My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.17 : Lagi-lagi Dia



Barra melajukan mobil sportnya, membelah padatnya jalanan malam ini. David menghubungi dan mengajaknya berkumpul bersama Andin, serta seorang sahabat mereka bernama Wilson, yang kini menetap di negara Jiran, Malaysia. Mereka bersahabat sejak kuliah bersama di Australia, sedangkan David dan Barra, sejak di SMA.


Tak lama berselang, Mobil Barra pun memasuki pelataran parkir bawah tanah gedung dimana STAR Lounge and Caffe berada. Tepatnya di lantai 98 gedung ini, atau lantai terakhir. David sudah merevervasi tempat untuk mereka di sini.


Barra segera turun dari Mobil, dan menuju lift. Ia bertemu Andine dan Wilson di sana yang juga baru tiba.


"Hai Man, Nice to see you again." Wilson menepuk pundak Barra, yang sedang memeluknya saat itu juga. Keduanya saling menyapa dan melepas rindu. Sedangkan Andin, Ia hanya tersenyum singkat padanya.


Pintu lift terbuka, mereka bertiga segera masuk ke dalam dan menuju lantai akhir. Star Lounge and Caffe sendiri merupakan salah satu tempat yang menyediakan pemandangan rooftop bagi pengunjungnya. Berada di lantai akhir sebuah gedung pusat perkantoran terkemuka, Star juga menyediakan masakan internasional sekelas hotel bintang lima.


David sudah duduk di dalam private room VIP, tempat yang biasa mereka tempati ketika berada di sana. Seperti biasa, David memang selalu datang lebih dulu jika mereka berkumpul seperti ini. Ia tengah memandangi kaca transparan di depannya yang menampilkan Susana malam ibukota.


Terdengar suara pintu ruangan di buka, pun langkh kaki beberapa orang yang menyeret masuk ke dalam. David menerbitkan senyum simpul si kedua ujung bibirnya, menoleh ke belakang tampak ketiga sahabatnya itu berjalan ke arahnya. Mereka juga saling menyapa satu sama lain sebelum akhirnya memilih tempat duduk.


Barra duduk di sofa bergaya American style ,disusul Andin duduk di sebelahnya. Sedangkan Wilson duduk bersebelahan dengan David tepat di hadapan Barra dan Andin.


"Gimana Wil, selama tinggal di sana, belum ada ketemu calon istri?" tanya Barra sambil menyesap Anggur di tangannya sedikit demi sedikit.


"Belum nih, yang ada ketemu Upin dan Ipin terus hahahah," kelakar Wilson, sesekali melirik ke arah Andin.


"Gimana mau dapet calon istri, Wilson playboy cap kapak sih, hahaha." Andin menyela pembicaraan mereka seraya tertawa kecil.


"Kamu kenapa masih sendiri juga?" Wilson menatap Andin, sambil memainkan alisnya. Andin terdiam, maniknya bergerak menatap Barra di sampingnya. Namun yang di tatap, masih setia dengan wine yang ada di tangannya, menggerakkan gelasnya hingga cairan di dalamnya ikut berputar.


"Kenapa? Apa cintamu masih bertepuk sebelah tangan?" Mendapat pertanyaan seperti itu, Andin terkesiap. Sungguh, Dia tidak ingin membicarakan hal ini, karena orang yang dicintainya sekarang berada tepat di sampingnya. Dengan tatapan gusar, Andin melirik ke arah Barra, memastikan pria di sampingnya itu tidak mendengarkan.


Namun harapan Andin pupus, Manik Barra kini tengah berbinar melihat ke arahnya.


"Wahh, siapa orang yang berani menolak pesona seorang Andin?" Barra meletakkan gelas winenya di atas meja, lalu mengambil posisi serius untuk mendengarkan. Begitu juga dengan David.


"Kamu serius Ndin? Ada juga orang yang bisa menolak Kamu. Penasaran, siapa orangnya?" tanya David tak kalah ingin tahu.


Wilson tersenyum mencibir ke arah Andin, sementara Andin menatap Wilson dengan tatapan kesal. Baru pertama kali Dia merasa sangat malu di depan sahabat sekaligus orang yang dicintainya.


"Emmh, itu... maksud Wilson itu cinta monyet aku dulu di SMP. Iya kan Wil?" Andin mengedip-ngedipkan matanya, mengisyaratkan agar Wilson segera mengiyakan saja.


" Mungkin, Aku juga sedikit lupa," sambungnya lagi, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Andin.


"Terus, Bagaimana dengan pak Boss kita yang satu ini, hmmm?" lanjutnya lagi bertanya.


Barra hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Ketika Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, netranya menemukan tiga pasang netra yang sedang menatapnya penuh tanda tanya.


"Kenapa? Ceh, Kalian menyebalkan sekali dengan raut wajah seperti itu." Bara berdecih kesal, namun Ia tersenyum.


"Sudah berapa lama sejak Kau putus dengan Angeline, dan Kau belum menemukan seorang kekasih? Apa Aku tidak berhak curiga dengan Kalian berdua?" Tanya Wilson sekaligus menunjuk Barra dan David, sambil tersenyum mengejek.


"Aku masih normal, buktinya saja Aku pernah memiliki seorang kekasih wanita. Tapi David, ahhh, Aku juga meragukannya." Barra membela dirinya sambil melempar bantal sofa ke arah Wilson yang berhasil Ia tangkis dengan tangannya.


"Tapi Kau ditinggalkan karena kekasihmu lebih memilih pria lain." David membalas telak ejekan Barra padanya. "Apa mungkin Angeline merasa Kau tidak seperkasa selingkuhannya itu?" tanya David lagi, yang mengundang tawa dari dua orang lainnya.


"Cih, tidak perkasa katamu? Aku hanya belum menemukan wanita yang cocok saja. Seleraku berkelas Bung, tidak seperti Tuan Playboy Kita, setiap malam ganti gandengan terus." ketus Barra.


"Ya jelas dong, emang Kalian nggak malu apa, truk aja gandengan, nah Kalian?" Spontan semuanya tertawa mendengar perkataan Wilson.


Begitulah mereka, saling mengobrol hal receh. Namun, di balik tawa dan senyum itu, ternyata ada sepasang mata yang terus mencuri tatapan gundah ke arah Barra.


"Tidak bisakah Kau melihat Aku sekali saja?" bisiknya dalam hati.


Tepat pukul 23.00 mereka memutuskan untuk kembali, setelah sekian lama mengobrol, makan malam dan bersenang-senang bersama. Barra pulang dengan David sementara Andin pulang dengan Wilson.


Di dalam mobil Wilson, Andin hanya menatap sendu ke arah jendela di sampingnya. Tiba-tiba, Wilson menepikan mobilnya di pinggir jalan. Andin yang melihat tidak lagi ada pergerakan, menoleh ke si pengemudi.


"Ada apa Wil? Apa mobilnya bermasalah?" tanyanya khawatir.


Wilson tak menjawab pertanyaannya. Ia memijit pangkal hidungnya seraya memejamkan kedua netranya.


"Aku melepasmu karena Kau berjanji akan bahagia bersamanya. Tapi lihatlah, setelah tiga tahun Aku pergi, Kau masih menjadi bayangan orang itu. Apa yang Kau harapkan lagi? Apa sepuluh tahun ini tidak cukup waktu untukmu berpikir, siapa yang pantas berada di sisimu?" Wilson menghardik wanita yang kini menatapnya dengan tatapan sendu. Ia memukul-mukul steering mobil beberapa kali meluapkan kekesalannya.


Andin tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu. Bulir kristal mengalir pelan di kedua sisi wajahnya.


"Lepaskan dia. Dia tidak pernah melihatmu. Cobalah melepaskannya Ndin. Bagaimana Kau menyuruhku untuk bahagia, jika Kau masih seperti ini?"


"Hiks hiks,, " isakannya mulai terdengar, seketika Wilson menarik kedua bahu Andin, membawanya masuk ke pelukannya. Makin lama suara isakan itu, semakin pilu dan kini kemeja yang dikenakan Wilson telah basah karena airmata.


"Maafkan Aku. Maaf!" ucap Wilson seraya menepuk pundak Andin, mencoba menenangkannya meski hanya sebagai seorang sahabat. Ya, mungkin selamanya Andin tidak akan pernah melihat dia selain sebagai sahabat.


*******


Qiandra baru saja selesai merapikan tempat tidurnya, dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Matanya berbinar sempurna, sejak Dia menerima telfon dari salah satu perusahaan yang Ia tuju beberapa hari lalu pagi ini.


Dengan mengenakan kemeja peach beraksen pita besar di kancing depan, berlengan sampai siku dan rok span selutut berwarna krem. Tidak lupa menyampirkan jam tangan di lengan kirinya. Qiandra melangkahkan kakinya dengan membawa Tote bag berwarna senada roknya.


Sudah dua hari ini Ia terbiasa dengan kehadiran Barra di rumah ini. Mengetahui jika Barra akan menginap di apartemennya hingga Kamis, Qiandra merasa lega, sebab akan Ia merasa sesak saat bersama Barra. Bagaimana tidak, tingkah Barra yang selalu mencari masalah padanya itu, selalu membuat Ia mengelus dadanya dan menarik nafasnya kasar.


Qiandra Perlahan menuruni anak tangga, tidak ingin terburu-buru mengingat Ia sedang mengenakan heels 5 cm. Ia tidak terbiasa mengenakan heels sehingga memilih model dan tinggi yang paling nyaman Ia kenakan. Kini Ia berjalan ke arah meja makan, sudah tampak Papa, Mama, dan Barra berada di sana bersiap akan makan.


~ Tap Tap Tap ~


Suara deru heels berpadu lantai marmer terdengar, mereka yang berada di ruang makan segera menoleh pada arah suara. Papa dan Mama tersenyum melihat Qiandra yang kini tampak cantik dengan sedikit make up minimalis di wajahnya.


Barra pun menoleh sesaat, lalu membawa pandangannya kembali ke makanan yang ada di depannya. Seperti menyadari sesuatu, Barra kembali menatap seseorang yang kini sudah duduk tepat di depannya, berada di sebelah Mamanya. Barra terkesiap, membulatkan matanya.


~Deg Deg Deg ~


Jantung Barra kembali berdegup kencang memperhatikan wanita yang kini rambutnya di kucir dengan model ponytail itu. Ia mengenakan make up minimalis, dan juga busana kerja dengan warna lembut pastel. Barra memegang dadanya, merasakan jantungnya seperti sedang melompat atau marathon di sana.


"Kenapa? Lagi-lagi dia membuat jantung ku berdegup seperti ini?"


Barra tiba-tiba menyelesaikan makannya. Meraih tas kerjanya lalu mulai beranjak dari kursinya.


"Pa, Ma, Barra berangkat kerja dulu ya!" ucapnya dengan sedikit terbata.


Tidak ingin mendapat interupsi dari sang Mama yang sudah akan membuka mulutnya, Barra terburu-buru meninggalkan ruang makan. Mama melihat Papa yang spontan mengangkat kedua bahunya.


"Aneh sekali, kenapa dengan anak nakal itu? bahkan dia belum menghabiskan sarapannya?" tanya Mama Renata dalam hatinya.


Barra kini sudah berada di dalam mobil sport berwarna merah miliknya. Kedua lengannya sudah memegang steering mobil. Ia membenturkan kepalanya perlahan pada kemudi.


"Arrghhh, kenapa dengan jantungku akhir-akhir ini? Sepertinya Aku harus berkonsultasi dengan ahli jantung segera." Barra mengacak rambutnya kesal, merasakan perubahan setiap kali bersitatap dengan pemilik mata sayu itu. Orang yang paling ingin Ia hindari keberadaannya kini.


"Lagi-lagi dia, Aarrrrgh!" teriaknya frustrasi.


.


.


.


.


.


****ToBeContinue**


.


.


.


.


Haiiiiiii, Aku Author MyNameIs, Makasih ya bagi Kalian yang masih setia menunggu up karya gaje Author ini, 🤭🤭🤭


Author terharu tau gak siiiiii. Melihat antusias kalian semuanya. Author mau minta maaf, kalau up nya lama ya harap dimaklumi😂.


Happy Reading semuanya and Have a nice weekend... See you in next chapter soon. I love you to the moon and back ❤️❤️❤️**