
Tiga puluh Lima tahun yang lalu.
Di Sekolah Menengah Akhir, dua orang siswa yang berada di tingkat akhir sedang bercengkrama di bawah pohon akasia yang tersebar di pekarangan sekolah. Keduanya begitu akrab dan selalu terlihat berdua, dan terkadang masih bersikap kekanak-kanakan. Mereka adalah Zasqia dan Renata.
Zasqia seorang putri tunggal yang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang supir di perusahaan milik Ayah Renata bekerja sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Kehidupannya yang sederhana, serta didikan dari kedua orang tuanya yang memang berasal dari desa di pulau Jawa itu membuat ia tumbuh menjadi anak yang berperangai baik.
Sedangkan Renata merupakan seorang gadis manja dan periang. Ia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan sejak kecil hanya dengan --satu rengekan manja. Kondisi ekonomi keluarganya yang memungkinkan ditambah perhatian dan kasih sayang yang tercurah membuat ia tumbuh menjadi gadis baik hati. Putri kedua dari keluarga Reandi Kuswantoro yang merupakan seorang pengusaha sekaligus pemilik salah satu bank swasta nasional.
Sejak kecil Renata selalu mendapati teman-temannya yang selalu memasang wajah baik di depannya. Kekayaannya ternyata membuat ia kesulitan mendapatkan teman, jika pun ada hanya sekedar hubungan karena asas manfaat saja. Oleh sebab itu, ketika masuk SMA, dia mulai menseleksi teman-temannya dengan cara berpura-pura menjadi gadis biasa. Hanya ada satu orang siswi yang berteman baik dengannya, yaitu Zasqia.
"Zas, selesai dari sini lu mau nyambung kemana?" tanya Renata masih dengan posisi bersandar di belakang tubuh Zasqia.
"Aku suka anak-anak, Ren. Maunya jadi guru Taman Kanak-kanak aja, pasti seru deh. Ambil jurusan guru TK aja kali ya." Sambil tersenyum sumringah. "Kalau kamu mau jadi apa dan akan kemana?" Kembali bertanya pada temannya.
"Aku pengennya kedokteran Ren. Tapi papa maksa aku ambil manajemen bisnis, supaya bisa nerusin usaha papa katanya. Kakak aku juga kuliah ambil jurusan itu padahal dia suka ngedesain." Renata menjawab lesu.
"Jadi, keputusan kamu apa?" Menatap serius pada sahabatnya itu.
"Yah ikutin kata-kata Papa dong, Aku enggak mau hidup susah. Mana mau papa biayain aku kalau nekat ambil kedokteran. Papa itu orangnya baik tapi diktator." Tertawa kecil sambil membisikkan bagian akhir kalimatnya di telinga Zasqia.
keduanya pun tertawa bersama sambil menutup mulut mereka masing- masing.
"Zas, bentar lagi kita Ujian akhir ya kan, abis itu enggak kerasa, kuliah , menikah dan punya anak. Entar kalau kita punya anak beda jenis kelamin kita jodohin yuk?" seru Renata tiba-tiba.
"Kamu itu apaan sih, masih sekolah udah kepikiran ke sana aja. Boro-boro punya anak, pacar aja enggak punya, haahaa." Zasqia tertawa mengejek.
"Idiih, kamu ngetawaiin Aku Zas, terus bedanya apa dengan Kamu, Sayang. Sesama jomblo dilarang menghujat." Renata memasang wajah cemberut, tapi tidak bertahan lama karena ia langsung tersenyum."Tapi Aku serius, Zas! Aku pengen besanan ma kamu tau!" sambungnya lagi.
"Iya iya, Tapi ngapain sih punya besan orang seperti Aku. Bakalan malu entar Rena," selorohnya santai.
"Apaan sih, enggak gitu deh. Aku pengen aja gitu, Kamu tuh udah baik banget jadi temen Aku selama ini. Kalau orang-orang Deket sama Aku karena ada apanya, kamu tuh beda." Memeluk leher Zasqia.
"Iya, beda soalnya Aku berteman sama Kamu itu, enggak ada apa-apanya, hehehehe." Terkekeh geli mendengar kalimatnya sendiri.
"Kamu selalu begitu deh, Zas. Ehmmm, Aku tuh temenan sama Kamu tuh karena Kamu baik, enggak pernah pilih kasih sama siapapun, pinter, ramah, cantik, suka membantu... " Belum siap Renata menyelesaikan kata-katanya, Zasqia menyela.
"Apalagi, Suka menabung, rajin buang angin dan enggak lupa minum obat cacing?" Sontak Renata tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Zasqia.
"Ahahahah, ada-ada aja deh Kamu tuh, Aku sakit perut nih serius juga, Dia malah becanda. Eh, tapi Aku serius Zas, temen rasa kakak, tau nggak."
"Iya, terserah Kamu lah, yang penting Aku akan selalu sayang sama Kamu apapun yang terjadi." Melayangkan senyum manisnya.
"Really? Kamu harus pegang kata-kata ini ya, suatu saat Aku tagih, heheh. Tapi Zas, Aku beneran pengen kalau kita udah punya anak nanti, kalau jenis kelaminnya beda, kita nikahin yah? Aku pasti seneng anak Aku punya mertua kayak Kamu." Menengadahkan kepalanya ke atas, menerawang jauh memikirkan perkataannya sendiri.
"Bawel banget sih, iya iya. Kawin aja belum udah mau jodohin anak, hihihihi. Lucu kamu ngebet banget mau besanan sama Aku," ucap Zasqia sambil membekap mulutnya sendiri, tidak mampu menahan tawa yang keluar dari mulutnya.
kriiing kriiing kriiing...
Terdengar suara bel pertanda istirahat telah selesai berbunyi. Saatnya kembali ke kelas masing-masing. Suara derap langkah kaki siswa dan siswi yang berlomba menuju ke kelas mereka masing-masing terdengar jelas di Indra. Termasuk Zasqia dan Renata.
Ketika akan masuk ke kelas, tiba-tiba dari belakang seorang wanita mengulurkan tangannya menghadang Zasqia melewati pintu.
"Anak miskin di larang lewat pintu depan, pintu belakang Sono," menunjuk dengan ujung bibirnya ke arah pintu lain yang terkoneksi dengan kursi pada bagian belakang. "Pintu ini cuma buat anak-anak cantik dan kaya seperti kita ya Guys!" seru siswa perempuan yang bernama Diana lalu melangkahkan kaki masuk kelas.
"Huh, dasar kutu rambut lu, suka bener ngerusuhin hidup orang. Dia duduk di depan ya masuk dari depan lah, Gua pites juga tu nini-nini." Berseru kesal mendapati temannya diperlakukan sembarangan oleh Diana.
"Udah, jangan diladenin. Yuk ah, masuk." Menarik tangan Renata dan membawanya masuk lalu mengambil posisi mereka masing-masing.
Diana CS adalah salah satu perkumpulan cewek-cewek centil dan manja, yang selalu memamerkan kekayaan mereka. Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa Renata seorang anak pengusaha kaya raya, yang kekayaannya melebihi orang tua mereka. Sejak saat itu, mereka semakin membenci Zasqia karena menganggap Zasqia tidak pantas sekolah bersama mereka, apalagi dia juga berteman baik dengan Renata.
Keadaan kelas masih hingar-bingar sebab guru yang dijadwalkan masuk belum kunjung tiba. Sementara siswa perempuan yang sempat menghalau Zasqia tadi masih berkumpul bersama teman satu gengnya.
Suara riuh langsung menjadi hening, para siswa auto merubah posisi menjadi siap saat salah seorang dari teman sekelas mereka berteriak bahwa ada guru yang akan masuk ke kelas mereka. Begitu juga dengan teman-teman yang lain.
Tak menunggu lama, masuklah Bu Dina guru sekaligus wakil kepala bagian kurikulum. Di sampingnya sudah berdiri seorang pria dewasa yang sangat tampan. Semua siswa dan siswi terperangah melihat guru yang berada di samping Bu Dina.
"Gila, ganteng banget Siiii..." seru beberapa siswa wanita di kelas. Sebagian yang lain ada yang terperangah, tapi ada seorang siswa yang cuek seperti biasa, siapa lagi kalau bukan Zasqia.
"Ekhem, Selamat Pagi menjelang Siang, Anak-anak! Ibu ada sedikit pengumuman, Pak Anwar tadi pagi kecelakaan jatuh dari motor, yang menyebabkan cidera kaki dan masih harus di rawat di Rumah Sakit. Untuk sementara waktu, pengampu mata pelajaran Matematika kalian adalah Pak Andra." Suara riuh teriakan bahagia dari beberapa siswi yang merasa senang dengan adanya guru muda berperawakan ganteng itu, sudah pasti membuat Bu Dina tidak dapat melanjutkan pemberitahuannya.
"Tenang, tenang, Anak-anak!" Seketika suasana hening kembali. "Ibu harap Kalian semua bersikap baik pada Pak Andra, bagaimana pun juga nilai Kalian berada di tangan Beliau. Anggap Pak Andra sama dengan Pak Anwar, Saya dan guru-guru yang lain di sini, mengerti!" Menatap dengan senyuman pada semua siswa.
"Mengerti, Buk!"
"Oke, Pak Andra, Saya tinggal dulu. Kalau ada pertanyaan dan masalah. jangan sungkan berta kepada saya atau guru-guru di sini." Menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, dan tersenyum malu-malu.
"Ciiiieeeee, Suuit suuuit," goda beberapa siswa yang membuat Bu Dina melotot tajam.
Yah, hari itu kedatangan guru PPL tampan hampir menjadi pembicaraan di seluruh pojok kelas, terutama kalangan wanita.
...✳️✳️✳️...
Ketika jam istirahat, Renata berpisah dengan Zasqia yang tidak ingin ke kantin. Ia lebih memilih di perpustakaan untuk membaca buku. Ia selalu menghabiskan waktunya belajar, sebab Ia tau tak secerdas Renata yang tanpa belajar pun memang sudah pintar. Apalagi sebagian besar teman-temannya memang dari keluarga berada, sepulang sekolah juga masih ada jadwal les matematika, bahasa Inggris, piano, dan lain-lain. Lain dengan Zasqia yang hanya anak seorang supir. Sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, terkadang bersama Renata.
Ketika sedang fokus membaca, Zasqia tidak menyadari kehadiran seorang pria di hadapannya hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Aku perhatikan, kamu ketika istirahat sering ke perpustakaan ketimbang ke kantin." Suara berat seorang pria yang dikenalnya membuat ia mengernyitkan dahi dan menoleh di hadapannya.
Terlihat seorang pemuda tinggi dengan kacamata membingkai kedua netra legamnya. Pemuda itu masih memandang buku yang ia baca. Zasqia membaca sekilas buku tebal yang dipegang pemuda yang duduk di depan meja nya itu.
"Introduction to Calculus and Analysis," bisiknya membaca judul buku yang terlihat.
"Pak Andra," ucapnya kaku.
Andra menutup bukunya sekilas lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Tubuhnya beringsut mundur menempelkan bagian belakangnya pada sandaran kursi yang didudukinya.
"Kenapa Aku jarang melihatmu ke kantin?" tanya Andra lagi.
"Eh? S-saya harus belajar Pak, soalnya sebentar lagi ujian akhir. Saya tidak kaya dan tidak pintar-pintar amat, kalau saya tidak belajar keras, Saya takut tidak lulus. Lagian Saya selalu bawa bekal ke sekolah, menghemat Pak, hehehe," Zasqia menatap Andra berani, membuat ia merasa gugup.
"Ekhem." Terbatuk menutupi kegugupannya.
"Pak, itu yang Bapak baca buku kalkulus ya?" tanya Zasqia polos.
"Ya, kenapa?" Andra balas bertanya.
Sebuah senyuman manis terbit di kedua ujung bibir Zasqia. Dengan hati-hati Ia memohon kepada Andra.
"Ehmm, Pak Andra, begini Saya lemah sekali pada materi persamaan Diferensial, Integral, dan apalagi yang trigonometri Pak. Boleh enggak Saya belajar dengan Bapak?" tanyanya dengan mata berbinar penuh harap.
"Gimana ya, Saya jarang ada waktu kosong sih kecuali istirahat seperti ini, dan hari Minggu." Menghentikan ucapannya sejenak, Andra tampak berpikir keras.
"Kesempatan nih buat deketin nih cewek, kapan lagi?" bisiknya dalam hati.
"Terserah Bapak deh, kapan aja waktunya. Saya kan cuma minta tolong, kapan aja boleh Pak. Tapi saya enggak bisa bayar Bapak pake uang!" ucapnya lesu.
"Mana ada zaman sekarang yang gratisan?" Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Ya udah deh Pak, enggak apa-apa. Saya belajar sendiri aja." Ada sedikit nada kekecewaan dari kata-kata yang diucapkan Zasqia. Andra hanya tertawa kecil.
"Kenapa tertawa Pak, emang ada yang lucu?" tanya Zasqia memperhatikan dirinya secara utuh.
"Enggak sih, tadi Kamu bilang mau usaha keras supaya lulus. Jadi cuma segini usaha Kamu?"
"Saya akan berusaha sendiri, Pak. Saya cukup sadar, kemampuan otak dan keuangan saya jauh di bawah rata-rata. Tapi saya juga tidak semudah itu menyerah." Ucapan yakin dan lantang itu keluar dari bibir mungil Zasqia.
Andra yang mendengarnya merasa takjub dengan wanita di hadapannya itu. Ia semakin tertarik dengan sosok polos pemberani di hadapannya.
"Bayar Saya dengan membawa bekal untuk saya setiap hari, bisa?" Menaikkan dua alisnya.
"Bekal, bekal seperti apa Pak?" Zasqia. mengerutkan keningnya.
"Ya, bekal yang setiap hari Kamu bawa." Andra berkata santai sembari tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
"Bapak yakin? Bekal yang saya bawa cuma masakan kampung Pak. Bukan makanan mewah, ntar lidah Bapak gatel-gatel lagi heheheh," ucapnya sambil tertawa mengejek.
"Jadi, terima tawaran Saya atau tidak? Kalau tidak Saya... " Belum selesai Andra berucap, Zasqia sudah menyela.
"Oke Pak, deal?" ucapnya terburu-buru lalu berdiri dan menyodorkan sebelah tangannya.
Andra berdiri dan bersorak dalam hati, akhirnya siswi yang selama seminggu ini terlihat cuek, kini malah mendekat padanya. "Deal!" jawabnya pasti dengan binar mata yang penuh makna.
.
.
***To Be Continue***
.
.
Hai,, Maaf banget ya udah lama gak up.
Makasi banget buat Kalian yang selalu mendukungku, dan membaca karya ini, Kalian luar biasa💗💗💗
Oh ya, untuk chapter kali ini dan berikutnya kita fokus ke masa lalu Bunda Zasqia dan Mama Renata yah untuk mengulik kenyataan apa yang tersembunyi selama ini. Sebelumnya Aku pengen buat cerita singkat aja, tapi karena konfliknya agak berat, aku pikir lebih baik di ceritakan jelas supaya gak pada penasaran lagi kan, hehehe.
Happy Reading Gengs...
Oh ya Aku mau bales komentar, katanya cerita ini terlalu dibuat-buat. Ini cerita fiktif ya zheyenk, murni hasil ngehalu, kalau ada kesamaan nama, tokoh, dan tempat itu adalah sesuatu yang tidak disengaja. Jangan lupa like dan komen🙏🙏🙏