
Hari sudah beranjak siang ketika Dokter yang mengecek kondisi Qiandra keluar dari ruangan. Barra ditemani Andine dan Wilson yang hadir beberapa saat lalu. Sedangkan David pulang pagi ini sebab harus menghandle semua pekerjaan Barra yang tertunda.
"Aku sangat berterimakasih padamu, kalau tidak ada Kau entah apa yang terjadi padaku Dav!" ucap Barra sebelum David beranjak kembali ke rumah.
"Kau pikir ini gratis. Kau berhutang padaku, Brother." David tersenyum menyeringai.
"Tenang saja, bonusmu bulan ini dua kali lipat." Barra terkekeh melihat seringaian sahabatnya itu.
Begitulah, percakapan absurd mereka sebelum David pergi. Dan kini sebelum jam makan siang tadi Ia kedatangan dua sahabatnya yang lain, Andin dan Wilson. Wilson terakhir kali tidak dapat membantu mencari Qiandra sebab harus bertolak ke negeri Jiran mengurus firma hukumnya di sana.
"Bagaimana Dok, apa kondisi Istri Saya ada perkembangan?" Barra menghampiri Dokter wanita yang baru saja keluar dari ruangan ICU.
"Alhamdulillah, kondisi Ibu Qiandra baik Pak. Kondisinya semakin stabil, Kami sudah membuka selang ventilator dari tubihnya. Mudah-mudahan Ibu segera sadar. Saya permisi dulu, Pak!" pamit Dokter tersebut meninggalkan Mereka.
"Barra, Apakah Aku bisa mengunjungi Qiandra sebentar?" tanya Andin ragu ketika memasuki jam besuk pasien.
"Tentu saja, take your time!" Barra mempersilakan.
Dan di sinilah Andin. Setelah melakukan prosedural sebelum memasuki ruangan, kini Ia sudah mengenakan pakaian khusus dan duduk di samping ranjang pasien di mana Qiandra terbaring.
"Hai, Qiandra," sapanya kikuk. Ia memperhatikan kondisi Qiandra yang sangat memprihatinkan.
"Kau wanita Kuat, Qiandra. Aku yakin Kau memang orang yang tepat untuk mendampingi Barra. Kau tahu, Aku pernah merasa menjadi orang terjahat di dunia ini. Waktu itu, ketika melihat mobil yang akan menabrakmu, untuk beberapa detik Aku sempat berpikir untuk membiarkan mu. Ya, Aku pernah sempat berpikir membiarkanmu mati, Hiks... ." Ia tidak mampu menahan isakannya.
"Kau tahu, Aku berperang dengan egoku saat itu. Mengetahui Barra bisa bersikap seperti itu dengan mu dibandingkan denganku yang sudah bertahun-tahun di sisinya. Aku hampir saja menghilangkan sisi kemanusiaan di diriku. Tapi Aku tidak bisa, bukan! Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Aku membiarkan diriku berlari menyelamatkanmu." Terdiam sejenak.
"Aku senang saat itu Aku memilih untuk menyelamatkanmu dari bahaya. Bukan karena ingin pamrih, tapi melihat Barra bahagia bersama mu, Aku bahagia. Meski tidak dapat Aku pungkiri saat mendengar kabar Kalian berdua akan menikah, Aku merasa patah hati untuk ke sekian kalinya. Bahkan Aku merasa menyesal, pernah menyelamatkanmu saat itu. Seandainya Aku membiarkanmu menjemput bahaya, apakah mungkin Barra akan bersamaku?"
Lagi-lagi isakan kecil terdengar, seraya mengusap air matanya dengan tangannya. Andin menatap dengan sendu wajah Qiandra yang pucat seperti tak dialiri darah. "Entah mengapa melihat Barra kacau seperti ini karena mu, membuat aku juga merasa kasihan sekaligus sedih. Hatiku hancur, jauh lebih sakit ketimbang saat Aku melihat kalian bersama."
Andin menarik nafasnya kasar, lalu senyuman kecil terukir di bibir tipisnya.
"Qiandra, Aku tahu rasaku untuk Barra harus Aku kubur dalam-dalam. Saat ini Aku sedang membuka hatiku untuk Wilson. Aku ingin Kau memberikan restu untuk pernikahan Kami. Segeralah sembuh. Barra membutuhkanmu, dan Ia sangat mencintaimu. Barra adalah lelaki paling beruntung sebab Ia memilikimu." Perbincangan satu arah itu pun diakhiri dengan sebuah elusan lembut di pucuk kepala dan pipi Qiandra. Kemudian Andin menggenggam erat tangan Qiandra.
"Aku pamitdulu, Qiandra. Suamimu akan marah jika Aku berlama-lama dengan mu, hheeheh," ucap Andin lagi terkekeh sebelum berlalu dari ruangan Qiandra.
...✳️✳️✳️...
Cahaya putih yang menyilaukan netra memaksa Qiandra membuka matanya. Diperhatikannya sesaat sekelilingnya, indranya menangkap pemandangan asri dedaunan hijau dan warna-warni bunga yang terhampar luas layaknya savana. Qiandra masih belum mengetahui, di mana dia sekarang.
Ia mengenakan gaun putih lengan panjang, serta pashmina warna mocca. Kakinya terasa dingin sebab Ia tidak mengenakan alas kaki saat ini. Sejuk rerumputan yang masih lembab dan penuh aroma kehidupan.
Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sesaat, mengagumi pemandangan indah yang tersedia di depan matanya. Bibirnya berkali-kali mengeluarkan decakan kagum. Apakah ini surga, pikirnya lagi.
"Hmmmmm, rasanya Aku tidak ingin pulang lagi," ujar Qiandra seraya merentangkan kedua tangannya. Menghirup lamat-lamat udara segar untuk memenuhi paru-parunya.
"Kamu harus pulang, Nak! Keluarga mu menunggu mu." Suara baritone seorang pria paruh baya, yang sangat dikenalnya terdengar.
"Bundaa, Aayaahh," Qiandra langsung mendekap tubuh Ayahnya itu.
"Qia kangen banget sama Kalian berdua. Kenapa Ayah ninggalin Qia tanpa pesan apapun. Bunda juga pergi ninggalin Qia, hiks hiks hiks ... ," Isak Qiandra dalam pelukan Ayahnya. Sementara Bunda tampak mengelus lembut Surai yang tertutup hijab itu.
"Anakku Sayang, Ayah bangga dengan keputusanmu berhijab. Meskipun Ayah terlalu cepat meninggalkan mu, tapi Kamu tumbuh dengan Baik. Maafkan Ayah yang hanya sebentar menemani tumbuh kembangmu. Hanya sebatas itulah janji Ayah pada Tuhan, Nak!"
Qiandra menarik dirinya ke belakang. menatap lamat-lamat wajah Ayahnya yang terlihat lebih gagah dan muda dari terakhir Ia lihat. Pandangannya beralih pada Sang Bunda yang masih setia dengan senyumannya.
"Bundaaaaa, huaaaahuaaaa, Qia kangen banget Bun,hiks hiks hiks, huwaaaaa... ."
"Sayaaang, Kamu sudah bukan anak remaja lagi jadi jangan menangis." Mengusap-usap bahu Qiandra. "Mulai sekarang, hiduplah dengan baik bersama Keluarga kecilmu. Sebentar lagi rumah tangga mu akan dipenuhi oleh anak-anak yang lucu. Bunda hanya berpesan, buanglah dendam dan segala rasa benci dari hatimu. Perbanyaklah minta maaf dan memaafkan orang lain. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Ingat, jika kamu merasa marah pada orang lain cukup ingat kebaikannya, lupakan kesalahannya." Bunda mengecup pucuk kepalanya, lalu memegang kedua bahu Qiandra. Ia menatap intens wajah putrinya itu dengan seksama.
"Kamu sudah tumbuh dewasa Sayang, kelak jadilah ibu yang baik untuk anak-anakmu. Bunda dan Ayah akan selalu melihatmu dari tempat Kami berada." Ada nada bangga sekaligus sedih ketika Bunda mengucapkannya.
"Ayah dan Bunda mau kemana? Kenapa Kita tidak bisa bersama lagi, hiks ?" Qiandra masih terisak sambil bertanya pada orang tuanya.
"Kita akan bersama suatu hari nanti, tapi tidak sekarang." Ayah menepuk bahu Qiandra, lalu merengkuhnya lagi ke dalam pelukannya.
"Maafkan Kami Nak, tapi Kamu harus sudah kembali. Seseorang sudah menunggumu." Ayah menunjuk seseorang yang berada di belakang Qiandra. Netra Qiandra pun mengikuti arah yang ditunjuj oleh Ayah.
"Mas Barra, Massa," teriak Qiandra saat melihat suaminya.
"Kembalilah Nak, suami mu menunggu mu." Bunda mengusap lembut lengan Qiandra, lalu menuntunnya untuk menemui Barra.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah hingga akhirnya Qiandra mempercepat langkahnya nyaris berlari. Barra pun perlahan menyusul Qiandra, dengan senyuman lalu merentangkan kedua tangannya menangkap tubuh Qiandra yang bak peluru melesat dari senjatanya.
"Mas, Qia pikir Qia tidak akan melihat Mas lagi, hiks hiks hiks... ." Cairan dari kedua netra Qiandra mulai membasahi kedua pipinya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf ya Aku agak sibuk kemarin2, baru sempat up. Makasiiii buat Readers yang selalu mendukung karya ini. Yang mau nungguin Author Up meski kadang suka kelamaan... luph you to the moon n back...
Jangan lupa tekan like ya abis baca, HAPPY READING.