
Arlie baru saja terlelap, setelah semalaman menunggu suaminya pulang. Ya, kemarin mereka menikah, tanpa orang tua dari kedua belah pihak. Disaksikan dua orang saksi, mereka melakukan pernikahan resmi. Kini keduanya sudah sah sebagai Suami Istri, baik di mata hukum maupun Agama.
Setelah acara pernikahan, sikap Zidane berubah. Dia terlihat acuh, bahkan malam pertama yang biasanya dinanti-nantikan pasangan pengantin baru seperti mereka, hanya dilewati Arlie sendiri. Zidane pergi sejak sore, dan belum kembali sampai sekarang. Berkali-kali Arlie mencoba menghubunginya, namun panggilannya tak kunjung dijawab.
Lelah menunggu sejak malam hingga pagi, Arlie pun tertidur di atas sofa Ruang tamu apartemen milik suaminya itu.
***
Qiandra baru saja masuk ke dalam rumah. Ia menjatuhkan bokongnya ke kursi santai kayu jati di ruang tengah rumahnya, yang menghadap Televisi. Lalu ia berbaring dengan kedua tangan sebagai bantalnya. Seketika air matanya luruh perlahan.
Qiandra memejamkan matanya, bukan untuk tidur. Dia mencoba melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya sejak kepergian kedua orang tuanya. Lagi, bulir kristal itu lolos dari kedua sudut netranya.
Ia membuka matanya, mengedarkan pandangan ke seluruh sisi ruangan tengah. Kilas balik kebersamaan dengan Ayah dan Bundanya terbayang, seperti baru kemarin. Ya, Ia merasa begitu kesepian.
"Ayah, Bunda, Qia merindukan kalian. Kenapa kalian meninggalkan Qia sendiri? huuuu... huuuu... huuuu... ." Tangisan pilu keluar dari bibir mungilnya, suaranya bergetar, memecah kesunyian di dalam rumah itu.
"Arlie, kau di mana? kenapa kau juga meninggalkanku,, hhuuuuuuu... huuuu." Lagi-lagi ia berteriak kecil sambil terisak, membenci kenyataan bahwa kini tak ada seorangpun di sisinya.
Qiandra menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua perasaannya. Sungguh Ia bukan lari dari tanggung jawabnya, namun Ia merasa tidak pantas berada di Cafe itu lagi. Bagaimana Ia bisa kembali, jikalau kehadirannya di sana akan membawa masalah bagi bosnya.
Erlan selama ini sangat baik padanya. Qiandra tak segan meminta izin jika sedang banyak tugas kuliah. Jika ia membutuhkan sedikit uang, ia akan meminjamnya dari Erlan.
Makanya Ia juga bekerja tanpa disuruh. Selama dia bisa, dia akan melakukannya dengan ikhlas, walau seringkali akhirnya Erlan malah memberinya bonus setiap gajian.
"Tuhan, apa orang sepertiku tidak pantas bahagia?" ucapnya lirih. Netra sendunya kini semakin basah. Lama ia terisak sampai lelah menghampiri. Kemudian, netranya menutup perlahan dengan hembusan nafas teratur yang mulai terdengar oleh Indra.
****
Tiga buah mobil masuk ke halaman rumah minimalis yang kini ditempati Qiandra. Salah satunya adalah mobil dengan banyak muatan barang. Tiga orang keluar dari mobil yang lain, mereka membawa beberapa draft desain.
Dari mobil yang berbeda, Salah seorang diantaranya membuka kunci rumah itu. Kemudian mempersilakan Orang yang lain masuk. Mereka pun masuk ke ruang tamu dan berbincang-bincang.
" Tuan Sadewa ingin kamar utama sedikit di perluas pak Alex. Nanti kita bisa melihat situasinya dulu ke dalam. Selain itu, dia ingin membuat balkon terbuka di lantai dua menghadap ke taman."
"Baik, Pak Hengki. Kami harus melihat ukurannya terlebih dahulu sehingga bisa di desain sesuai permintaan pak Sadewa."
Sayup-sayup, Qiandra mendengar orang berbicara di ruang tamu. Ia berniat bangung, namun karena ia berpikir mungkin hanya halusinasi, jadi dia memilih tidur lagi. Tak lama, terdengar olehnya suara tawa laki-laki dari arah ruang tamu.
Bulu kuduk Qiandra merinding, "Suara siapa itu?" batinnya bertanya. "Tidak mungkin dari rumah tetangga kan, suaranya dekat sekali." Qiandra berbisik dalam hatinya. Masih dengan perasaan takut sekaligus penasarannya, Ia pun memberanikan diri melihat ke ruang tamu.
Qiandra terbelalak seketika, melihat ada tiga orang di ruang tamu dan beberapa orang di teras. Secara refleks Qiandra menjerit sambil membawa sapu ke arah tiga pria yang sedang berbincang.
"Maliiiiiiing, tolong ada Malliiiiing... ."
Qiandra berteriak seperti orang kesurupan, mengarahkan gagang sapu ke arah pria yang berada di ruang tamu. Memukul-mukul mereka yang terus mengelak dari gerakan tangannya.
"Katakan, siapa kalian? Untuk apa kalian datang ke rumahku?" tanya Qiandra lantang.
"Maaf Nona, ini bukan rumah Anda. ini adalah Rumah pak Sadewa, bos saya. Dia membeli rumah ini tiga hari yang lalu," jelas Pak Hengki singkat, dengan nafas terburu-buru.
"Apa? Saya tidak pernah menjual rumah ini kepada siapapun!" bantah Qiandra lagi. "Apa, tiga hari yang lalu? Bukankah itu hari kedua aku di Bali?" tanya Qiandra dalam hatinya.
"Keluar kalian dari sini, kalau tidak saya akan menghubungi polisi!" sarkas Qiandra lagi.
Pak Hengky mengambil tasnya di atas meja, kemudian mengeluarkan akta jual beli rumah, sekaligus sertifikat rumah pada Qiandra.
"Ta-tapi S-saya ti-dak pernah menjualnya Pak, Empat hari yang lalu saya berada di Bali. Saya baru pulang kemarin," sahut Qiandra memelas.
"Saya tidak tahu Nona, kami membelinya dari pak Zidane. Sebaiknya Nona segera keluar dari rumah ini. Seminggu lagi pemiliknya akan menempati rumah ini. Sebaiknya Anda ," tutur pak Hengky lagi.
"Zidane? tunggu, apa jangan-jangan... ." Qiandra menghentikan kata-katanya. Kemudian Ia terngiang beberapa pernyataan Arlie.
" Qia, hari ini aku bertemu seorang pemuda yang sangat tampan, namanya Kak Zidane."
"Qiaaaa, Aku dan Kak Zidane jadian. Dia menembak ku saat mengantarkan ku pulang ke kost kemarin "
"Qiaaaa, Kak Zidane Minggu ini akan mengajakku kencan. Kamu jalan sendiri ya, lain kali kita jalan bareng."
Wajah Qiandra memerah, bukan karena merona malu. Ia merasa sedih, marah, kesal dan kecewa bersamaan. Bagaimana mungkin, Apa Arlie dan Zidane merencanakan ini semua? Kenapa Arlie melakukan ini semua? Ia bertanya-tanya dalam hati. Qiandra menjatuhkan lututnya ke lantai, nyaris tidak percaya. Merasa semuanya terjadi begitu cepat, rasanya seperti mimpi. Satu-satunya peninggalan orang tuanya kini harus ia relakan. Lagi-lagi Ia terisak.
"cobaan apa lagi ini Tuhan."
*****
Erlan sedang mengecek beberapa pekerjaan di dalam ruangannya yang berada di Cafe. Sudah 2 jam berlalu sejak kejadian Qiandra menumpahkan air tadi. Untung saja, Bara tidak memperpanjang masalah tersebut karena Erlan juga tidak suka jika banyak orang yang mengetahui Cafe ini sebenarnya miliknya. Pertemuan tadi pun diakhiri dengan ditanda tanganinya MOu kerjasama antar perusahan.
Ya, Erlan Sadewa Himawan, Putra dari Adrian Himawan yang juga pemilik saham terbesar di Hi-one Tech. Sebuah perusahaan yang pada awalnya bergerak di bidang telekomunikasi dan komputer. Erlan di gadang-gadang akan menjadi next leader dari Hi-one Tech sebab dia adalah anak tunggal di keluarga Himawan.
"Setiap orang berbeda tentang bagaimana cara kita menikmati hidup bukan?" jawab Erlan beberapa saat lalu ketika Asistennya bertanya tentang mengapa Ia membeli sebuah rumah minimalis yang tidak jauh lebih baik dari rumah ataupun apartemen mewah milik bosnya itu.
"Ada orang yang akan menikmati hidup dengan cara-cara ekstrem, seperti dengan mendaki gunung yang tinggi dan terjal, berkemah di tepi gunung yang curam, namun ada juga orang akan menikmati hidup dengan hal-hal kecil seperti memakan semangkok bakso di pinggir jalan." Erlan terus menatap keluar jendela sambil sesekali menarik nafas berat. Lalu Ia membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Randa, Sang Asisten.
"Kau tau, selama ini Aku baru merasa menikmati hidupku sejak membuka Cafe ini. Sejak kecil aku selalu di doktrin untuk menjadi pintar dan kuat. Orang tuaku tidak pernah menerima kegagalan dariku. Jika Aku melakukan kesalahan, Mereka akan memarahi dan menghukumku dengan keras." Manik legam Erlan berkabut, pandangannya jauh menerawang masa lalu ketika Erlan kecil dilatih untuk menjadi pewaris.
"Mereka tidak pernah menanyakan apa makanan kesukaanku. Bahkan sampai sekarang mereka tidak pernah tahu. Jika aku sakit, mereka tidak pernah berada di sampingku. Mereka terlalu sibuk hanya untuk mendengar keluh kesah ku." sambung Erlan lagi dengan suara yang bergetar.
"Maafkan Saya, sudah lancang mempertanyakan hal itu kepada Anda, Presdir." Tersirat nada penyesalan dari kata-kata Randa , sang Asisten yang sudah 7 tahun ini berada di sisi Erlan.
"Presdir, saya harus kembali ke kantor. Masalah Nona Muda, saya akan memerintahkan orang yang tepat secepatnya," ujar Randa membungkukkan badannya.
"Baiklah, Kau bisa pergi. Tolong urus Nona Muda secepatnya. Aku sedikit khawatir, tapi masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan di sini."
"Baik Presdir, Saya permisi."
Pria dengan tinggi 180 cm itu pun beranjak dari sana dengan sedikit kekesalan di hatinya. Dia merasa kesal atas kelancangannya hari ini. Ini pertama kalinya Ia melihat air muka sendu tuannya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.
.
.
.
**TO BE CONTINUE
*****
Hai, Aku MyNameIs, terimakasih sudah membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya... Arigatou.