My Bossy Husband

My Bossy Husband
73. Bukan Akhir Kisah



Sudah dua Minggu Qiandra dan Barra tinggal di kediaman orang tuanya. Hari ini rencananya Barra dan Qiandra akan pindah ke rumah mereka yang baru. Masih di kompleks yang sama namun berbeda blok dengan kediaman utama.


Sebuah rumah berlantai dua dan bergaya minimalis namun memiliki halaman yang luas. Rumah ini sudah mengalami tahap renovasi setelah dibeli Barra yang menyesuaikan dengan keinginan sang Istri. Semua desain dan furniture yang diinginkan Qiandra selalu diprioritaskan Barra.


Kesibukan di rumah utama tidak seperti biasanya. Sudah sejak pagi Mama Renata memerintahkan para Asisten Rumah Tangga untuk memasak berbagai menu untuk dibawa ke rumah Barra dan Qiandra. Dua orang Asisten Rumah Tangga dan seorang supir diutus Mama untuk ikut ke rumah baru Barra mengingat mereka belum mencari orang untuk membantu Qiandra mengurus rumah.


Hal ini sempat ditolak Qiandra karena Ia merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri. Namun mengingat kondisi Qiandra yang sedang hamil muda, Mama bersikukuh untuk mengirimkan Asisten Rumah Tangga dari rumah utama.


Kemarin Barra sudah memproses beberapa barang mereka yang di bawa dari apartemen. Dua orang penjaga rumah sudah jauh hari ditempatkan Barra di sana. Hari ini, Qiandra dan Barra nyaris tak membawa apapun dari rumah utama. Keduanya bersama keluarga besar dan sahabat mereka.


Setelah makan siang, mereka pun bersiap menuju rumah baru Barra dan Qiandra. Ada Mama, Papa. mas Adam dan Kak Manda serta Mikhayla dalam satu mobil yang dikendarai Mas Adam. Sementara, David, Wilson dan Andin berangkat bersama dengan David sebagai pengemudi. Arlie dan Zidane juga hadir dan ikut mengantar kepindahan sahabat Arli. Sementara dua Asisten Rumah Tangga dan seorang supir sudah pergi ke sana pagi-pagi tadi.


Rombongan itu berangkat bersama layaknya iringan mobil pengantin. Dengan kecepatan santai, akhirnya sepuluh menit kemudian iringan mobil mereka berhenti pada sebuah rumah bernuansa hitam putih dengan sedikit sentuhan warna abu-abu.


Satu persatu wajah mereka muncul dari balik pintu mobil. Seketika para tamu yang ikut mengantarkan mereka memperhatikan bangunan megah yang terpampang nyata. Halaman yang luas dengan pemandangan yang menyejukkan mata.


"Welcome to Our house!" Barra menggandeng lengan istrinya sembari menautkan jemari mereka. Lalu membawa tamu-tamunya itu memasuki rumah baru mereka. Setelah melihat-lihat rumah beserta isinya, mereka berbincang sambil bersantai. Malam harinya dilanjutkan dengan acara barbeque di halaman belakang rumah, dengan suasana malam yang indah di penuhi cahaya gemintang dan bulan.


...****...


Waktu terus berputar, tidak terasa dua bulan sudah Barra dan Qiandra tinggal di rumah yang kelak akan menjadi saksi kebahagiaan keduanya. Usia kandungan Qiandra sudah memasuki awal trimester ke dua. Perutnya yang semula rata kini sudah terlihat membuncit, karena ***** makannya yang terus meningkat.


Qiandra tidak mengalami morning sickness tapi malah Barra yang merasakannya. Sudah satu setengah bulan terakhir Barra merasa mual-mual di pagi hari dan penciumannya menjadi sensitif. Hal ini menjadikannya sebagai bahan tertawaan David dan Wilson.


Hubungan Wilson dan Andin semakin serius. Dua Minggu yang lalu mereka menggelar acara pertunanangan mewah. Rencananya, pernikahan mereka akan dilaksanakan dua bulan lagi. Sementara David masih setia dengan status jomblo terhormatnya.


Arlie dan Zidane kini hidup bahagia menanti kehadiran buah hati mereka sebab usia kehamilan Arlie sudah menginjak bulan ke delapan. Mereka pun baru saja pulang ke kampung halaman Arlie di Brebes sebab kedua orang tua Arlie sangat antusiaas menyambut cucu pertama mereka. Meski sempat menyembunyikan pernikahan keduanya di awal, kini mereka sudah mendapat restu dari kedua orang tua Arlie.


Sementara itu, usia kehamilan Kak Manda memasuki trimester akhir. Besok adalah acara tujuh bulanan untuk kehamilan keduanya ini. Acara digelar dikediaman Mas Adam dan Kak Manda. Rencananya Barra dan Qiandra akan menginap malam ini di sana setelah sepulangnya Barra dari Kantor.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Barra menghentikan kegiatannya di depan laptop.


"Masuk!" perintahnya melirik ke arah pintu masuk.


David datang bersamaan dengan satu plastik tentengan di tangannya. Ia meneribos masuk lalu berhambur mendaratkan bokongnya di sofa dan meletakkan sesuatu yang dibawanya di atas meja di depannya.


"Bagaimana?" tanya Barra penuh selidik, sedikit tersenyum jahil melihat kondisi asisten setianya itu.


"Kau bisa lihat sendiri!" jawabnya acuh. "Aku akan mengajukan cuti hingga Qiandra melahirkan. Aku lelah terus-terusan seperti ini! Seharusnya Kau yang melakukannya!" Wajah lelah bercampur kesal seraya memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Sudah dua Minggu belakangan ini David selalu terkena sasaran akibat ulah Barra.


Apalagi kalau bukan masalah ngidamnya Qiandra. Anehnya Qiandra beberapa kali mengajukan syarat agar keinginannya itu dicarikan oleh David. Seperti siang tadi, Ia mendapat tugas untuk mencari selada yang dibudidayakan secara hidroponik yang alamatnya sangat jauh dari lokasi kantor.


"Kau tidak akan ku izinkan. Pengajuan cutimu ditolak! Jika bersikers bonusmu bulan ini akan masuk ke rekeningku," sahut Barra dengan bibir tersungging sedikit.


"Kau yang menghamilinya kenapa Aku ikut repot mengurusi ngidam istrimu, meyebalkan sekali!" David menggerutu.


Barra menyudahi pekerjaannya. Ia segera mematikan laptopnya lalu berpindah ke sofa yang ada dihadapan David.


"Jangan cengeng! Nikmati peranmu, toh bonusmu akan Aku tambahkan bulan ini!" Barra yang sudah duduk di sofa persis di seberang David duduk menyeletuk.


David membuka matanya lalu dengan berdecak. "Ckck, Dasar Bos payah! Awas saja kalau bonusku sedikit, Aku akan resign dari sini!" Disusul gelak tawa keduanya.


Perdebatan itu diakhiri dengan kepergian keduanya ke rumah Barra dengan mobil masing-masing. Kondisi jalanan yang belum macet mempersingkat waktu mereka berkendara. Kini keduanya sudah sampai di rumah Barra.


"Di mana Nyonya?" tanya Barra pada salah satu Asisten Rumah Tangganya sesampainya mereka di ruang tamu.


"Nyonya sejak tadi siang istirahat di kamar, Tuan. Saya sudah beberapa kali membangunkan Nyonya untuk makan siang, tapi Nyonya mengatakan bahwa Ia hanya ingin memakan salad yang seladanya di bawa tuan David. Sudah saya tawarkan selada yang sengaja saya beli di market, tapi Nyonya malah menangis jadinya saya tidak berani memaksa Nyonya, tuan!" jelas Bik Ani.


"Terimakasih Bik!" sahut Barra yang dijawab anggukan kepala Bin Ani. Lalu Bik Ani undir diri kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ada masalah?" tanya David.


"Sepertinya Aku harus menjalankan saran Wilson lagi, Kau tunggulah di sini!" ujar Barra seraya berlalu meninggalkan Si Jomblo David yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dasar bucin akut!" gerutu David dalam hati.


.


.


.


To Be Continue


.


.


Happy Reading!!!


Jangan lupa like dan komen ya Zheyenkkk🥰🥰