My Bossy Husband

My Bossy Husband
episode 27: Perasaan apa ini?



Sebuah taksi online yang ditumpangi Andin berpacu di jalanan bersama dengan puluhan kendaraan lainnya. Ini sudah terlalu siang bagi seseorang untuk berangkat kerja, namun Ia baru akan ke kantor. Efek menangis semalaman membuat wajahnya sembab sehingga ia meminta tolong pada David menghandle beberapa pekerjaannya agar hari ini Ia bisa datang sedikit terlambat.


Andin merasa bebannya berkurang banyak setelah bercerita pada David. Diantara mereka berempat, David memiliki usia 2 tahun lebih tua daripada mereka. Sehingga membuat David paling bisa diandalkan jika menyangkut hal apapun.


"Andin, rasa cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada hambaNya. Cinta tidak akan salah jika kita meletakkannya pada posisi yang benar. Cinta itu luas, Cinta pada orang tua, cinta pada sesama, cinta pada teman, cinta terhadap pasangan, cinta pada sang Pencipta." Andin terngiang ucapan David semalam.


"Jika cintamu tak tersambut, untuk apa menghabiskan sisa waktumu untuk memaksakannya. Itu hanya akan membuat dirimu merasakan sakit yang tak berkesudahan. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik hasilnya, Begitupun cinta."


Degh


Andin merasa tertohok dengan ucapan David kali ini. Bagaimana mungkin, selama sepuluh tahun ini Ia berpikir terlalu dangkal. Sudah ratusan kali Wilson memperingatkannya, namun kenapa Ia baru menyadari kebodohannya sekarang?


"Dav, Aku, hiks hiks hiks,,," Andin tak mampu melanjutkan perkataannya, kini Ia menangis tersedu. David dengan sigap menarik tubuh Andin ke dadanya, menepuk pundaknya mencoba mentransfer kekuatan.


"Maafkan Barra, dan Aku yang membiarkanmu merasakan sakit selama itu. Aku dan Barra, Kami terlalu bodoh dan tidak peka dengan perasaanmu. Kau tahu, kami berdua sangat amat menyayangimu, sebagai sahabat, sebagai adik. Kau juga tahu bukan, sejak kita kuliah, barra yang notabene anak bungsu, selalu menganggapmu adik perempuannya, begitupun Aku. Kalian bertiga sudah ku anggap seperti adik-adikku sendiri."


"Jika Dirimu begitu mencintainya, lepaskanlah Andin. Ikhlaskan dia, biarkan cinta menuntun kemana ia akan berlabuh. Jika kalian memang ditakdirkan Allah bersama, maka cinta pula yang akan menuntun kalian kembali bersama. Sekarang, berilah tempat pada orang yang mencintaimu, untuk mengobati luka hatimu yang bersemayam sekian lama. Aku yakin, dia juga baik untukmu."


Andin mengangguk mengerti. Ia mencerna semua perkataan David yang terdengar begitu masuk akal di pikirannya.


Pagi tadi, tekadnya sudah bulat, Ia memperhatikan amplop coklat yang berisikan surat pengunduran dirinya itu. ya, mungkin akan butuh beberapa waktu untuk mencari pengganti, namun setidaknya Ia bisa melepas cintanya dengan cara ini. Memilih pergi dari sekitarnya dan mencoba membuka hati untuk orang lain, sepertinya itu lebih baik.


Taksi online itu berhenti tepat di depan gedung perkantoran GM Corporation. Andin segera membayar dan keluar dari taksi tersebut. Ia menajamkan pandangannya ke depan. "Presdir Hi-one Tech," ucapnya pelan, berbicara pada dirinya sendiri.


Andin teringat jadwal Barra hari ini, akan bertemu dengan Erlan sebelum jam makan siang. Ia pun berjalan lurus ke arah Erlan, ingin menyapa lelaki yang kini sedang berdiri menghadap jalan dengan kedua tangan menyisip di saku celananya. Sebelum Ia sempat menyapa, Ia melihat Erlan melambaikan tangan kanannya pada seseorang di seberang jalan.


Andin mengikuti arah lambaian tersebut. Seorang wanita baru saja menyebrang dengan tentengan plastik di kedua tangannya. Wanita itu terlihat kesusahan membalas lambaian tangan Erlan, lantas hanya tersenyum. "Erlan mengenal Qiandra?" Lagi-lagi pertanyaan itu dilontarkan pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba, netra Andin menangkap sebuah mobil sedan yang mencurigakan. Ia lalu melihat ke arah Qiandra yang berjalan santai, namun tidak menyadari mobil sedan itu sudah bersiap untuk melaju.


Andin terkesiap, dalam beberapa detik, batinnya berperang. Ingin membiarkan, karena itu bukan urusannya, apalagi mengingat kekesalannya terhadap Qiandra. Namun, ada bagian dari hatinya yang berbisik dan mendorong Ia untuk menyelamatkan sang resepsionis. Andin tertegun, masih melirik sedan dengan mesin menyala siap maju itu.


Qiandra terus berjalan, Andin perlahan ikut menyebrang dari sisi yang berbeda. Netranya awas memperhatikan mobil, bisa jadi hanya perasaannya saja. Ketika posisi Qiandra tepat berada di depan sedan itu, tiba-tiba mobil melaju kencang membidik tubuh Qiandra yang kini tepat berada di jarak yang tak jauh dari jangkauannya.


Andin berlari saat semua orang berteriak melihat itu, seketika Qiandra melirik ke arah datangnya deru mesin, dan terpaku nyaris tak dapat berbuat apa-apa melihat jaraknya dan sedan itu.


"Aaaaarrrrrgggghhhhh......" teriak Qiandra sesaat sebelum badan mobil menyentuh tubuhnya.


dari arah berlawanan, Qiandra merasakan tubuhnya di tubruk dan ditarik paksa seseorang menghindar.


"Bruuuuuugh," Erlan terlonjak kaget, tangannya refleks mengambil ponselnya dan memotret mobil yang mencoba menabrak Qiandra dari belakang. Lalu ia berlari menerobos kerumunan orang yang melihat posisi dua orang wanita sudah tergeletak di sisi side walk.


"Randa, ambulance!" perintah Erlan berteriak menangkup tubuh Qiandra.


***


IGD Sehat Mandiri Hospital


Erlan dengan raut wajah khawatir menunggu penanganan Dokter terhadap Qiandra dan Andin. Sekelebat ingatannya membawa pada mobil sedan yang dengan sengaja ingin mencelakai Qiandra. Erlan sempat mengabadikan plat mobil tersebut dengan kamera smartphone nya.


Erlan yang sejak tadi mondar-mandir tak menentu, seketika berhenti dan menoleh pada asistennya.


"selidiki mobil dengan plat ini, periksa semua cctv di sekitar lokasi kejadian sekarang!" tegas Erlan seraya menyerahkan ponselnya dan langsung diterima Randa.


"Baik, Pak. Saya akan mencari tahu segera. Saya permisi sebentar." Randa menundukkan kepalanya sesaat sebelum berbalik dan pergi meninggalkan bisanya itu sendirian.


Erlan meremas dan menarik rambut bagian depannya frustrasi. "Semoga kamu baik-baik saja, Qiandra!" Ia menjatuhkan bokongnya pada salah satu kursi tunggu yang ada di sana. Mengadahkan kepalanya ke atas dengan kedua tangan tertangkup di wajahnya.


Di pintu masuk, Barra tampak berlari tergesa-gesa dengan David mengekorinya. Di ujung koridor sudah terlihat Erlan yang sedang duduk sambil menangkupkan wajahnya. Ia terkejut sesaat setelah meeting bersama beberapa kepala bagian proyek kerjasama dengan Hi-one Tech. Saat itu, seorang resepsionis wanita berlari menghampiri.


"Pak Barra, Bu Andin, Bu Andin.." terengah-engah resepsionis wanita memberitahu namun terputus. Seketika manik David melebar dan menyahuti ucapan Salma.


"Bu Andin me-menye-lamatkan te-man Ssa-saya Qiandra Pak, yang ham-pir ter-tabrak mo-bil." Salma menjawab dengan tergagap. David menghela nafasnya. lega., namun tidak dengan Barra, Ia tampak panik.


"Apa? Qiandra hampir tertabrak mobil? Bagaimana keadaannya? Di mana mereka sekarang?" Barra begitu terkesiap. Dadanya bergemuruh, entah perasaan apa yang melandanya kini.


"Ssa-ya ti-dak tau per-sisnya se-per-ti apa pak, ta-pi mere-ka su-dah membawanya ke RS terdekat. Bapak Erlan dari Hi-one Tech langsung ikut bersama mereka dan saya di beritahu Asistennya, Pak Randa."


"cepat hubungi Asistennya, David." Barra memerintah segera, diikuti David yang mengeluarkan ponselnya.


Dan kini, di sinilah mereka tepat di ruang IGD di mana Qiandra dan Andin mendapat penanganan. Baru saja Barra akan membuka pembicaraan dengan Erlan yang sudah berdiri dari duduknya, Dokter yang menangani kedua wanita tadi pun keluar. Seorang dokter wanita paruh baya, tersenyum manis ke arah mereka.


"Dengan keluarga korban?" tanya dokter itu.


" Saya, dok," sahut Barra dan Erlan bersamaan. Keduanya saling berpandangan, merasa kikuk.


"Saya calon Suaminya Qiandra dan atasan Andin, Dokter." Barra memperjelas kedudukannya.


"Keadaan keduanya baik-baik saja sekarang. Ibu Qiandra sendiri tidak mengalami luka yang serius. hanya luka di pelipis kirinya yang lumayan dalam sehingga kami jahit, serta lecet di sekitar tangan dan lutut, "ucap dokter wanita tersebut.


"Menurut pantauan hasil Rontgen, tidak ada kerusakan otot maupun syaraf di lututnya. Namun, biasanya luka di lutut menyebabkan seseorang susah berjalan dan beraktivitas, sehingga kami menyarankan agar Nona Qiandra dirawat di rumah dan tidak diperkenankan melakukan aktivitas berat hingga lukanya mengering," imbuhnya lagi.


"Sedangkan Nona Andin, tangan kanannya cidera akibat terbentur dengan sisi trotoar, sehingga kami memasangkan gips di lengannya. kepala bagian belakang juga terluka namun tidak parah. Begitupun Nona Andin sementara waktu tidak boleh menggunakan lengan kanannya hingga gips dapat dilepas," lanjut Dokter itu menjelaskan kondisi keduanya."


"Terimakasih Dokter," sahut keduanya lagi bersamaan.


"Oh ya, keduanya saat ini sedang beristirahat. Setelah mereka berdua sadar, Kalian dapat membawanya pulang. Untuk obatnya, suster akan memberikan kepada Anda agar dapat menebus di apotik Rumah Sakit." Sebelum berlalu Dokter mengingatkan dengan tersenyum.


Sepeninggal Dokter, Erlan dan Barra adu tatap. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. David yang berada ditengah-tengah pria tampan ini, mengusap kuduknya, merasa perubahan atmosfer di ruangan itu tiba-tiba.


"Apa dia bilang? Calon suami Qiandra? Apa dia bercanda? Aku harus mencari tahu." Erlan bergumam dalam hatinya.


"Kenapa dia memandangiku seperti itu? mengaku-ngaku keluarga korban, apakah dia mencintai Andin, atau Qiandra? Jangan harap aku akan mengalah, Qiandra sejak awal adalah milikku, what? Milikku? perasaan apa ini, kenapa Aku seperti tidak mengenal diriku jika menyangkut Qiandra, Aaarrrgghhh," teriak Barra dari dalam hatinya.


"Ekhmmm, Maaf Tuan, ....." Baru saja David ingin membuka pembicaraan, mencoba mencairkan suasana. keduanya lagi-lagi secara bersama melontarkan kalimat.


"Mari Kita bicara," ujar keduanya yang berhasil membuat David mencelos.


.


.


.


***To Be Continue***


.


.


.


Jangan bilang dikit ya,, itu kemampuan Author😂😂


Maafkan Aku yang sok sibuk, tapi kenyataannya manajemen waktu Aku buruk banget,, Jadi kelihatan Sok sibuk padahal emang Sok aja 🤭🤧🤧🤧


Jangan lupa like dan Komen ya!


Apalagi Vote, boleh dong.


See You Soon