My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.12 : Keluarga



Mama Renata membawa putri kecilnya ke rumah, Ia melihat mata Qiandra sembab sekali. Dia masih terisak di pelukan Mama Renata. Usianya sudah 23 tahun, tetapi Mama Renata merasa seperti melihat gadis usia 12 tahunan. Di tengah perjalanan, Isak tangisnya mulai melemah, matanya terpejam. Mama Renata pun berpikir mungkin Qiandra kelelahan. Mama hanya membiarkannya tertidur, sambil menatap lekat-lekat matanya, yang mengingatkan Mama pada Zasqia.


"Zas, Aku berjanji akan menjaga dan merawat Qiandra seperti anakku sendiri," bisik Mama dalam hati.


Mama membawanya pulang ke kediaman keluarga Gunawan. Tak lupa Mama mengabarkan Suami dan anak sulungnya tentang Qiandra. Mama tersenyum sepanjang perjalanan pulang, namun bulir bening tetap menggenang di pelupuk matanya.


Mama terus mengusap pundak Qiandra, membelai pipinya. Wajahnya ketika tertidur lucu dan imut sekali, namun tak mengurangi kecantikannya.


"Meski tak bermake up, Putriku tetap cantik, persis Bundamu Nak," gumam Mama Renata.


Mobil Mercedes Benz itu pun memasuki gerbang kediaman keluarga Gunawan. Seorang penjaga langsung membuka Gerbang, mobil pun melaju sampai ke depan rumah.


"Qia, bangunlah, Kita sudah sampai di rumah." Mama Renata menggerakkan bahu Qiandra ketika Rey membukakan pintu mobil belakang. Ia tak kunjung membuka matanya. "Tidurmu nyenyak sekali sayang," ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Rey, bisakah Kau menggendong Qia masuk ke dalam? Mama sudah bangunkan, tapi Dia tidak bangun juga. Tidak tega membangunkannya. sepertinya Dia lelah," ujar Mama pada Rey yang merupakan anak dari orang kepercayaan suaminya. Dia menggantikan Ayahnya sejak lima tahun yang lalu.


"Baik, Nyonya," sahut Rey dan langsung menggendong Qiandra, membawanya ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Asisten Rumah Tangga ketika mereka di perjalanan.


Rey membaringkan Qiandra perlahan. Rey sekilas memegang pergelangan tangan Qiandra.


"Nyonya, Anda yakin dia sedang tidur? Sepertinya Nona Qiandra sedang tidak sadarkan diri."


Deg...Deg...Deg


"B-bagaimana Kamu bisa mengatakan itu Rey?"


Mama tersentak mendengar pernyataan Rey. Raut kecemasan mulai tampak di wajahnya.


"Denyut nadinya agak lemah, dan tubuhnya terkulai lemas. Orang yang tertidur akan terbangun jika mendapat rangsangan fisik maupun verbal. Bagaimana mungkin seorang gadis dewasa seperti Nona Qiandra tidak kian terbangun ketika diangkat," jelas Rey kepada Mama Renata.


"Saya akan menelfon Dokter Alvin sekarang," sambung Rey lagi kemudian berlalu dari hadapan Mama Renata.


"Sayang, bangunlah, jangan membuat Mama takut." Mama memukul pelan pipi Qiandra, dan menggoyangkan tubuhnya perlahan. Qiandra tetap tak bergerak.


Rey kembali masuk ke dalam kamar bersama Bik Darni, salah seorang asisten rumah tangga di rumah itu. Bik Darni membawa nampan berisi air putih hangat dan minyak angin. Mama Renata mengoles sedikit minyak angin ke hidung Qiandra. Tak lupa Mama membuka kancing atas kemeja yang dikenakannya.


Perlahan, Qiandra menemukan kesadarannya. Ia mengerjapkan matanya lemah.


***


Pagi ini, suasana di kediaman keluarga Gunawan tampak sibuk seperti biasanya. Masing-masing Asisten Rumah tangga sedang mengerjakan pekerjaannya. Di dalam kamar utama, Mama sedang memasang dasi Papa seperti biasa. Setelah itu mereka beranjak keluar menuju ruang makan.


Sudah tiga hari Qiandra berada di sini. Sejak kejadian dia pingsan kemarin, akibat tekanan darah rendah dan kekurangan cairan menurut Dokter Alvin. Ia juga menyarankan agar Qiandra tidak terlalu stress karena dapat memicu berbagai penyakit.


Selama Ia berada di sini, Mama Renata selalu menyuruhnya istirahat. Makan pagi, siang dan malam selalu diantar ke kamar. Qiandra juga dilarang mengerjakan pekerjaan atau sekedar membantu. Mama Renata begitu mengkhawatirkannya.


Sementara Barra, tinggal di apartemennya sendiri. Setiap akhir pekan dia akan kembali ke rumah. Dia juga belum mengetahui keberadaan Qiandra di rumah mewah nya itu. Mereka pun belum pernah bertemu sejak kejadian di cafe saat itu.


Kini Qiandra sudah rapi dengan menggunakan dress navy selutut berlengan pendek, dengan belt ditengahnya. Ia memutuskan untuk keluar hari ini. Mama Renata memang masih melarangnya beraktivitas, namun Ia merasa tubuhnya sudah baik-baik saja.


"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Qiandra yang menarik kursi untuk ia duduki di sebelah Mama Renata.


"Selamat pagi Qia," sahut Papa.


"Qiandra, kenapa kamu kemari? Bukankah Mama sudah bilang Kau harus istirahat."


Qiandra tersenyum hangat mendengar cuitan Mama Renata. "Ma, Qia sudah sembuh. Qia Sudah tidak apa-apa. Justru Qia akan sakit jika selalu berbaring terus,"


"Iya Ma, Qiandra benar. Tapi Qiandra, Kamu harus ingat untuk tidak melakukan aktivitas berat ya"


"Oke, Pa." Qiandra mengacungkan jempolnya.


Mereka pun melanjutkan sarapan pagi itu dengan tenang, sesekali Papa terdengar melempar candaan yang mampu menciptakan tawa kecil dari Mama dan Qiandra.


"Ma, Pa, Qiandra mau ngomong sesuatu," ucap Qiandra yang sudah selesai menyantap sarapannya.


"Bicaralah sayang, kami mendengarkanmu," sahut Papa seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Sebelumnya Qiandra mau ngucapin terimakasih, sama Mama sama Papa. Kalau nggak ada Kalian, Qia enggak tau nasib Qiandra sekarang gimana."


Mama menatap haru Qiandra. Ia pun mengambil tangan Qiandra lalu mengusapnya.


"Jangan berkata seperti itu sayang, Mama berhutang banyak pada Bunda Mu. Mama dan Papa, tidak pernah menganggap Qia orang lain.


"Qia tahu Ma, Pa. Meskipun baru tiga hari di sini, Qia sangat senang bisa merasakan kasih sayang Mama dan Papa....,"


Qia menatap pasangan suami istri itu bergantian, Netranya kembali menghangat.


"Tapi Qiandra tidak mau merepotkan Mama dan Papa terus. Izinkan Qiandra mencari pekerjaan Ma, Pa. Qia sudah menyiapkan untuk mengirim beberapa lamaran ke Perusahaan Ma, Pa,"


"Bekerja?" tanya Mama memastikan.


"Ekhheeem. Baiklah jika itu sudah keputusan Mu. Papa dan Mama akan mendukung apapun keputusan Mu. Kamu yang semangat ya!"


Mama seketika mengernyitkan dahinya dan matanya menatap tajam pada Papa, meminta penjelasan. Papa yang mengerti pun langsung mengangguk dan mengedipkan matanya, seolah olah berbicara "it's okay Ma."


Papa pun segera berangkat bekerja yang diiringi oleh Mama hingga ke depan pintu. Qiandra membantu membereskan meja makan bersama asisten yang lainnya. Mereka sudah berulang kali memintanya untuk duduk saja, namun Si cantik yang keras kepala itu tetap saja ngeyel dan ikut membantu.


Qiandra kembali ke kamar, mengecek lamaran yang sudah ia siapkan tadi malam. Ada lima list perusahaan yang menjadi targetnya kali ini. Lalu dia mengambil Tas selempang yang biasa ia kenakan.


Ketika memastikan dompetnya, Ia baru sadar bahwa hp nya sudah lama selama tiga hari ini dalam keadaan non aktif. Qiandra sontak saja mengaktifkan ponselnya, namun sepertinya Ponselnya kehabisan daya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan ponselnya di kamar karena sedang di recharging.


Mobil BMW 6 series nampak keluar dari pintu gerbang kediaman keluarga Gunawan. Ya, Qiandra sudah menolak untuk tidak diantar, Ia berniat untuk naik angkutan online. Namun, bukan Mama Renata namanya jika Ia tidak bisa memaksa Qiandra. Di sinilah kini Ia berada, di dalam mobil mewah milik Mama yang terus melaju membawanya semakin jauh dari Rumah Mewah itu.


.


.


***


.


.


Seorang wanita baru saja selesai menyuci peralatan makannya. Ia mengelap tangannya, lalu bergegas menuju ke arah tempat vacum cleaner berada. Ia berniat membersihkan ruangan di apartemen itu, namun suara seseorang memasukkan pin smartlock pintu masuk, terdengar olehnya. Ia pun mengurungkan niatnya dan melihat siapa yg datang.


Namun, betapa terkejutnya Dia, mendapati laki-laki yang beberapa hari yang lalu resmi menjadi suaminya itu, pulang bersama perempuan lain dalam keadaan mabuk.


" Kak Zidane! Apa-apaan kamu? Apa yang Kau lakukan?"


"Huh, Kau lagi, kau lagi,,hheh. Mari sayang kita masuk , jangan hiraukan nenek sihir ini," sarkas laki-laki yang menepis tubuh Arlie ke samping lalu memeluk wanitanya itu masuk ke apartemen mereka.


Dengan dada yang sesak dengan amarah, Arlie langsung menarik lengan wanita yang bepakaian seperti kekurangan bahan itu dan menyeretnya keluar. Seketika, Ia mendorong wanita itu lalu menutup pintu apartemen itu sambil berteriak, "Enyahlah dari sini!"


Pintu menutup sempurna. Wajah Arlie sudah memerah, menahan amarah yang berkecamuk di dada. Nafasnya sedikit memburu, berusaha mengendalikan perasaan yang membuncah. Tatapannya beralih pada laki-laki yang saat ini memberikannya tatapan jengah sekaligus mengerikan.


Arlie memundurkan langkahnya, ketika Zidane melangkah mendekat perlahan hingga tubuhnya menghimpit pintu. Zidane menyeringai, dalam keadaan setengah sadar. Ia langsung menarik rambut Arlie hingga kepala wanita yang sedang hamil muda itu mendongak ke atas.


"Dasar wanita S*alan. Berani Kau mengusik kesenanganku, huh!"


Mendapat perlakuan kasar dan hardikan dari suaminya itu, tubuh Arlie bergetar. Netranya mulai nanar.


"Kak Zidane, Aku istrimu. Lepaskan, Kau menyakitiku,, hiks, lepaskan Aku, Ku mohon Kak, hiks... hiks... ," isaknya sambil memohon.


Zidane yang kesadarannya masih di bawah pengaruh alkohol itupun, seketika mendorong kuat tubuh Arlie hingga terjatuh ke lantai. Arlie berusaha melindungi perutnya saat terjatuh, namun naas kepalanya terluka dan berdarah membentur lantai.


"Istri? Ppfffftttt, Kau bercanda? Ahhaahah." Zidane tertawa lalu berjalan ke arah sofa. Ia menghempaskan tubuhnya pada Sofa empuk itu, memandang puas pada wanita yang sedang merintih kesakitan itu.


"Kau benar, Aku hampir lupa, Aku baru saja menikahi wanita bodoh itu, Ppppfffttt."


"Bagaimana mungkin Dia percaya Aku mencintainya, ahahaha... Kalau bukan karena ingin memanfaatkannya, Aku takkan mendekatinya. Dasar wanita bodoh!"


Deg


Serasa ditampar keras, Arlie mencoba mencerna perkataan Ayah dari anak dalam kandungannya itu. Ia merangkak dan meraih sofa bulat yang berada tak jauh dari suaminya.


"Mm-meman-faatkan?" Arlie bergumam lirih, namun masih terdengar oleh Zidane yang matanya sudah mulai menutup.


"Ya, wanita itu terlalu mudah di bodohi. Arlie, Arlie, Kau wanita malang. Terimakasih sudah membantu membalaskan dendam ku pada Qiandra Andalusia ,hahahahahhaah"


Deg


Lagi-lagi, pernyataan suaminya membuatnya terkejut. Tiba-tiba hatinya terasa sakit, seperti mendapat hujaman ribuan jarum. Sahabatnya itu, apa yang telah Zidane lakukan pada sahabatnya itu? Bulir kristal kembali mengalir di kedua pipinya, namun sekuat mungkin menahan agar tak terisak. Ia sungguh ingin tahu, apa saja yang telah suaminya lakukan pada sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


*****ToBeContinue***


Happy Reading**