
Bak kata pepatah, Nasi sudah menjadi bubur. Itulah yang dirasakan Mama Renata kini. Setelah menceritakan kisah masa lalu antara dirinya, Zasqia dan Diana, bulir air mata memenuhi wajahnya. Tangis penyesalan pecah mengungkapkan betapa Ia sangat menyesal dengan tindakannya di masa lalu.
"Mama menyesal, Mama tidak berpikir jernih saat itu, hiks hiks... ," Isak tangis Mama Renata memenuhi ruangan.
"Sudah Ma, sudah. Papa yakin Zasqia sudah memaafkan Mama." Papa Gunawan menenangkan.
"Jadi Ma, Pa, apa mungkin motif Tante Diana menyakiti Qiandra karena dendam masa lalu dengan Bunda Zasqia? Apa Tante Diana tau Mama yang meletakkan benda-benda itu di laci meja Bunda Zasqia?" Barra mencoba menganalisis kemungkinan motif di balik kejadian yang menimpa Qiandra.
"Apa mungkin Pa?" Mama Renata yang berada di pelukan Papa Gunawan seketika menarik tubuhnya. "Apa mungkin seperti itu, Pa? Hiks hiks hiks..." tanya Mama Renata semakin terisak.
Papa yang melihat Mama Renata semakin sedih lantas memberi kode kepada Barra untuk tidak melanjutkan pembicaraan mengenai Qiandra. Barra pun mengangguk.
"Ma, sebaiknya Kita istirahat. Besok kemungkinan Papa, Barra dan yang lainnya akan pergi menyelamatkan Qiandra Ma. Mama jangan berpikir macam-macam. Ingat, Zasqia tidak pernah membenci Mama. Jika analisis Barra benar, itu bukan karena kesalahan Mama, itu memang kesalahan Diana yang jahat dengan membalas dendam kepada anaknya Zasqia." Papa Gunawan mencoba menenangkan Mama Renata yang semakin terisak.
"Papa benar Ma, sebaiknya mari Kita beristirahat." Barra membantu Papa membawa Mama perlahan ke kamar. Mama Renata pun masih terisak hingga Ia tertidur.
Sesaat kemudian setelah Mama tertidur, Barra pun kembali ke kamarnya. Lagi Ia memikirkan bagaimana kondisi Qiandra sekarang. Di dalam hati Barra berjanji akan selalu berbuat baik jika Ia bertemu kembali dengan istrinya. Malam itu pun dihabiskan Barra dengan menangisi Qiandra hingga ia tertidur.
...✳️✳️✳️...
Perputaran bumi pada porosnya selama dua puluh empat jam membuat terjadinya pergantian malam menjadi siang dan sebaliknya setiap hari. Seperti tidak pernah lelah, Bumi selalu setia berputar pada porosnya. Tidak pernah meleset sekalipun, betapa Kuasa Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan dunia dan isinya dengan pengaturan sedetail-detailnya.
Pagi ini setelah mendengar cerita memilukan tentang persahabatan antara Mama Renata, Bunda Zasqia dan Mama Diana tadi malam, Barra terbangun karena mimpi yang membuat Ia berteriak. Ia langsung mengusap wajahnya kasar, yang di dahinya sudah mengalir bulir-bulir keringat dingin.
"Qiandra!!" ucapnya setengah berteriak. Barra kembali mengingat mimpi buruknya barusan. Di dalam mimpi, Ia melihat Qiandra lalu berusaha mendekatinya. Namun naas, sebelum tubuh Qiandra ia gapai, satu buah peluru menembus dada Qiandra membuat Qiandra terhenti dan jatuh terjerembab ke tanah.
"Cuma mimpi!" ucapnya seraya menarik rambutnya kasar. Barra pun bergegas masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual membersihkan dirinya.
Tak lama berselang, Barra yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna navy, keluar dari walk in closet kamarnya. Baru saja Ia meraih ponselnya, benda itu berdering dan bergetar. Nama Erlan tertulis di layar ponselnya dan segera Ia menggeser ke ikon berwarna hijau.
"Halo, Erlan!" sapanya dengan perasaan was-was.
"Halo, Assalamualaikum Barra!" Erlan menjawab dari seberang telfon.
"Wa'alaikumsalam, apa ada kabar terbaru tentang Qiandra, Erlan?" tanya Barra dengan perasaan khawatir.
"Kedua orang tuaku baru tiba dini hari menjelang shubuh. Mama Diana belum melakukan panggilan telepon sama sekali. Bersabarlah, Aku yakin Mama Diana sekarang sedang beristirahat." Erlan menyakinkan Barra.
"Baiklah, Aku menunggu hingga siang ini, jika masih belum ada info apapun Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku akan melakukan apapun untuk mencari Qiandra!" Barra menghela kasar nafasnya.
"Baiklah Bar, Aku berjanji panggilan berikutnya adalah informasi tentang Qiandra." Erlan berkata dengan yakin."Aku akan ke kantor terlebih dahulu, Kita bisa bertemu di kantorku jika Kau mau," sambungnya lagi menawarkan.
"Baiklah, Aku akan ke kantor lagi ini, ada sedikit pekerjaan yang harus Aku dan David selesaikan. Menjelang siang Kami akan pergi ke kantormu. Sampai jumpa di sana!" Barra mematikan ponselnya lalu bergegas turun menuju ruang makan.
"Pagi Pa, Ma!" sapa Barra sambil menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di sana.
"Pagi Nak, bagaimana kabarmu hari ini?" Papa menatap prihatin pada Barra yang terlihat dari wajahnya sudah sangat kusut.
"Aku baik Pa, tapi Aku tidak tahu bagaimana kabar Qiandra hari ini!" ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Barra meneguk kopinya, sudah beberapa hari ini dia hanya meminum kopi saja dan sangat jarang sekali makan.
"Barra permisi ke kantor duluan, Pa, Ma!" ucapnya yang sudah selesai meneguk kopinya dan berdiri.
Bagaimanapun Qiandra sudah ia anggap layaknya anak sendiri. Melihat kondisi putranya setelah peristiwa penculikan Qiandra, Mama Renata merasa sedih.
"Barra tidak lapar Ma, nanti Barra akan makan di kantor!" ucapnya cepat tanpa melihat Mama lalu langsung bergegas pergi.
"Barra, tunggu Barra. Bawalah ini, Nak! Mama sudah siapkan sarapan untuk mu. Qiandra sangat suka makanan ini, makanlah agar bisa membawanya kembali bersama Kita. Mama ... hiks hiks hiks," Mama Renata tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Sssshhh, Ma jangan bersedih, Barra akan makan sarapannya." Barra meraih tas bekal yang sudah di siapkan Mama lalu memeluk Mamanya sesaat.
"Barra janji hari ini akan membawa Qiandra bagaimana pun caranya!" Mengecup pucuk kepala Mama Renata singkat."Barra berangkat kerja dulu ya Ma!" ucap Barra tersenyum kecil.
Waktu terus berjalan hingga sudah pukul dua belas siang. Barra dan David baru saja tiba di kantor HI-One Tech. Mereka langsung menaiki lift menuju ruangan presiden direktur yang tak lain adalah Erlan.
"Selamat siang, Randa. Apa Presdir Erlan ada di dalam?" sapa Barra yang sudah tiba di depan ruangan Erlan dan melihat Randa yang tengah fokus dengan berkas di depannya.
"Oh, Siang Tuan Bara, Sekretaris David! Maaf Saya tidak melihat kedatangan Kalian." Dengan sopan Randa berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Mari Tuan, Presdir sudah menunggu Anda di ruangannya." Randa pun memimpin keduanya menuju ruangan Erlan lalu mengetuk pintu ruangan Presdir beberapa kali.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Erlan yang saat itu sedang fokus mendengar sesuatu dari ponsel dengan headsetnya, Ia tidak mendengarkan.
Randa langsung membuka pintu ruang Erlan lalu mempersilakan keduanya masuk. Sesaat setelah mereka semua di dalam, Erlan baru menyadari kehadiran ketiganya. Ketika Barra ingin menyapanya, Erlan mengangkat tangannya lalu dengan telunjuknya yang Ia letakkan di depan hidung, Ia meminta mereka bertiga untuk diam terlebih dulu.
Ketiganya bergeming di tempat mereka, masih dengan posisi berdiri. Tak lama Erlan membuka headset dari telinganya, lalu tertegun sesaat.
"Bagaimana, apa ada titik terang tentang keberadaan Qiandra?" tanya Barra to the point seraya berjalan ke arah Erlan.
Erlan menatap Barra intens. Ia mengangguk. "Siang ini pukul dua, mama Diana akan menuju lokasi di mana Qiandra di sekap. Dari pembicaraan mereka, Aku tidak mendengar lokasinya di mana, namun bisa dipastikan ada orang lain yang di sekap bersama Qiandra."
Mendengar hal itu, sontak ketiganya mengeluarkan ekspresi terkejut.
"Orang lain, siapa?" tanya Barra penasaran.
"Zidane dan Arlie."
.
.
.
***TO BE CONTINUE***
.
.
HAPPY READING YA GENGS
Jangan lupa like dan komennya yah.