My Bossy Husband

My Bossy Husband
83. Kebahagiaan Baru (Extra Chapter)



Suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan kamar Barra dan Qiandra malam ini. Tidak terasa Baby Qiara sudah berusia satu bulan sepuluh hari. Namun Ia masih memiliki kebiasaan bergadang di waktu biasanya orang-orang tertidur.


Barra segera membangunkan Qiandra yang baru saja terlelap. Sepertinya Qiara merasa haus. Segera Qiandra memberikan jatah ASI untuk buah hatinya itu. Dengan mata yang masih sembab karena baru bangun tidur. Meski tidak lama, namun Qiandra merasa istirahatnya tadi benar-benar nyenyak.


Jarum jam menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Barra memperhatikan interaksi istri dan putri pertama Mereka. Kedua manik hitam mungil itu membulat sempurna, memperhatikan wajah sang Mama yang juga sedang MengASIhi dengan penuh kasih. Satu garis melengkung di bibir Barra.


Segera Ia memberikan kecupan di dahi Istri dan anaknya itu. Lalu memeluk Keduanya. Manik hitam mungil itu pun mulai meredup, sudah pukul setengah tiga pagi dan sepertinya waktunya tidur akan tiba. Netra Qiara mulai merapat, namun sesekali masih terbuka apalagi jika mendapat gangguan dari Sang Papa.


Satu cubitan di perut mendarat nyaris membuat Barra menjerit, jika tidak mengingat ada Qiara di sampingnya.


"Aaaa aaaa Ampun Sayang!" ucapnya perlahan memberikan senyuman menggelikan bagi Qiandra.


"Makanya jangan digangguin dong Mas, Qiara udah mau tidur!" bisik Qiandra.


Barra tersenyum. Lagi-lagi perasaannya menghangat melihat dua sosok di pelukannya kini. Ia merasa beruntung, bisa merasakan kebahagian seperti ini.


Dulu bahkan Ia tidak pernah berfikir untuk menikahi Qiandra. Bahkan mereka terkesan selalu bermusuhan setiap bertemu. Entah bagaimana Tuhan memainkan perannya hingga benci menjadi cinta.


Qiandra baru saja meletakkan Baby Qiara ke dalam boks bayi yang diletakkan tepat di samping ranjang mereka. Dengan perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian, Ia meletakkan tubuh mungil Qiara ke dalam boks bayi. Mulut mungil Qiara masih bergerak seolah-olah Ia sedang mengemut sesuatu.


Melihat Sang Istri sudah bebas dari Qiara, Barra segera menarik tubuh wanita yang dicintainya itu mendekat ke arahnya. Kedua tangannya sudah melingkar sempurna di pinggang Qiandra.


"Mas, Aku ngantuk. Shubuh nanti Qiara pasti bangun. Aku mau tidur lagi ah!" seru Qiandra yang merasa terganggu dengan aksi Barra.


"Mas kangen banget sama Kamu, tau enggak sih!" ucap Barra menatap lekat wajah istrinya. "Makasih ya Sayang, Kamu sudah hadir di hidup Mas, memberi warna baru dalam kehidupan Mas."


Barra mendaratkan satu kecupan di dahi istrinya. Sengaja Ia berlama-lama di sana. Mencurahkan segala perasaan yang Ia rasakan.


"Kamu dan Qiara adalah harta Mas sesungguhnya. Insya Allah Mas akan menjaga kalian hingga tutup usia!" lanjutnya lagi setelah melepaskan ciumannya.


"Mas, jangan bilang gitu. Iya Aku tau, Aku percaya sama Kamu, Mas. Aku juga bahagia bisa menjadi bagian dari hidup Mas. Insya Allah Kita jaga Qiara sama-sama ya Mas. Qiara adalah titipan dari-Nya, Sayang. Titipan terindah yang Allah berikan kepada Aku selain Kamu."


Ucapan Qiandra itu membuat Barra kembali memeluk erat istrinya itu. Lama mereka dalam posisi itu, hingga akhirnya mereka memilih untuk tidur seraya saling berpelukan.


...✳️✳️✳️...


Barra sudah tiba di ruangannya. diikuti David yang saat ini menginformasikan beberapa agenda penting yang harus ia laksanakan hari ini. Barra tampak duduk di kursi kebesarannya, lalu memfokuskan pendengarannya. Beberapa kali Ia menguap karena masih mengantuk, akibat beberapa hari terakhir Ia selalu terbangun tengah malam menggantikan istrinya menjaga Qiara yang hobi bergadang.


"Itu jadwalku hari ini? Kau yakin?" tanya Barra tidak percaya.


"Ya, maaf tapi Aku sudah menschedule ini dengan sebaik-baiknya." David memasang wajah tak berdosa.


"Bukankah Aku sudah pernah bilang, untuk mengatur jadwalku jangan sampai lewat pukul 17.00." Barra mendengus kesal.


"Kau sendiri yang absen tidak masuk sampai seminggu ketika Qiara lahir. Jangan salahkan Aku beberapa hari ke depan Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Atau Kau mau klien Kita kecewa sebab pertemuan yang sudah Aku jadwalkan kembali di tunda?"David mengeluarkan seringaian yang sangat menjengkelkan bagi Barra. Segera Ia melempar sebuah pena ke arah David namun mampu ditangkap olehnya.


Zzzeep


Suara pena yang dilayangkan Barra lalu ditangkap oleh David dengan pasti.


"Untuk beberapa hari saja Bos, setelah itu Aku akan menjadwalkan jadwalku sesuai permintaan mu. Oke!" pinta David kali ini dengan wajah sumringah.


"Untuk apa Kau ku bayar mahal, jika hal-hal seperti ini saja tidak bisa Kau urus!" Mendelik sebal ke arah David, namun yang mendapat delikan hanya tersenyum. Ia tahu, meski ekspresi bosnya seperti itu namun tidak menolak permintaannya. Karena mereka berdua bukan hanya sekedar Atasan-Bawahan, tetapi juga sahabat.


Waktu terus berjalan. Satu persatu kegiatan sudah terlewati hingga tanpa terasa sudah memasuki waktu istirahat siang. Barra dan David baru saja sampai di ruangan Barra. Keduanya langsung menduduki sofa empuk yang ada di ruangan itu.


Barra sedikit melonggarkan dasinya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Tangannya merogoh sesuatu dari saku celananya.


Benda pipih itu terlihat menyala. Segera Barra melakukan panggilan video pada salah satu kontak yang ada di sana.


"wassalamu'alaikum, Hai Sayang. Mana Qiara anak Papa?" balas Barra.


"Qiara baru siap mimik, ini baru bobok lagi!" tunjuk Qiandra wajah bayinya yang tengah pulas tertidur di pangkuannya.


"Anak Papa, sehat-sehat terus sayang, Papa kerja dulu ya. Qiara jangan rewel ya sama Mama di rumah!"


"Iya Papa, Qiara enggak rewel kok, dari tadi bobok telus!" ucap Qiandra menirukan suara anak kecil.


"Syukurlah. Makasi ya Sayang sudah menjaga anak Kita. Kamu juga istirahat yang banyak ya, jangan capek-capek dulu. Kalau ada apa-apa panggil Mama dan Bik Darni ya!" pinta Barra dijawab dengan senyuman oleh Qiandra.


"Iya Mas, Kamu juga hati-hati di kantor. Kami di sini selalu menunggu Papa pulang." Qiandra tampak mencium kening bayi yang ada di pangkuannya.


"Hari ini jadwal Mas agak padat. Mas enggak bisa pulang seperti biasa ya, mungkin agak malam." Barra teringat perkataan David tentang jadwalnya tadi pagi.


"Iya Mas, yang penting Mas harus selalu hati-hati. Jangan lupa makan ya Mas!" ingat Qiandra suaminya.


Panggilan itu pun berakhir setelah sekretaris Barra mengantarkan makan siang untuk mereka. David sudah memesan makan siang bagi keduanya tadi. Karena setelah makan Mereka harus segera meninjau langsung salah satu proyek.


"Apakah sebahagia itu memiliki sebuah keluarga?" tanya David penasaran seraya meletakkan makanan di hadapan Barra.


"Lantas apa ada yang membuatmu berpikir kalau itu sebuah lelucon?" Barra malah balik bertanya.


"Tidak, maksudku akkhh, entahlah!" Mengusap wajahnya kasar lalu mendaratkan bokongnya di sofa bersebelahan dengan Barra.


"Aku tidak tahu apa yang engkau pikirkan. Tetapi apa yang Aku rasakan bahkan jauh lebih besar dari yang Kau lihat." Menepuk-nepuk pundak David sesaat.


"Apa mungkin sesuatu membuatmu betah menjomblo sampai sekarang?" tanya Barra kemudian dengan tatapan menelisik ke arah David.


David menarik panjang nafas dan menghembuskannya kasar. "Aku hanya takut, sesuatu seperti kebahagiaan yang semu. Aku sudah lama kesepian namun untuk memulai hubungan serius seperti ada rasa takut Aku akan ditinggalkan."


"Itu hanya perasaanmu saja, Dav. Cobalah membuka hati dan pikiranmu. Jangan terlalu lama berpikir, carilah calon istrimu dan menikah!" Barra langsung membuka makanan yang disediakan David lalu memakannya lahap.


"Hmmmm, akan Aku pikirkan!" Mengikuti Barra. kemudian menyantap makanannya.


Keduanya pun segera bergegas ke lokasi proyek setelah selesai menyantap makanan mereka masing-masing.


.


.


TBC


.


.


Ada yang kangen Aku enggak?? 🤗🤗🤗


Aku kangen banget sama kalian semua...


Eh, Visualnya bebas ya.


Aku gak pinter cari visual tokoh Gengs...


Jadi jangan tanya visualnya🤭🤭🤭