My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 13 : Maafkan Aku



Bulir kristal kembali mengalir di kedua pipinya, namun sekuat mungkin menahan agar tak terisak. Ia sungguh ingin tahu, apa saja yang telah suaminya lakukan pada sahabatnya itu.


"Kenapa? K-kenapa Kau melakukannya? Apa Kau tidak mencintai dia sedikitpun?" Arlie kembali meneteskan air matanya. Berusaha kuat, mengepalkan kedua tangannya.


"Cinta? Mana mungkin Aku mencintainya. Haha, Dia terlalu naif, Aku mendekatinya agar dapat lebih mudah menjalankan rencana balas dendam ku pada Qiandra. Tapi, lihatlah Dia datang menyerahkan dirinya kepadaKu, hahaha..."


Arlie kembali tersentak. Kini penyesalan mulai menyisip di hatinya yang semakin perih, karena luka yang makin disirami cuka. Zidane pun kembali mengoceh.


"Aku berhasil mengelabuinya. Bukankah Aku hebat? Ahahahahah..." Zidane kembali terduduk, pandangan sayunya bersitatap dengan mata Arlie yang menyipit. Arlie membuang wajahnya ke samping, tak ingin melihat seseorang yang dulu sangat Ia cintai sepenuh hati.


"A-apa yyang Kk-kau Laku-kan pada Qian-dra?" pancing Arlie.


"Aku membujuknya untuk membawa sahabatnya berlibur ke Bali. Aku mengatakan akan membalas dendam dengan cara membiarkan ia membayar uang penginapan mereka di sana. Awalnya ia tidak mau, tetapi lagi-lagi keberuntungan berpihak padaku. Dia mengandung benihku."


"Lalu, Apa yang Kau lakukan lagi?"


Mata sayu Zidane mulai memberat kembali. Kepalanya bersandar ke sofa sedikit terdongak ke atas. Dengan sisa tenaganya, cercauannya mulai terdengar lirih.


"Tentu saja, Aku melakukan lebih. Pada malam terakhir mereka berada di sana, aku meminta Arlie untuk memberikan sedikit alkohol pada minumannya. Arlie bilang, Qiandra tidak pernah menenggak Alkohol, kemungkinan dia pasti mabuk."


Zidane menguap beberapa kali. Sepertinya ia akan tertidur.


"Aku meminta Arlie untuk membawa Qiandra ke kamar saat mabuk. sebelumnya Arlie sudah berpindah ke kamar lain. Dia akan kembali lebih dulu dari Qiandra. Di kamar mereka aku sudah membayar seorang pria agar mengambil foto Mereka sedang tidur bersama. Aku menginginkan kehancuran Qiandra. Ahahahahah..."


"Namun pria itu berkata Qiandra tidak datang ke kamar sampai pagi. Aku menyuruh pria itu mengambil uang dan barang berharganya saja. Mungkin saja Dia sudah menjadi santapan pria hidung belang dan menjadi perempuan murahan seperti Ibunya."


Suaranya melemah, nafas teratur mulai terdengar keluar dari hidungnya. Arlie membekap mulutnya, menangis tersedu-sedu. Namun isakannya tetap terdengar memilukan. Memukul kuat dadanya yang terasa sakit. Tiba-tiba Arlie kembali tersentak dan menghentikan tangisnya, kala Zidane secara spontan menarik kepalanya kembali tersadar.


"Aaahhh, Aku juga telah menjual rumah teman istriku itu, Ahahahaha. Istriku juga terlihat sangat menarik saat mendesah di bawahku, Kau tahu!"


kepala Zidane kembali bersandar, Ia kembali tertidur. Mendengar ucapan terakhir Zidane, seketika Arlie membenci dirinya sendiri. Sambil menahan sakit, Ia berlari menuju kamar, mengeluarkan satu buah koper, lalu mengambil dengan terburu-buru beberapa pakaiannya.


Arlie terduduk, merintih, tak mampu kakinya yang bergetar itu menahan berat tubuhnya. Ia menangis, menjerit dan berteriak, memeluk pakaiannya erat. Sesekali memukul kuat dadanya yang terasa sesak sejak tadi. Ia mengeluarkan kesedihan, kekesalan, kemarahan, dan kekecewaannya sekaligus. Hingga sesak perlahan menghilang, dan memberikan kekuatan baginya untuk bergerak.


Sungguh penyesalan selalu datang terlambat. Namun, Ia harus pergi meskipun tak tau akan ke mana. Yang jelas Ia akan meninggalkan tempat terkutuk ini. Pergi jauh sampai Ia tak bisa melihat dan mendengar kabar laki-laki yang sudah membuatnya menjadi orang yang bergelimangan dosa.


Arlie bersimpuh memohon pengampunan Tuhan. Rasanya, sebanyak apapun dia meminta, pintu maaf itu seolah menjauh. Namun Ia tak berputus asa, tidak ingin menjadi pendosa untuk kedua kalinya. Dalam isakannya, getaran suara itu pun berucap lirih, " Maafkan Arlie Ma, Pa. Maafkan Aku, Qiandra."


***


Kesibukan juga terlihat di ruangan Barra, yang saat ini sedang serius melakukan pekerjaannya bersama sang Asisten David. Papa menyerahkan urusan kerjasama dengan Hi-One Tech seratus persen diambil alih oleh Barra. Papa Handika berencana menyerahkan tampuk kekuasaannya tepat di ulang tahunnya ke-60 tahun tahun ini kepada anak bungsunya itu. Untuk itu, Papa mulai memberikan tanggung jawab utuh pada beberapa proyek kerjasama perusahaan.


Barra terlihat sedikit lelah. Dia memicingkan sedikit matanya dan memijit pangkal hidungnya. David yang tersadar melihat Tuannya, langsung menekan tombol intercom yang terhubung ke sekretaris Andin.


"Andin, tolong bawakan Lemon tea hangat less sugar untuk Tuan Muda,"


"Baik, David." Andin tersenyum, sudah bisa menebak bahwa minuman itu pasti untuk Barra. Dia bergegas menuju pantry dan membuatkan minuman hangat itu. senyumannya tak hilang hingga minuman itu siap untuk disajikan.


Flashback on


Andin, Barra dan David adalah tiga mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Australia. Mereka mengambil jurusan dan berada di kelas yang sama. Bahkan, Barra dan David tinggal di dalam satu Apartemen. Mereka bertiga bersahabat sejak mulai kuliah. sedangkan David sudah lebih dulu mengenal Barra sejak bersekolah di sekolah menengah.


Ayah David adalah salah satu karyawan di GM Corporation, namun mengalami kecelakaan saat menjalani tugas lapangan. Untuk itu, Papa Handika memberikan biaya hidup bagi David dan Mamanya serta beasiswa pendidikan untuk David hingga mampu menyelesaikan pendidikan setinggi yang Ia mau. David bebas memilih di mana saja ia akan melanjutkan pendidikan.


Memasuki usia 15 tahun, David kembali harus kehilangan Ibunya karena DBD. Sejak saat itu David di asuh oleh Paman dan Bibinya. Ketika SMA, David di sekolahkan di sekolah yang sama dengan Barra. sejak saat itulah merek bersahabat. David seperti sosok Abang bagi Barra.


Andin gadis yang cantik dan sangat pintar. Sejak pertama bertemu Barra, Ia sudah jatuh cinta, namun karena Andin takut mengungkapkan, Ia hanya mencintai dalam diam. Ketika mereka berada di tahun kedua,.Andin akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun di hari yang sama, Andin malah melihat Barra mengungkapkan cinta pada Angelina, wanita cantik blasteran Inggris-Indonesia.


Flashback off


Andin memasuki ruangan Barra sesaat setelah ia mengetuk dan dipersilakan masuk. Ia langsung meletakkan lemon tea hangat itu di atas meja di depan Barra. Netranya menghangat melihat Barra yang terlihat mempesona hanya dengan memakai Kemeja yang lengannya sudah dilipat sampai siku.


"Apa Kau yang membuatnya?" tanya Barra setelah ia menyeruput minuman hangat itu.


"Ee, iiiya, Aku membuatnya sendiri karena aku sudah tidak memiliki pekerjaan." Tergagap Andin menjawab pertanyaan Barra karena Ia sedang fokus memuja pria yang di cintai nya selama 11 tahun ini.


"Iitu, apa kalian tidak ingin makan siang terlebih dahulu. Aku mau pergi makan siang ke kantin nih soalnya."


"Baiklah, David ayo kita makan siang di luar. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bertiga bukan?" tutur Bara.


"Hmmmmm, Baiklah. Mari," usul David.


Mereka bertiga pun keluar bersama menuju ke arah lift. Mereka tampak lebih akrab jika di luar jam kerja kantor, seperti sekarang ini.


****


Waktu makan siang telah tiba kala Qiandra baru saja keluar dari gedung perkantoran yang menjulang tinggi. GM Corporation, begitulah tulisan yang tertera. Sesaat Netranya kembali melirik ke dalam.


"Pasti akan sangat bahagia jika aku bisa bekerja di gedung sebesar ini," ungkapnya dalam hati.


Baru saja ia mengalihkan pandangannya, Mobil yang mengantarkannya sedari tadii sudah ada di depan. Qiandra seketika langsung menaiki mobil tersebut.


Sementara Barra yang baru saja keluar bersama Andin merasa tak asing dengan sosok yang baru saja dilihatnya. Begitu pun mobilnya, itu seperti mobil yang selama ini sering dipakai untuk mengantar-jemput Mamanya.


"Gadis itu seperti si penguntit, tapi mana mungkin dia berada di sini. Mungkin, Aku hanya salah lihat. Astaga., kenapa Aku terus memikirkannya?" gumam Barra yang sedang menunggu David mengambil mobil.


"Barra," panggil Andin lembut, menyadari sepertinya pria disebelahnya begitu asyik dengan lamunannya sehingga tak menyadari kedatangan David.


Barra tersadar dari lamunannya dan menoleh, terlihat olehnya Andin yang sedang tersenyum. Pintu belakang mobil sudah dibuka oleh penjaga, Barra segera beranjak masuk dari pintu sebelah kiri, sedangkan Andin masuk dari sebelah kanan.


"Kemana kita akan pergi?" tanya David yang sudah mulai melajukan perlahan mobilnya.


"Bagaimana kalau ke Resto Singa? Sudah lama kita tidak menyicipi hidangan pedas level 10 di sana bukan?" Andin menjilat bibirnya sejenak, membayangkan makanan di resto tersebut yang kadar kepedasannya bisa dipilih dari level satu sampai sepuluh.


"Boleh juga. Kebetulan sekali Aku sudah lama tidak makan Kentang goreng special di sana." Barra juga menyetujui, mengingat salah satu menu makanan yang diberi label "Mister Potato" yang menjadi salah satu ikon Resto Singa, selain Mie pedas level gila.


Mobil pun melaju menuju Resto Singa, salah satu tempat makan yang memiliki slogan "Masuk galau, pulang Bahagia". Hal ini dikarenakan aneka menu yang ditawarkan oleh Resto tersebut memiliki keunikan tersendiri.


.


.


Mobil Audi A8 yang dikendarai David memasuki pelataran parkir Resto Singa. Ya, hanya butuh waktu 15 menit menuju kemari jika dari GM Corp. Kini, ketiganya langsung menuju ke dalam Resto yang terbilang cukup mewah namun masih mengedepankan harga yang bisa dijangkau oleh semua kalangan.


Salah seorang pramusaji segera memandu ketiganya menuju tempat duduk yang nyaman sesuai keinginan mereka. Kini Bara dan Andin sudah duduk dai sofa yang sama, sementara David duduk di depan Andin.


Baru saja Pramusaji pergi membawa daftar menu dan daftar pesanan Mereka, tiba-tiba mata Barra menangkap sosok wanita memakai dress navy selutut lengan pendek, sedang berada di salah satu tempat outdoor di teras Resto. Dia tidak sendiri, sedang berbincang dengan seseorang yang tidak terlalu terlihat wajahnya karena terus-terusan menunduk. Sejenak, Barra terkesima dengan pandangan yang ada di seberangnya itu.


~Deg Deg Deg~


.


.


.


.


.


.


.


***To be continue***


Hai, Aku MyNameIs, mengucapkan Happy Reading.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Vote juga boleh, ga maksa loh ya..😀😂