My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.15 : Dismenore??



Rumah keluarga Gunawan


Qiandra tengah meringkuk di ranjang empuk miliknya selama ia tinggal di sini. Ia merasakan kram pada perutnya sejak diperjalanan pulang dari pemakaman tadi pagi. Ya, tadi pagi Ia dan Mama Renata pergi mengunjungi kedua orang tuanya.


Ia mulai menghitung siklus tamu bulanannya. Ternyata memang sudah jadwalnya. Hari sudah semakin sore. Suasana di luar masih hujan meski sudah tidak terlalu lebat.


Sedangkan Mama Renata bertolak ke klinik kecantikannya setelah makan siang tadi. Sudah menjadi rutinitas, Setiap hari Jumat di akhir bulan maka akan ada pertemuan bersama kepala cabang Renata Skin & Beauty Center yang tersebar di sepuluh kota besar.


Qiandra mengingat, Dia tidak memiliki persediaan pembalut untuk dipakainya. "Mumpung baru dapet, mending beli bentar deh ke depan," batinnya.


Qia pun beranjak meninggalkan kasur empuknya itu sendirian. Ketika ia berjalan ke arah kamar mandi, Ia melihat ponselnya yang kemarin sudah Ia churger dan belum Ia aktifkan. Ia pun tergerak mengambilnya di atas nakas, lalu mengaktifkannya.


Qiandra merenggangkan tubuhnya, mencoba mengurangi rasa nyeri perut bagian bawah, juga pinggangnya. Suara pesan beruntun masuk, banyak juga, hmmmm..


Qiandra membuka pesan


Kak Erlan :


Are you okay?


Qiandra?


Kamu di mana Qia? Kenapa ponsel mu tidak Aktif?


Qia, Di mana kamu tinggal sekarang??


Kenapa masih belum membalas pesan Kakak??


Qia, please balas pesan Kakak jika Kau membacanya!


"Hmmm, Aku tidak menyangka, Kak Erlan sekhawatir ini padaku," ucapnya pelan sambil tersenyum malu membaca pesan dari Erlan.


Baru saja Qia ingin lanjut baca pesannya, Ponselnya berdering.


Oh baby


Won't you look into my eyes and see


Beyond the things I'm not, there's love inside of me


Just love me for all things I am, love me


The lighter side, the darkest side


Try to love me for everything I am


"Kak Erlan," gumamnya dalam hati. Qia tertegun lama menatap nama yang muncul di layar ponselnya hingga panggilan tersebut terputus. Namun tak lama, ponsel itu berdering untuk kedua kalinya. Qiandra menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan.


Qiandra : "Ha-halo, Assalamualaikum."


Erlan : "Qiandra? Qia, kamu di mana, Kakak sudah mencari mu di mana-mana namun Kakak tidak menemukanmu Katakan sekarang Kau di mana?"


Qiandra: 'Kk-kak Erlan, untuk apa Kakak mencari Qia? dan Bagaimana Kakak tau Qiandra tidak di rumah?"


Erlan : "emmmm, itu... Karena Kakak butuh bantuan mu di Cafe. Setiap Kau tidak datang, kami selalu kewalahan."


Qiandra : "Maafkan Aku kak, sebenarnya Aku sudah pergi dari Rumah. lebih tepatnya di usir. Seseorang mencuri sertifikat rumah dan menjualnya pada orang lain. Tadinya aku tidak tau mau kemana, Tetapi Aku bertemu temannya Bunda, sekarang aku tinggal bersama mereka."


Erlan : "Ah, Syukurlah, Kakak sungguh minta maaf karena ...."


Qiandra : "Karena apa kak?"


Erlan : "oh itu karena... Emmmm, karena kejadian di cafe tempo hari membuatmu harus pergi dan tidak membela mu, iya!"


Qiandra : "Kak Erlan jangan minta maaf, itu bukan salah Kakak. Seharusnya Qia yang minta maaf, Qia telah menyebabkan pelanggan kita marah. Apakah Dia tidak mempermasalahkannya Kak?"


Erlan: "Tidak, tenanglah. Mana ada orang yang berani mengusik Kakak."


Qiandra : "Baiklah, Kak, nanti aku hubungi lagi ya. Aku ingin ke luar sebentar membeli sesuatu."


Erlan : "Hati-hati, selalu kabari Kakak jika Kau butuh sesuatu, oke! Oh ya, share lokasi kamu sekarang juga ya!"


Qiandra: "Baiklah, Aku akan mengirimkannya pada Kakak. Assalamualaikum."


Erlan : "Wa'alaikumsalam."


Qiandra mematikan panggilannya. Ia langsung mengirimkan lokasi tempat ia tinggal sekarang pada kak Erlan. Setelah itu, dia menscrool pesan ke bawah, terlihat beberapa pesan dari teman-temannya dan satu nomor tak dikenal.


"Assalamualaikum, Qia, ini aku Arlie. ini nomor Hape ku yang baru. Tolong jangan beritahu siapapun. Senin ini aku akan mulai bekerja di pelabuhan internasional. Kau jangan terkejut jika aku kembali membawa dollar yang banyak ya! Wassalamu'alaikum."


Qiandra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa senang sekaligus sedih mengingat sahabat nya itu. Namun bagaimanapun, selalu ada pelajaran dari setiap kejadian di kehidupan mereka, itu yang dipahami Qiandra.


Qiandra meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mengambil satu buah cardigan untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Dengan membawa dompet, Ia bergegas menuju dapur. Di sana sudah ada bik Darni dan seorang Asisten rumah tangga lainnya sedang menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Bik, Qiandra boleh pinjam payung?"


"Non Qia mau ke mana? Jangan main hujan-hujanan atuh Non, nanti sakit. Nyonya titip pesan sama Saya buat ngejagain Non Qia. Wajah Non kok pucat, Non teh, sakit?"


"Enggak Bik. Qia cuma mau beli beberapa pembalut aja kok. Di depan kan ada supermarket Bik."


"Di anterin sama pak Ujang aja Non, biar Bibi panggilkan. Sudah sore, hujan lagi Non."


"Gak usah Bik. Deket kok, jalan cuma lima ratus meter ke depan aja mesti dianterin."


"Tapi Non, ...,"


"Udah bik, Qia pakai payungnya ya! Dadah "


Qia pun begegas keluar rumah, membuka payungnya berjalan ke gerbang yang lumayan jauh. Pak Satpam yang berjaga pun sempat melarangnya pergi sendiri, namun akhirnya harus kalah dan terpaksa membuka gerbang.


***


Barra mengendarai mobil sport mewah miliknya dengan fokus. Sesekali ia bersenandung, membunuh kepenatannya. Kedua lengannya memegang erat steering mobil, sesekali telunjuknya mengetuk-ngetuk membentuk suatu irama. pun kepalanya yang ikut mengangguk-angguk sesuai nada.


Ia baru saja melewati lampu merah, dan akan berbelok memasuki area perumahan elite dimana orang tuanya tinggal. Sebelum memasuki gerbang perumahan itu, Ia menepikan mobilnya ke sebuah supermarket yang dimiliki perusahaan retail milik GM grup.


Setelah memarkirkan mobilnya, Barra mangayunkan langkah menuruni mobil sport mewahnya itu, lalu berlari kecil ke arah pintu masuk market karena hujan. Sebelum mencapai pintu, matanya menangkap seorang wanita tengah membungkuk, memegangi perutnya. Bungkusan belanjaan dan payung di tangannya terjatuh.


******


"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang si penjual rumah itu?" tanya Erlan yang kini sedang menatap ke jendela mobil.


"Maaf tuan, saya sudah berusaha namun hanya sedikit informasi yang saya temukan. Sepertinya orang itu memiliki seseorang dibelakangnya, Tuan," ucap Asisten pribadi Erlan yang kini sedang mengemudi Mobil.


"Berikan Aku informasinya nanti setelah tiba di apartemen. Dan jangan berhenti mencari tahu. Aku penasaran, apa motifnya menjual rumah Qiandra."


"Baik Tuan, Saya mengerti." Randa sedikit menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya, siapa kau sebenarnya? Mengapa Kau mengusik hidup Qiandra?" Erlan bergumam dalam hati, masih menatap dengan tatapan dingin ke arah jalanan yang memang sedang basah terkena hujan.


********


Qiandra merasakan nyeri kram di perut bagian bawahnya semakin menjadi-jadi, bahkan sejak menunggu antrian kasir tadi. Dia baru saja keluar dari supermarket itu. Sedikit merutuki keras kepalanya itu, Ia menyesal tidak mengikuti saran dari Bik Darni agar diantarkan oleh pak Ujang.


"Aduuuh,,, Bagaimana ini, haruskah aku memanggil taksi? Ah, mana mungkin ada taksi lewat di perumahan elite seperti ini." Qiandra lagi-lagi menggerutu dalam hatinya, sambil terus berjalan. Satu tangannya memegangi payung, satu tangannya lagi memegangi bungkusan belanjaan serta menyambi memegang perutnya yang nyeri.


"Aaahhh, ojek online, Aku yakin ada banyak ojek online di sekitar sini, Aaaduuuh." menemukan ide untuk pulang, namun rasa nyeri terus menghantam perut bagian bawahnya itu. Kakinya terasa lemas, Qiandra berdiri sesaat, menenangkan rasa nyeri perutnya.


Ia mundur ke teras market, meletakkan payungnya ke bawah, lalu berusaha mengambil ponselnya yang berada di dalam dompet. Sementara dompetnya Ia letakkan di dalam plastik daur ulang milik supermarket tempat ia membeli pembalut.


Buru-buru Ia meraih kaitan plastik itu, namun rasa nyeri itu kembali menyerang, kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Kakinya ikut kram, seiring pandangannya mengabur.


Qiandra membungkukkan badannya, bungkusan di tangannya terjatuh. Kedua lengannya memeluk perutnya yang merasakan nyeri hebat akibat siklus bulanannya itu. Seketika, Qiandra merasakan dirinya akan roboh, sebelum tangan kekar milik seorang pria menopangnya.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya suara berat milik pria itu. Qiandra hanya memejamkan matanya, rasa sakit itu bersemayam lama di perutnya. Belum pernah Ia merasakan Dismenore seperti ini.


"Nona, Nona, bangunlah!" Qiandra merasakan tubuhnya sedikit terguncang, Ia membuka matanya, sambil terus meremas perutnya, menahan nyeri.


"To-long, ru-mah i-bu Re-na-ta." Tangan Qiandra refleks menunjuk ke arah rumah yang Ia tinggali, dari sini masih tampak jelas gerbang rumahnya. Sebelum akhirnya Ia kehilangan kesadarannya.


Lelaki itu tersentak, melihat rumah yang ditunjukkan oleh wanita yang ditolongnya tadi. Ketika dia menoleh, wanita itu sudah tak sadarkan diri.


"Aaaarrrrgh,,, dasar menyusahkan saja," teriak Barra dalam hatinya. Jika tau begini, Ia takkan singgah di market ini. Barra berniat meninggalkannya, namun banyak orang yang sudah melihat mereka, dan berpikir mereka adalah sepasang suami istri.


"Mas, kok dibiarin aja istrinya udah pingsan gitu. Cepat bawa pulang atau kemana gitu!" Seru seorang pengunjung, yang diiringi anggukan pengunjung lain yang melihat.


Barra yang sudah terlanjur malu, kemudian langsung membawa Qiandra masuk ke mobilnya. Ibu yang berseru tadi juga ikut membantu membawakan payung dan belanjaan Qiandra ke dalam mobil.


Sungguh Barra terkejut saat ia memakaikan sabuk pengaman wanita itu, Ia menyampirkan rambut wanita itu ke belakang. Terpampang lah wajah wanita yang beberapa hari ini terus menghantuinya di mana pun Ia berada.


"Ceh, Kau lagi? Entah mengapa setiap kali berjumpa denganmu hidupku jadi rumit!" Menggelengkan kepalanya, lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.


*********


Mobil Barra memasuki halaman rumahnya, di susul sebuah mobil lain yang masuk tak lama berselang. Barra bergegas keluar mobil, sesaat bersitatap dengan dua orang yang sangat familiar keluar dari mobil di belakangnya.


"Barra!" sapa Mama Renata, yang ikut bingung melihat Barra memutari mobilnya, lalu membuka pintu sebelah kiri mobil. Mama dan Papa mengikuti Barra yang ingin mengeluarkan sesuatu.


"Qiandra? Ya Tuhan, Apa yang terjadi padamu Nak? Barra cepat bawa Qia ke dalam kamar tamu, cepat!"


Barra yang juga tak kalah bingung dari Mamanya, mengikuti perkataan wanita yang sudah melahirkannya itu. Mama segera memanggil dokter keluarga untuk segera datang.


Sesampainya di kamar tamu, Barra membaringkan Qiandra perlahan di ranjang. Ia memperhatikan sekeliling, kamar ini layaknya sering digunakan. Siapa yang menempati? "Apa wanita ini, Dia,,, dia??"


Barra ingin menanyakan banyak hal, namun Ia rasa saatnya belum tepat. Mama tampak sangat khawatir, begitupun Papa. Akhirnya Barra memutuskan untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju, apalagi tubuhnya sempat terkena hujan mesti sedikit.


**********


"Jadi bagaimana keadaan Qiandra, Al?"


Barra mendengar suara khawatir Mama yang menanyakan perihal kesehatan wanita itu. Ia pun mempercepat langkahnya menuju ruang keluarga.


"Qiandra tidak apa-apa. Dia hanya mengalami Dismenore biasa, seperti wanita umumnya."


"Jika memang hanya Dismenore biasa, kenapa dia sampai pingsan?"


"Itu bisa aja terjadi karena tekanan darah Qia masih rendah, meskipun sudah naik dari beberapa hari lalu. Yang penting, obat anti nyerinya di minum. Jika masih sakit, bisa mengompres dengan air hangat di bagian perut yang sakit. Minum teh jahe atau teh chamomile juga dapat mengurangi nyerinya."


"Dismenore?? beberapa hari yang lalu? Apa Qiandra selama ini tinggal di rumahku? Oh my God." Bisik Barra dalam hatinya yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.


.


.


.


.


.


.


*****ToBeContinue*****


**Hai,,, Aku MyNameIs, Seneng banget bisa kembali menyapa Readers semuanya. Thanks so much, untuk Readers yang selalu memberi dukungan. Banyak banget orang yang berada di belakang Aku, yang selalu membantu Aku berdiri ketika aku rasa²nya kayak mau oleng gitu loooo😂😂😂


Ini serius. Sekali lagi Makasiiiiihhhh yang sebesar-besarnya, untuk kalian semua. Sorry ya kalau updatenya terkesan suka², Akutuh belum terbiasa nulis. Jadi butuh waktu lama buat Aku untuk mengungkapkan gagasan Aku menjadi tulisan. Aku memang pemula, tapi Aku enggak pengen karyaku asal-asalan (Sok banget gueeee🤭🤭🤭)


Last,, I love all of you, to the moon and back......❤️❤️❤️❤️❤️**