My Bossy Husband

My Bossy Husband
Eps.18 : Tidak bisa dipercaya



Barra berjalan beriringan dengan direktur utama Hi-One Tech beserta rombongannya, ikut menghantarkan mereka keluar gedung milik GM Corporation.


Pagi tadi sudah terlaksana acara penandatangan kontrak bisnis kerjasama antar dua perusahaan itu. GM Corporation diwakili oleh Papa Gunawan sedangkan Hi-One Tech diwakili oleh Erlan Sadewa.


Barra yang juga diikuti asisten David memasuki lift khusus direktur dan petinggi perusahaan yang akan membawa mereka turun ke lantai satu. Barra tampak sibuk berbicara dengan Erlan, sesekali mereka saling melempar pertanyaan perihal kehidupan masing-masing.


~ Ting ~


Semua mata tertuju pada jajaran pria berjas dan berambut klimis yang baru saja keluar dari lift. Banyak pegawai wanita yang menatap damba pada kedua sosok pria yang berjalan beriringan paling depan itu. Tampan, muda, kaya dan yang paling penting mereka masih jomblo.


Suara pantofel mengkilat dengan harga selangit menghentak lantai pun terdengar. Mereka melangkahkan pasti kakinya menuju akses keluar masuk gedung bagian depan yang bertipe revolving door.


Pintu itu tepat berada di depan meja front office yang saat ini dijaga oleh tiga orang karyawan wanita. Erlan menyapu pandangannya sekilas ke arah lobby, lalu front office. Tiba-tiba langkahnya mulai lambat dan terhenti seketika tepat di antara pintu dan meja front office.


Di sana, seorang resepsionis dengan wajah yang tak asing terlihat sedang berbicara ditelfon. Erlan terpaku menyaksikan wanita yang terlihat berbeda dari tampilan biasanya. Sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya, menatap lamat-lamat wajah yang kini begitu Ia rindukan.


Barra dan yang lainnya juga refleks berhenti, ikut memperhatikan perubahan air muka pimpinan Hi-One Tech itu. Seketika, netra Barra mengikuti arah pandang sang pimpinan. Ia terkesiap, mengerdipkan matanya beberapa kali.


Tak salah lagi, dia melihat Qiandra. Ternyata, orang yang paling ingin Ia hindari keberadaannya sejak pagi tadi, kini berada pada gedung yang sama dengannya berada. Barra merasakan ada perasaan hangat mengalir di jiwanya.


"Qiandra," batin Erlan dan Barra bersamaan.


"Ehmm, Tuan Barra, apa Saya bisa meminta waktu untuk berbicara dengan karyawan Anda sebentar? Kebetulan Saya melihat seorang kenalan sedang bekerja di sini." Erlan tersenyum ramah. Pria dengan tinggi tubuh 176 cm itu, mencoba menutupi kegugupannya.


"Silakan, jika Anda memang memiliki keperluan dengan karyawan Saya. Kalau begitu, Saya permisi terlebih dahulu untuk kembali ke atas , Tuan." Barra melirik sekilas ke arah Qiandra yang sudah meletakkan gagang telepon di depannya.


Barra dan David menganggukkan kepalanya sedikit lebih rendah, begitupun Erlan membalas hal yang sama. Kemudian Barra segera berbalik menuju ke arah lift khusus direktur.


Mereka menunggu sesaat sebelum akhirnya pintu lift terbuka, Mereka pun memasuki lift. Di dalam, Barra dapat melihat di depan sana Erlan sedang berbincang hangat dengan salah satu karyawannya sekilas, sebelum pintu lift kembali menutup.


Ada perasaan aneh menyergap dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya, mengetatkan rahangnya, merasa terusik dengan apa yang baru saja dilihatnya sekilas tadi.


"David, segera cari tahu ke bagian HRD, karyawan baru yang bekerja di front office!" Titah Barra


"Baik, Tuan." Membungkukkan sedikit badannya.


"Setelah Kau mendapatkannya, cari tahu di mana sebelumnya dia bekerja dan tinggal," serunya lagi pada Asistennya itu.


"Baik, Tuan, Saya mengerti." ucap David sekilas sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan Mereka keluar menuju ruangan Barra.


.


.


******


.


.


"Kalian, kembalilah lebih dulu. Aku dan Randa masih ada urusan sebentar." Erlan memerintahkan tiga orang karyawan lainnya yang ikut bersama mereka untuk kembali terlebih dahulu. Setelah memastikan karyawannya pergi, Erlan langsung menghampiri seseorang di meja resepsionis.


Qiandra yang merasa ada orang lain yang berjalan ke arah mejanya, langsung menyapa.


"Selamat pagi, Ada yang bisa S-sa-ya ... " Ia tersentak dan tak dapat meneruskan ucapannya. "K-kak Erlan?" tanyanya tak percaya pada diri sendiri.


"Hai, Qia. Lama tak bertemu.” Erlan menyapa Qiandra hangat sambil tersenyum. “Ternyata Kamu bekerja di perusahaan besar seperti ini ya. Wah wah, pantas saja Kamu tak ingin kembali ke Cafe jelek itu ya," imbuhnya lagi dengan nada candaan. Namun, Qiandra menanggapinya dengan serius.


"Maaf Kak, Qia tidak bermaksud seperti itu.” Qiandra berkata lirih.


“Ceritanya panjang Kak. Oh iya, ini masih di jam kerja Kak, sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita berbincang sebentar nanti," tawar Qiandra pada Erlan, yang merasa tidak enak hati mendapat pandangan tidak suka dari kedua temannya.


"Hei, kenapa begitu serius? Kakak hanya bergurau saja. Baiklah, Kakak akan menunggu mu di luar. Setelah jam istirahat tiba, jangan lupa menghubungi Kakak ya." Erlan mengusap lembut kepala wanita yang memiliki tinggi sekitar 165 cm itu.


Erlan pun beranjak keluar dari gedung megah itu. Sebelumnya, Ia sempat menyapa dua orang teman Qiandra yang lainnya. Hal itu pun membuat wajah keduanya bersemu merah. "Tolong jaga adik kecilku ini ya,” pinta Erlan sesaat sebelum Ia pergi.


"Wahhhh, mimpi apa Aku semalam sampai-sampai Presdir Hi-One Tech menyapaku begitu lembut. Aarrrrghh,,, " celetuk Resta, seraya menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipinya.


"Presdir Hi-One Tech? Maksudmu, K-kak Erlan adalah seorang Presdir?" tanya Qiandra pada kedua temannya.


"Tentu saja. Tadi pagi ada penandatangan kontrak bisnis kerjasama antara perusahan kita dengan Hi-One Tech." sahut wanita lainnya yang bernama Salma.


"Presdir? Bukankah Kak Erlan hanya pemilik Cafe? Apa selama ini Dia menyembunyikan sesuatu dariku?" batin Qiandra dalam hatinya.


********


Barra menatap kosong ke arah layar di depannya. Ia menautkan kedua tangannya, lalu meletakkan tautan itu di belakang kepalanya. Memutar-mutar kursi kebesarannya, sambil sesekali dahinya mengernyit seperti sedang memikirkan sesuatu.


~Tok Tok Tok~


Terdengar suara ketukan pintu. Barra membenarkan posisinya terlebih dahulu sebelum mempersilakan orang yang di luar masuk.


"Masuk!" tukasnya.


Asisten David masuk dan menghadap Barra. Ia sedikit menunduk, menyapa bos nya itu.


Barra melirik benda yang melingkar di pergelangan tangannya, "Sudah waktunya istirahat, kenapa masih bersikap formal padaku."


"Haaaah, dari tadi dong kasi taunya. Gini Bar, langsung aja ya. Ini berkaitan dengan informasi yang Kau inginkan,” ujar David menjeda sesaat perkataannya.


David beralih duduk di sofa yang ada di ruangan Barra, di susul Barra yang tampak sangat antusias.


“Menurut info dari kepala HRD, nama karyawan baru itu Qiandra Andalusia. Minggu lalu dia mengirimkan lamaran pekerjaan di divisi personalia, hanya saja perusahaan kita sedang butuh resepsionis. Tadi pagi ketika interview, Ia bersedia bekerja di sini sebagai resepsionis.”


Barra memanggut-manggutkan kepalanya, seraya menyentuh dagunya dengan tangan kanannya.


“Lanjutkan!” pintanya lagi.


“Sebelumnya, Qiandra pernah bekerja di Ers Cafe, milik tuan Sadewa. Apa Kau ingat tempo hari ketika Ia menumpahkan segelas air putih?” tanya David mengingatkan.


“Ya, Aku ingat. Aku sangat kesal waktu itu, dasar ceroboh. Lalu?” Bara semakin penasaran.


“Tunggu, Aku ingin tahu kenapa Kau mencari informasinya? Bukankah lebih cocok Kau yang dikatakan sebagai penguntit?” David mendekatkan kepalanya dan memicingkan kedua matanya, mencoba mencari sesuatu di mata Barra.


“Mau apa Kau?” tolak Barra memundurkan sedikit tubuhnya ke ujung sofa. David yang menyadari posisi mereka mulai aneh, langsung kembali ke posisinya.


“Kau yakin ini semua hanya untuk berjaga-jaga? Atau sebenarnya Kau memiliki perasaan padanya? Ayolah Barra, Kau belum pernah merasa sepenasaran ini hanya karena wanita. Bahkan Angeline sekalipun,” cecar David semakin membuat Barra gelagapan.


“Aku? Hahahaha, maksudmu Aku menyukainya? Hah, lelucon apa itu, tidak lucu sama sekali!” jawab Barra kesal.


“Aku hanya ingin berjaga-jaga, seperti yang pernah Aku ceritakan sebelumnya, Mama bilang dia adalah anak sahabat Mama. Aku saja masih kaget mengetahui dia tinggal di rumahku, ditambah sekarang dia bekerja di perusahaan ku ini, Huuh! Tidak bisa dipercaya!”


~Tok Tok Tok~


Pintu ruangan terbuka sebelum dijawab, tampak wanita bergaun navy berpadu blazer putih berdiri di depan pintu.


"Hai," sapanya. "Apa Aku mengganggu?" tanya wanita yang tak lain adalah sekretaris Barra.


"Tidak, masuklah." Barra mengajak Andin masuk bergabung bersama mereka.


"Sudah jam makan siang. Mau makan bersama?" Tanpa masuk ke dalam, Andin mengajak kedua sahabatnya.


Keduanya saling berpandangan, Lalu Barra menjawab, "Baiklah. Ayo pergi!"


Kantin perusahaan GM Grup


"Maaf Kak, Apa tidak apa-apa kita makan siang di sini? Aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan meja resepsionis." Qiandra menjelaskan alasannya tidak mau di ajak makan siang di luar perusahaan.


"Jangan khawatir, Kakak paham. Makanlah dulu, nanti kita lanjutkan." Erlan tersenyum hangat pada Qiandra. Hal itu sukses membuat pipi Qiandra merona selama makan.


Di sisi lain kantin.


Barra, David dan Andin baru saja menyelesaikan makan siang mereka. Ketiganya kini sedang mengobrol biasa, sebelum akhirnya beranjak dari tempat mereka makan.


Ketiganya berjalan beriringan keluar dari Kantin. Namun tiba-tiba, netra Barra menangkap dua orang yang tak asing baginya, sedang berbicara berdua dari balik dinding kaca. Ia mulai mengurangi laju langkahnya, dan memperhatikan sosok kedua orang itu.


Seketika, kembali Ia merasakan jiwanya bergejolak, rahangnya sedikit mengetat, dan kedua tangannya kembali mengepal. Manik hitamnya memancarkan api kemarahan yang tak biasa. Barra menyusul kedua sahabatnya dan tetap terdiam sepanjang perjalanan kembali ke ruangannya.


Seolaria Restaurant


VVIP room Nomor 03


"Ibu, Aku kehilangan jejak orang itu," ucap seorang pria pada wanita paruh baya di hadapannya.


"Bagaimana bisa? Kau selalu ceroboh." cela wanita paruh baya itu. "Apa Kau menjalankan rencana kita dengan baik?" imbuhnya lagi bertanya.


"Aku sudah menjalankan semua rencana kita dengan baik, Bu. Tapi, Aku juga bingung, mata-mataku yang ku bayar di Bali mengatakan tagihan hotel itu sudah dibayar atas namanya. Dan, di hari yang sama, ada pemesanan tiket atas namanya." jelas pria yang memanggil wanita paruh baya itu dengan "Ibu".


"Bagaimana dengan rumah itu? Dia di sana?" cecarnya lagi pada pria itu.


"Tidak Bu, Aku menjualnya pada seorang pengusaha. Ibu tau kan Aku menghamili temannya, dan Aku ingin bertanggung jawab. Aku tidak ingin nasib anakku sama denganku Bu."


"Dasar bodoh. Dengan begitu, jejakmu akan mudah ditelusuri. Arrgghhhh, sial. Sia-sia Aku merencanakan ini semua. Dasar anak tak berguna!" hardik wanita itu kasar dengan wajah yang memerah menahan emosi.


"Bu, aku ini anakmu, kenapa Kau tega berkata seperti itu?"


"Dasar bodoh, Kau kira aku sudi memiliki anak sepertimu. Kau akan ku singkirkan saat sudah tak berguna lagi."


"Kau harus pergi, jika tidak kemungkinan Kita akan tertangkap. Pergilah ke pulau terpencil Nak, Ibu akan memberimu uang yang banyak. Mulailah hidup baru di sana. Biarkan Ibu yang akan membereskan semua di sini. Kau mengerti?" bujuk wanita itu lagi.


Dengan penuh keraguan, Pria itu hanya mengangguk.


***TBC***


Happy Reading


Maaf ya, Author masih belajar.


Akan Up sesuai kemampuan Author ya.., Makasi pengertiannya🙏🙏🙏**