
Semilir angin mengelus lembut wajah kusut nan muram yang sedang duduk di kap depan mobilnya. Ia mengendarai mobilnya menuju lokasi ini, lokasi yang bisa membuat ia mengeluarkan kerapuhannya sebagai seorang lelaki. Sungguh berat untuk bersikap tegar dan baik-baik saja, untuk tetap terdiam di saat hati ingin menjeritkan segala rasa gundah dan takut yang mendera. Ia takut akan kehilangan.
Barra duduk dengan kaki tertekuk, kedua lengannya memeluk lututnya sendiri. Kepala nya menantang ke atas, membiarkan sisa bias mentari sore menghangatkan tubuhnya yang sudah beberapa hari ini dalam kedinginan. Bukan dingin karena efek suhu yang rendah, namun dingin sebab hatinya mulai merindukan sosok yang membuatnya selalu merasa hangat dan menghangatkan.
Ia merindukan sosok itu. Senyum, tawa, cebikkan, bahkan suara teriakan kesalnya. Ia merindukan semua yang ada pada sosok wanita yang amat dicintainya itu. Rasa rindu yang diaduk dengan rasa sesak yang begitu mendalam, merapihkan hatinya yang sebisa mungkin ia jaga agar tetap kuat. Namun di sini, pria tinggi yang terlihat maskulin itu sedang menangis. Menangis dalam kekalutan, ketakutan dan kerinduan yang sangat amat menyiksa jiwanya.
"Qiandra, Aku merindukanmu," gumamnya lirih sekali disela tangisannya yang pecah namun tak mengeluarkan isakan. Barra menundukkan wajahnya, sesekali tubuhnya bergetar. Betapa jiwa dan raganya begitu merindukan Qiandra. "Tuhan, tolong jaga istriku di manapun dia berada."
...✳️✳️✳️...
Mentari telah berangsur menghilang menyisakan awan merah saga menghiasi langit jingga. Mobil Barra baru saja tiba di depan rumah keluarga Gunawan. Sejak kemarin Ia belum menjejaki rumah ini, karena tadi malam Ia berada di apartemen Erlan.
Sepasang kakinya melangkah gontai, memasuki rumah yang juga tetap mengingatkannya pada Qiandra. Ia memasuki sebuah kamar dan menatap pada sosok wanita paruh baya yang terbaring, dengan selang infus menancap di tangannya.
Menatap sendu pada wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu. Barra menyeret langkahnya mendekati mamanya yang sedang tertidur di ranjangnya. Tersenyum getir melihat wajah yang biasanya tampak cantik kini pucat pasi.
Barra mendudukkan dirinya di sisi ranjang Mama Renata. Ia memegang lalu mencium tangan Mamanya. Air matanya mengalir begitu saja, betapa ia sudah membuat dua orang wanita yang paling dicintainya tersiksa karena keegoisannya.
Merasa ada pergerakan dari kasur yang ditidurinya, serta tangannya yang basah karena sesuatu, mama Renata membuka matanya perlahan.
"Barra, Anakku... Kamu menangis?" tanya Mama pelan.
Barra yang mendengar suara yang sangat akrab di Indra oendengarannya itu lalu melihat ke arah mama Renata.
"Mama, apa Barra mengganggu waktu istirahat Mama?" Melepas tangan Mama dan mengusap lelehan air mata di pipinya.
Mama menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Ma... Barra minta maaf. Karena keegoisan Barra, Qiandra sampai sekarang masih belum ditemukan. Mama juga jadi sakit begini. Barra sudah gagal menjadi anak dan suami yang baik untuk kalian." Bola matanya mendadak berair kembali, mengingat hari sebelum Qiandra menghilang. Bagaimana ia mengacuhkan istrinya sebab perbedaan pendapat keduanya.
"Sssshhh... "Menggeleng lalu berkata. "Nak, orang baik itu bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang mampu belajar dari kesalahannya."
"Mama tidak bermaksud menyalahkanmu untuk membuatmu menderita seperti ini. Mama ingin Kamu menyadari kesalahan yang Kamu perbuat, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ambilah pelajaran dari cobaan yang diberikan Tuhan, sayang." Mengusap pipi Barra lembut. Mama tampak masih sangat lemah.
"Makasih Ma, udah ngingatin Barra. Barra janji akan menjadi suami yang lebih baik lagi." Menghambur memeluk tubuh ringkih sang mama.
"Barra, bagaimana apa sudah ada kabar mengenai Qiandra, Nak?" tanya Mama Renata kembali khawatir.
"Mama doain ya. Semoga Qiandra cepat ditemukan. Kita sudah tahu siapa dalang di balik semuanya."
"Alhamdulillah, jadi Qiandra ..." Mama Renata langsung bersemangat, seolah mendapatkan energi tambahan, ia langsung minta untuk didudukkan.
"Mama makanya cepat sembuh, Barra janji bakal bawa Qiandra secepatnya. Untuk saat ini Kita belum tau di mana tempat Qiandra disekap."
"Maksud kamu Bar, Qiandra belum ditemukan? Hiks hiks hiks, Qia... Mama merindukan Kamu, Nak!" Mama menangis mengingat Qiandra.
"Ma, sabar. Kalau Mama gini terus Mama bakal sakit. Kalau Qiandra lihat Mama seperti ini dia pasti sedih!" Barra membujuk Mama.
"Mama udah janji sama Bundanya Qiandra, Mama bakalan jaga Qiandra, Hiks hiks hiks, Mama bersalah Bar, hiks hiks hiks... "
"Ma, tenang dulu ya. Meskipun Qiandra belum ditemukan, tapi dua hari lagi Barra janji akan bawa pulang Qiandra gimana pun caranya. Mama bisa pegang kata-kata Barra." janji Barra pada sang Mama.
Mama Renata menatap haru pada anaknya, lalu menangkup pipinya. "Bawa Qiandra kembali, Barra. Mama percayakan semua sama Kamu."
"Pasti Ma, Barra sangat merindukan Qiandra. Barra tidak akan menyakiti Qiandra lagi. Mungkin ini teguran Tuhan buat Barra. Pokoknya Mama jangan lupa berdoa buat keselamatan Qiandra." Mama mengangguk.
"Barra, Kau sudah kembali?" Tiba-tiba suara Papa terdengar.
"Oh, Papa. Iya Pa, Barra baru saja pulang." Barra menjawab singkat.
"Terus gimana ceritanya kalian bisa mendapatkan penculik Qiandra." Papa yang sejak kemarin dikabari tentang ini sangat penasaran. Begitupun Mama.
"Begini Pa, Ma, ... "
Akhirnya Barra mulai menceritakan tentang bagaimana mereka mendengarkan telfon Siskha dan Mamanya Erlan. Betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa mama tiri Erlan dalang dari semua.
"Jadi, sampai sekarang kalian belum tau Qia di mana?" Papa menyela.
Barra hanya menggeleng. netranya menerawang jauh.
Flashback on
Siskha sudah berada di apartemen Barra saat ini dengan wajah muram. Ketika Barra menelfon dan meminta Siskha ke rumah, dia sangat senang. Dia pikir Ia berhasil menebar pesonanya pada Barra hingga dia begitu semangat untuk segera datang.
Kini dalam posisi tangan dan kaki terikat di sebuah kursi, Siskha mau tidak mau harus menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Barra.
"Aku tanya sekali lagi, di mana Qiandra berada?" Teriak Barra sudah tidak sabar, karena sejak tadi Siskha selalu menjawab tidak tahu keberadaan Qiandra.
"Hiks hiks, Saya benar-benar tidak tahu, Saya tidak tahu, hiks hiks... " Siskha terisak, merasa takut sekaligus menyesal. Ia telah mengambil keputusan yang salah.
Barra yang emosinya sudah membara pun langsung menyambar pistol yang ada di tangan seorang petugas keamanan, lalu menodongkannya tepat di kepala Siskha.
Siskha memejamkan matanya, air mata sudah membanjiri wajahnya yang biasanya berpoles make up tebal itu.
"Katakan Sikha, katakan!" Barra bersiap menarik pelatuk. Sementara Siskha tetap menggeleng sambil terisak.
"Demi Tuhan, Saya tidak tahu, hiks hiks hiks... Maafkan Saya, Pak. Saya memang salah karena mau mengikuti Tante Diana."
"Diam Kau. Aku hitung sampai tiga, jika Kau tidak menjawabnya maka peluru ini akan bersarang di kepalamu!" Barra dengan kekalutan pikirannya mulai berlaku tidak wajar.
" Satu, Dua, Tiga!"
"Tunggu!" Erlan berteriak. "Barra, tolong jangan gegabah, please lihat Aku." tenangkan Erlan Barra yang hampir menembak Siskha.
Barra menatap Erlan, lalu mulai sedikit tersadar.
"Barra, jika Kau membunuh Siskha, maka Kau akan mendapatkan hukuman. Coba pikirkan apa yang akan terjadi pada Istri dan Mamamu?" David Mencoba memberi pengertian pada Barra.
Masih dengan dua tangan di depan dada. "Turunkan senjata itu, Barra," pinta David lembut.
Perlahan Barra menjatuhkan revolver yang ada di tangannya, lalu terjatuh di lantai. Siskha masih menangis namun sudah sedikit lega sebab Ia masih diberi kesempatan hidup.
Akhirnya Siskha di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan dia diminta untuk bersikap kooperatif agar bisa mendapat keringanan. Meskipun statusnya sekarang masih sebagai saksi, namun tidak menutup kemungkinan, jika penyidik menemukan keterlibatannya maka ia akan tetap di proses secara hukum.
Sementara itu, Mereka berempat merencanakan untuk melakukan misi penyelamatan Qiandra dua hari kemudian, sebab orang tua Erlan akan pulang dari China dua hari mendatang.
Sebenarnya mereka ingin bertindak cepat, namun Erlan takut Mama Diana akan menyakiti ayahnya di sana. Jadi dia memohon agar menagkap Mama Diana setelah pulang dari Shanghai, China.
Flashback Off
...✳️✳️✳️...
Sementara itu, di sebuah ruangan minim cahaya dan tanpa jendela m, terdapat tiga orang yang sedang merintih merasakan ketidaknyamanan mereka masing-masing.
Salah seorang pria yang dengan kaki dan tangan terikat, terlihat bersusah payah memutuskan tali pengikat yang melilit di tangannya dengan sebuah pecahan kaca.
Tadi ketika penjaga mereka mengantarkan makan malam, Zidane dengan sengaja membuat salah satu penjaga terjatuh hingga membuat sebuah piring pecah. Tanpa mereka sadari, Zidane mengambil salah satu pecahan beling untuk ia pakai guna memutuskan tali pengikat.
Sudah beberapa jam ia mencoba memutuskan tali itu, bahkan pergelangan tangan dan jarinya juga ikut terluka. Namun Ia tidak menyerah. melihat bagaimana Arlie menahan rasa sakit di perutnya. Ia bertekad akan mengeluarkan mereka dari sini.
"Srrrreeet," suara tali terakhir putus terdengar diikuti oleh Zidane yang langsung membuka sisa tali di tangannya dan kakinya.
"Ya, berhasil. Mari kita susun rencana menyelamatkan diri untuk besok." Ajaknya lalu tersenyum. Ia meregangkan tali di kakinya lalu mengeluarkan kaki dari tali itu
Ia pun berangsur maju melepaskan ikatan yang ada di tubuh dua orang wanita yang ada di sana.
.
.
.
***To Be Continue***
.
.
.
Salam hangat dari Author 🙏🙏🙏🤗
selamat membaca semuanya.
Makasih ya selalu mendukung karya ku.