My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps. 38 : Tidak Ingin Kehilanganmu



POV Qiandra


"Seharusnya hari ini Qia ikut Mas Barra ke kantor. Tapi gara-gara ketiduran, ditinggal deh. Bosan Bik di rumah enggak ada kegiatan." Aku bercerita pada Buk Darni, ku hela nafasku berat.


"Ya enggak apa-apa to Non, besok kan bisa ikutnya. Lagian Den Barra itu tadi pagi sebelum berangkat pesen ke Bibik, kalau Non masih istirahat karena lelah. Den Barra bilang kalau jam sembilan Non belum bangun juga, baru Bibik bangunkan. Tadi waktu Bibik ke kamar Non sedang di kamar mandi jadi Bibik balik ke dapur langsung siapin sarapan di meja," ungkap Bik Darni panjang lebar.


"Mas Barra harusnya bangunin Qia, Bik. Kenapa dibiarin tidur sih. Qia kan malu juga sama Mama dan Papa masa pagi-pagi Qia tidur sih," kesalku dengan bibir yang sudah ku cebikkan.


"Enggak apa-apa to Non, Nyonya sama Tuan ngerti toh pernah muda juga, hehehe... " Bik Darni terkekeh, membuat Aku membuang wajah. Bukan karena marah tapi aku rasa wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Oh ya Non, kalau gitu kenapa enggak Non aja yang nyusulin Den Barra ke sana. Biar nanti Bibik telfon pak Ujang jemput Non. Sekalian bawa makan siang buat Den Barra," celetuk Bik Darni memberi usul.


Aku berpikir sesaat, betul juga ya kenapa Aku malah galau tak menentu di sini. Yang penting kan Aku sudah izin dari kemarin, pikirku.


"Wah, ide bagus Bik, sekalian bikin surprise buat Mas Barra ya." Aku menghambur memeluk Bik Darni.


Setelah berkutat dengan masakan di dapur kurang lebih satu jam, masakan kami pun siap. Aku mulai menata masakan itu ke dalam tempat makan. Seraya menunggu Pak Ujang yang sedang di perjalanan, Aku menggunakan waktu untuk mengganti dress ku dengan yang lebih baik, sedikit memoles wajahku dan tak lupa parfum.


Tepat pukul sebelas, Aku pergi ke kantor suamiku dengan senyum sumringah. Aku bahagia sekali membayangkan akan makan siang bersama dengan suamiku di kantor. "Hmmmmm, rasanya sudah tidak sabar," kekehku pelan.


Tiga puluh menit waktu yang Aku tempuh hingga sampai ke kantor, sedikit macet sebab menjelang jam istirahat. Aku melangkahkan kaki masuk ke perusahaan GM Corporation. Ku sambangi meja resepsionis tempat ku bekerja dulu.


"Qiandra!!" Rere dan Salma memekik bersamaan. Suara cempreng dan menggelegar milik Rere terdengar dominan membuat beberapa orang yang lewat di sana memperhatikan kami.


Aku menghambur memeluk mereka satu persatu. Keduanya melakukan hal yang sama. Kami mengobrol sedikit tentang kabar pernikahanku dengan Barra. Aku pun menjelaskan kami menikah karena tanpa pacaran terlebih dahulu. Keduanya turut merasakan kebahagiaan dan memberiku doa serta ucapan selamat.


"Nanti resepsinya beberapa Minggu lagi, kalian pasti Aku undang. Hadir ya!"


"Kalau di undang mah, gua pasti datang, ya kan Re," seru Salma.


"Iyalah, perbaikan gizi anak kost, hahahah... ." Kami pun tertawa bersama. Tiba-tiba Rere memicingkan matanya sejenak, mencoba mengingat sosok yang baru saja lewat.


"Itu, sepertinya Aku kenal wanita yang barusan lewat. Tapi siapa ya?" Rere bergumam lirih, namun Aku dan Salma masih mendengarnya.


"wanita itu, yang mengenakan gaun biru pendek, sepertinya Aku pernah melihatnya. Di mana ya?" tanya Rere sambil mengulurkan telunjuknya ke arah seorang wanita yang menunggu di depan lift. Ketika kami menoleh, wanita itu melangkah masuk ke dalam lift.


Rere memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. Menajamkan ingatannya atas sosok yang baru saja ia lihat. Setelah beberapa saat kemudian Ia berseru.


"Ya, Aku ingat. Model, wanita tadi adalah model. Model yang beberapa waktu lalu ikut viral bersama wakil direktur kita. Kau ingat, sebelum dirimu dan Pak Barra menikah ketika para wartawan mengambil foto mereka berdua?" Aku mengetatkan rahangku. Ku rasa air mukaku berubah, kupingku sudah panas mendengar ucapan Rere barusan.


"Kau yakin dia wanita itu, Re?" tanyaku pelan namun penuh penekanan.


"Aku yakin sekali, aku sering melihatnya di majalah dewasa Auwwww... ," pekik Rere yang kakinya diinjak Salma. Ia memberi kode dengan mulutnya untuk melihat ku. Seketika Rere menutup mulutnya dan menyadari apa yang telah ia ucapkan.


"Qiandra, Kau jangan berpikir macam-macam dulu, Aku baru melihatnya hari ini. Sebaiknya Kau segera menemui suamimu. Pastikan dia jauh dari pelakor, oke!" ucap Rere lagi ceplas ceplos membuat perasaanku semakin tak karuan.


"Re, Kamu ngomong apaan sih?" sela Salma. "Qia, Kamu tenang ya, Aku yakin Pak Barra enggak akan mengkhianati Kamu. Wanita itu pasti punya niat jahat. Cepat susul dia, jangan biarkan rencana liciknya berhasil."


Salma menasehatiku sambil terus menggiring ku ke arah lift. Sesaat kemudian Aku tersadar, kata-kata Salma menghapus raguku.


"Salma benar, Aku tidak akan membiarkan wanita itu mengusik milikku. Barra adalah suamiku, Aku harus mempertahankannya." Aku bertekad dalam hati.


Saat ini Aku sudah berada di dalam kubikel besi yang terus bergerak, melihat angka demi angka untuk segera sampai ke lantai di mana Barra bekerja. Suara dentingan lift berbunyi, dengan tidak sabar Aku ikut menyibak pintu lift yang memang otomatis terbuka. Lalu dengan setengah berlari bergerak menuju ke ruangan Barra.


"Apa Pak Barra ada di dalam?" tanyaku dengan nafas terengah-engah juga kening mengkerut, melihat sosok asing di hadapanku saat ini. "Sekretaris baru?" tanyaku dalam hati.


Sosok itu memicing, mendelikkan matanya ke atas, lalu melihat ke arahku dengan wajah ketus.


"Pak Barra sedang ada tamu special. Katanya tidak ingin diganggu," ucapnya malas.


"Special Kau bilang? Siapa?" Hatiku mulai memanas. Lagi-lagi cairan bening mulai meronta ingin dikeluarkan. Hatiku bergemuruh, dadaku naik turun.


Aku sepertinya terbakar cemburu.


"Aku tidak tahu, seorang wanita cantik dan seksi baru saja masuk ke dalam. Mereka pasangan yang sangat cocok." Melihatku dengan tatapan mengejek.


Aku tidak perduli lagi. Aku segera berlari menuju pintu. Tidak perduli sekretaris sialan yang meneriaki ku untuk tidak masuk. Ketika Aku menarik handle pintu dan pintu terbuka, pemandangan menjijikkan itu membuat perutku bergejolak.


"Mmmas... ," ucapku lirih. Aku semakin mual melihat seorang wanita berpakaian terbuka menempelkan tubuhnya di belakang Barra. Ku lihat dia memeluk Barra erat dan tangannya melingkar kuat di perut six pack Barra. Tangan Barra terlihat sedang merengkuh tangan yang sedang melingkari tubuhnya. Mataku nanar, tubuhku bergetar hebat.


"Qiandra... , Sayang ini tidak seperti yang Kau pikirkan. Aku bisa menjelaskannya, Qiandra please... ."


Aku langsung berlari keluar dan berpaspasan dengan David yang terlihat terburu-buru masuk ke ruangan. Aku menjatuhkan kotak makanan itu lalu berlari sekuat mungkin menuju toilet. Sesampainya di sana, Aku langsung memuntahkan semua isi perutku dan menyandar lemah bertumpu pada sisi westafel.


...🌹🌹🌹...


"Hooek Hooek Hoeek." Qiandra memuntahkan semua isi perutnya tanpa sisa. Air matanya pun ikut keluar seiring dengan muntahan yang terus menerus naik ke kerongkongannya.


"Qiandraaaaa... ," teriak Barra menerobos pintu toilet. Dilihatnya Qiandra sudah bersandar lemah dengan bertumpu pada sisi wastafel. Tubuh Qiandra mulai limbung dan Barra menangkap tubuhnya tepat sebelum terjatuh.


"Mas," ucap Qiandra lirih, lalu mengalungkan kedua lengannya pada leher Barra. "Aku tak ingin kehilanganmu, huuuuu... ." Qiandra mulai terisak kecil.


"Kau harus percaya padaku, Sayang. Yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang Kau lihat." Barra mempererat rengkuhannya.


"Dia tiba-tiba masuk dan memeluk tubuhku, Aku sedang berusaha melepaskan kedua tangannya yang menempel seperti tentakel itu," sungutnya lagi. "Aku bahkan menghubungi David agar membantuku mengusir wanita itu. Aku takut menyakitinya jika berbuat kasar." tambahnya lagi.


Qiandra melepas tangannya yang bertaut pada leher Barra. Ia merenggangkan tubuhnya, memberi jarak bagi keduanya. "Kau takut menyakiti wanita lain tetapi Kau menyakitiku dengan melihat itu semua." ungkapnya. Kini wajahnya terlihat kesal.


"Maafkan Aku, Sayang. Aku berjanji ini yang terakhir. Aku tidak bermaksud menyakitimu, andai Ku tahu kau datang,.Aku ... ." Penjelasannya terhenti seketika karena interupsi dari Qiandra.


"Jadi kalau Aku tidak datang, Kau akan berlama-lama dengan wanita itu," selidik Qiandra menyipitkan kedua matanya. Menatap intens netra suaminya, mencari kebohongan di sana.


"Sayang, please! Kau tau bukan itu maksudku. Aku bersumpah tidak memiliki perasaan seujung kuku pun padanya. Aku mencintaimu, mungkin terdengar begitu tiba-tiba, kita bahkan baru menikah seminggu. Namun perasaanku tidak berbohong, Aku mencintaimu, sangat." Sorotan mata memelas Barra membuatnya luluh seketika. Namun ia bersyukur, mood istrinya itu sudah berubah seketika.


"Aku juga mencintaimu, Aku hanya tidak ingin kehilanganmu Mas, Aku takut sendiri, Ayah dan Bunda mereka sudah pergi."


"I promise you, Takkan ada yang memisahkan kita kecuali jika Tuhan mencabut nyawaku." Barra menekankan perkataannya kali ini. "Ayo Kita kembali ke ruanganku." Barra merapikan rambut Qiandra, lalu Qiandra membasuh wajahnya dengan air. Mereka kembali bersama ke ruangan Barra.


Di depan pintu toilet, mereka melihat David berdiri mematung di sana.


"David, Aku tidak ingin dia menginjakkan kakinya di perusahaan ini lagi. Beri peringatan pada staff keamanan di pintu masuk dan juga bagian resepsionis."


"Baik Pak. Saya sudah mengusir Nona Angeline. Petugas keamanan sudah saya beri peringatan, Pak!"


Qiandra mulai mengingat sesuatu. "Kotak makanan, Apa kau melihat kotak makanan yang ku bawa, Kak David?" Agak canggung Qiandra memanggil David seperti itu, namun rasanya panggilan itu lebih pantas sekarang mengingat usia David jauh di atasnya.


"Maaf Nona, Anda menjatuhkannya tadi dan makanannya tumpah. Saya sudah menyuruh OB membersihkannya."


"Yah, padahal Aku sudah susah payah memasaknya bersama Bik Darni, hmmmmm," cebik Qiandra.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Besok Kau bisa memasak lagi, bukan?" Barra menghibur Qiandra, lalu tatapannya menoleh ke pergelangan tangannya yang dilingkari oleh jam mewahnya. Masih ada beberapa menit lagi sebelum waktu istirahat tiba. Ia menoleh ke David dan memberi perintah, "David, pesankan makan siang kami berdua dari kantin perusahaan. Aku tidak ingin di ganggu selama istirahat kecuali sesuatu mendesak!"


David paham perintah bosnya itu. Ia membungkukkan kepalanya, kemudian segera undur diri dari hadapan keduanya. Barra merangkul pinggang Qiandra dan membawanya masuk ke dalam ruangannya. Tindakannya itu mendapat perhatian dari beberapa karyawannya yang melihat adegan mesra tersebut.


...


Qiandra mendaratkan bokongnya pada sofa empuk di dalam ruangan Barra. Sementara Barra duduk bersimpuh di depannya, dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Ia menatap intens wajah Qiandra seraya menggenggam erat kedua tangannya. Hal itu membuat Qiandra menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


"Kenapa memandangku seperti itu?" tanyanya salah tingkah ditatap dengan tatapan setajam silet seperti itu.


"Aku memandangi istriku, apa Aku salah? Kau baik-baik saja sayang? Kenapa bisa muntah-muntah seperti itu?"


"Aku tidak tahu, ketika melihat dia menyentuhmu seperti itu, perutku terus bergejolak ingin muntah. Kau menikmati pelukan wanita itu bukan?" Qiandra memanyunkan bibirnya dan mencoba menarik kedua tangannya yang digenggam Barra. Namun, Barra malah bangkit dan dengan sigap menarik tubuh Qiandra ke dalam pelukan.


Kini posisi keduanya sudah terbaring saling berhimpitan di sofa yang lumayan lebar untuk posisi itu. Barra mengambil beberapa helai rambut istrinya yang terurai ke belakang telinga, lalu menatap lekat-lekat wajah Qiandra. Cantik, hanya itu yang bisa Ia deskripsikan. Meski tanpa polesan berlebihan, istrinya itu tetap cantik.


Barra tersenyum, lalu mengapit hidung istrinya dengan dua jarinya, menimbulkan ringisan dari sang empunya hidung.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau tau, suamimu ini begitu tampan, banyak wanita yang mengejar-ngejarnya. Jadi Kau harus bisa menjaga ku dari wanita-wanita di luar sana. Jangan jadi lemah ketika berhadapan dengan mereka, oke! Ketika Kau lemah, mereka sedang tertawa dan bersenang di tempat lain menyaksikan kehancuran Kita. Aku mohon, apapun yang kau lihat ke depan, percayalah padaku. Kita bisa melihat cctv ruangan ini jika Kau tidak percaya, tapi mohon kelak percayalah padaku!"


Suara Barra tampak berat, matanya memancarkan cahaya cinta. Cairan bening mulai memenuhi pelupuk matanya. Ia mendaratkan bibirnya tepat ke bibir istrinya. Ciuman itu bersambut, keduanya saling mengisi dan begitu menikmati hingga,


"Permisi Tuan, ini makan siang An... ."


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Hah, Yang mau sama Akang David daftar terus daripada jadi jones dia 😂😂


Episode sebelumnya banyak yang request jangan ada pelakor diantara kita ya kan,,


Author cuma bisa bilang, Silakan nikmati alurnya aja ya Zheyenk,,, 🤭🤭🤭


Makasi buat dukungan berupa vote, coment, like, tips, dan DM dan sebagainya... Aku tanpamu butiran debu...


Happy Reading Gengs...❤️