
Sebuah Mercedez Benz Maybach terlihat membelah jalanan ibukota. Ya, baru saja Mama Renata menyambangi alamat yang diberikan Rey. Namun, Ia begitu shock mengetahui bahwa Rumah itu kini sudah beralih tangan ke orang lain. Yang tak kalah mengejutkan ketika mengetahui pemilik baru rumah itu adalah pewaris utama Hi-one Tech, Erlan Sadewa.
Berdasarkan keterangan orang yang berada di sana, baru saja seorang wanita mengaku pemilik rumah, pergi setelah mendapat pengusiran dari salah satu bawahan Erlan yang mengurus kepindahannya ke ke rumah itu. Kurang lebih 20 menit berlalu, begitu yang disampaikan orang yang bekerja sebagai juru angkut mobil barang.
"Di mana kamu Qiandra sayang? Ya Allah, tolong lindungi Qiandra di mana pun Ia berada." Mama Renata yang terlihat begitu cemas terus berdoa. Sudah berkali-kali Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Qiandra namun operator yang menjawab.
"Rey, apa menurutmu Tuan Sadewa sengaja mengusir Qiandra dari rumahnya?" tanya Mama pada Rey dengan nada sedikit khawatir.
Rey yang sedang mengemudikan Maybach itu, hanya melirik Mama Renata secara sekilas dari kaca spion dalam di depannya. Lalu ia fokus dengan jalan yang di depannya.
"Ekhemmmm. Maafkan jika saya salah Nyonya. Menurut analisis saya, Tuan Sadewa belum mengetahui apapun mengenai Qiandra." Rey mengungkapkan gagasannya.
Rey kembali melanjutkan pemikirannya. "Selama ini Tuan Sadewa jarang menampakkan dirinya ke publik. Cukup sulit melihat sepak terjangnya yang memang baru di dunia bisnis. Tapi kabar yang saya dengar, mereka akan bekerja sama dengan GM Corp, Nyonya."
Mama Renata terkesiap.
"GM Corp.?" ulang Mama Renata.
"Iya, kabarnya siang ini Tuan Bara beserta Asisten David melakukan pertemuan guna membicarakan kesepakatan kerjasama. Untuk itu kemarin David meminta Tuan Bara pulang." Rey menjelaskan dengan tegas dan tampangnya yang datar.
Mama Renata berpikir sejenak, tampak Ia sedang memikirkan sesuatu. Ketika mobil melaju melewati sebuah halte bis, Mama Renata melihat seorang gadis duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Qiandra,” gumam Mama. “Rey, berhenti Rey! Berhenti!”perintah Mama seketika itu juga.
Rey yang mendengar perintah Mama langsung memberhentikan mobilnya, lalu mengikuti arah pandang Mama. Terlihat jelas olehnya seorang wanita mengenakan kemeja light blue yang bagian belakang nya dimasukkan ke dalam jeans yang Ia kenakan. Ada dua koper besar bersamanya, dan Ia terlihat seperti sedang menangis.
Mama Renata berhambur keluar tanpa aba-aba, padahal halte lumayan jauh terlewat. Seketika, wanita paruh baya berusia 57 tahun itu berlari bak seorang remaja. Semangatnya bertambah ketika jarak semakin dekat dan semakin memperjelas gadis muda yang wajahnya masih tertutupi itu.
“Qiandra!” panggil Mama Renata lembut, memastikan.
Sekilas, Qiandra mendengar suara lembut itu memanggil namanya. Perlahan dia membuka matanya, mencoba melirik ke arah sumber suara. Pandangannya nanar karena bulir kristal itu, lagi dan lagi akan keluar.
“Nyonya...” panggilnya lirih.
Tes... Tes... Tes...
Linangan itu meluruh, seketika Qiandra berjalan cepat menghampiri wanita paruh baya yang sedang berdiri dihadapannya. Mama Renata membuka kedua tangannya, membawa Qiandra dalam pelukannya. Qiandra makin terisak, pun Mama Renata ikut mengeluarkan air mata. Ia mengusap lembut bahu Qiandra.
Rey terdiam, berdiri mematung di sisi jalan. Ia melihat pertemuan Nyonyanya kali ini penuh dengan keharuan.
"Mama pikir Mama tidak akan melihatmu lagi. Kau anak nakal, sudah membuat Mama takut, hiks... hiks... ." Mama Renata semakin mengeratkan dekapannya, begitupun Qiandra, tak ingin melepaskan pelukan Mama. "Sudah Mama katakan, jangan panggil Mama Nyonya, panggil Mama. Bundamu dan Mama bersahabat sejak SMA nak. Anak Bunda Zasqia adalah anak Mama."
"Mma-ma... Mamaaaa...Huaaahuaaaa... Mama, Qia takuuuutt, Ayah dan Bunda sudah pergiiii, Qia sendiri Ma, Huwaaaaaaa... ."
.
.
.
Qiandra POV
Lelah dan lapar. Dua kata itu menemaniku yang kini terduduk di sebuah halte bus. Ku lirik kembali dua koper besar yang ku bawa. Hanya itu yang bisa ku bawa saat mereka memaksaku pergi dari rumah yang berisi banyak kenanganku bersama Ayah dan Bunda.
Lagi dan Lagi aku merasa sendiri. Ketika Bunda pergi aku juga merasakan yang sama. Tetapi sahabatku Arlie menemaniku, mendukungku, menyemangatiku hingga aku mampu berdiri kembali. Ah, berbicara tentang Arlie, Aku baru saja kembali dari rumah kostannya. Arlie sudah tidak tinggal di sana sejak seminggu yang lalu, itu yang dikatakan tetangga kamarnya. Aku kembali dengan perasaan kecewa. Bagaimanapun juga Aku masih berharap bukan Dia yang melakukan ini semua. Sampai detik ini, harapanku masih sama.
Aku memutuskan untuk pergi dari sana, padahal Aku berniat mencari tempat tinggal sementara. Namun, asaku bertemu dengan Arlie membuat aku memilih pergi menuju halte bus tempat kami sering berjumpa. Satu menit, dua ,tiga hingga lima belas menit berlalu, orang yang kuharapkan tidak kunjung tiba.
Aku mencoba tersenyum, menguatkan naluriku yang mulai berpikir yang tidak-tidak. Tetapi, perasaan hangat di dadaku mendesak. Aku menangkupkan kedua tanganku ke wajah, seketika tangisku pecah. Kali ini Aku benar-benar telah sendiri.
Aku terngiang perkataan Bunda setelah kepergian Ayah Ku dulu.
"Qiandra, jangan bersedih, Allah selalu bersama Kita Nak. Ingatlah, Allah tidak akan memberikan cobaan kepada seorang hamba, di luar kemampuan kita. Sungguh, rencana Allah akan lebih indah dari yang apa yang kita rencanakan."
Aku menarik nafas dalam, mulai berdzikir dalam hati. Perasaan tenang kembali menghampiriku. Tangisku mereda. Seketika, ingatanku melayang pada sosok wanita yang menolongku di Bali kemarin. Ah, Aku lupa belum mengaktifkan HP ku sejak keluar dari Cafe. Baiklah, Aku harus kuat, sekarang saatnya Aku berdiri dengan kakiku sendiri.
“Qiandra!” Lembut terdengar inderaku suara itu.
Aku membuka mataku perlahan, mencoba melirik ke arah sumber suara. Aku terkesiap, mengedipkan mataku beberapa kali, takut-takut Aku salah lihat. Namun, sosok itu nyata, berdiri tak jauh dariku sekarang.
“Nyonya...” panggilku lirih.
Tes... Tes... Tes...
Seketika Aku membawa tubuhku kepada wanita paruh baya yang sedang berdiri dihadapanku. Kulihat Ia merentangkan kedua tangannya, siap memberikan Aku pelukan. Aku terisak dipelukannya, sepertinya Beliau pun ikut mengeluarkan air mata. Ia mengusap lembut bahuku.
Sebuah Mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan halte. Aku melihat seorang Pria berdiri mematung sesaat setelah keluar dari mobil yang dikendarainya. Ia melihat ke arah kami dari kejauhan.
"Mama pikir Mama tidak akan melihatmu lagi. Kau anak nakal, sudah membuat Mama takut, hiks... hiks... ." Ku rasakan wanita itu semakin mengeratkan dekapannya, Aku pun sama.
"Sudah Mama katakan, jangan panggil Mama Nyonya, panggil Mama. Bundamu dan Mama bersahabat sejak SMA nak. Anak Bunda Zasqia adalah anak Mama."
Aku mencoba mencerna rentetan kata yang diucapkan wanita yang tengah memelukku sekarang. Seketika, rasa hangat kembali memenuhi rongga dadaku, menjalar naik hingga pandanganku kembali penuh dengan cairan bening.
"Mma-ma... Mamaaaa...Huaaahuaaaa... Mama, Qia takuuuutt, Ayah dan Bunda sudah pergiiii, Qia sendiri Ma, Huwaaaaaaa... ."
Qiandra POV END
.
.
.
****
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Suara keras dan lantang itu berasal dari ruang kerja pemilik Cafe, yang tak lain adalah Erlan.
"Kenapa kau bisa seceroboh ini? Aku tidak mau tau, temukan dia segera, cepat!!!" Hardik nya lagi dengan seseorang di luar sana. "Aaaaarrrgh!!" Erlan berteriak, merasakan dadanya diselimuti hawa panas yang membuncah. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya dan dengan segera beranjak keluar ruangan.
Sarah dan Bimo yang kebetulan berada tak jauh dari ruangan, seketika kaget. Mendengar Erlan menutup pintu ruangnya dengan keras, sebelum Ia berlalu meninggalkan Cafe tanpa sepatah kata tercetus dari bibirnya. Mereka merasa heran, untuk pertama kalinya mereka melihat Bos mereka terlihat sangat marah.
.
.
.
** To Be Continue **
Hai, MyNameIs is back😊. Terimakasih atas perhatian dan dukungan Kalian selama ini ya. Semua kritik dan saran dari kalian sangat berharga buat Aku. Happy weekend and Happy Reading🥰❤️
Oh ya, Bab 1 s.d 10 sudah selesai Aku revisi ya. Tidak perlu membaca ulang, karena jalan cerita tetap sama. Hanya ada beberapa nama yang berubah. Jika kalian menemukan hal yang kontradiksi di bab selanjutnya, itu adalah hasil revisiannya.
...HAPPY READING...