My Bossy Husband

My Bossy Husband
Episode 49 : Dalang di balik Semua



Saat ini tepat pukul tujuh pagi, semua tamu dan keluarga besar yang menginap di hotel mendapatkan kabar buruk tentang hilangnya pengantin wanita. Tak satupun keluarga Inti masih tinggal di hotel. Mama Renata sangat terpukul ditambah kelelahan hingga harus mendapatkan perawatan medis.


Mama Renata menolak dibawa ke rumah sakit sehingga di rawat di kediaman keluarga Gunawan. Manda dan Mikhayla menjadi penghibur bagi Mama Renata yang terus menangisi Qiandra. Ia merasa tidak menjaga amanah dari sahabatnya, Zasqia. Padahal, saat ia menjenguk sahabatnya itu di tempat peristirahatan terakhirnya, itu adalah janjinya.


Papa dan Mas Adam ikut kembali ke rumah, untuk beristirahat terlebih dahulu. Sedangkan Barra, Erlan David dan Wilson melaporkan penculikan Qiandra di kantor kepolisian, dengan membawa sejumlah bukti rekaman cctv dari hotel.


Keempatnya baru saja keluar dari kantor polisi. Kini, mereka bertolak ke apartemen Erlan yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka saat ini. Mereka memutuskan untuk beristirahat, meskipun Barra sempat menolak.


Siapapun akan iba, melihat tampilannya kini. Wajah lesu dengan lingkaran mata yang nyaris menghitam karena belum istirahat sama sekali. Belum lagi luka di sudut bibirnya akibat pukulan Erlan tadi yang kini sudah mulai membengkak. Wajah yang biasanya terlihat cerah dan tampan itu, kini telah berubah seperti zombie. Ditambah lagi pakaian yang sudah acak-acakan dan berbau keringat. Bukan hanya Barra, David, Erlan dan Wilson juga berpenampilan serupa. Namun Erlan terlihat lebih fresh sebab sempat membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Keempatnya kini sudah duduk di sofa ruang tamu apartemen Erlan. Ketiganya langsung mengambil posisi ternyaman di sofa dan otomatis netra-netra yang sejak tadi menahan kantuk itu mulai terkatup rapat. Kecuali Barra yang sudah kehilangan rasa kantuknya sejak mengetahui hilangnya sang istri.


Tak lama Erlan datang dengan kompres ditangannya. Ia duduk di bagian arm panel sofa yang bersisian dengan Barra lalu menyerahkan kompres itu pada adik iparnya.


"Maaf," ucapnya seraya menyodorkan kompres beserta mangkuk kaca berisi es.


Barra hanya tersenyum miris, menatap pada benda yang disodorkan lawan bicaranya. "Maaf, Aku lalai menjaganya. Aku... " Ucapannya itu terputus sebab Erlan langsung menginterupsi.


"Sudahlah Bar, semua ini sudah takdir. Ada hikmah di sebalik peristiwa yang di ciptakan Allah. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Semoga Qiandra baik-baik saja dan bisa kita temukan secepatnya!" Meletakkan magkuk kaca berisi kompres dan es lalu menepuk-nepuk pundak Barra.


"Terimakasih Er... " Ditatapnya wajah tampan kakak iparnya tersebut. Orang yang telah menikahkan Qiandra dengan dirinya. Tiba-tiba Barra mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu.


"Oh ya Erlan, Aku sempat menemukan ini di kamar hotel waktu itu. Aku rasa ini ada hubungannya dengan hilangnya Qiandra!" Merogoh sesuatu dari balik saku dan mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah kusut itu.


Erlan segera mengambil alih cetakan foto-foto itu. Dahinya berkerut melihat hasil jepretan foto tersebut. "Apa Kau bisa jelaskan maksud foto ini?" Erlan berteriak. Teriakannya membuat David terbangun.


"Ada apa?" Terlonjak kaget refleks berdiri menghampiri Erlan dan Barra. Netra David langsung melirik beberapa lembar foto yang berserak di meja. "Siskha?" gumamnya lirih namun masih dapat terdengar keduanya.


"Di hari terakhir Aku bekerja, Aku, David dan Siskha pulang jauh malam dari biasanya. Kami mengerjakan beberapa berkas penting karena rencananya Aku akan langsung pergi berbulan madu setelah resepsi dengan Qiandra. Otomatis semua pekerjaan akan di handle oleh David." Jeda sesaat lalu menarik nafasnya kasar.


"Ketika pulang, Aku memberi tumpangan pada Siskha. Apartemennya dan apartemen kami searah, dan karena sudah larut malam sehingga Aku menawarkannya tumpangan. Saat masuk, Ia tidak sengaja menumpahkan minuman yang ada di tangannya sehingga membasahi dasi dan jas ku." Barra terdiam, enggan meneruskan.


"Lalu?" tanya Erlan penuh selidik.


"Huuuuh... " Menghela nafasnya kasar lagi.


"Ketika sampai di apartemennya, Dia merasa pusing sehingga Aku memapahnya hingga ke unit apartemennya. Lalu membawanya masuk. Tapi aku tidak tahu ada yang memotret kegiatan itu hingga menimbulkan salah paham."


"Lalu, apa maksud foto kau membuka dasi ini?" tunjukkan Erlan pada satu lembar foto yang memperlihatkan Barra membuka dasinya di bantu Siskha.


"Dia menawarkan untuk mencuci dasiku karena rasa bersalahnya. Aku hanya tidak ingin dia terus merasa tidak enak hingga memberikannya."


"Dan dengan bodohnya Kau masuk jebakan wanita itu?" sambung Erlan dengan tatapan tajamnya.


"Jebakan?" ulang Barra kata yang diucapkan Erlan itu.


"Dasar, kau pikir siapa yang memotret kalian berdua di apartemennya? Setan?" David menghempas foto yang di pegangnya lalu ikut menghempaskan bokongnya di sofa yang bersisian dengan sofa tempat Barra dan Erlan.


Seketika pikiran Barra mulai bekerja, mulai mencari hubungan antara kejadian beberapa hari yang lalu dan foto yang kini mereka lihat.


"Maksud kalian, Siskha dalang semua ini?" tanya Barra geram.


"Aku rasa dia bukan. Tapi dia berhubungan langsung dengan dalang di balik kejadian ini."


"Kurang ajar, Aku akan memberi pelajaran padanya!" Bangkit dari sofa lalu melangkahkan kakinya akan keluar.


Namun Aksinya langsung dihadang oleh Erlan dan David. "Sabar Bar, sabar jangan gegabah!" ujar David menenangkan.


"David benar Bar, keselamatan Qiandra lebih penting. Aku yakin Siskha hanyalah pesuruh orang itu. Kita harus menyusun rencana agar bisa mengetahui di mana Qiandra berada. Saatnya Kau memainkan peranmu dengan Siskha!" tutur Erlan dengan mata memicing.


"Kita akan segera mengetahui siapa di balik ini semua."


Berkas-berkas sinar mentari pagi mulai masuk di sebalik jeruji-jeruji kayu yang berada di sela bagian atas sebuah ruangan. Sinar itu berpendar menyusup masuk mengisi kehampaan ruangan yang tidak berjendela dengan pintu tertutup rapat itu.


Qiandra merasakan pusing di kepalanya. Ia mengerjapkan netranya beberapa kali, lalu membuka perlahan matanya. Betapa terkejutnya ia melihat sekelilingnya dan menyadari ia terbangun di tempat asing dengan posisi tangan terikat kebelakang. "Di mana ini?" batinnya.


Belum terjawab pertanyaannya, matanya lagi-lagi kembali melotot melihat seseorang yang sangat dikenalnya juga ikut tergeletak tak jauh dari posisinya kini.


"Arlie... " gumamnya lirih, mengedipkan netranya berkali-kali takut jika yang dilihatnya hanyalah halusinasinya belaka.


Ya, dia tidak salah lihat. Sosok yang tidak sadarkan diri itu adalah Arlie, sahabatnya. Tapi kenapa Arlie bisa ada di sini? Siapa sebenarnya orang di balik ini semua? Apa mungkin Kak Zidan?


Lama Qiandra merenungkan siapa orang yang menculiknya dan Arlie, namun satu pergerakan dari tubuh temannya itu membuyarkan lamunannya.


"Arlie... " panggilnya memastikan kesadaran temannya itu.


Arlie dengan tubuh masih meringkuk menyentuh lantai, kaki terikat dan tangan juga terikat ke belakang. Kondisinya membuat ia kesusahan untuk bangkit, hingga ia hanya membuka matanya.


"Qiandra? Bagaimana kita bisa berada di sini?" tanya Arlie bingung.


"Justru Aku ingin menanyakan padamu, bagaimana Kau bisa berada di sini?" Qiandra malah balik bertanya, bukannya menjawab.


Arlie memutar bola matanya ke atas, mencoba mengingat peristiwa semalam.


"Itu, setelah Aku sampai di penginapan dan melepas kepergian Kak Erlan, seketika itu juga sebuah mobil berhenti dan langsung menarik ku masuk ke dalam. Setelah itu, Aku tidak ingat apa-apa lagi hingga Aku terbangun di sini." Arlie menjelaskan singkat.


"Bagaimana denganmu, Qia? Bagaimana Kau bisa berada di sini?" sambungnya lagi bertanya.


"Aku... "


Lalu Qiandra pun menceritakan sejak kedatangan Siskha, Angeline, lalu berlanjut ketika Ia kembali ke kamar hingga mendapatkan telfon dari Siskha secara sistematis. Tak satupun yang terlewat dari ceritanya.


"Bisa-bisanya Kau terkonfrontrasi oleh wanita itu. Jadi Ketika Kau ingin menemuinya, seseorang membekapmu lalu Kau juga tak sadarkan diri?"


Qiandra mengangguk. "Aku kaget ketika dia bilang sedang bersama Barra di salah satu kamar di hotel itu. Bagaimana Aku tidak keluar dan ingin memastikan sendiri ucapannya. Aku percaya pada Barra tapi wanita licik seperti dia pasti punya seribu cara untuk menghancurkan hubungan Kami." Wajah murung dengan tatapan sendu itu pun menambah semrawut perasaan Arlie.


"Yah, Aku mengerti. Jika Aku berada di posisimu mengkin Aku akan merasakan dan melakukan hal yang sama. Pasti wanita rubah itu yang melakukan ini semua. Aargggh, dasar rubah licik." Marah dan kesal, bercampur menjadi satu di hati Arlie.


"Aku sempat berpikir begitu, tapi... ," menghentikan sejenak ucapannya dan memandang ke arah Arlie. "Jika benar. Siskha yang melakukan ini semua, untuk apa dia menculikmu? Kau dan dia bahkan belum pernah bertemu."


Arlie mengangguk, meresapi perkataan Qiandra. "Benar juga." Dengan kening berkerut, tiba-tiba Arlie terlonjak. "Apa maksudmu, Ada orang lain di balik ini semua, yang mengenal Kau dan juga Aku?" tanyanya penasaran.


Qiandra hanya mengangguk. Keduanya kini saling bersitatap. "Kak Zidane?" tanya keduanya serentak seraya membulatkan matanya.


.


.


.


...*** To Be Continue***...


.


.


.


Hai hai Readers tersayang, happy Saturday ya. Selamat membaca, jangan lupa like dan komennya yaaahhh🤗🤗


Semoga kita selalu sehat ya semuanya, ingat tetap menjalankan protokol kesehatan di manapun dan kapanpun ya... Makasi bagi kalian semua yang selalu membaca karya ku dengan tulus👍🤗🤗🤗