My Bossy Husband

My Bossy Husband
62. Terkejut



Zidane yang baru saja memperoleh kesadarannya itu pun sangat terkejut. Ia mencoba bangkit meski dengan susah payah. Papa Andre pun sangat terkejut mendengar pernyataan istrinya itu. Diana memalingkan wajahnya ke Renata lagi.


"Mengetahui kehamilanku, penyakit jantung Ayahku kumat hingga ia meninggal. Sejak saat itu, hidupku dan keluarga ku seperti di neraka, Kau tahu?" Diana berteriak frustasi, bayangan masa lalu membayang dalam ingatannya.


"J-jadi Kau berbohong perihal Ayahku?" Zidane yang wajahnya babak belur sudah terduduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


Diana melirik sekilas pada Zidane, memandang penuh rasa jijik dan kebencian. "Apa Aku harus mengatakan bahwa Ayahmu seorang bajingan, sama sepertimu yang menghamili seorang wanita?" teriak Diana penuh amarah.


"Setidaknya Kau berkata jujur, Ma." Suara Zidane melemah, rasa sakit di sekujur tubuhnya ditambah perasaannya yang hancur mendengar penuturan Mamanya.


"Kamu salah Di, bukan Zasqia yang seharusnya dibenci tapi Aku. Aku yang pengecut ini, Hiks hiks hiks, Maafkan Aku Di, maaf hiks hiks hiks!" Mama Renata tidak sanggup menahan Isak tangisnya. Ia sungguh merasa bersalah atas semua yang terjadi selama ini.


Diana mengernyitkan dahinya, mencerna kata-kata Renata.


"Aku yang bersalah Di, bukan Zasqia. Sejak awal Aku sangat menyukai Kak Andra, dan ketika tau kedua orang tua kami akan menjodohkan Aku dengannya, Aku sangat senang sekali. Namun, setelah melihat dengan mata kepala ku sendiri kak Andra menyatakan cinta pada Zasqia, Aku sangat marah dan membencinya, hiks hiks hiks... "


"Maksudmu, dalang di balik kejadian saat ujian itu... " Diana tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya melihat Renata dengan tatapan tak percaya, satu tangan menutup mulutnya yang menganga.


Mama Renata mengangguk cepat. "Aku berpikir pendek untuk membalas dendam sakit hatiku. Aku meletakkan contekan itu di mejanya, agar Aku bisa menjebaknya. Namun sebelum Aku melaporkan pada pengawas, Kalian sudah bertukar posisi terlebih dahulu, huahuahua, hiks hiks hiks, huaaaaa..."


Jerit isakan Mama Renata semakin panjang, Ia tidak kuasa mengatakan kesalahannya di masa lalu yang mengakibatkan kesalahpahaman yang berkepanjangan.


"Mama... ," ucap Qiandra lirih sembari melepaskan dirinya dari dekapan Barra perlahan. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan Mama Renata. Qiandra berjalan beberapa langkah, menghampiri Mama Renata namun Ia tidak sanggup melangkahkan kakinya mendekat.


Begitupun Mama Diana, yang langsung terduduk setelah mendengar semuanya.


"Jadi selama ini, Aku telah salah terhadap Zasqia, hiks hiks hiks... Ahahahahaha, tidak, tidak. Zasqia tetaplah bersalah, Dia adalah penyebab ini semua, Aaarrggghhh!" Diana menjerit histeris dan tidak terkontrol. Papa Gunawan segera memerintahkan polisi untuk mengamankan Diana.


Empat orang polisi bergerak setelah mendapat perintah dari atasan mereka. Diana semakin menggila melihat polisi dengan membawa borgol di tangan salah satunya.


"Tidak, Aku harus membalaskan dendam ku!" teriaknya dalam hati sambil menggeram keras dan menjambaki rambutnya.


Ketika keempat polisi itu sudah mendekat, dengan sigap dan cepat Diana menyambar salah satu senjata yang bertengger di pinggang salah seorang dari anggota pasukan itu.


"Mama, awasss!!" teriak Qiandra di susul dengan bunyi letusan senjata dari arah Diana.


Dor... Dor...


"Qiandraaaaaa!" teriak Barra yang berlari menyusul sang Istri. Di susul teriakan yang sama oleh yang lainnya.


Diana segera dilumpuhkan oleh para polisi, kedua tangannya langsung diborgol ke belakang dan dibawa keluar.


Sementara Qiandra, saat ini berada dalam pangkuan Barra yang sudah menangis. Mama dan yang lainnya segera mendekat. Dua tembaga panas itu menembus perut dan bahu kirinya.


"Qiandraaa ahk ahk ahk, hiks hiks, ma-af, maaf kan Ma-ma sayang!" isakan pilu Mama Renata menggenggam erat tangan Qiandra yang sudah dingin.


Qiandra merasakan kepalanya sangat pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang. Wajah-wajah dihadapannya mulai kabur. Bias cahaya yang dilihatnya juag semakin redup. Lalu, tinggalah gelap, dan teriakan orang-orang di sekitar yang makin lama makin terdengar menjauh.


...✳️✳️✳️...


Suasana rumah sakit sedikit riuh sebab salah satu pasien gawat darurat dikabarkan akan segera tiba. Beberapa perawat dan seorang dokter sudah bersiap di depan pintu masuk rumah sakit dengan satu buah brankar stretcher di tengah-tengah mereka.


Sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di pintu masuk. Secepat kilat, seorang pria yang duduk di kursi pengemudi keluar dan berputar ke pintu belakang untuk membuka pintu. Seorang pria tampan lainnya menggendong seorang wanita yang tubuhnya di penuhi luka dan juga darah.


Pria itu segera meletakkan tubuh wanita itu di brankar yang kemudian langsung di dorong oleh beberapa orang perawat dan seorang dokter. Pria itu lantas mengikuti seraya tak melepas genggaman tangannya.


"Sayang, Aku mohon sadarlah. Jangan tinggalkan Aku, please." Untaian kata itu terus dilantunkan oleh si Pria yang kemeja dan jasnya juga sudah dipenuhi bercak darah.


Suara pintu kaca yang tertutup terdengar nyaring, bersamaan dengan tubuh si Pria yang jatuh terduduk di lantai sambil terisak. Ya, lelaki itu adalah Barra. David yang datang bersama Barra menghampiri Bos sekaligus sahabatnya itu, dan menuntunnya ke kursi tunggu.


David menepuk-nepuk pundak Barra, memberi kekuatan. "Qiandra wanita kuat, Bar. Aku yakin Dia akan bertahan. Kita hanya bisa berdia seraya menunggu kondisi Qiandra sekarang."


Barra mengusap wajahnya kasar lalu menghapus air matanya. Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Mama Renata, Papa Gunawan dan Papa Andre tiba. Sementara Erlan masih membantu Zidane yang juga mendapat perawatan di Rumah sakit ini.


Semuanya hanya diam dan mengambil posisi duduk masing-masing setelah melihat Barra yang hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, serta siku yang bertumpu pada kedua pahanya. Isakan kecil Mama Renata yang berada dalam dekapan Papa, masih terdengar sesekali.


Pintu kaca terlihat terbuka, seorang perawat keluar dari pintu. Semua mata langsung tertuju pada perawat itu. Barra dan Mama Renata refleks berdiri lalu menghampiri Sang perawat.


"Bagaimana kondisi Istri saya, Suster?" tanya Barra bersamaan dengan Mama Renata yang menanyakan kabar Qiandra.


."Maaf Pak, apa Bapak suami pasien?" tanya perawat itu balik tanpa menjawab pertanyaan Barra.


"Iya, Saya suaminya, Sus!" Barra tegas menjawab.


"Pak, maaf kondisi Ibu dan janinnya masih dalam bahaya. Ibu banyak kehilangan darah. Saat ini perlu 3 kantong darah dengan golongan AB+ untuk dapat dilakukan tindakan pengeluaran peluru dari tubuhnya. Sedangkan persediaan di rumah sakit hanya 2 saja Pak. Apa ada dari keluarga Bapak atau Ibu yang memiliki golongan darah yang sama, Pak?" Perawat itu menjawab dengan sedikit gugup.


Barra terdiam, ia tidak menjawab. Ia masih terkejut dan belum percaya dengan kata-kata yang di dengarnya. "Janin?" tanyanya lagi dalam hati.


"Pak?" tanya perawat itu kembali tidak mendapat respon.


Mama Renata menyentuh pundak Barra, seketika Barra melihat ke arah Mama Renata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Saya Sus, golongan darah AB+. Silakan ambil darah saya sebanyak-banyaknya." Papa Andre tiba-tiba berdiri dan menjawab pertanyaan perawat yang diajukan pada Barra tadi.


"Baik Pak, mari ikuti Saya terlebih dahulu." Perawat itu mempersilakan Papa Andre untuk mengikutinya ke ruangan donor.


"Barra, Kamu jangan khawatir. Kita sudah mendapatkan donor darah buat Qiandra." Mama berucap lirih seraya menyentuh lengan Barra. Sentuhan itu membuat Ia tersadar dari lamunannya, lalu Barra bergegas menghampiri perawat yang sudah berlalu dari hadapannya.


"Tunggu, Suster!" Berlari dengan tergesa-gesa. "Apa maksud Anda dengan kondisi Istri Saya dan janinnya? Apa Istri Saya hamil?" tanya Barra lagi.


"Iya Pak, Saat ini Ibu sedang mengandung dan usia kandungannya antara tiga sampai empat Minggu." Jawab perawat itu sambil tersenyum lalu berlalu dari hadapan Barra.


"......"


.


.


TBC


.


.


Happy Reading.


Makasi ya buat para Readers semuaaaaa atas dukungannya. Jangan lupa klik like dan koment juga yah.


Buat yang nanya visual, Author sampe sekarang bingung mau pake visual siapa🤭🤭 Kalian bebas bayangin Seperti apa Qiandra dan Barra ya. Ntar kalau ketemu yang cocok Aku kasi tau ya🤭🤗🤗


"