My Bossy Husband

My Bossy Husband
69. Minta Maaf dan Memaafkan



"M-mass," panggil Qiandra lirih.


Ke empat orang yang ada di ruangan itu refleks mengedarkan pandangan mereka ke arah suara.


"Sayaaang!" Barra berlari menghampiri Qiandra yang masih terbaring di ranjang diikuti David dan Andin. Namun Wilson segera menahan keduanya sembari menggelengkan kepalanya. Lalu Ia memberi kode dengan jari telunjuk diletakkan di mulut nya.


Qiandra berkedip, menjawab dengan gerakan matanya. Ia merasa tubuhnya sangat lemas. Perutnya juga terasa lapar.


"Lapar?" tanya Barra melihat Qiandra meraba perutnya.


Qiandra mengangguk pelan, sedikit senyum terulas dari bibirnya yang masih memucat. Barra mengambil makanan yang sudah diantarkan oleh perawat tadi sebelum kehadiran teman-temannya.


Satu suap, dua suap, tiga suap, hingga bubur itu habis tak tersisa. Barra tersenyum puas melihat istrinya yang menghabiskan makanan yang disediakan rumah sakit. Pastilah karena kondisi istrinya semakin membaik, pikirnya.


"Sepertinya istri Mas sangat kelaparan. Apa perlu makanan tambahan?" Barra menaik-turunkan alisnya menggoda Qiandra, dan dijawab gelengan kepala oleh Qiandra.


"Mas," panggilnya lagi dengan suara lebih bertenaga.


Barra menggamit mesra tangan lembutnya. "Hmmm, ya Sayang?" tanya Barra menatap intens wajah yang selalu ia rindukan.


"Aku, -- ." Lama Qiandra tertegun sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Kenapa? Apa yang mengganggu pikiranmu? Katakanlah!" Barra semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku mau minta maaf, Mas. Saat itu sebelum resepsi Siskha datang menemui Ku dan menyerahkan sesuatu. Dia bilang itu adalah kado pernikahan untuk kita. Malam harinya saat Aku sampai terlebih dulu di kamar, Aku membuka isinya. Di sana ada foto-foto kedekatan Mas dan Siskha. Lalu, Aku juga menerima telfon dari Siskha yang menyatakan bahwa Mas sedang bersama dengannya sekarang. Dan Aku, hiks--" Qiandra menghentikan ucapannya dan menangis.


"Sayang Maaf, itu semua tidak seperti yang Kau pikirkan. Siskha suruhan Nyonya Diana. Dia bagian dari rencana penculikanmu." Kedua tangan Barra kini sudah menggenggam jemari istrinya. Ia pun sudah bangkit dari duduknya, membungkukkan badannya semakin mendekatkan wajahnya pada istrinya itu. Ada raut cemas di wajahnya.


"J-jadi, Mas dan Siskha tidak memiliki hubungan apapun?"


Barra menggelengkan kepalanya cepat lalu mengecup kening istrinya. Lama ia mendaratkan bibirnya di sana. Tidak terasa dari kedua sudut netranya mengalir butiran kristal itu.


"Mas bersumpah tidak pernah berniat sedikitpun apalagi melakukannya. Mas dijebak." Kembali menyakinkan Qiandra.


"Maafkan Aku Mas. Saat Aku melihat foto-foto itu, Aku sedikitpun tidak percaya. Tapi saat Siskha menelfon dan memprovokasi, Aku berubah pikiran sehingga Aku berani keluar kamar tanpa izin darimu. Siskha mengatakan Kalian berdua sedang, hiks hiks hiks--."


"Sssssshhhhhttt!" Barra meletakkan jari telunjuknya di bibir Qiandra lalu mengecupnya singkat.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Mas sudah memaafkanmu dan Mas juga minta maaf atas sikap Mas yang mengabaikanmu selama beberapa hari. Semua kejadian ini kita ambil hikmahnya untuk menguatkan cinta Kita, Sayang." Satu tangan Barra melepaskan genggamannya dan beralih ke perut rata Qiandra.


"Kalian berdua mau kan memaafkan Mas, dan memulai semuanya lagi?" Mengusap perut Qiandra.


"Kalian?" Qiandra mengernyitkan dahinya. "Maksud Mas dengan Kalian?" Qiandra juga meraba perutnya yang disentuh Barra.


"Iya!" Barra mengangguk pelan. "Kamu dan calon anak Kita!" lanjut Barra lagi dengan tangisan di kedua pipinya.


"Aku hamil Mas? Maksud Mas, di dalam sini anak kita sedang tumbuh?" tanya Qiandra lagi merasa tak percaya..


Barra mengangguk cepat lalu memeluk istrinya itu. Qiandra pun kembali terisak, kali ini isakan kebahagiaan. Ia terkejut mendengar berita kehamilannya. Barra mengecup pucuk kepala istrinya beberapa kali, lalu mengendurkan pelukannya dan meraih tisue yang ada di nakas.


"Jangan menangis lagi, Sayang. Nanti bayi kita di dalam sini ikut bersedih." Barra menghapus air mata di wajahnya dan istrinya.


"A-aku tudak pernah berpikir akan mengandung secepat ini, Mas. Alhamdulillah ya Allah." Qiandra bersyukur sebab mereka dipercayakan untuk segera menjadi orang tua. Ia teringat cerita ibunya, bahwa Ia lahir setelah tujuh tahun pernikahan kedua orang tuanya.


"Waah, lihatlah sepasang suami istri ini bermesraan seolah dunia milik mereka berdua, ckck. Kalian harus sedikit memikirkan nasib jomblo satu ini, ya enggak Yang?" Wilson membuka suara sambil menggoda David.


"Sialan Kau Wilson!" teriak David kesal.


Barra yang sempat melupakan kehadiran sahabatnya itu segera berdiri tegak, menoleh ke belakang dan ikut tertawa. Sementara Qiandra yang baru saja mengetahui ada orang lain di ruangan itu, wajahnya memerah karena malu.


"Hai, Qiandra. Maaf Kami mengganggu adegan romantis Kalian berdua," ucap Andin sambil tersenyum.


"Sayang, Ayo cepat menikah jadi Kita bisa mesra-mesraan seperti mereka," celetuk Wilson yang membuat wajah Andin memerah. "Apa Kau mau menjadi jomblo akut seperti temanmu yang itu?" Menunjuk David dengan mulutnya.


"Aku jomblo terhormat anti bucin." David menunjukkan gigi putihnya.


"Sekarang Kau bisa bilang seperti itu. Kalau sudah waktunya, Kau yang akan menjadi manusia terbucin di dunia." Wilson mengejek David.


"Tidak akan!" sergah David cepat.


"Kita lihat saja nanti!" tantang Wilson.


"Sudah, Kalian ini seperti dua seperti anak-anak saja. Ada pasien di sini, jangan berisik oke!" titah Andin.


Qiandra ikut tersenyum melihat tingkah Asisten David dan juga Wilson, sejatinya Ia ingin tertawa namun gerkaan berlebihan membuat bekas operasinya terasa perih.


Hari beranjak semakin malam. Setelah bertukar kabar dan berbincang, akhirnya David, Andin dan Wilson pamit pulang ke rumah masing-masing. Sementara Barra dengan setia menemani sang istri yang masih harus menginap. Papa dan Mama pun sudah diberi kabar mengenai kondisi Qiandra. Malam ini rencananya Erlan akan ikut menginap menjaga Qiandra.


Barra masih duduk di samping Qiandra sesaat setelah Dokter memeriksa kondisi istrinya. Keduanya saling menggamit tangun satu sama lain dan mengulum senyum di bibir keduanya.


"Mas, bagaimana dengan Nyonya Diana dan Siskha?" tanya Qiandra tiba-tiba.


"Mereka sekarang berada di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, Sayang. Untuk Siskha, karena dia sudah mau bekerja sama dengan polisi selama ini, mungkin hukumannya akan sedikit diringankan. Sedangkan Nyonya Diana, sepertinya akan sulit karena bukti kejahatannya sudah diamankan pihak kepolisian."


Barra menguraikan singkat.


"Nyonya Diana adalah Ibu sambung Kak Erlan, Kau tau?" tanya Barra lagi kemudian.


"Hah? Jadi , hhmmmm Kak Erlan pasti sedih." Raut wajah Qiandra berubah sendu seketika mendengar informasi baru yang tak kalah mengejutkannya.


"Kamu tenang saja, Kak Erlan adalah Pria kuat. Sebenarnya Dia adalah orang yang berperan besar dalam misi penyelamatanmu, Sayang." Selanjutnya Barra mulai menceritakan kejadian di mana Siskha tertangkap dan betapa kagetnya Erlan saat tahu bahwa ibu sambungnya lah yang menculik Qiandra. Lalu bagaimana Erlan merencanakan misi untuk menyelamatkan Qiandra hingga akhirnya mereka bisa sampai di tempat itu tepat waktu.


"Mas, sekali lagi Aku minta maaf. Seandainya saja Aku mendengarkanmu, pasti semua ini tidak akan terjadi," sesal Qiandra dengan wajah sendunya.


"Yang lalu biarlah berlalu, Sayang. Mas percaya Tuhan tidak memberikan kita ujian tanpa ada hikmah di dalamnya. Mas pernah mendengar pepatah mengatakan, Orang yang meminta maaf adalah mereka yang berani, dan Orang yang memaafkan adalah mereka yang berjiwa besar." Barra tersenyum sumringah diakhir kalimatnya.


"Dan Mas bangga sekali, di satu waktu Mas bisa melihat istri Mas yang berani dan berjiwa besar. Terimakasih Sayang, terimakasih sudah bertahan demi anak kita, demi mas. Mas sayang Kamu!"


Pembicaraan hangat itu di akhiri dengan kecupan mesra di kening sang istri. Lama, lama sekali Barra mengecup kening istrinya hingga keduanya sama-sama meneteskan air mata kebahagiaan.


.


.


.


To be Continue


.


.


.


Happy Reading ya ZHEYENKKKK


Jangan lupa likenya yaaaa!!!


Komen, vote, tips , semua bentuk dukungan Author terima dengan lapang dada.🤭🤗


❤️❤️❤️