
Erlan masih menemani Qiandra di dalam ruang rawatnya sembari menunggu Barra yang belum kembali. Sementara orang yang ditunggu saat ini sudah berada di salah satu jejeran kursi tak jauh dari ruang rawat Qiandra. Ya, Barra sedang menguatkan hatinya.
Barra tidak menampik bahwa pada awalnya ia menikahi Qiandra karena adanya desakan para dewan direksi jika ia masih berniat menjadi kandidat direktur GM Corp di masa depan. Namun kini rasa cintanya terhadap sang istri semakin hari semakin bertambah.
Entah bagaimana, perasaannya bisa tumbuh secepat ini. Atau bisa jadi perasaan ini sudah ada sejak lama, namun Ia saja yang tidak bisa mengartikan perasaan itu. Memikirkannya membuat Barra frustasi. Yang Barra tahu, saat ini Ia tidak ingin kehilangan Qiandra. Ia sakit melihat Qiandra sakit, dan marah melihat Qiandra tersakiti.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Barra bangkit dna bersiap menemui kembali dua orang kakak adik yang sejak beberapa waktu yang lalu ditinggalkannya.
...***...
"Tapi yang Kakak lihat, Saat Dirimu menghilang, Mama Renata bahkan sampai menampar Barra dan menyalahkan Barra. Setelah itu, Mama Renata jatuh sakit hingga beberapa hari karena memikirkanmu. Aku juga melihat bagaimana kacaunya Barra sejak kejadianmu. Emosinya labil, kadang Ia marah bahkan sampai menangis." Erlan menarik kasar nafasnya.
"Semua terserah padamu, Qiandra. Kakak hanya ingin mengingatkan agar Kamu benar-benar memikirkan ini dengan matang. Jangan mengambil keputusan di saat emosi." Erlan tersenyum seraya mengusap kepala Qiandra.
"Terimakasih Kak, Qia akan memikirkannya dengan Baik. Kalau begitu, Apa sebaiknya Kakak tidur saja. Sekarang sudah pukul empat. Masih ada waktu sebelum shubuh. Qia tau besok Kakak akan bekerja."
Ceklek
Suara pintu ruangan terbuka.
Tampak sosok lelaki yang selama beberapa bulan ini telah menjadi suaminya itu masuk dengan menenteng dua cup minuman hangat. Ia menyeringai lembut kepada dua orang yang ada di dalam ruangan.
"Maaf, sedikit lama. Diperjalanan Aku sempat mampir ke toilet," ucapnya saat mulai melangkah masuk ke dalam ruangan setelah pintu ruangan tertutup.
"Mas, sebaiknya Mas dan Kak Erlan tidur saja dulu. Qia sudah tidak apa-apa kok. Sebentar lagi shubuh, Kalian bisa beristirahat sejenak."
"Kamu tenang saja. Mas dan Kak Erlan ini jagonya bergadang, ya kan!" Melirik Erlan sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Hmmmm. Lagian kalau Kami tidur sekarang dijamin akan sulit untuk bangun shubuh," tambah Erlan.
"Baiklah, berhubung Qia masih mengantuk, kalau begitu Qia istirahat dulu ya. Mas dan Kak Erlan boleh melanjutkan pembicaraan kalian." Qiandra tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya.
Barra meletakkan bawaannya di atas meja yang di kelilingi sofa. Lalu Ia menghampiri Sang Istri kemudian mengecup keningnya. Selanjutnya, Ia membantu istrinya itu untuk kembali berbaring sebelum akhirnya kembali ke sofa bersama Erlan.
...***...
Qiandraaa!!!
Barra terbangun dari tidurnya saat hari sudah beranjak siang. Ia mengerjapkan netranya beberapa kali sebelum akhirnya terduduk. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah tiga jam dia tertidur di sofa setelah Erlan meninggalkannya sendiri pukul lima pagi tadi.
Barra menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu memijat batang leher di belakang kepalanya. Tidur di sofa membuat beberapa bagian tubuhnya terasa tidak nyaman. Ia mengedarkan pandangannya ke arah ranjang istrinya. Betapa terkejutnya Ia mendapati ranjang itu sudah kosong tanpa ada sosok istrinya di sana.
Deg
"Qiandra!!" panggilnya seraya turun dan berlari ke arah kamar mandi.
Nihil
Tidak ada seorang pun di dalam kamar mandi. Barra terlihat panik dan cemas. Ia kemudian berlari ke arah pintu dan hampir menabrak seorang perawat yang masuk membawa makanan.
"Sus, di mana istri Saya? Kenapa istri Saya tidak berada di sini?" tanya Barra panik.
"Istri Bapak tadi keluar Pak, bersama keluarga Bapak yang datang tempo hari lalu. Katanya Ibu mau menghirup udara pagi di taman."
Deg
"Setengah jam yang lalu kalau Saya tidak salah Pak," sahut perawat itu setelah meletakkan makanan di atas meja yang ada di sisi ranjang pasien.
"Saya permisi dulu Pak!" ucap perawat itu sedikit membungkukkan tubuhnya bergegas keluar dari ruangan yang pintunya terbuka sejak Ia masuk. Lalu perawat ini melanjutkan mendorong troly yang berisi makanan lain bersama seorang temannya.
"Apa Mama dan Papa ke mari?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia pun bergegas menyusul ke luar, memasuki lift dan turun ke lantai satu. Setelah itu Ia menyusuri taman di rumah sakit itu.
Matanya bergerak ke berbagai arah untuk mencari keberadaan istrinya. Beberapa bangku taman tampak terisi oleh orang lain, namun belum tampak sosok yang Ia cari itu.
Barra mulai cemas, ia merutuki dirinya yang tertidur di sofa tadi. Seandainya Ia tetap berada di sisi istrinya, minimal Ia pasti akan terbangun ketika Istrinya bangun. Ia mulai frustasi, takut sesuatu buruk menimpa Qiandra.
Barra berlari ke sisi lain dari taman itu. Ia berharap akan melihat Qiandra di sana namun tetap tak ada. Ia memutuskan untuk berbelok ke arah sisi timur dari rumah sakit itu, Ia berhenti sejenak. Papa dan Kak Manda ada di sana. Mereka sedang duduk di salah satu kursi taman. Ya itu tidak salah lagi, Papa dan Kak Manda. Ia segera menghampiri mereka.
"Pa, Kak Manda!" serunya dari kejauhan seraya berlari.
Kedua orang yang dipanggil segera menoleh ke arah asal suara lalu tersenyum.
"Gimana kabar adik Kakak si calon Ayah ini, huh?" Manda menggoda adiknya ketika Barra sudah berada di hadapannya.
"Kak, di mana istriku?" tanpa menjawab pertanyaan Manda, Barra malah balik bertanya.
"Duh, nggak bisa jauh sebentar doang ya," ledek Manda sambil tertawa ringan.
"Istrimu sedang bersama Mamamu, Nak. Di sana!!" tunjuk Papa pada ke depan di susul Barra yang menoleh ke belakang mengikuti arah telunjuk Papa.
Di sana, kedua wanita yang di sayangnya sedang duduk bersisian. Mama duduk pada salah satu kursi taman dan Qiandra duduk di sebelahnya dengan kursi rodanya yang posisinya sedikit menyerong ke kiri. Keduanya tampak berbicara, sesekali tertawa. Sesekali Mama terlihat meneteskan air matanya, namun Qiandra menghapus dengan tangannya.
Tidak terasa Barra meneteskan butiran kristal dari salah satu netranya. Pemandangan ini begitu indah di hatinya. Akhirnya apa yang Ia takutkan tidak terjadi. Lihatlah, Qiandra dan Mamanya terlihat seperti sedia kala. Tidak ada raut cemas dan takut di wajah istrinya seperti terakhir mereka bertatap muka.
"Ya Allah, terimakasih Engkau mengabulkan doaku." Ia berbisik dalam hati, mengucapkan rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Apa yang Ia takutkan akhirnya tidak terjadi.
.
.
TO be Continue
.
.
Happy Reading Genkss
Maaf ya Aku banyak kesibukan di kehidupan Nyata, jadi ngehalunya kurang lancarðŸ¤ðŸ¤
Makasi buat Kalian yang selalu baca dan mendukung karya Author. Semoga Kita semua diberi kesehatan ya, tetap jaga Prokes ya Zheyenkk.
Jangan lupa Like, komen, vote dan Tips nya juga boleh🥰🤗🤗