
"Sudah dramanya, hari ini hari bahagia, Ayo kita bersenang-senang," teriak Wilson.
"Apa maksudmu, Wil? Lirikan jengah diberikan Andin padanya yang kini mulai tersenyum senang.
"Teman seperti apa Kau ini, Kita harus rayakan hari bahagia Barra dong, iya enggak Bro?" menyenggol bahu Barra dengan bahunya seraya menaikkan kedua alisnya.
"Sayang, jika Kau lelah, kembalilah ke kamar terlebih dahulu, Okey. Aku akan bergabung bersama mereka sebentar." Ada perasaan kecewa di hati Qiandra mendengar penuturan Barra. Meski menggunakan embel-embel Sayang, namun Ia tahu betul suaminya itu masih enggan berbicara padanya.
Barra, David, Andin dan Wilson akhirnya memilih salah satu tempat yang berada di sisi kolam renang di sebelah. Ketiga pejantan itu sudah membuka jas mereka dan terlihat duduk dan mengobrol santai dengan meneguk wine. Qiandra hanya memandang pasrah, menarik nafasnya berat. Tak lama ia pun beranjak menuju Mama Renata yang terlihat sedang berbicara dengan beberapa orang.
Menyadari kedatangan Qiandra, Mama Renata pun segera menghampirinya.
"Qiandra, kenapa sendiri? di mana Barra?" Pertanyaan beruntun itu dilontarkan Mama Renata dengan nada kesal.
"Dia sedang bersama teman-temannya Ma," jawab Qiandra sambil mengalihkan pandangan pada kawanan orang yang sedang asyik tertawa di sebelah ruangan di sisi kolam yang hanya diberi partisi transparan berupa kaca tepat di sebelah ruangan acara resepsi mereka.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya Dia meninggalkanmu sendiri di sini. Dasar anak ini, istri sedang sakit, bukannya diantarin dulu ke kamar. Sebentar, Mama kasi pelajaran tuh anak." Bersiap maju menyusul si putra semata wayangnya itu.
"Ma, Qia baik-baik saja." Menahan langkah Mama Renata dengan lengannya seraya menggeleng.
"Para tamu sudah pulang Sayang, beberapa dari mereka menginap. Hanya tinggal beberapa saudara dekat saja di sini. Mama sedang memastikan beberapa pelayanan bagi kita yang menginap di sini. Jika kau lelah, beristirahatlah ke kamar ini sudah tengah malam. Mama akan mengantarmu."
"Mama, Aku bisa sendiri. Mama bisa lanjutkan kegiatan Mama, tidak perlu mengantarku," cegahnya lembut tidak ingin merepotkan mama Renata.
"Selamat Malam Tante," ucap dua orang yang tak lain adalah Erlan dan Arlie.
"Malam, Oh, siapa wanita cantik ini, apa dia kekasihmu, Erlan?" Tersenyum, memandang kagum pada Arlie.
"Bukan Tante." Erlan tersenyum kikuk, mengusap pundaknya berulang.
"Saya Arlie, Tante temannya Qiandra." Meraih telapak tangan Mama Renata lalu membawa telapak itu ke ke keningnya.
"Hai Arlie, Kamu manis sekali. Kamu cocok dengan Nak Erlan," sahut Mama Renata yang masih berfikir Arlie adalah pacar Erlan.
"Ma, Arlie sudah menikah. Dia sedang mengandung," jelas Qiandra.
"Maaf Tante kira Kamu masih single. Wah, selamat ya sudah jadi calon ibu. Mudah-mudahan Qiandra menyusul, Tante sudah pengen gendong cucu." Tertawa kecil sambil mengusap lembut perut Arlie yang sudah membesar namun karena gaun yang dikenakannya longgar, perutnya tidak terlalu terlihat.
"Iya Tante, semoga Qiandra cepat dapat momongan. Oh ya, Tante, Qiandra, Saya mohon pamit sudah malam."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya Arli." Memeluknya singkat lalu membuang pandang ke arah Erlan.
"Kak, Kakak bisa antarkan Arli sampai ke penginapannya kan?"
"Oke. Qia, kakak juga mau pamit juga, Kakak besok ada acara perusahaan, menggantikan Papa yang sedang berlibur ke luar negeri bersama Mama. Jadi Kakak harus pulang sekarang."
"Iya Kak, jangan lupa sering memberiku kabar. Aku pasti akan sangat merindukanmu, hiks... " Satu isakan lolos dari bibir mungilnya. Entah bagaimana perasaannya sekarang, apa efek beberapa hari saling diam dengan Barra atau apa, Ia merasa sedih sekali melepas kakak dan juga sahabatnya pergi.
"Kau sudah menikah, tapi tetap cengeng. hahaha... Baiklah adikku, jika Barra menyakitimu, Aku orang pertama yang akan menghajarnya. Katakan padaku, mengerti!" Menekankan kalimat terakhir dengan tangan terkepal. Qiandra hanya mengangguk.
"Mama orang pertama yang akan menghajar Barra jika sampai menyakiti Qiandra, Kamu jangan sungkan ya mengadu dengan Mama dan Erlan." Dukungan Mama membuat mereka berdua terlihat cocok sekali.
Kalimat itu mengundang tawa keempat manusia itu. Tak lama Erlan dan Arlie pun melangkah meninggalkan ruang acara. Sementara Qiandra diantar Mama Renata ke kamar lalu Mama Renata pun bertolak ke kamarnya di lantai yang sama.
Qiandra melangkahkan kaki jenjangnya seiring suara pintu kamar yg ditutup. Mulai membuka seluruh pakaian dan aksesoris yang melekat di seluruh bagian tubuhnya, lalu merendam sejenak tubuh yang terasa penat. Ia menyandarkan kepala di ujung bathtub dan memejamkan matanya.
Satu persatu kilasan peristiwa hari ini berputar seperti roll film di ingatannya. Mulai dari perjalanan mereka ke hotel, sarapan, makan siang, berenang bersama Mikha di arena kolam bermain anak, lalu mulai berjibaku dengan beberapa make up stylist dan juga asisten butik yang mempersiapkan kebutuhan gaunnya.
Qiandra tersenyum geli saat mengingat insiden kecil terjadi ketika ia selesai di rias lengkap dengan busana dan hijab. Ketika itu Barra masuk ke kamar dan terlihat menganga selama beberapa menit. Akibatnya suaminya itu menjadi bahan tertawaan para perias dan orang-orang dari butik. Wajah merah suaminya itu masih teringat jelas, dan membuat Barra meninggalkan kamar tanpa sepatah katapun.
"Pppppfffttttt... " Tertawa geli hingga menutup mulutnya dengan tangan. Qiandra otomatis mengangkat kepalanya dari sandaran bathtub.
Setelah mampu menahan tawanya, ingatannya berputar terus hingga kedatangan Siskha dan Angeline.
Lagi-lagi Ia menghela nafasnya, dalam hati ia bertekad malam ini ia harus meminta maaf pada suaminya, dan menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Ya, Qiandra menyudahi aktivitas berendam ya lalu ia lanjut mengguyur tubuhnya dengan shower.
...✳️✳️✳️...
Pintu kamar mandi tersibak, sosok Qiandra keluar dengan balutan piyama berlengan panjang. Kepalanya masih terbungkus handuk berwarna putih, lalu segera membuka bungkusan rambutnya dan mengeringkannya dengan hair dryer.
Sesaat setelah menggantungkan kembali handuk yang ia kenakan untuk membungkus kepalanya tadi, netranya menangkap sebuah paper bag. Ya, benda itu pemberian wanita yang menemuinya sebelum kedatangan Angeline.
Tangannya meraih benda tersebut, lalu mengeluarkan isinya. Terdapat satu buah dasi milik suaminya, dan satu buah amplop coklat yang entah apa isinya. Keningnya yang masih ditempeli plaster transparan itu mengernyit. Karena penasaran, ia membuka amplop itu perlahan, dan ... ya Tuhan.
Serasa mendengar petir di siang bolong, begitulah keterkejutan pada diri Qiandra. Sontak ia membulatkan matanya, dan menutup mulutnya yang ternganga dengan sebelah tangannya. Ia sama sekali tidak siap dengan apa yang dilihatnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Badannya tersentak begitu mendengar dering ponselnya. Masih dengan perasaan shock, Qiandra memutar tubuhnya lalu mengambil ponselnya di atas nakas di sisi tempat tidur. Tidak ada identitas si penelepon tertera, hanya Susunan angka yang terlihat di layar ponselnya.
"Ha-lo," ucapnya perlahan, masih belum lepas dari rasa terkejutnya.
"Bagaimana, apa Kau menyukai kado pernikahan dariku?" tanya seseorang to the point dari seberang.
"Siskha? Apa ini Kau?" Qiandra mulai tersadar dari kejutnya. Satu cairan bening berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"lebih tepatnya, teman tidur suamimu. Ahhh, Aku rindu harum tubuh suamimu, sungguh melenakan." Dengan seringaian licik memenuhi wajahnya.
"Diam Kau! Jangan pernah memprovokasiku. Aku percaya suamiku tidak akan melakukan itu. Sebenarnya apa mau mu?"
"Kau yakin Aku hanya ingin memprovokasimu? Huh, Aku ingin memilikinya, sama sepertimu, Qiandra sayang. Suamimu sendiri yang mendatangi apartemenku dan , yah kau tau apa yang terjadi selanjutnya. Apa Kau tak bisa memuaskannya, Qiandra? Jika tidak, berik... "
"Tutup mulutmu, dan jangan panggil aku dengan mulut busukmu itu!" sarkas Qiandra sedikit berteriak.
"Hahahaha, jangan naif Qiandra. Aku punya bukti yang lebih akurat. Jika kau tak percaya, datanglah sekarang." Siskha menyebutkan sesuatu yang membuat Qiandra mematikan panggilan itu seketika. lalu bergegas menyambar jilbabnya.
...✳️✳️✳️...
Qiandra merasakan pusing di kepalanya. Ia mengerjapkan netranya beberapa kali, lalu membuka perlahan matanya. Betapa terkejutnya ia melihat sekelilingnya dan menyadari ia terbangun di tempat asing dengan posisi tangan terikat kebelakang. "Di mana ini?" batinnya.
Belum terjawab pertanyaannya, matanya lagi-lagi kembali melotot melihat seseorang yang sangat dikenalnya juga ikut tergeletak tak jauh dari posisinya kini.
"Arlie... "
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Hai hai, pada yang nyariin Aku enggak?? Hhiiiii,, Jangan lupa like dan komennya ya Readers.
Bacanya pelan-pelan, Kita mulai masuk konflik ya...
Happy Reading Gengs...
❤️❤️❤️