
Kecanggungan menyelimuti pasangan suami istri yang baru saja sah itu. Kedua pipi Qiandra tampak bersemu merah. Ia menundukkan manik matanya, tidak berani menatap Barra lama. Degup jantungnya kian berlomba, apalagi ketika Barra mencium keningnya tadi.
Setali tiga uang dengan istrinya, Barra pun merasakan hal yang sama. Hal yang aneh menurutnya. Jika Qiandra memang belum pernah merasakan jatuh cinta dan memiliki hubungan dengan lawan jenis sebelumnya, berbeda dengan Barra. Ia pernah jatuh cinta, dan memiliki hubungan dengan wanita, yaitu Angeline. Masa itu, mereka sedang berada di Aussie sehingga bisa di bilang, ciuman di dahi hal yang biasa mereka lakukan, bahkan lebih meski tidak sampai berhubungan intim.
Namun, ketika Ia mencium kening Istrinya tadi, suatu aliran memenuhi kepalanya. Serasa ada dorongan kuat cairan bening dari netranya meronta ingin meloloskan diri. Barra menahan gejolak perasaannya yang nyaris tidak dapat Ia kontrol tadi. Jangan tanyakan bagaimana degup jantungnya, yang sudah bertalu-talu sedari tadi.
"Ya Allah, semoga Aku mampu menjadi suami yang baik baginya." Barra berdoa dalam hati, saat netranya bersitatap dengan netra Qiandra. Manik hitam kecoklatan itu pun mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya menunduk kembali.
Seorang fotografer profesional mengarahkan keduanya untuk berfoto dengan buku Hijau dan Merah yang mereka terima setelah ijab Qabul tadi. Beberapa kali fotografer itu membidik kilatan cahaya ke arah keduanya.
"Mas, mesra dikit dong, tangan istrinya di genggam atau gimana gitu. Udah sah Lo Mas, pahala Mas pegang tangan istri sendiri, jangan malu-malu!" ujar fotografer tersebut.
Barra meneguk salivanya kasar. Netra keduanya saling beradu, tidak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Namun, mata mereka seolah berbicara.
"Bolehkah?" batin Barra melalui tatapan matanya. Qiandra yang seolah mengerti, menganggukkan kepalanya. Tangan kiri Barra refleks menggenggam tangan kanan Qiandra, lalu mereka berfoto sambil bergenggaman tangan.
Sang fotografer mengerti kecanggungan keduanya, lalu ia mendekat, dan menuntun Barra. Kedua tangan Barra diarahkan memeluk pinggang Qiandra, sedangkan tangan Qiandra diletakkan di dada Barra.
Tinggi Barra yang 180 cm itu membuat Qiandra yang hanya memiliki tinggi 165 cm itu mendongakkan kepalanya menatap netra suaminya.
Akhirnya setelah di rasa cukup, Keduanya pun berfoto dengan keluarga besar. Setelah itu, Barra dan Qiandra menunaikan shalat sunnah dua rakaat berjama'ah dengan Barra sebagai imam dan Qiandra sebagai makmum, di kamar yang Qiandra tempati.
***
Qiandra's POV
Beberapa saat yang lalu, makan malam baru saja usai. Kini, Aku dilanda kebingungan sebab Mama menyuruhku untuk tidur di kamar Barra mulai malam ini dan seterusnya. Tadi siang Aku masih punya alasan untuk kembali ke kamarku sendiri, karena barang-barangku masih ada di kamar. Namun, sore tadi Mama sudah memerintahkan para asisten rumah tangga memindahkan semua benda yang ku miliki yang memang hanya sedikit itu.
"Kamu dan Barra kan sudah jadi suami istri, masa harus pisah kamar. Kalau begitu, kapan Mama dan Papa bisa dapat cucu." Perkataan Mama tadi sore kembali terngiang di benakku. Aku rasa wajahku langsung memerah, mengingat hal yang mungkin akan terjadi nanti malam.
Aarrrgh,, apa yang Aku pikirkan? Aku berteriak dalam hati. Apa Aku telfon Arlie aja ya kali minta petunjuk? Alhasil Aku hanya mondar mandir di depan kamar Barra, hingga akhirnya Aku memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam kamar Barra.
Baru selangkah Aku masuk ke kamar tidur baruku, netraku sudah dikejutkan dengan pemandangan tak biasa. Kamar ni luasnya dua kali lipat dari kamar yang ku tempati terdahulu. Aku berjalan perlahan, menyentuh ranjang king size yang di ke empat sudutnya menggantung kelambu yang sudah dihias sedemikian rupa, membuat suasana menjadi sangat indah dan romantis.
Wait, romantis? Tau apa Aku dengan kata-kata itu. Entahlah, tapi aku rasa romantis ku anggap mewakili gambaran suasana yang tersuguh di depanku. Aku berjalan ke sebuah pintu yang ketika ku geser ternyata adalah walk in closet milik Barra, atau sekarang Aku bisa menyebutnya milik Kami.
Lagi-lagi mulutku ternganga melihat koleksi jam mewah milik suamiku. Ya, Aku rasa harus terbiasa dengan sebutan itu bukan. Sapu tangan, dasi serta penjepitnya, kemeja, dan berbagai jenis benda yang lainnya. Aku tidak berniat membuka semua tapi Aku harus mengambil pakaian tidurku. Jadi Aku memeriksa satu persatu tapi tak satu pun aku temukan.
Aku berbalik, dan kembali menganga melihat deretan tas mewah berjejer rapi. Apa ini mimpi? Milik siapa ini, tidak mungkin milik Barra kan? Sambil menepuk-nepuk kedua pipiku.
Sepatu, perhiasan, jam tangan, veil, gaun cantik... Ahh, Aku senang sekali. Ini yang dimaksud mama mempersiapkan semuanya untukku? Alhamdulillah, bahkan Aku ingin berlari menghampiri Mama seketika dan mengucapkan terimakasih. Namun ku urungkan niatku karena aku rasa aku ingin membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidurku.
Ngomong-ngomong pakaian tidurku, di mana ya mereka meletakkan pakaian tidurku yang biasa. Pakaian tidur stelan celana panjang dan baju berlengan pendek, dengan motif aneka kartun. Ada juga yang berbentuk daster, Ah begitu merindukan mereka.
Tapi hingga hampir bagian akhir, Aku belum menemukan mereka. Pintu terakhir yang ku buka, membuat Aku shoc**k. Aneka gaun tidur menggantung di dalamnya. Beraneka warna dari mulai yang panjang sebetis sampai ke pangkal paha saja. Aku membuka satu persatu, dan lagi-lagi wajahku meringis. Semua gaun itu berbahan tipis dan seksi. Arrrrghhhh, Mama...
Qiandra's POV END
******
Saat ini, Barra, papa dan Mas Adam masih berbincang di teras halaman belakang. Sejak tadi, Barra tak luput dari godaan Papa dan Abang iparnya itu. Mereka menggoda Barra yang malam ini mungkin akan melepas keperjakaannya.
"Adam, sepertinya Barra sudah tidak sabar kembali ke kamar. Kita seharusnya tahu diri dong. Baiklah, Ayo kita pergi tidur sekarang." Papa sudah duluan berdiri dari duduknya.
"Iya Pa, Adam juga sudah ngantuk," susul Adam Papa yang sudah berdiri terlebih dahulu. "Brother, jangan sungkan untuk bertanya jika kau belum paham apa yang ku katakan tadi," bisiknya di telinga Barra lalu terkekeh kecil.
"Dasar! Aku tidak sepolos itu tau." Ikut bangkit dan berlalu dari sana, menuju kamar masing-masing.
Ceklek
Pintu kamar dibuka Barra perlahan. Masih belum biasa dengan perubahan kamarnya yang beberapa hari tidak pernah ia tempati, kini Barra di kagetkan dengan kamar yang dihias layaknya kamar pengantin baru. Barra hanya menggelengkan kepalanya. Ini pasti kerjaan Mama dan Kak Manda, pikirnya.
Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Tak lama berselang, Barra sudah keluar dari walk in closet yang ada di kamarnya. Ia menunaikan sholat isya yang tertunda akibat mengobrol dengan dua orang tadi terlebih dahulu.
Setelah selesai, Barra beralih ke tempat tidur. Matanya berpendar menatap sosok yang sudah terlebih dulu mengisi tempat tidur. Ia mendekat ke ranjang, menatap istrinya dengan pandangan teduh. Wajahnya terlihat begitu polos tanpa make up apapun, namun anehnya semakin menarik.
.Barra membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya itu dengan perlahan. Dengan satu tangan menyangga kepalanya, Ia menatap wajah teduh istrinya. Tangan satunya refleks terangkat membelai rambut hitam bergelombang di hadapannya. menyentuh pipi chubby, hingga ke dagu.
Glek
Barra menelan kasar salivanya begitu melihat bibir merah muda yang sedikit terbuka di hadapannya. Benda kenyal yang seminggu lalu nyaris saja Ia kecup jika saja Mama tidak datang. Ia membuang pandangannya ke arah lain, menetralkan pikirannya yang sempat traveling liar kemana-mana. Akhirnya, karena lelah Barra tertidur dengan posisi miring sambil menatap Qiandra, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
🌷🌷🌷
I found a love for me
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight
(perfect-Ed Sheeran)
.
.
.
***TBC***
.
.
.
Maaf Yah, baru bisa setor,, besok lagi yah, tapi Aku gak janji, kemungkinan malam atau malah besoknya. Mohon dimaklumi ya Gengs,,, Laf u to the moon and back ....🥰😍❤️❤️
Makasi ya yang sudah membaca, kasi like, koment, vote dan kasi hadiah juga. Semoga Author bisa menghasilkan karya yang bagus bagi seluruh pembaca. Maafkan semua typo ya... belum sempat di cek. Jangan lupa like dan komen ya Gengs, gratis kok cuma gerakin jempol aja. Yang mau vote dan kasi hadiah boleh juga👍😀
Happy Reading
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya bagi kalian yang menunaikan, Maaf lahir bathin semuanya.