
Waktu bergulir begitu cepat. Bumi senantiasa berotasi pada porosnya hingga siang berganti malam lalu sebaliknya. Tidak terasa hari resepsi pernikahan Barra dan Qiandra sudah tinggal hitungan jari. Hanya Lima hari tersisa sebelum pergelaran besar itu terlaksana.
Mama Renata yang paling antusias dan sibuk dalam mempersiapkan acara ini. Semua hal harus sempurna dan tanpa cela, hingga membuat wanita paruh baya tersebut mau tidak mau terjun sendiri memantau persiapan acara itu. Seperti pagi ini, ia ditemani Qiandra berencana akan mengecek Gaun Pengantin yang sejak beberapa hari lalu sudah Qiandra coba. Menurut Qiandra tidak ada masalah, namun sepertinya Mama Renata tidak puas Hingga meminta pihak penyedia melakukan beberapa perbaikan.
Pagi-pagi sekali Ia sudah meminta Qiandra datang dan sarapan bersama di rumah utama. Hal yang satu ini dikarenakan Mama Renata yang sudah terlampau rindu dengan anak bungsu dan menantunya tersebut. Ditambah lagi sudah tiga hari Papa pergi ke Lombok. Hingga Kak Manda, Mas Adam dan Mikhayla juga hadir di sana.
"Qiandra, bagaimana dengan permintaan Mama, apa sudah ada perkembangan?" Mama Renata tiba-tiba saja membuka percakapan, di sela keheningan mereka di dalam mobil yang melaju membawa mereka ke butik.
"Maksud Mama, permintaan yang mana?" tanya Qiandra sambil mengerutkan dahinya.
"Ini sayang, cucu Mama? Apa sudah ada kabar baik?" Qiandra berjengkit kaget bercampur geli saat Mama Renata menyentuh perutnya. Tiba-tiba Qiandra mendadak berubah muram mengingat kenyataan ia baru saja datang bulan.
"Maaf Ma, Qiandra belum hamil. Qiandra baru saja selesai menstruasi."
Mama Renata menangkap perubahan air muka menantu kesayangannya itu. Ia pun tersadar karena telah menanyakan hal sensitif itu pada Qiandra.
"Qia, sayang maafkan Mama. Mama tidak bermaksud membuatmu sedih. Kalian baru saja menikah, jadi wajar saja kan jika masih belum berhasil. Lagian, tugas kalian hanya berusaha dan berdoa. Masalah hamil atau tidak itu semua rezeki dari Yang Kuasa," imbuh Mama Renata merasa bersalah atas ucapannya.
"Mama tidak bermaksud membuatmu bersedih, Sayang. Mama sungguh ingin mendengar kabar bahagia itu dari kalian, namun Mama bisa bersabar," lanjutnya lagi.
"Bunda dulu pernah cerita, Bunda sulit mengandung sampai-sampai dijudge sebagai wanita mandul. Bahkan mertua Bunda menyuruh Ayah menikah lagi karena Bunda tak kunjung hamil. Qiandra hadir setelah 10 tahun pernikahan mereka, Ma." Satu tetes cairan bening menggiring ketakutan Qiandra. "Qiandra takut, Ma," ucapnya lirih, nyaris berbisik.
"Maafkan Mama, sayang. Mama tidak tahu ceritanya dan tidak pernah terpikir begitu. Pantas saja usiamu dan kak Manda berbeda jauh." Memeluk Qiandra dan mengusap bahunya.
"Qiandra takut Ma, Qiandra takut apa yang dialami Bunda juga menimpa Qiandra. Apa Kalian akan membuang Qiandra juga, Ma?" Qiandra menarik tubuhnya dari dekapan Mama Renata. Menatap Mama dengan mata sendu penuh harap.
"Kamu bicara apa? Mama tidak ingin melangkahi apa rencana Tuhan pada kita, Nak. Tapi apapun yang terjadi kemudian hari, Mama bisa pastikan bahwa Mama akan selalu mendukungmu, tidak akan membiarkanmu sendiri, itu janji Mama. Jadi stop berpikiran buruk, Qia." Mama memegang kedua bahu Qiandra, berusaha menguatkan.
"Kamu masih muda, kalau Barra emang udah sedikit matang sih, hhehhe," kekeh Mama Renata mengingat putra bungsunya. "Kalian masih punya banyak waktu bikinnya. Kalau belum jadi juga, anggap kalian dikasih waktu buat pacaran dulu. Kalian kan pacarannya setelah menikah, puas-puasin dulu mesra-mesraannya." Mama mengerlingkan matanya sebelah menggoda Qiandra yang wajahnya sudah bersemu kemerahan.
"Mama!!" pekik Qiandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tidak terasa obrolan keduanya sudah membawa mereka sampai di lokasi yang dituju. Salah satu butuk milik desainer ternama negeri ini. Mama Renata bersama Qiandra berjalan beriringan, dan disambut hangat oleh para pegawai di sana.
"Selamat pagi!" Salah seorang pegawai menyapa Mama Renata dan Qiandra seraya membungkukkan kepalanya. Qiandra dengan refleks melakukan hal yang sama ke arah pegawai itu.
"Pagi, dimana Jeng Ana, Saya sudah berjanji bertemu beliau pagi ini." Mama Renata bertanya langsung to the point tanpa basa-basi.
"Sebentar Bu, Saya panggilkan," sahut pegawai yang menyapa tadi lalu bergegas memanggil pemilik butik.
Tak lama berselang, jeng Ana muncul dengan satu buah kipas di tangannya.
"Hola Mbak Rena, Hola Qiandra," sapa Jeng Ana sambil cipika-cipiki sama dua orang tersebut.
"Hai Jeng, apa Kabar? Gimana permintaan gaun untuk Qiandra, sudah oke kan?" tanya Mama Renata yang saat ini sedang di giring oleh Jeng Ana beserta dua orang pegawainya ke ruang desain.
"Alhamdulillah Aku sehat, Mbak. Aku udah siapin persis seperti Mbak pinta pastinya." Seraya terus berjalan membawa tamu ekslusifnya hari ini.
Begitu masuk ruangan, Jeng Ana dan Mama Renata langsung duduk di sofa tempat biasa pelanggan menunggu. Sementara Qiandra langsung di bawa ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang telah di siapkan dibantu oleh kedua pegawai tadi.
Sembari menunggu Qiandra, Mama Renata mengobrol dengan Jeng Ana, desainer sekaligus pemilik butik. Seorang pegawai lainnya masuk membawa nampan berisi teh dan cemilan. Hingga 20 menit kemudian, tirai ruang ganti di singkat dan tampaklah Qiandra dengan balutan gaun berwarna putih tulang berkerah semi Sabrina, lengan panjang dengan Lace, serta dipenuhi dengan mutiara.
Mama Renata tampak terkejut, jauh lebih cantik dari ekspektasinya. Ia menutup mulutnya yang terbuka dengan satu tangan. Qiandra tampak bersinar di ruangan itu.
"Gimana Mbak? Makin cantik kan mantunya?" Jeng Ana menimpali kekaguman Mama Renata.
Seketika Mama Renata tersentak. Ia mulai sadar dan segera mengambil ponselnya dari dalam tas jinjingnya. Segera ia mengambil beberapa foto Qiandra dalam balutan gaun pengantin itu.
Cekrek Cekrek Cekrek
Suara Blitz kamera dari ponsel Mama Renata terdengar. Baru beberapa foto yang diambilnya, Mama Renata mulai merasa sesuatu yang sudah memenuhi kantung kemihnya mendesak ingin dikeluarkan. Jeng Ana pun membawa Mama Renata ke kamar mandi pribadi di dalam ruangannya, sehingga mereka berdua harus meninggalkan ruangan itu.
"Qiandra, Mama mau buang air kecil dulu sebentar. Jangan diganti dulu ya sayang, Mama mau mengabadikan foto kita berdua." Permintaannya itu mendapat anggukan dari Qiandra yang sedang duduk di sebuah kursi kecil tanpa sandaran itu.
Sepeninggal Mama Renata, Qiandra tinggal sendiri di ruangan itu. Kedua pegawai yang lain juga ikut permisi keluar dari ruangan karena diminta bos mereka untuk menyiapkan seluruh gaun keluarga yang lain. Qiandra menatap pantulan dirinya di cermin. Sungguh ia merasa terlalu berlebihan mengenakan pakaian semewah ini.
Qiandra terlalu asyik dengan pikirannya, hingga tak menyadari kedatangan seseorang di dalam ruangan itu.
Qiandra membalikkan wajahnya menghadap wanita itu. Seketika perasaan marah dan kesal memenuhi syarafnya berefek pada air muka tak bersahabat yang dia layangkan.
"Hahahah, berani sekali Kau menatapku seperti itu gadis kampung!" bentaknya semakin mendekat.
"Kenapa Aku harus takut, hanya dengan seorang wanita tidak tahu malu seperti dirimu, Angeline!!" sarkas Qiandra mengepalkan kedua tangannya.
"Qiandra, Qiandra, Kau terlalu naif dan bodoh. Kaulah wanita tidak tahu malu itu. Jelas-jelas suamimu hanya mencintaiku, namun Kau dengan pede menganggap dia milikmu hanya kalian sudah tidur bersama? Haahhaahaahh." Berjalan mendekati Qiandra.
"Tenang Qiandra, Kau jangan takut, jangan lemah. Dia hanya mencoba memprovokasimu!" bisiknya dalam hati
"Jika kau hanya meenempati posisi ranjangnya, namun Aku menempati keduanya, ranjang dan hati. ahahahahah... " Angeline tertawa terbahak sejurus kemudian ia kembali memasang wajah penuh kelicikan.
"Aku peringatkan Kau, wahai wanita murahan. Setelah putus denganku, Barra bahkan tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita lain, karena apa? Karena Aku tidak pernah pergi dari hatinya, bahkan sedetikpun!" serunya dengan kalimat terakhir sedikit berbisik tepat di telinga Qiandra.
Pertahanan Qiandra melemah, tekadnya kendur, namun sebisa mungkin Ia tidak akan kalah dari wanita seperti Angelin. Dengan tatapan nyalang, Qiandra mencoba melawan kata-kata yang diucapkan oleh rivalnya saat ini.
"Ahahahahah, Angeline lucu sekali! Mungkin Kau yang terlalu naif. Kau memang pernah singgah di hati Barra, bertahun-tahun yang lalu, dan itu hanya masa lalu. Baginya, Kau tidak lebih seonggok sampah yang menimbulkan bau tak sedap dan mengganggu hidupnya." Qiandra mendorong bahu Angeline dengan jari telunjuknya.
"Ku beritahu satu hal, yang namanya sampah harus dibuang pada tempatnya." Mengibaskan tangannya seolah sedang membersihkan dari sesuatu yang kotor. Qiandra melangkah melewati Angeline yang wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
Baru dua langkah Qiandra beranjak, ia berhenti sesaat lalu memundurkan tubuhnya selangkah mensejajarkan dirinya dengan Angeline. "Jika kau pernah menempati ranjang dan hati Barra di masa lalu, Maka Akulah yang menempati keduanya saat ini hingga seterusnya. Barang yang sudah usang dan tidak bernilai guna, hanya akan menjadi rongsokan sampah. Begitu jua dengan masa lalu buruk dan menyakitkan, tidak perlu di ingat sama sekali hanya perlu dipelajari agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama, mengerti!!!" ucap Qiandra dengan nada dan tatapan sinis, masih dengan tangan yang terkepal kuat juga tubuh yang bergetar.
Qiandra pun melangkahkan kakinya keluar ruangan, namun baru beberapa langkah, Angeline menginjak ujung gaunnya sehingga membuat tubuhnya limbung dan jatuh tersungkur.
"Akhhhhhh," teriak Qiandra seketika.
Angeline yang sudah kehilangan akal sehatnya, langsung menghampiri Qiandra dan menjambak rambutnya hingga kepalanya mendongak ke atas. Refleks tangan Qiandra memegangi rambutnya dengan wajah menahan sakit akibat tarikan kuat pada mahkotanya itu.
"Plaaak," satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya, membuat ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Kau tidak akan pernah mendapatkan Barra, wanita kurang ajar, Aaarrrgghhhhh," teriaknya histeris dan dengan tangannya yang mencekam erat surai hitam Qiandra, Angeline sekuat tenaga mendorong dan menghempaskan kepala Qiandra hingga dahinya terbentur keras ke ubin dan darah mulai mengalir di lantai.
"Akkhhhhhh!!!" Qiandra berteriak kesakitan.
Suara berisik dari ruangan ganti itu membuat seorang pegawai berlarian ke dalam ruangan dan mereka terkejut menyaksikan kondisi mengenaskan wanita yang sedang mengenakan gaun pengantin itu.
"Tolong, tolong, tolong," teriak pegawai itu ketakutan keluar lagi dari ruangan. Mendengar teriakan itu, Angeline tersadar ia sedang berada di mana.
"Shit!!! Umpatnya lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut, mencari jalan keluar lain untuk pergi dari butik tersebut.
Qiandra merasakan kepalanya berdenyut hebat, pandangannya mengabur seiring matanya yang mulai terasa berat untuk terus dibuka. Di penghujung kesadarannya, suara indah yang memanggil namanya serta wajah wanita paruh baya itu yang menjadi penglihatan terakhir sebelum akhirnya netra sayu itu tertutup rapat, enggan terbuka.
"Qiandra...aaaaa,"
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Yeay, Akhirnya selesai juga ngetik bab ini.
Happy Reading ya Gengs...
Ucapan makasih yang tak terhingga buat seluruh pembaca My Bossy Husband, buat yang ngelike, ngevote dan ngetips, Apapun bentuk dukungan kalian, Aku makasiiiiiiii banget ya. Semoga Kita semua senantiasa sehat. selalu dalam lindungan Allah SWT, dan bagi yang menjalankan ibadah puasa, semoga kita sampai di penghujung Ramadhan ya...
❤️❤️❤️