
Ibarat mendaki sebuah gunung, begitu jualah perjalanan kehidupan pernikahan. Terkadang jalanan terjal penuh batu kita lalui, lalu jalan penuh dengan hutan, tak jarang binatang liar menunggu jika kita tak mawas diri. Namun ada saatnya kita temui tempat indah untuk beristirahat dengan udara sejuk dan sumber air yang mengalir.
Butuh keyakinan, keteguhan, kekuatan, kesetiaan dan kesabaran untuk mencapai puncak. Pun pernikahan. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dan terlama yang harus kita lalui sebab dengan pernikahan pula separuh agama kita di sempurnakan.
Tak satupun pernikahan tanpa ujian, namun banyak pernikahan yang mampu melewati ujian hingga akhirnya ikatan itu semakin kuat dan teguh. Bersabarlah wahai diri, bersabarlah wahai insan.
***
Qiandra menyakinkan dirinya untuk tidak berprasangka buruk pada suaminya. Ia memilih untuk diam dan tersenyum sesekali sepanjang makan malam kali ini.
Setelah membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan yang kotor, Qiandra bergabung dengan suaminya yang tengah menonton berita di salah satu channel televisi nasional. Ia pun duduk menyamping di pangkuan suaminya seraya meringkuk membenamkan kepalanya di dada bidang Barra.
Barra yang sedang fokus dengan tontonan ya seketika tersenyum, melihat sisi manja istrinya itu. Ia sungguh menyukai ketika istrinya bermanja ataupun memanjakan dirinya. Ia pun mencium pucuk kepala istrinya itu dan mengusap lembut bahu istrinya.
"M-mas," ucap Qiandra ragu-ragu.
"Hmmmmm," sahut Barra.
"Di mana Mas melakukan pertemuan dengan rekan bisnis tadi?" Memainkan jemarinya di dada Barra.
Barra mengernyitkan dahinya, "Di hotel Grand Galaxi," jawabnya singkat. Barra memberi jarak keduanya dengan mengubah posisinya sedikit ke belakang. Ia memperhatikan wajah istrinya yang terlihat murung.
"Ada apa dengan wajah cantik istriku ini, hem?" Menarik dagu Qiandra dan mempertemukan netranya dan Qiandra.
"Setahuku hotel itu tak jauh dari kawasan rumah kita. Kenapa tadi Mas lama pulangnya? Terakhir ketika David menghubungiku, Mas katanya sudah akan pulang." Masih mencebikkan bibirnya yang membuat Barra merasa gemas.
"Kamu ini, Mas tanya malah balik tanya. Jawab dulu pertanyaanku." Mencubit mesra pipi halus Qiandra membuat wanita itu semakin kesal.
"Tadi Mas nganterin Siskha pulang, jadi harus mutar balik deh."
Deg
"Siskha? Kenapa harus nganterin pulang Mas? Dia kan bisa pulang naik taksi." Qiandra menghentakkan kakinya, lalu bangkit dari pangkuan Barra dan duduk membelakanginya.
"Kamu cemburu? Sayang, Siskha sekretarisku, jadi jangan berpikir macam-macam, oke. Sudah, jangan membahas hal tidak penting! Mari kita tidur."
Barra bangkit dari duduknya, lalu menggamit mesra tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar, Qiandra masih dengan mode diamnya yang membuat Barra menarik nafasnya panjang.
Barra bersimpuh di hadapan Qiandra, menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Ia menggamit kedua tangan istrinya lalu mengecupnya lembut dan lebih lama. Seperti mencurahkan rasa sayang yang begitu besar. Mendapati perlakuan seperti itu, Qindra luluh. Cairan bening yang sudah menganak sungai sejak tadi membanjiri pelupuk matanya dan lolos begitu saja.
Qiandra yg duduk di tepi ranjang pun tiba-tiba beringsut dari tempatnya dan mulai mensejajarkan tubuhnya dengan suaminya.
"Maaf, maafkan Aku, Mas... Hiks hiks," isaknya mulai terdengar."Maaf jika Aku belum bisa menjadi istri yang baik bagimu, huuuuu huuuu... ," sambungnya lagi kini menangis sampai sesenggukan.
"Ada apa? Apa yang mengganggu pikiranmu? Ayo cerita sama Mas." Mengusap air mata yang sudah membasahi pipi mulus istrinya.
"A-aku tidak suka Mas dekat-dekat dengan sekretaris Mas itu, hiks hiks... tadi Aku melihat noda bibir di pakaian mu Mas, hiks hiks... "
"noda? Maksudnya?" Barra mengernyitkan dahinya bingung.
Qiandra bangkit menuju keranjang kain kotor, lalu mengambil sesuatu dari sana dan memperlihatkannya pada Barra yang tengah duduk di sofa.
"Kenapa bisa ada noda ini di sini? Apa kalian begitu dekat hingga ia bisa mencium mu di sini?" tunjuk Qiandra pada noda lipstik berbentuk bibir itu, masih dengan posisi berdiri dan wajah yang ditekuk sempurna.
Barra mencoba mengingat-ingat bagaimana dan kapan noda itu bisa ada di pakaiannya. Ia memutar bola matanya ke atas, memflashback kejadian demi kejadian saat Ia bekerja. Ingatannya jatuh pada saat Ia menangkap tubuh Siskha yang limbung dan akan terjatuh di depannya sehingga ia menangkap tubuh sekretarisnya itu.
"Tadi Aku sempat melihat Siskha yang sudah limbung dan akan terjatuh di depanku. Aku hanya refleks dan menangkap dia. Saat itu posisi wajahnya tepat di dadaku," ungkap Barra sambil melihat wajah istrinya yang masih saja ditekuk itu.
"Itu murni kecelakaan, sayang. Aku tidak bermaksud apapun padanya. Aku akan melakukan hal yang sama jika itu bukan Siskha, bahkan nenek-nenek sekalipun," sambungnya lagi menjelaskan.
"Serius?" Mengulurkan telunjuknya seperti sedang membidik Barra.
"Iya, I tell you the truth," ungkap Barra lirih. Ia menatap Qiandra lekat. Cahaya netranya menembus hingga ke dalam iris hitam Qiandra.
"Mas hati-hati sama dia. Aku rasa dia punya maksud buruk sama kita. Kayaknya dia gak suka sama hubungan kita deh, Mas."
"Kamu baru saja bertemu dengannya sekali. Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?" Barra membenamkan wajah istrinya ke dadanya lalu memberikan usapan lembut pada rambut hitam bergelombang yang tergerai itu.
"Qiandra, Istriku, Aku dan Kamu, kita berdua adalah pendatang baru dalam dunia pernikahan. Satu doa yang selalu Aku langitkan, agar bisa menua bersama mu dan anak-anak kita kelak. Tetapi sebaik-baik rencana kita, sebagus apapun usaha kita, tetap Kita harus berserah diri pada Allah." Menjeda sejenak kalimatnya.
"Aku dengan kedua tanganku, segenap ragaku akan melindungimu. Namun, tak lupa Aku melangitkan doa Agar Allah melindungi dirimu di saat Aku di sisimu maupun tidak. Karena sebaik-baik penjagaan adalah perlindungannya, bukan?"
Qiandra mengangguk dalam dekapan Barra. Ia paham maksud suaminya itu. "Aku paham Mas, maksudku agar Mas bisa berhati-hati terhadap dia. Tidak salah kan kita mawas diri?" Mengangkat kepalanya dari dada bidang Barra.
"Kau cemburu, bukan? Katakan Kau cemburu, ayo!" goda Barra istrinya itu.
"Aku? Tidak, aku hanya tidak suka milikku disentuh orang lain," elak Qiandra mencebikkan bibirnya.
"Kau memang harus cemburu, sayang. Karena suamimu ini memiliki wajah yang ketampanannya tidak bisa diragukan lagi," kedip Barra matanya pada Qiandra membuat ia memutar kedua bola matanya malas.
"Mas narsis. Ya, Aku akui Mas memang tampan tapi Mas sudah tua, weeek!" Qiandra menjulurkan lidahnya mengejek Barra lalu berlari kecil menghindar seraya terkekeh. Barra yang diperlakukan seperti itu sontak merasa gemas dan mengejar Qiandra.
"Tua? Wah, berani sekali istriku berkata seperti itu." Barra bangkit dari duduknya, memperhatikan Qiandra yang sudah berlari kecil menghindarinya. Tawa kecil tak henti keluar dari bibirnya yang tadi sempat terkatup bersungut.
"Akan Aku tunjukkan bagaimana cara pria tua ini mengajari istrinya, hmmmm!" Barra menyeringai pandangannya tak lepas dari gerak Qiandra. Sekali waktu Ia langsung melompat lalu menangkap tangan Qiandra dan langsung membopongnya ke ranjang.
"Mas, sudah, hahahah, Aku sudah lelah. Aku minta maaf oke tadi itu intermezzo, Mas." Nafas Qiandra mulai terengah-engah. Ia lalu melihat kabut gairah di netra suaminya itu. "Mati Aku, sepertinya salah timing nih." batinnya.
"Mas, Aku minta maaf oke. Aku... akkhhhhp!" Belum siap ia berbicara, bibirnya sudah dilumat habis oleh Barra. Qiandra hanya bisa pasrah dengan tangannya mulai menarik baju di tubuh Barra.
Perlahan Barra membaringkan istrinya dan melepas tautan bibir mereka. Baru saja ia akan melanjutkan aksinya kembali, Qiandra menahan tubuhnya yang semakin mendekat dengan kedua tangannya.
"Mas, tunggu. A-aku sedang datang bulan."
"... "
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Happy Reading Gengs.
Seperti biasa, Author mau ucapin makasih banyak buat seluruh pembaca yang udah membaca, memberi like, vote, komentar, hadiah maupun rate bintang lima novel ini. Ini novel pertama Author jadi maaf ya kalau banyak kekurangan. Maaf buat komentar yang kadang enggak bisa terbalas satu persatu, maaf enggak bisa update setiap hari seperti Author yang lainnya dan Maaf untuk semua kekurangan ya, Readers.
Author gak bosen untuk ingatin kalian, kalau abis baca jangan lupa klik like ya Gengs🤭😀😀 Kasi komentar, tapi komentar yang bikin semangat yah🤭🤭🤭 Komentar anti mainstream yah😂 Author baperan orangnya mah. Kalau kalian mau ngevote dan ngetips, itu udah bonus bagi aku, Aku gak tau mau bilang apalagi. Sarangheeee pokoknya dah,,❤️❤️❤️❤️
See You Soon