
"Welcome home Baby Girl." Tulisan itu terbaca begitu pintu rumah mereka dibuka. Diiringi langkah kaki Qiandra yang sedang menggendong Bayinya Sementara Barra terlihat mendampingi Qiandra. Keduanya tersenyum melihat pemandangan ruang tamu rumah mereka yang sudah di hias sedemikian rupa indahnya.
Tiga hari sudah mereka berada di rumah sakit. Pagi ini Mama, Papa, Kak Manda, Mas Adam, Wilson, Andin,dan David sudah ada di sana memberi surprise untuk kedatangan bayi perempuan yang untuk pertama kalinya memasuki rumah kedua orang tuanya. Di beberapa sisi ruangan tampak dekorasi balon-balon dan juga bunga.
"Selamat datang kembali Auntie Qiandra. Mikha mau lihat Adek bayi dong?" Tidak ketinggalan, si gadis cantik Mikhayla juga ternyata ada di sana. Ia langsung meminta Uncle Barra untuk menggendongnya agar dapat melihat adik bayinya.
"Uncle, adiknya sangat cantik seperti Auntie. Bibirnya terlalu kecil. Mikha rasa dia tidak bisa makan pizza." Celotehan Mikha sontak saja mengundang tawa seluruh penghuni ruang tamu pada saat itu. Beberapa diantaranya geleng-geleng kepala.
"Kamu ini yah, masih kecil udah bisa ngelawak!" ucap Kak Manda yang sekarang mendekat ke Qiandra dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Siapa namanya Qiandra?" tanya Kak Manda lagi.
"Qiara Zavanya Gunawan," beber Barra dengan bangga.
"Halo baby Qiara, baru dua hari gak ketemu. udah kangeen banget loh!" Andien pun mendekati ke Qiandra dan Kak Manda yang saat ini sedang bersama Baby Qiara.
"Ya sudah, Qiara dan Mama istirahat dulu ya. Biar Tante Manda, Oma, Kak Mikha dan Tante Andien temenin." Manda mengajak Andien menuju ke kamar, meninggalkan para pria dan Mikhayla yang kini bercengkrama di ruang tamu.
Di kamar, Baby Qiara sudah dibaringkan pada box bayi yang sudah terpasang di dalam kamar Barra dan Qiandra. Qiandra juga diminta berbaring agar tidak kelelahan. Bantalnya ditumpuk beberapa menjadi tinggi, kata Mama sehabis melahirkan harus begitu. Mereka pun mengobrol sebentar mengenai pengalaman pertama menjadi seorang ibu dengan narasumber utama Mama dan Kak Manda. Sedangkan Qiandra dan Andien menyimak pembicaraan sang narasumber.
"Qiandra, kalau Kamu mau Mama bisa Carikan baby sitter buat Qiara. Jadi Kamu bisa terbantu." Mama Renata menyarankan.
"Biar Qiandra jalanin dulu Ma. Kalau emang Qiandra kewalahan nanti baru cari baby sitter. Lagian Qiandra juga enggak kerja cuma di rumah-rumah aja. Jadi Qia rasa belum perlu Ma." Qiandra menanggapi saran dari Mana mertuanya.
"Ya sudah, Kamu pasti masih ngantuk. Tadi malam kata Barra Qiara bergadang terus. Nanti malam pasti bergadang lagi tuh, hehehe," sahut Kak Manda.
"Iya, bener. Sebaiknya Kamu istirahat lagi yah. Kami ke luar dulu, oke!"
Qiandra pun tertidur sebab ia sendiri memang sudah mengantuk. Menjelang siang dia terbangun karena lapar. Belum sempat dia memanggil asisten rumah tangganya, Suamiya sudah masuk membawa satu nampan berisi makanan sehat untuk ibu setelah melahirkan.
Dengan telaten dan sabar Barra menyuapi istrinya makan. Senyum tak pernah lapas dari kedua sudut bibirnya. Membuat Qiandra merasa malu diperlakukan seperti itu. Ia tidak membiarkan Qiandra memegang satu pun benda yang ada di atas nampan. Dia benar-benar memperlakukan Qiandra, ibu dari anaknya itu layaknya ratu.
Setelah Qiandra menyudahi makan siangnya, Barra keluar dan segera menitipkan nampan tadi pada asisten rumah tangganya. Lalu kembali ke kamar, menghampiri sang istri masih terduduk dengan bantal yang di susun tinggi menjadi penopang bagian belakangnya.
"Mas, bangunin Qiara. Udah hampir tiga jam dia belum minum ASI. Dokter bilang dua jam sekali dia harus menyusu," pinta Qiandra begitu melihat suaminya masuj ke kamar.
Namun Barra tidak langsung menggubris permintaan Qiandra. Dia malah semakin mendekati istrinya itu, lalu mengecup kening istrinya sedikit lebih lama.
"Terimakasih, Sayang!!" ucapnya lalu duduk di sisi ranjang tepat di samping istrinya.
"Mas, Qiara belum... ."
"Iya, sebentar saja seperti ini!" Memeluk erat Qiandra. Semenit kemudian Ia mulai mengendurkan pelukannya. Lalu, kedua tangannya memegang pundak Qiandra lembut.
"Mas sayang banget sama Kamu, sama Qiara. Melihat perjuangan Kamu melahirkan Qiara, Mas hanya bisa bilang bahwa kamu wanita kuat. Makasi Sayang, Makasiiiiiih banget ya. Insya Allah, Mas enggak akan menyakiti Kalian. Mas janji akan membahagiakan kalian berdua."
Satu tangannya beralih memegang dagu Qiandra. Ia semakin memajukan wajah, sedikit memiringkannya. Kedua matanya sudah terfokus ke salah satu bagian wajah Qiandra. Qiandra tampak memejamkan matanya, hingga kedua benda kenyal itu nyaris bersentuhan, tiba-tiba...
Suara tangisan Qiara membuyarkan kegiatan keduanya. Keduanya tertawa kecil sambil melihat ke arah box bayi di mana Qiara berada. Barra pun segera menggendong anaknya itu dan memberikan kepada Mamanya untuk diberi ASI.
"Anak Papa sudah haus ya?" ucap Barra sambil menggendong anaknya yang masih menangis.
Segera setelah Qiara berada di pelukan Mamanya, bibir mungilnya segera bergerak menghisap dan meminum sebanyak yang Ia mampu. Tangisannya otomatis mereda dan mata indahnya juga terpejam.
Sang Papa pun tidak tinggal diam. Sesekali Ia menjahili anaknya, mencoba membangunkan. Dan tentu saja Sang Mama tidak akan membiarkan Sang Papa begitu saja. Pukulan dan cubitan segera mendarat ketika Sang Suami membuat putri kecilnya menangis.
Kebahagiaan yang dirasakan Barra menjadi berkali-kali lipat setelah kelahiran Qiara. Tidak lupa ia mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Atas segala kebahagiaan yang sampai detik ini Ia masih rasakan. Barra pun menyadari, semua yang ada padanya saat ini hanyalah titipan yang harus Ia jaga sebaik-baiknya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata indah dengan sedikit kerutan yang mulai tampak di wajahnya itu mengeluarkan butiran bening hingga ke pipinya. Ia buru-buru membuka pintu saat mendengar Qiara menangis ketika lewat di depan kamar Barra.
Perasaanya menghangat melihat pemandangan di hadapannya. Melihat sang Bungsu sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri. Dengan menantu yang notabene juga merupakan putri dari sahabat yang sangat Ia cintai.
Orang tua mana yang tidak akan senang melihat pemandangan seperti ini? Mama Renata menangis haru dalam senyumannya. Ia tidak pernah membayangkan, Barra akan menikah dengan putri dari Zasqia.
Selama berpuluh tahun penyesalannya mesti Ia pendam sendiri, dengan terus berusaha mencari Zasqia. Namun setelah sekian lama, Ia malah menemukan putrinya saja. Dan dari Qiandralah Ia mengetahui bahwa Zasqia telah meninggal dunia.
"Zas, apa Kau melihat dari sana anak-anak Kita sudah me.iliki keluarga kecil mereka? Seharusnya Kau berada di sini. Lalu Kita menyaksikan bersama-sama cucu-cucu Kita tumbuh."
Renata terisak tanpa suara. Rasa bersalahnya, Maaf yang tidak Ia dengar langsung dari Zasqia, membuatnya semakin merindukan sosok itu. "Semoga kelak Kita bertemu lagi Zas!" bisik Mama lirih lalu menutup kembali pintu kamar anaknya secara perlahan.
...The End...
.
.
.
🤗🤗🤗
Hai hai hai....
Makasi zheyenk atas dukungan kalian selama ini untuk novel MyBossyHusband❤️❤️❤️
Semoga Kalian bisa ambil hal yang positif ya dari cerita ini.
Aku mau ucapin banyak makasi buat Orang-orang yang telah mendukung Aku mulai dari nulis, sampai selesai. Temen2 Author special Dek Ama dan Neng Tato, para Readers yang gak pernah bosen ingetin " Up dong Thor" , Silent Readers yang gak pernah komen tapi selalu like, Readers yang berbagi Vote dan tips,,, Makasiiiiiih semuuuanya yah. Aku sadar bangettt karya ini jauh dari kata baik, maklumin aja ya this ismy first experience.
Oh ya, kemungkinan akan ada beberapa extra chapter tapi jangan ditungguin ya soalnya aku masih nyiapin novel Baru.
See you again ya ZHEYENKKKK di karya 2 Aku berikutnya. Luph Luph Luph you to the moon and back. ❤️❤️❤️