
...WELCOME BACK...
Pagi hari...
"Cha gimana , kamu udah mikirin yang aku bilang semalam" .
Sekitar jam 12 malam telfon Icha berbunyi , saat itu Icha sudah tidur yang mengangkat adalah Sisil . Setelah tahu siapa yang menelfon , dia membangunkan Icha , meski Icha gak mau bangun semalam tapi harus bangun karena yang menelfon mengatakan akan memberi Icha pekerjaan . Setelah beberapa saat dia mengobrol dengan orang itu akhirnya dia sadar itu adalah cowok yang memakinya tadi siang . Ingin nolak tapi ini peluang , Icha di landa kegundahan semalam .
"Gak tahu lah Sil " sahutnya malas .
Dia baru bangun tidur , di tambah mengingat perkataan lelaki dengan nada songong menelfonnya malam tadi membuatnya gak bersemangat untuk bangun . Hoammm.. ia menguap dan meregangkan tubuhnya .
"Dasar kamu " Sisil mendekatinya . "Katanya mau kerja giliran di kasih kerjaan kamu gak mau ..." dia menyentil dahi Icha .
"Akh...." Icha terpekik , "Jujur ya Sil dia ganteng , aku juga butuh kerjaan tapi kalau ingat semalam dia memaki aku rasanya males banget ketemu dia lagi" dia merebahkan tubuhnya .
Sisil hanya menghela nafas kemudian pergi setelah berpamitan dengan Icha . Ya seperti biasa meski dia sedang kesal dengan dimas gara-gara semalam , tapi dia tipe orang yang bertanggung jawab jadi dia tetap bekerja . Lebih tepatnya karena dia takut di pecat dan jadi pengangguran .
"Apa aku pergi aja ya , siapa tau beneran di kasih kerjaan …" dia kembali duduk .
("Kalau tiba-tiba dia cuman mau mempermainkan aku doang gimana , pas aku dateng kesana tapi gak dapet kerjaan gimana …") batinnya kembali terbaring .
"Aaaaaaaa.... aku pusing " dia berteriak .
Ting
Dengan cepat Icha meraih ponsel di nakas , ternyata pesan dari orang yang sedang dia pikirkan . Dilemparnya ponsel itu dengan kesal . Lalu di ambil lagi .
“Datang sekarang gak ada penolakan” isi pesan yang ia terima .
"Apa-apaan ini , kenapa dia seenaknya memerintah"
Ting . Sekali lagi pesan dari orang yang sama . “Aku sudah menyuruh Tina menjemputmu” isi pesannya setelah Icha baca .
"Cih ... aku gak mau ketemu dia" Icha bersembunyi di bawah selimut .
Beberapa menit kemudian bel rumah berbunyi .
Kriiingg..
"Sebentar..." teriak Icha keluar dari kamar .
Klek . Dia membuka pintu . "Kamu , ngapain kamu kesini , dari mana kamu tau aku tinggal disini .." Icha mencelinguk keluar rumah setelah melihat Tina yang membunyikan bel .
"Nona mencari bos Vian dia gak ikut , dan untuk kenapa saya tahu alamat nona itu karena CV anda " Tina menjelaskan .
"Aaaaaaaaaaaa..... kamu pergilah , aku gak akan ikut kamu , dan bilang ke bos kamu aku gak butuh kerjaan sekarang"
Icha hendak menutup pintu , tapi tangan Tina menghalanginya , dia kemudian membungkuk di depan Icha memohon untuk ikut dengannya karena Arvian mengancam akan memecatnya jika tidak bisa meyakinkan Icha untuk datang . Icha merasa sedikit bersalah kepada wanita itu dia kemudian setuju untuk ikut .
***
"Bos , kenapa anda tiba-tiba ingin mempekerjakan gadis itu " tanya David yang penasaran . Sedari tadi Arvian terus memandangi foto Icha lewat komputernya . Karena keterangan CV Icha masih di arsipkan tanpa sengaja oleh pria gengsian ini .
"Gak papa , kamu boleh pergi David" kata dia dengan cepat menutup laptopnya .
David sudah pergi .
("Sebenarnya apa yang spesial dari gadis itu sampai nenek semalam memujinya di depanku") . Mengingat semalam setelah nenek Nirmala dan Nyonya Crolleta berbicara , dia bukan langsung tidur tapi mendatangi Arvian . Nenek mengatakan padanya apa dia suka gadis yang giat bekerja apa gak . Arvian tidak menjawab karena dia bingung harus berkata apa , sampai saat ini dia gak pernah memikirkan sesosok wanita pun apa lagi membayangkan wanita seperti apa yang akan ia sukai . Arvian teringat tentang gadis yang berbicara dengan neneknya kemarin malam yang setelah kepergian gadis itu nenek nampak tersenyum bahagia . Jadi dia menanyakannya . Nenek itu menjawab namanya Icha saat pertama mendengar nama itu Arvian biasa saja tapi setelah lama nenek berbicara akhirnya dia mengerti dari ciri-ciri yang di sebutkan neneknya dia sadar Icha yang di maksud adalah Felicha Kimberly .
Wanita yang sedang dia tunggu kehadirannya saat ini .
Pintu ruangan di ketuk seseorang yang tak lain adalah Tina , "bos saya sudah membawa dia kemari" katanya sebelum pergi setelah meminta Icha masuk .
"Duduklah" sahutnya .
"Katakan kenapa mengancamnya seperti itu , apa kau pikir aku akan menurutinya hanya karena kamu bersikeras untuk memecatnya jika aku gak datang kesini..."
"Buktinya kamu datang itu berarti aku berhasil"
Icha berdecak dengan tangan sudah berlipat di dada .
"Aku .. Nenek ingin bertemu kamu"
Icha terbatuk-batuk , " Sebentar , tuan Arvian J.F Cole apa hubungannya nenek anda dengan saya , kan kamu cucunya kenapa dia malah ingin menemui ku" dia terpanjat hingga berdiri .
("Gimana cara ngomongnya")
"Intinya kamu ikut aku menemui nenek nanti kamu aku kasih kerjaan"
"Gak"
"Gajinya 2x lipat"
("Dua kali lipat ..") memikirkan. "Kamu beneran ngasih kerjaan dengan gaji dua kali lipat , tapi kerja apa?" .
"Jadi karyawan disini tapi dengan gaji 2x lipat" .
Mata Icha berbinar mendengarnya , bukan hanya dapat pekerjaan tapi juga gajih berlipat ganda , itu terlalu menarik minatnya untuk bekerja disini . Tapi maksud dari bertemu nenek yang di katakan Arvian dia masih gak ngerti . "Tadi kamu bilang bertemu nenek , itu maksud kamu gimana.. apa termasuk syarat atau apa ..." dia kembali waspada .
"Nanti kamu akan tahu" sudut bibirnya terangkat .
Dia kemudian berdiri , meminta David menyelesaikan semua data yang ada di atas mejanya . Dia menarik tangan Icha keluar dari sana dan masuk kedalam lift khusus presdir agar tidak mencolok . Icha lupa dengan kekesalannya tadi mengingat gajih yang si tawarkan Vian benar-benar menggiurkan .
"Kita mau kemana" tanya dia yang sudah satu mobil dengan Arvian yang menyetir sendiri .
"Kamu cukup diam jangan membantah"
"Tap..."
"Aku gak ngobrol saat nyetir" dia membungkam Icha .
Perjalanan mereka berakhir di sebuah mall . "Mau ngapain kita kesini" Icha belum turun dari mobil , tapi sudah menatap keluar jendela .
"Apa kau mau bertemu nenekku dengan pakaian itu , celana jeans koyak seperti kurang bahan , baju kaos dengan kemeja . Apa kamu pikir nenek akan suka " sindirnya melihat pakaian yang di kenakan Icha .
"Hey tuan , sadar gak sih yang mau ketemu siapa kenapa harus aku yang memerhatikan cara berpakaian ku ini sudah jadi kebiasaan ku gak bisa di ubah" balas dia duduk di mobil dan gak mau keluar .
"Keluar " Arvian membuka pintu mobil dengan sabar meski emosinya sudah hampir di puncak .
Icha masih tetap pada pendiriannya dia akan tetap di dalam mobil sambil memalingkan wajahnya kearah lain . Tanpa pikir panjang lagi Arvian yang gak ada mood untuk berdebat itu menggendonnya keluar dari dalam mobil dan di bawa masuk kedalam dengan posisinya di gendong Arvian . Icha berteriak minta di turunkan karena mereka sudah jadi tontonan orang banyak meski dia gak tahu malu tapi jika di lihatin dengan cara begini juga akan malu ungkapnya dalam hati .
***
DON'T FORGET TO
✓Like
✓Komen
✓Vote
✓Favorit
...SEE YOU NEXT EPISODE ...