mau ikut Aunty cantik main air)


Qiandra tampak masih tercengang dengan kehadiran mereka. Ya, Mikhayla tidak sendiri, Ia di temani sosok pria tampan nan gagah, yang membawa satu buket bunga di tangannya. Dengan senyuman mematikan dari pria itu, yang nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak.


"Ontiii," teriak Mikha sedikit membuatnya tersentak dari imajinasinya.


"Eh, iya Mikha bilang apa tadi?" tanya Qiandra kembali pada Mikha, dengan matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah pria yang membawa sebuket bunga itu.


Mikhayla mencebikkan bibirnya. Ia terlihat semakin menggemaskan dengan pose wajah seperti itu. "Onti ndak dengelin Ika?" tanyanya cemberut.


(Aunty enggak dengerin Mikha?)


Belum sempat Qiandra menjawab, tiba-tiba Mikha sudah menyipratkan air dengan tangan mungilnya ke arah Qiandra. Cipratan kecil itu menghantam wajahnya, menimbulkan sensasi dingin seketika.


"Mikhaaaa," teriak Qiandra mulai mengejar Mikha yang telah berlari ke belakang tubuh Pria tadi. Mikha tertawa geli sambil berlari kecil memutari tubuh pria yang hanya berdiri tegak, sedangkan Qiandra berusaha menangkap peri kecil nan menggemaskan itu.


"Mikhaaaa,, awas ya kalau Aunty tangkap, bakal dihukum ... ."


Belum sempat Qiandra menyelesaikan kata-katanya, kakinya menyandung sesuatu sehingga membuat tubuhnya limbung dan kehilangan keseimbangan.


"Aaaaarrrgh...," teriaknya sambil memejamkan matanya karena jika di posisinya sekarang sudah pasti Ia akan terjatuh ke dalam aliran air itu. Meski kedalamannya hanya semata kaki, namun jatuh dengan posisi seperti itu akan menimbulkan memar maupun luka di tubuhnya dan sudah dipastikan ia akan basah.


Sepasang tangan menopang tubuhnya, menahan dengan satu tangan di pinggang dan satunya lagi di belakang. Qiandra bersyukur dalam hati, seseorang menolongnya. Saat ia membuka matanya, Ia menangkap sepasang mata yang sangat indah tengah menatapnya khawatir.


Sejenak Qiandra terpana, menikmati pandangan di depannya itu. "Betapa indah ciptaan-Mu," bisiknya dalam hati. Ia masih tersenyum-senyum sendiri dengan pikirannya. Tak berselang lama, wajahnya kembali merasakan cipratan air, kali ini terasa lebih nyata dan sedikit perih mengenai area wajahnya.


Qiandra mengerjapkan matanya beberapa kali. Perlahan membuka matanya. Wajah Mikha dan Barra lah yang pertama kali dia lihat. Ia terkesiap.


"Aaaahhhhh." Qiandra berteriak, sontak ia memundurkan tubuhnya namun na'as kakinya tersandung kaki kursi yang tengah ia duduki. Hampir saja ia terjungkang ke belakang, sebelum tangannya di tarik Barra hingga wajahnya menubruk dada bidang Barra.


Deg Deg Deg Deg


Irama detak jantung keduanya menjadi tak menentu. Wajah Qiandra merona seketika. Ia merasa dejavu dengan kejadian ini. "Jadi yang tadi itu hanya mimpi, dan sekarang?" tanya Qiandra dalam hati.


Qiandra melepas tangannya dari Barra. Ia lalu mencubit lengannya dan , "Aaahhhh, sakiiit, siial, ini bukan mimpi," ucapnya dengan suara lirih.


"Onty, tadi Onty bobok kayak kelbau, hhihihihi." Suara Mikha yang cekikikan menyebutkan nama hewan itu seketika membuyarkan pikirannya.


"Mikha? siapa yang ngajarin Mikha ngomong begitu?" tanya Qiandra sambil menatap sinis pada Barra. Barra yang merasa di tatap, menatap balik Qiandra sambil menaik-naikkan kedua alisnya.


#Flashback on


Di ruang makan kediaman Gunawan


"Ma, mana Qiandra?" tanya papa ditengah aktivitasnya.


"Tadi Mama ke kamarnya, sepertinya setelah sholat shubuh dia ketiduran di kursi meja rias, Pa." Mama berucap sambil mengunyah sarapannya. "Mungkin dia tidak bisa tidur tadi malam, ya sudah Mama Biarin aja deh, kasian juga mesti dibangunin. lagian libur kerja juga kan?" tambah Mama.


Bara menyunggingkan senyum mengejek. "Dasar, pemalas," gerutu Barra dalam hatinya.


"Omaaa, Opaaaa, angkeen, Ontiii,,, " suara nyaring Mikhayla yang tengah berlari menghampiri mereka, disusul kedua orang tuanya di belakang.


Barra yang kebetulan sudah menyelesaikan makannya, menangkap Mikha dan mendudukkan di pangkuannya. Mata Mikha berpendar, menatap satu persatu personil keluarga.


Manda dan Adam pun menyalami kedua orang tua itu, namun menolak saat ditawari sarapan karena masih kenyang. Akhirnya, setelah mengutarakan niatnya untuk menitipkan istri dan anaknya selama lima hari ke depan, karena ia harus bertolak ke Jerman sore ini. Adam dan Manda pun pamit ke kamar terlebih dulu.


"Angken, mana Onti syantik?" tanyanya polos pada Barra dengan mendongakkan wajahnya. (Uncle, mana Aunty cantik?)


"masih tidur!" jawab Barra asal.


"Angken, temenin Ika ke kamal Onti. Ika mau nanunin Onti. Mama bilang, ndak bole bobok padi-padi, nanti lejekinya di patuk ayam," ucap Mikha bijak.


(Uncle, temenin Mikha ke kamar Aunty. Mikha mau bangunin Aunty. Mama bilang, enggak boleh tidur pagi-pagi, nanti rezekinya dipatok Ayam)


Barra yang enggan pun menolak permintaan Mikhayla. Namun, karena paksaan Mikha dan mamanya, akhirnya Ia beranjak juga. Di perjalanan menuju kamar Qiandra pun senyuman licik terlihat. Sepertinya Ia sedang merencanakan sesuatu.


Sesampainya di depan kamar Qiandra, Mikha masuk terlebih dahulu. Tak lama Ia keluar lagi.


"Angken, Onti masyi bobok, Ndak mahu nanun."


(Uncle, Aunty masih tidur,. enggak mau bangun)


Barra masuk ke dalam. Ia melihat Qiandra yang masih mengenakan mukena itu tertidur di depan meja riasnya sambil terduduk menyamping. Satu tangannya terjulur satu lagi mengait lengan yang satu hingga menjadi penyangga kepalanya. Qiandra sangat nyenyak


Entah apa yang sedang Ia mimpikan. namun Qiandra nampak tersenyum dalam tidurnya. Hal itu tertangkap manik Barra, membuat Ia berdecih kecil.


"Ceh, pemalas, jangan bilang kau memimpikanku, heh. Aku tahu cara membangunkanmu, hehe," ujarnya dengan tawa licik.


Barra mengambil segelas air putih dari atas nakas, lalu membawa ke depan Qiandra. Ia meletakkan gelas itu di atas meja rias tepat di depan Qiandra.


"Mikha sayang, sekarang Mikha siram wajah Aunty supaya bangun. Aunty sangat mengantuk, jadi hanya akan bangun jika di siram air. Begini caranya." Barra memercikkan sedikit air ke wajah Qiandra dengan jarinya. Mikha pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi Mikha jangan bilang sama orang lain ya, kalau Uncle yang kasi tau Mikha. Nanti Uncle belikan es krim yang banyak di supermarket, Oke?" Dengan suara setengah berbisik, Barra membuat kesepakatan dengan si kecil Mikha yang sudah menyauti dengan mengajukan jari jempolnya.


#Flashback off


"Mikha yang menyirami dengan air, bukan Aku! Kenapa kau melihatku seperti itu?" Barra menyimpangkan kedua tangannya.


"Ontii, kata Mamah ndak oyeh bobok padi-padi nanti lejekinya dipatuk Ayam, ya Onti!"


(Aunty, kata Mamah enggak boleh tidur pagi-pagi nanti rezekinya dipatok ayam)


"Iya Mikha. Tadi Aunty ketiduran, semalaman Aunty tidak bisa tidur, jadinya pagi-pagi ngantuk deh," jawab Qiandra tersenyum ke arah Mikha.


"Alasan. Dasar pemalas. Mama bilang bersiaplah, Mama dan kak Manda akan membawamu pergi ke suatu tempat!" ujar Barra sedikit kasar.


Mikha hanya mengangguk dan akhirnya keluar bersamaan dengan Barra.


Qiandra terduduk di sisi ranjang tempat tidur. Ia mengusap wajahnya kasar.


Apa-apaan mimpiku tadi, kenapa pakaian mereka di dalam mimpi bisa sama dengan yang tadi? Yang berbeda hanyalah wajahnya. Di mimpi dia terlihat lembut dan sangat tampan.


Qiandra kembali memikirkan pria dalam mimpinya, yang sempat membuat jantungnya hampir melompat keluar.


Wait, apa yang kupikirkan? Aaarrrrrghhhh...


Qiandra langsung berlari ke kamar mandi, sambil memegangi kedua pipinya yang sudah merona sejak tadi.


********


Qiandra , Manda dan Mama Renata kini tengah berada di salah satu klinik kecantikan milik Mama Renata. Mereka sedang melakukan perawatan tubuh hingga wajah. Mama sengaja mengajak Qiandra untuk melakukan perawatan kecantikan, bagaimanapun dia sangat menyayangi Qiandra layaknya putri sendiri


Kini mereka bertiga sedang berada di kamar khusus body spa, setelah tadi mereka melakukan perawatan rambut dan wajah. Klinik kecantikan yang dirintis Mama Renata tak hanya fokus untuk treatment wajah, namun ada treatment rambut juga tubuh. salah satu treatment tubuhnya adalah body treatment yang sedang mereka lakukan.


Selesai dengan seluruh rangkaian perawatan, Qiandra pulang ke rumah seorang diri bersama Pak Ujang. Kak Manda pergi ke Bandara mengantarkan suaminya yang akan berangkat ke Jerman urusan bisnis. sedangkan Mama Renata masih harus meninjau perkembangan pembukaan cabang klinik kecantikannya di pulau Sumatera.


Qiandra tiba di rumah pukul 14.30 WIB. Sebelumnya dia sudah melaksanakan sholat Zuhur dan makan siang saat bersama mama Renata. Kini dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Di pertengahan perjalanannya Qiandra berpapasan dengan Barra yang sepertinya akan keluar. Qiandra melirik sejenak Barra yang terlihat mematung di depannya.


Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku? Kenapa dia menatapku seperti itu?


Qiandra setengah berlari menuju ke kamarnya, menghindari tatapan Barra yang seolah mengintimidasinya.


Pintu kamar baru saja tertutup, sesaat sebelum ponselnya berdering. Ia merogoh tasnya dan melihat nama Arlie terpampang jelas di sana. Dengan senyuman, Ia mulai menekan tombol hijau pada layar.


"Hallo" jawabnya dengan suara girang.


"Hallo Cinta, apa kabar?"


"Aku kabar baik. Bagaimana dengan mu dan calon debay?"


"Kami sehat-sehat, doakan selalu ya!" pinta Arlie dari seberang sana..


"So pasti bumil. Tumben amat hubungin Aku. Baik-baik di sana kan?" tanyanya lagi memastikan.


"Iya, bawel. Hmmm, bumil mau tau tentang gossip yang beredar. Wakil direktur dan seorang resepsionis GM Corporation menjalin hubungan, benarkah?" pancing Arlie dari seberang.


"Sudahlah, itu cuma kesalahpahaman. Hmmmm,, Aku juga tidak tahu kenapa masalahnya jadi rumit seperti itu, kenyataannya tidak seperti yang diberitakan, Hiks." Qiandra terisak kecil.


"Hei, kenapa Kau menangis, Aku hanya ingin tahu. Ada apa sebenarnya. Bercerita lah saat Kau siap, Oke?"


Akhirnya Qiandra menceritakan kejadian yang terjadi pada Jumat lalu, hingga permintaan yang di ajukan para petinggi perusahaan. Qiandra terisak menceritakan semuanya pada Arlie. Arlie yang memang sangat mengenal sahabatnya yang cenderung over sensitive itu pun hanya mendengarkan segala keluh kesahnya.


"Ssshhhhh, sudahlah cintaku. Aku mengerti sekarang. jangan nangis lagi dong Qiaku sayang," pinta Arlie lembut. "Aku mengerti perasaanmu. Sekarang, coba Kau pikirkan dirimu terlebih dulu sebelum orang lain." imbuh Arlie .


"What should I do?"


"Kali ini ambillah keputusan yang memang kau inginkan. ambilah pertimbangan dari sudut pandangmu sebagai orang yang akan menjalani pernikahan. Abaikan kebaikan Mama Renata, abaikan perusahaan, abaikan semua orang."


"Jangan gegabah mengambil keputusan Qia. I know it's so hard, but I believe in you. Kau adalah orang yang paling bertanggung jawab atas hidupmu, bahagiamu, dukamu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku lebih baik darimu, tapi Aku sudah mendapatkan pelajaran dari keputusan ku yang tidak tepat, hiks.." Suara Arlie tercekat menahan tangis. Seketika Ia mengingat perbuatannya pada Qiandra.


"Qiandra, maafkan Aku yang dulu pernah memanfaatkan mu." sela Arlie di tengah pembicaraannya.


"Aku sudah memaafkan mu, kenapa? Apa Kau meragukanku?"


"Tentu saja tidak. Baiklah, kita kembali ke masalahmu. Sekarang coba pikirkan apa yang paling membuatmu bahagia? Doa apa yang selalu kau langitkan di setiap sujudmu? Mungkin ini bisa membantumu menjawab kebimbanganmu."


Qiandra terdiam memikirkan penuturan sahabatnya.


"Qia, Jam istirahat ku sudah habis, Aku harus kembali bekerja. Nanti malam Aku telfon lagi ya."


"Baiklah, jaga dirimu, Bumilku. Jaga kesehatan, jangan lupa hubungi Aku jika Kau butuh sesuatu," ingatnya pada Arlie yang sejurus kemudian menutup panggilannya.


"Haah." menghela nafasnya kasar.


Tiba-tiba Ia terngiang akan kejadian lalu sesaat sebelum Bundanya menghembuskan nafas terakhir.


"Qia, Jika Bunda tiada, Bunda ingin seseorang bisa menjagamu seperti kami menjagamu, nak!


"Bunda, jangan bilang begitu. Bunda mau kemana? Kalau Bunda pergi, siapa yang akan menemani Qia,,, huwaaa, hiks hiksss hiksss, "


"Qiandra, Sayangku, Maafkan Bunda dan Ayah, Kami sepertinya tidak bisa menemani mu lebih lama. Tapi Bunda dan Ayah akan melihatmu dari atas sana."


"Bunda ngomong apa? Bunda bisa sembuh. Bunda akan menemani Qia hingga wisuda, hingga Qia menikah, hiks hiksss .."


"Bunda tidak bisa, Nak. Sebentar lagi Ayahmu akan menjemput Bunda. Kelak, temuilah lelaki yang mencintai keluarganya, yang menghormati Ibunya. Insya Allah lelaki itu adalah lelaki yang baik. Itu adalah keinginan terakhir Bunda, meski bunda tidak menemanimu, doa bunda selalu bersamamu."


Selepas mengatakan itu, Bundanya mengucapkan dua kalimat syahadat dan menghembuskan nafas terakhir. Hal itu adalah ingatan terakhir Qia bersama Bundanya.


Ia kembali terngiang perkataan Mama Renata.


"Tidak ada yang memaksamu menikah dengan Barra, Nak. Meskipun Mama sangat ingin membuat keinginan Mama dan Bundamu menjadi nyata, namun keputusannya ada pada Kalian berdua."


Qiandra larut dalam pikirannya. Kejadian demi kejadian terulas kembali di ingatannya bagaikan rentetan video. Qiandra mulai yakin dengan pilihannya. Ia siap mengutarakan keputusannya malam ini.


.


.


.


.


.


***To Be Continue***


Haaaiiii, Sorry update nya lama ya gengs,,,


Aku mau kasi tau, buat kalian yang kemarin sempat minta Aku ngedubbing Novel "After 41 days marriage", Audio book nya sudah launching ya. Happy Reading and Happy Listening.


Makasih buat kalian yang sudah mau membaca karya ku❤️❤️❤️